
Vie uring-uringan dari pagi, semua selalu salah di matanya. Meski itu hanya kesalahan kecil, gadis itu selalu berakhir protes dan marah-marah. Hingga para pelayan memiliki satu suara bersama, yaitu menghindari majikannya itu kalau memang bisa.
Saat Vie sedang di taman, dia hampir saja jatuh hanya karena satu batu kecil yang menghalangi jalannya. Emosi pun meluap, semua kena marah. Tak ada yang bisa diperbuat selain meminta maaf dan terus menunduk. Belum selesai di sana, sang ayah yang paling menyayangi anaknya hadir. Bertanya ada apa dan kenapa ribut-ribut di sana. Salah satu pekerja maju dan mengakui kesalahan mereka, bukannya mendapat hukuman, mereka malah dilepas begitu saja oleh Vie. Gadis itu tak mau kalau ayahnya yang menghukum,itu menghalangi citra yang dia bangun sebagai wanita jahat.
Setelah memberi kesempatan kedua, ayah dan anak itu berjalan-jalan berdua dengan santai. Sang ayah menanyai soal Robin, Vie menjawab seadanya dan mengatakan kalau pria itu cukup menjengkelkan. Si ayah memberi saran untuk memecat pelayan yang membuat anaknya kesal. Tentu saja Vie menolak, dia masih butuh seorang penulis yang bisa menulis apa saja sesuai dengan yang dia mau. Sang ayah pun mengalah, menepuk pucuk kepala anaknya. Hal itu malah membuat Vie mengingat tentang orang tua aslinya, dia tak bis menjaga ekspresi wajahnya dan malah membuat ayah dari pemilik tubuh ini khawatir.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Panggilkan dokter, suruh dia ke kamar anakku!" kata si ayah mengambil langkah lebar, Vie sudah digendong begitu saja oleh ayahnya, entah kekuatan dari mana yang dimiliki pria itu hingga kuat menggendong anak gadisnya.
"Anda memanggil saya, tuan?" tanya si dokter bersikap sopan dan formal.
"Lupakan tata krama dan hal lainnya, periksa Vie sekarang juga!" timpal si ayah dengan tatapan mata yang terus tertuju pada anaknya. Dia takut kalau anaknya kenapa-kenapa, bisa saja kan ada penyakit jahat yang sedang menggerogoti anaknya dan dia tak tahu.
"Papa, aku tak apa, sungguh!" kata Vie mencoba duduk bersandar.
__ADS_1
"Tetap diam dan berbaringlah, biarkan dokter memeriksa. Kalau memang tak apa, ya sudah. Setidaknya biarkan dia bekerja sesuai dengan gaji yang di berikan padanya!"
"Baiklah," kata Vie mengalah. "Lakukan dengan cepat!" lanjut gadis itu melotot ke arah dokter yang diperintahkan untuk memeriksa dirinya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Bagiamana? Ada apa dengan nona kecilku?" tanya sang tuan besar begitu melihat dokter telah selesai memeriksa putrinya.
"Papa!" protes Vie tak digubris sama sekali, sang ayah hanya tersenyum penuh kehangatan ke arah putrinya sesaat lalu kembali menatap tajam dokter di depannya. Tatapan yang seolah mengatakan cepat bicara dan laporkan kondisi gadis kesayanganku kalau mulutmu memang masih berfungsi, begitulah kira-kira.
Sang ayah bernapas lega, raut kekhawatiran sedikit berkurang dari wajahnya. "Periksa gadisku secara berkala, pastikan kesayanganku tak merasakan sakit sedikit pun!" kata sang tuan besar yang menyerupai perintah mutlak.
"Baik, tuan besar. Saya permisi untuk membuatkan nona obat dulu, nanti saya akan kembali dua jam sekali untuk memeriksa nona!" kata dokter itu membungkuk sopan sebelum pergi.
Ayah Vie hanya mengangguk tanpa menoleh sedikit pun. Pria itu malah mendekati anaknya dengan langkah pelan, lalu mengusap-usap pucuk kepala anaknya dengan sangat-sangat lembut serta penuh kehati-hatian. "Tidurlah untuk sekarang, setelah merasa lebih baik, cobalah untuk bermain, belanja, atau bahkan berpesta. Apa pun itu tak masalah, bersenang-senanglah seperti yang dokter katakan barusan," ucap sang ayah dengan suara pelan.
__ADS_1
Vie mengangguk, matanya secara perlahan terpejam dan jatuh tertidur begitu saja. "Ikuti aku tanpa bertanya apa pun!" desis sang tuan besar melirik pelayan yang selalu menemani putrinya selama ini. Dia harus mencari tahu apa yang menjadi sumber masalah hingga anaknya memikirkan banyak hal dan jatuh sakit seperti sekarang.
Si pelayan mengangguk ragu, takut kalau hari ini hari terakhir dia bisa bernapas dengan bebas. Dia bahkan belum sempat mengirim kabar kepada keluarganya, apa dia harus mati tanpa ada yang tahu seperti ini.
"Laporkan apa saja yang dilakukan anakku akhir-akhir ini?" suara ketukan jari di atas meja terdengar memenuhi ruangan yang sekarang mereka tempati, begitu mengintimidasi dan menambah kegugupan pelayan yang berdiri kaku tak jauh dari predator sejati pemimpin keluarga saat ini. "Laporkan tanpa terlewat satu pun!" katanya menambahkan.
"Nona jarang keluar rumah, beliau hanya sesekali pergi dan itu pun hanya sebentar. Seingat saya, nona hanya pergi tiga kali. Berbelanja, bertemu dengan nona bangsawan secara tak sengaja, dan kemudian membawa penulis baru sebagai tamu sekaligus pekerja di sini, tuan besar," balas si pelayan cepat mencoba menenangkan jantungnya yang serasa direnggut malaikat kematian.
"Hanya itu?"
Si pelayan mengangguk membenarkan, tak lama kemudian dia menggeleng dengan cepat. "Nona juga pernah mengundang tiga nona bangsawan ke sini beberapa saat yang lalu, tapi tak ada masalah yang terjadi, tuan besar. Anda bisa bertanya pada pelayan yang lain kalau anda tak percaya pada saya," jelas si pelayan mencoba keluar dari masalah secepatnya.
"Pergilah, biar aku yang menjaga kesayanganku untuk saat ini!" kata sang ayah berdiri dari duduknya, dia kembali ke kamar anaknya yang tepat bersebelahan dinding dengan ruangan yang tadi dia gunakan untuk bicara.
Tepat setelah tuannya pergi, pelayan itu pun merasa kekuatan kakinya menghilang begitu saja. Dia langsung jatuh terduduk di lantai dengan wajah yang terlihat sangat-sangat pucat, napasnya tak beraturan, di sertai dengan keringat sebesar jagung yang terus mengalir tanpa henti di dahinya. "Untung saja, untung saja," katanya menahan isakan. Dia bersyukur bisa lepas dari maut yang tadi seakan menghantui dirinya. "Terima kasih, ya dewa. Sudah memberikan saya keberanian dan ketenangan di depan tuan saat saya berbicara," kata pelayan itu tak lupa mengucap syukur pada penciptanya.
__ADS_1
Ayah Vie, menatap sendu anaknya yang tertidur lelap saat ini. Dia tipe ayah yang tak suka melihat anaknya sakit, lebih baik dia saya yang menanggung sakit itu kalau bisa. "Cepatlah sembuh dan lakukan apa pun yang kamu inginkan tanpa peduli dengan pendapat orang lain, kesayanganku!" gumam sang ayah penuh harap saat anaknya terbangun, sang anak akan kembali sehat dan ceria saat bersama dengannya.