Apa Yang Terjadi 2

Apa Yang Terjadi 2
27


__ADS_3

Keempat gadis yang sedang bertemu dan membicarakan cara mereka untuk bisa kembali itu pun akhirnya memutuskan untuk mencoba meminta dengan sungguh-sungguh dan berjanji tak akan pernah berniat kembali ke dunia ini lagi. Meski sedikit ragu kalau itu akan berhasil, keempatnya tetap melakukannya. Mereka saling berpegangan tangan dan meminta dengan setulus hati.


Tak lama kemudian, keempatnya diselimuti oleh cahaya yang menyilaukan. Robin yang melihat ada cahaya dari luar pun sedikit khawatir dan bergegas merangsak maju. Sayangnya, dia dihentikan oleh salah satu pelayan di sana. Tapi bukan Robin namanya kalau dia diam saja, dia terus mencoba untuk maju hingga akhirnya pelayan tadi sadar kalau ada yang aneh di tempat nonanya berada.


Robin menggendong Vie kembali, dia bingung harus bagaimana melapor pada bos besarnya. Berharap saja nonanya sudah sadar dan berbicara sendiri dengan tuan besarnya itu.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Mata vie mengerjap pelan, dia menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang sedikit menyilaukan matanya. Pemandangan yang dia kenal dilihatnya begitu penglihatannya sudah mulai jelas. "Aku kembali!!!" pekiknya langsung bangkit. Gadis itu memegang kepalanya yang sakit karena dia begitu terburu-buru bangkit dari baringnya. "Ah, lebih baik aku menelepon papa dulu dari pada banyak bergerak," kata gadis itu memutuskan untuk menghubungi keluarganya dulu. Dia masih di markas mereka, jadi lebih cepat kalau menelepon dari pada langsung pulang.


Berapa kali pun dicoba, tak ada yang menjawab panggilan telepon dari gadis itu. Sedang sedikit gelisah, Vie bergegas untuk menemui temannya yang lain. "Kita udah balik!" itu suara Lili yang terlihat sangat senang.


"Benar!" kata Vie menyahut tanpa semangat.


"Kamu gak kelihatan senang, Vie?" tukas Indi menatap sahabatnya itu.


"Aku barusan nyoba menelepon orang rumah, tapi tak peduli berapa kali pun aku menghubungi, gak ada yang menerima panggilan aku sama sekali," ucap Vie mengatakan apa yang membuatnya khawatir.


"Mungkin mereka lagi ke luar," kata Miu mencoba menenangkan kawannya.


"Semua? Bahkan sampai ke pelayan juga?" timpal Vie tak yakin.


"Eh, aku juga nyoba telepon gak ada yang nyambung, loh!" seru Lili menunjukkan layar ponselnya.


"Coba aku juga telepon ke orang rumah!" gumam Miu langsung menelepon. Hal yang sama terjadi, tak ada yang menerima panggilan dari mereka satu pun. Itu juga berlaku saat Indi mencobanya.


"Apa kita langsung balik aja?" ucap Lili sedikit panik.

__ADS_1


"Biar kita tahu apa yang sebenarnya terjadi sama keluarga kita?!" kata Indi melanjutkan perkataan Lili sebelumnya.


"Oke, ini lebih penting. Nanti kita baru ketemu lagi kalau ini udah beres!" sahut Miu membalas.


Mereka berempat membulatkan suara untuk segera kembali ke rumah masing-masing, tak ada yang lebih penting dari pada mengetahui kenapa keluarga mereka tak ada yang menjawab telepon sama sekali.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Beberapa waktu kemudian, Vie sampai di kediamannya. Tak ada hal yang mencurigakan, hanya saja taman rumahnya sedikit terbengkalai dari terakhir kali dia lihat. Apa tukang kebunnya dipecat dan mereka belum mendapatkan pengganti. "Ma, pa! Aku pulang!" seru vie membuka pintu. Rumahnya terlihat sepi seolah tak berpenghuni.


Saat akan melangkah masuk, ponselnya pun berdering cukup nyaring, membuat gadis itu sedikit terlonjak sebab terkejut. "Astaga, bikin kaget aja!" serunya menerima panggilan dari kawannya itu.


"Telepon dari kamu hampir bikin aku jantungan! Tahu, gak?!" itu kalimat pertama yang diucapkan Vie saat dia menerima telepon, dia mengeluh saking kesalnya dirinya.


"Itu gak penting, di rumah aku gak ada orang sama sekali, Vie!" ini suara Miu yang menyatakan kalau rumahnya kosong saat ini.


"Di rumah aku juga sama!" timpal Indi dari seberang sambungan.


"Sepertinya sama,. sepi. Aku teriak tadi untuk memberitahu kehadiranku, tapi gak ada satu pun jawaban yang aku dapatkan!" aku Vie mengusap wajahnya lelah.


"Jadi ..., ngapain kita sekarang?" tanya Indi setelah mereka diam cukup lama. "Mau balik ke markas?" tanya gadis itu. Dia tak betah di rumah yang sama sekali tak ada penghuninya. Lebih baik mereka berkumpul di markas dan mencari tahu bersama apa yang sebenarnya terjadi. Dari pada sendiri-sendiri di rumah mereka masing-masing.


"Boleh, aku otw!" ucap Miu menimpali.


"Oke, aku langsung ke sana!" ucap Vie setuju.


"Aku juga malas di rumah sendirian!" kata Lili.

__ADS_1


Panggilan telepon pun berakhir, keempatnya kembali ke markas hampir dalam waktu yang bersamaan. Di otak mereka hanya sibuk memikirkan apa sebenarnya yang terjadi, hingga mereka tak menyadari kalau jalanan yang mereka lalui pun sangat-sangat sepi.


"Kalian udah makan?" tanya Miu begitu mereka berempat berkumpul.


Ketiga kawannya menggeleng serempak. "Gak lapar!" ucap mereka berbarengan.


"Aku juga!" ucap Miu. "Sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga kita?" lanjut gadis itu.


"Entahlah, aku juga ragu kalau kita udah benar-benar balik!" timpal Vie mendesah malas.


"Eh, aku baru nyadar cara bicara kita begini?!" tukas Indi tiba-tiba.


"Loh, iya juga, ya?" seru Miu yang ikut tersadar.


"Apa kita terjebak di dunia lain dan bukannya langsung balik? Makanya cara bicara kita masih sama seperti di dalam novel?!" tebak Vie. Kepalanya sangat sakit menghadapi hal-hal aneh seperti ini terus-terusan.


"Bumi yang lain, gitu?" tanya Miu ragu.


"Aku juga gak yakin, tapi hanya itu satu-satunya alasan yang paling masuk akal kenapa gak ada satu pun orang yang kita temui semenjak kita di sini!" balas Vie tak terlalu yakin dengan tebakannya.


"Lalu? Apa yang harus kita lakukan di sini agar bisa balik?" tukas Lili sedikit kesal karena merasa dipermainkan entah oleh siapa.


Vie menatap lekat ponselnya, gadis itu mengangguk sekali meyakinkan dirinya sendiri. "Mungkin aku harus nulis novel aku sampai tamat?" katanya asal menebak. Semua gara-gara novel yang dia tulis, mereka bisa keluar dan masuk ke dalam sana bolak-balik di awalnya. Namun, saat terakhir kali mereka ke sana. Mereka hanya bisa masuk, dan saat mereka berhasil ke luar, mereka malah berakhir dengan seperti sekarang ini.


"Kalau sudah selesai tapi tetap tak ada hasil juga, bagaimana?" tanya Lili memastikan.


"Saat itu kita cari jalan lain sambil terus berpikir!" balas Miu menimpali. "Kamu bisa fokus untuk nulis dan kami bertiga yang mikir cara lain buat jaga-jaga?!" lanjut gadis itu membagi tugas.

__ADS_1


"Semoga cara cadangan tak perlu digunakan!" ucap Vie berdo'a dengan penuh harap.


"Semangat!!!" seru keempatnya saling mendukung.


__ADS_2