
Vie yang baru sampai dimintai undangan, dengan entengnya gadis itu mengatakan kalau undangan yang dia terima sudah dia bakar di perapian. Tentu saja Vie diusir dari sana, tapi sebelum itu terjadi, penanggung jawab gedung datang menghampirinya. Merek berbincang sebentar dan beberapa saat kemudian Vie merangsak masuk begitu saja dengan sikap acuh.
Vie meminta semua tamu yang datang hari ini diusir, dia ingin bermain sepuasnya di tempat ini. Lawan bicaranya berharap itu tak terjadi, dia terus berusaha membujuk nona manja ini agar berubah pikiran. Sayangnya Vie malah mengeluarkan ancaman, malah dia sendiri juga yang bergerak untuk mengusir orang-orang yang khusus menghadiri acara penting yang digelar. Tentu saja acara yang memberikan undangan sangat lambat pada Vie.
"Saya tidak menyangka kalau Nona Embross berkenan hadir di acara yang saya adakan," kata si tuan rumah yang mendekat, seluruh tubuhnya ditempeli dengan barang-barang berkelas dan mewah. "Apa lagi penampilan anda terlalu ..., unik kali ini!" tambahnya mengejek Vie.
"Oh, justru aku yang berterima kasih sudah dikirimi undangan yang cukup bagus untuk menyalakan perapian di kamar pelayanku!" balas Vie dengan nada santai.
"Apa?" pekik gadis glamor di depan Vie.
"Kurang jelas?" tanya Vie dingin.
__ADS_1
"Lalu bagaimana anda bisa masuk ke sini? Apa tak ada penjaga di depan?" katanya lagi.
"Tak usah memerhatikan orang-orang bodoh itu. Aku punya hal yang lebih penting untuk diberitahukan sekarang!" tukas Vie tak peduli.
"Apa itu?" kata gadis itu menaikkan dagunya congkak. Dia merasa penampilannya lebih cantik dari pada Vie sekarang.
"Pergilah! Pesta kalian sudah usai!!!" kata Vie dengan suara lantang.
"Apa aku terlihat bercanda?" Vie menunjuk wajahnya sendiri. "Keluar sekarang atau kalian mau aku buatkan kuburan di sini?" Vie memasang tampang polos, dia seolah sedang berpikir keras sekarang.
"Tolong dengarkan ucapan Nona Embross, beliau tak bercanda dan akan meragakan gedung ini kalau semua tamu tak juga pergi!" ucap si penanggung jawab berbicara apa adanya.
__ADS_1
Bisik-bisik mulai terdengar, banyak bangsawan segera pergi bahkan tanpa berpamitan. Mereka masih ingin hidup dan menikmati semua hal yang ada di dunia ini, mana mau mereka disuruh mati hanya karena masalah seperti ini.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa anda melakukan ini pada saya?!" pekik gadis glamor itu mengepalkan tangan.
"Katakan saja kalau aku pendendam dan ini balasan dari undangan manis yang kamu berikan!" ucap Vie tak peduli.
"Saya sudah berbaik hati mengundang anda!" katanya tak terima. "Tapi kenapa anda malah menyimpan dendam pada saya?" dia kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa.
"Karena kamu terlalu baik mengirim undangan tepat hari ini, beberapa jam sebelum acara ini di mulai. Jadi, benarkan kali aku harus membayar lunas kebaikan yang kamu berikan?"
Vie melangkah mendekat, kemudian berbisik pelan. "Nikmati waktumu, kuharap kamu suka dengan balasan yang kuberikan. Oh, mungkin kamu mau menangis saking senangnya?" kekeh gadis itu seraya mundur satu langkah. Wah, eskpresi yang dia lihat saat ini tak buruk juga, malah sangat bagus menurutnya.
__ADS_1
"Bereskan semua yang ada di sini, aku akan bermain dari lantai paling atas!" kata Vie meninggalkan lawan bicaranya yang sedang menangis penuh sesal. Tak seharusnya dia sesombing itu, dia hanya ingin bermain sedikit, dia tak tahu kalau hasil yang dia terima seperti ini.