Apa Yang Terjadi 2

Apa Yang Terjadi 2
19


__ADS_3

Vie diundang untuk menghadiri sebuah acara, tapi undangan yang dia terima sangat terlambat datangnya. Dia menerima undangan tepat saat hari acara tersebut akan digelar, artinya dia hanya memiliki waktu beberapa jam untuk bersiap. Padahal kalau mau ke suatu acara, mereka harus bersiap bahkan sebelum cahaya matahari terlihat. Belum lagi waktu yang diperlukan untuk memilih kostum dan aksesoris yang sesuai.


Sang ayah yang ada di saya yang sama pun merasa lebih geram dari pada anaknya sendiri, pria itu bahkan sampai menggertakkan giginya saking kesalnya dirinya. Sang ayah malah menawarkan anaknya untuk membalas orang-orang bodoh yang tak tahu sopan santun itu.


Tentunya vie menanggapi dengan santai, dia meminta izin untuk membereskan masalah itu dengan caranya sendiri. Dia juga meminta izin untuk membawa serta Robin dan keluarganya. Sang ayah mengizinkan tanpa pikir panjang, pria itu juga tak bertanya apa yang akan anaknya lakukan. Satu hal yang pasti, apa yang anaknya rencanakan, dia pasti akan mendukung semua dari belakang.


Dan di sinilah Vie berada, berdiri dengan penuh percaya diri dengan penampilan paling sederhana menurut dirinya. Sederhana bukan berarti tak berkelas, lihat saja dia masih terlihat seperti tuan putri saat ini. Belum lagi ayahnya menyuruh beberapa orang untuk menjaga anaknya.


"Nona, apa kita akan pergi ke sana?" tanya Robin khawatir. Dia memakai baju biasa, meski bagus tapi bajunya dan keluarganya terlihat lusuh pastinya.


"Buka matamu lebar-lebar, ini waktunya inspirasi datang untuk jilid kedua bukuku!" kata Vie terkekeh kecil. Robin mengangguk, rupanya dia diajak untuk bekerja. Tapi kenapa ibu dan adiknya juga dibawa kalau memang mereka pergi untuk mencari inspirasi.


"Tentu, mari buat keramaian!" balas gadis itu menyeringai kecil. "Aku akan mengerjakan satu hal kecil, setelahnya baru kita bermain sepuasnya di sini!" lanjutnya mengambil langkah pertama.


"Tolong tunjukkan undangan anda, nona!" kata pelayan menghentikan langkah Vie.


"Undangan?" ucap Vie pura-pura berpikir. "Ah, mungkinkah itu kertas yang tadi aku masukkan sebagai tambahan bahan bakar di perapian, ya?" lanjut gadis itu tanpa dosa, suaranya terdengar sangat polos saat mengatakan hal tersebut.


"Kalau begitu anda tak boleh masuk, nona!" kata si pelayan mencegah Vie masuk.

__ADS_1


Vie menarik sudut bibirnya, menatap dari atas ke bawah, memindai pelayan di depannya. Ah, sepertinya dia pelayan yang bekerja untuk tuan rumah pesta. Makanya pelayan ini tak mengenali wajahnya. "Dengar, pergilah saat aku masih bicara baik-baik!" ucap Vie mengingatkan.


"Seharusnya kami yang mengatakan hal seperti itu pada anda! Pergi dari sini sebelum saya melakukan kekerasan!" dengus si pelayan. Baru kali ini dia melihat seseorang yang sangat sombong. Sudah tak membawa undangan, tapi masih saja berlagak memerintah seenaknya.


"Apa?" tanya si pelayan yang baru saja berbicara kasar pada Vie. Dia kesal saja karena kawannya itu bukannya membantu tapi malah sibuk menarik-narik ujung lengan bajunya. "Harusnya kamu membantu agar pekerjaan kita cepat selesai?!" katanya mendengus kesal.


"Maafkan teman saya, nona. Dia baru bergabung dan bekerja bersama kami beberapa hari ini! Dia berasal dari tempat yang jauh dan terpencil, jadi dia tak pernah mendengar tentang anda sama sekali, nona!" jelas pelayan yang satunya mencoba menyelamatkan rekan kerjanya yang bodoh ini.


"Ya, kenapa harus meminta maaf? Nona ini yang tak membawa undangan, mengapa aku yang salah dan dianggap bodoh?" tanyanya marahs sekaligus tak paham situasi.


"Kumohon diam saja jika kamu masih mau berkerja!" bisik rekannya mengingatkan.


"Silakan masuk, nona!" kata pelayan yang mengingatkan temannya untuk diam mengambil alih pekerjaan kawannya.


Vie mengangkat sebelah tangannya, menatap malas ke arah dua pelayan yang menatapnya ingin tahu. "Seperti kataku tadi, aku sudah membakar undangan yang dikirim dengan SANGAT terburu-buru!" Vie menjeda ucapnya sesaat, dia maju dan tersenyum lebih dingin. "Aku datang untuk bermain di sini!" ucapnya lebih lirih.


"Minggir, minggir!" ucap sebuah suara dari dalam diikuti dengan langkah kaki yang melangkah terburu-buru. "Senang bisa bertemu dengan anda, nona!" kata pemilik langkah kaki yang barusan ke luar dari dalam gedung. "Saya penanggung jawab di sini, kamu baru saja mendapatkan kabar kalau anda akan berkunjung. Maaf kalau kami tak bisa menyambut dengan lebih meriah, nona. Mohon dimaklumi!" katanya dengan sangat sopan dan hormat.


Vie melengos masuk tanpa membalas. "Tinggal dibuat saja, aku yakin itu tak akan merepotkan sama sekali," kata gadis itu duduk dengan angkuh.

__ADS_1


"Tapi ... sedang ada acara yang berlangsung, nona. Jadi kami tak memiliki banyak persiapan untuk membuat penyambutan dadakan untuk kedatangan anda," balasnya membungkuk sopan.


Vie tertawa kecil. "Ya, beraninya aku dibandingkan dengan acara tak penting seperti itu?" Vie melirik tajam ke arah lawan bicaranya. Cukup menyenangkan karena lawan bicaranya mampu menjaga ekspresi meski di bawah tekanan seperti sekarang.


Tak ada jawaban, si penanggung jawab merasa apa pun yang dia katakan bisa menjadi masalah di masa depan. Makanya dia memilih menutup rapat mulutnya dan mendengarkan ocehan dari nona manja di depannya ini.


Vie mendengus, tapi tak lama kemudian gadis itu tersenyum tipis. "Usir semua tamu, kosongkan bangunan ini. Sisakan para pekerja saja karena aku akan bermain di sini untuk sepanjang hari ini!" titah Vie mulai membuat masalah.


"Tapi, nona. Seperti yang saya sebutkan tadi, sedang diadakan acara di sini, saya tak bisa mengusir mereka seenaknya," balasnya bernegosiasi.


"Usir!" ucap Vie keras kepala.


"Mohon dipikirkan sekali lagi, nona!" kata si lawan bicara mencoba mengubah pikiran seorang Vie.


Vie menatap tak peduli, dia malah duduk bersandar dengan santainya. "Usir atau aku buat rata seluruh gedung ini!" Vie berucap santai. "Aku yakin, papaku tak akan keberatan sama sekali kehilangan salah satu gedungnya demi senyum putri kesayangannya ini!" jelas apa yang dikatakan oleh Vie adalah kebenaran dan tak ada yang berani meragukan hal tersebut.


Helaan napas panjang terdengar, dengan mata terpejam sang penanggung jawab pun kembali berbicara. "Beri saya waktu untuk melakukannya, nona!" katanya tak berdaya.


"Terlalu lama, biar aku yang ke sana dan mengusir mereka!" kata Vie bangkit berdiri. Dia pun melangkah semakin jauh ke depan dan berhenti di tengah-tengah aula yang sangat luas. Kehadirannya mengundang kasak-kusuk, banyak yang berbisik karena penampilan Vie yang dinilai tak sesuai dengan tema acara kali ini. Vie tersenyum cerah, menelengkan kepalanya dan bersikap sangat ramah. Si penanggung jawab tadi merasa resah, bom waktu yang selama ini tersimpan akan meledak hari ini dan itu pun di tengah keramaian di tempatnya bekerja. Semoga dia masih bisa bekerja dengan damai ke depannya.

__ADS_1


__ADS_2