
Robin, penulis yang baru saja menandatangani kontrak kerja dengan Vie. Kini pria itu sudah duduk dengan tak nyaman di kursi penumpang di mobil yang akan membawanya ke rumahnya yang lama. Dia diperlakukan dengan sangat sopan, panggilannya pun sangat dihormati dan supir yang pergi bersamanya selalu berbicara formal padanya. Robin sudah mengatakan untuk bersikap biasanya saja, bagaimana pun mereka sesama pekerja yang bekerja di bawah kediaman Embross. Jadi sedikit tak nyaman dan aneh kalau dia dipanggil tuan setiap saat.
Si supir jelas menolak,tak berani menentang perintah nona majikannya. Dia disuruh memperlakukan Robin dengan ramah. Bukan hanya dia, bahkan semua pelayan yang ada di kediaman sudah diperingatkan akan hal tersebut.
Robin yang canggung mengatakan tak masalah bersikap santai kalau tidak di depan Vie. Tentu saja Robin tak mendapatkan tanggapan yang dia inginkan, dia.masih diperlakukan dengan sopan seolah dia juga salah satu tuan dari kediaman itu.
Tak terasa mereka telah sampai, si supir ingin menemani. Namun, Robin mencegah. Ada yang harus dia bicarakan berdua dengan ibunya, dia sedikit gugup kalau ada orang lain yang melihat dan mendengar apa yang mereka berdua katakan. Si supir mengangguk, menunggu dengan setia di dalam mobil tanpa berniat bergerak dari sana sedikit pun.
Kedatangan Robin disambut dengan pertanyaan yang penuh kekhawatiran. Robin pun menyampaikan kabar kalau dia ditawari pekerjaan dengan gaji yang lebih baik, tunjangan atau bonus tahunan, dan bahkan rumah untuk tempat tinggal tanpa perlu disewa. Si ibu tak percaya, mengatakan kalau itu semua berkah yang harus disyukuri sat Robin menambahkan kalau dia bisa membawa keluarganya tinggal di sana. Dengan begitu mereka bisa mengobati adik Robin yang sering sekali jatuh sakit meski tak diketahui apa penyebabnya. Robin tersenyum lebar, mengangguk mengiyakan. Dia hanya berharap, semoga sang nona menyukai karyanya untuk waktu yang lama. Setidaknya sampai dia bisa membeli rumah sendiri suatu saat nanti.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Setelah berkemas secara singkat, mereka bertiga menghampiri supir yang menunggu sejak tadi. "Anda sudah selesai, tuan?" kata supir itu menghampiri Robin.
"Seperti yang anda lihat, tuan. Tak banyak yang harus dikemas, jadi saya tak memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikan semuanya," balas Robin ikutan berbicara dengan sopan. Yah, kalau memang lawan bicaranya tak bisa bicara santai, dia juga bisa bersikap dengan hal yang sama. Tak susah untuk bersikap formal dan sopan pada sesama.
"Anda mau langsung kembali atau mampir ke tempat lain dulu?" tanya si supir membantu membawakan barang yang dibawa ibunya Robin.
"Apa nona tak mengharuskan kita cepat kembali?" tukas Robin balik bertanya.
__ADS_1
"Nona tak mengatakan apa-apa," balas si supir tersenyum menyapa adiknya Robin yang bersembunyi di belakang ibunya.
"Lebih baik langsung kembali saja, saya takut adik saya kelelahan," ujar Robin memutuskan. Tangannya mengusak ringan rambut adiknya.
"Kalau begitu, mari kita pergi sekarang kalau sudah tak ada lagi keperluan di sini," timpal si supir membukakan pintu mobil untuk mereka.
"Mari, bu," kata Robin menuntun sang ibu untuk duduk di mobil.
"Nak, nanti kursinya kotor," bisik sang ibu dengan wajah cemas.
"Tak apa, nyonya. Saya akan membersihkannya jika memang kotor nanti," timpal si supir mendengar bisikan ibunya Robin. "Duduklah dengan nyaman tanpa mengkhawatirkan apa pun," kata pria itu seraya tersenyum ramah.
Ibu Robin menatap anaknya, Robin pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya pelan. Meski ragu, sang ibu berjalan dengan pelan dan duduk dengan sangat hati-hati. Setelah duduk, sang ibu tak berani banyak bergerak, takut menambah kotor tempat yang dia duduki kalau dia bergerak ke kiri dan kanan. Bahkan anak keduanya pun dipangkunya agar meminimalkan area yang mereka duduki.
"Tak apa, tuan. Begini pun sudah nyaman," kata si ibu membalas dengan sopan.
"Biarkan saja, ibu saya hanya ingin menjaga agar adik saya tak terjatuh kalau misalnya dia tertidur dalam perjalanan," timpal Robin meminta pengertian. "Adik saya cukup lemah karena sering sakit-sakitan," lanjut pemuda itu lagi.
"Bagiamana kalau anda menyampaikan pada nona kalau anda membutuhkan dokter?" saran si supir khawatir akan kesehatan anak yang baru saja dia jumpai untuk pertama kalinya. Dia juga memiliki seorang anak seumuran itu, jadi dia pasti akan khawatir kalau anaknya terus-menerus sakit setiap saat.
__ADS_1
"Akan saya lakukan kalau memang terdesak. Terima kasih sarannya, tuan," kata Robin. Baru kali ini ada yang bersimpati pada dirinya tapi tak menatap dengan tatapan cemooh. Mungkin bekerja di kediaman Embross bukanlah pilihan yang buruk. Yah, meski nonanya sedikit jahat. Tapi kalau dia tak melakukan kesalahan, dia mungkin tak akan dihukum. Semoga saja begitu.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"My lady, Tuan Robin baru saja kembali," kata seorang pelayan menghampiri Vie, menyampaikan kabar yang baru saja dia terima dari pelayan lainnya.
"Kukira dia akan bermain-main di luar sedikit lebih lama," gumam Vie mendengus pelan. Gadis itu memang meminta dikabari kalau pekerja barunya itu telah kembali. "Di mana dia?" tanya Vie tanpa menatap pelayan yang ada di depannya.
"Tuan Robin sedang membawa keluarganya ke rumah yang anda berikan, my lady!" lapor si pelayan dengan cepat.
"Siapkan cemilan manis dan jus segar, suruh pelayan membawanya saat aku ke sana!" titah Vie mengangkat kepalanya.
"Baik, my lady. Saya permisi," kata si pelayan undur diri meski dia heran mengapa nonanya menyuruh membawakan makanan dan minuman. Bahkan sang nona sampai repot-repot menghampiri pelayan baru itu. "Pasti ada yang nona sembunyikan, bukan?" gumam si pelayan tersenyum sok tahu. Pikirannya sibuk menebak-nebak ada hubungan apa nonanya dengan pelayan pria yang baru saja nonanya itu rekrut. Pasti akan ada tontonan yang menarik dan rumor tentang keduanya nanti.
Beberapa menit kemudian, Vie menghampiri rumah yang dia berikan pada Robin. Rumah itu berada cukup jauh dari kediamannya, tapi masih satu lokal. "Apa aku mengganggu?" tanya gadis itu tiba-tiba.
"Nona? Apa ada tugas yang harus saya kerjakan dengan segera?" tanya Robin yang sangat terkejut dengan kehadiran penjahat abad ini di depannya. Majikan barunya ini tak mungkin berniat berbuat aneh pada keluarganya kan.
"Tidak ada," balas Vie santai. "Aku hanya datang untuk menyapa keluarga dari salah satu pekerja ku yang baru saja tiba," lanjut gadis itu menjelaskan. "Tolong dicicipi, mereka baru saja memanggangnya beberapa saat lalu!" tambah Vie. Tangannya mengisyaratkan agar makanan dan minuman yang dibawa segera disiapkan agar bisa disantap.
__ADS_1
"Terima kasih, nona," kata Robin menunduk sopan. "Apa anda ingin bergabung bersama?" tanya Robin basa-basi, berharap kalau majikannya menolak saja.
"Kalau tak keberatan, aku akan bergabung dengan senang hati jika diizinkan!" kata gadis itu langsung mengambil tempat duduk dan duduk dengan nyaman di sana. Robin terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Pasti ini akan menjadi kecanggungan yang lainnya seperti biasa.