
Vie yang duduk dengan tenang tanpa bergerak membuat Anne, adiknya Robin mengintip takut-takut dari belakang badan sang ibu. Sebagai nona bangsawan yang sudah hapal kalau ada yang menatapnya, Vie pun menyadari dengan cepat. Gadis itu pun menanyai si gadis kecil, mengapa gadis kecil itu terus mengintip ke arahnya dengan raut ingin tahu dan juga bercampur takut. Rupanya anak itu hanya ingin mengambil satu kue dari banyaknya jenis kue yang dibawa Vie ke sana. Vie pun mengizinkan dengan acuh.
Semua berjalan dengan baik, Vie mendapat pujian kalau dia sangat cantik dan juga baik, vie pun mengernyit mendengarnya. Dia menatap Robin, tapi penulis itu malas memohon sambil menggelengkan kepalanya tanpa diketahui oleh keluarganya. Akhirnya, Vie pun menjawab seadanya saja. Hanya asal jawab yang penting semua bisa terlewat begitu saja.
Baru beres satu masalah, kini giliran adiknya Robin yang membuat masalah baru. Sudah dari tadi dia memanggil Vie dengan sebutan kakak cantik, sekarang dia malah menyodorkan makanan yang sudah dia gigit separuh ke arah Vie yang terkenal sangat amat jahat. Tanpa menunggu waktu lama, Robin meminta maaf dan menunduk beberapa kali. Pria itu juga membuat adiknya menundukkan kepala sebagai permintaan maaf, dia berharap mereka bisa mengurangi kemarahan majikannya itu walau hanya sedikit.
Vie tak ambil pusing, dia malah menyuruh Robin membuat kejadian ini sebagai cerita pertama yang harus ditulis pria itu. Dia bahkan menggarisbawahi kalau dia harus menjadi tokoh utama penjahat yang sangat-sangat jahat dan tak terkalahkan di sana. Gadis itu bahkan menyuruh Robin menggunakan imajinasinya membuat cerita tersebut agar terlihat nyata.
Robin merasa disiram air dingin, seketika dia menjadi luar biasa lega. Tak membuang waktu, pria itu mengiyakan apa yang diperintahkan oleh majikannya itu. Tak berhenti di sana, Vie memberi waktu untuk Robin menghabiskan waktu dua hari bersama keluarganya sebelum dia benar-benar bekerja. Robin pun berterima kasih untuk kedua hal tersebut.
Setelah Vie meninggalkan rumah yang mereka tempati, Robin dan ibunya bergantian memberi peringatan secara halus kepada keluarga mereka yang paling kecil dan polos satu ini. Anne pun akhirnya mengerti saat diberitahu kalau dia melakukan kesalahan, mereka tak akan diizinkan tinggal di sini lagi. Artinya, kalau tak tinggal di rumah ini, mereka tak akan bisa mendapatkan makanan seperti sekarang. Anne berjanji akan bersikap baik ke depannya, dia pasti akan menuruti apa yang dikatakan kakak dan juga ibunya tanpa melupakan satu pun dari apa yang ibunya dan kakaknya ingatkan.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Hari berlalu, Robin menyelesaikan tulisannya dengan cepat meski dia diberi waktu untuk bersama dengan keluarganya sebelum benar-benar mulai bekerja. Dia harus membayar sebanyak yang sudah diberikan pada dirinya. Dia dan keluarganya diberi tempat tinggal, makanan hangat dan enak tercukupi untuk mereka, tak ada lagi tetesan hujan di sana-sini, bahkan dokter pun memeriksa adiknya dan mengatakan kalau adiknya bisa menjadi lebih sehat dengan banyak makan dan beristirahat. Hal yang tak mungkin bisa dia lakukan dulu, kini dia dapatkan hanya dengan satu kontrak yang dia tandatangani. Dia hanya perlu bekerja sebagai penulis seperti biasanya, tetapi ceritanya harus sesuai yang diinginkan oleh sang nona.
"My lady, Robin minta waktu untuk bertemu dengan anda saat ini," kata pelayan tua menghampiri Vie dengan hati-hati. "Haruskah saya meminta dia kembali lagi nanti?" lanjutnya.
__ADS_1
"Suruh dia masuk!" balas Vie tanpa menatap lawan bicaranya.
"Baik, my lady," kata pelayan itu kemudian undur diri.
Tak lama, Robin pun masuk ke ruangan Vie. "Maaf menggangu waktu anda, nona," kata pria itu sopan.
"Ada apa?" balas Vie acuh.
"Ini yang anda minta waktu itu, nona," jawab Robin memberikan lembaran kertas yang penuh dengan coretan tangannya.
"Nona, tolong jangan salah paham! Saya tak pernah seperti itu, sungguh?!" Robin menjelaskan dengan cepat, tak ingin melihat bosnya marah pada dirinya dan berimbas dengan pemecatan di tempat. "Hanya saja saya mendapatkan inspirasi yang bagus hari ini dan begitulah semua terjadi secara alami. Saya tak bermaksud mengabaikan ucapan anda sama sekali seperti yang anda pikirkan barusan, nona," tambah pria itu menjelaskan lebih banyak.
Vie mengangguk paham, menerima penjelasan dari Robin dengan cepat. Yah, tak ada yang bisa mencegah kapan dan di mana ide cerita datang. Dan kalau itu terjadi, harus cepat-cepat ditulis agar tak lupa. "Kalau sudah, silakan ke luar dari sini," ucap Vie tak ingin memperpanjang masalah yang sebenarnya tak ada.
"Baik, nona. Kalau begitu saya permisi dulu," balas Robin segera meninggalkan ruangan Vie tanpa disuruh dua kali. "Hampir saja aku mati di tempat!" gumam Robin sambil memegang dadanya, dia bisa merasakan kalau jantungnya masih berdetak dengan kencang saat ini. Kalau dengan tuannya yang dulu, saat dia menyelesaikan naskah lebih cepat, mereka akan semakin senang. Dia kira hal serupa akan berlaku dengan majikannya yang sekarang, rupanya sangat bertolak belakang dengan pengalamannya selama ini.
"Padahal tadi aku mau sekalian mengucapkan terima kasih," ucap Robin saat jantungnya tak terlalu ribut seperti tadi lagi. "Tapi aku lupa karena takut melihat wajah dingin nona," kata pria itu bergidik ngeri.
__ADS_1
"Tuan Robin sedang apa di sini?" tanya seorang pelayan yang kebetulan melihat Robin lama berdiri di tempat yang sama dari jauh, bahkan pria itu tak sadar kalau ada seseorang yang berada di sekitarnya.
"Astaga, kukira siapa?!" jantung Robin kembali berdetak, tapi tak sekencang saat dia bersama dengan Vie. Ah, jangan salah paham, ini bukan detakan yang mengartikan kalau dia sedang dilanda cinta. Dia hanya terlalu takut dan terkejut saja, jadi tak ada hubungannya sama sekali dengan cinta-cintaan.
"Maaf, maaf sudah mengagetkan anda, tuan!" tukas pelayan itu tak enak hati.
"Tak apa, salahku yang memikirkan hal lain di tempat seperti ini sampai tak sadar kalau ada orang di sebelahku!" balas Robin merespon dengan cepat.
"Tolong tunggu di sini sebentar, tuan. Saya akan segera kembali!" kata pelayan itu lalu.melangkah dengan sangat cepat tanpa menunggu persetujuan dari Robin. Yah,mau tak mau Robin pun menunggu sampai pelayan itu kembali.
"Tolong diterima, ini sebagai ganti kata maaf saya karena sudah membuat anda kaget!" pelayan itu baru saja kembali dan membawakan beberapa makanan ringan dari dapur. Ada tart dan beberapa kue kering lainnya.
"Tak perlu, anda tak salah sama sekali!" tolak Robin tak enak kalau menerima hal seperti ini.
"Tolong diterima agar saya merasa lebih nyaman, tuan! Saya merasa sangat bersalah," kata pelayan itu dengan wajah sedih.
"Baiklah, terima kasih," kata Robin menerima pemberian dari pelayan tadi. Mereka berpisah di sana. Robin pun memberikan makanan itu kepada adiknya semua, dia bisa memakan sisanya nanti, itu pun kalau masih ada yang tersisa. Kalau habis, ya susah. Dia tak keberatan asal adiknya merasa senang dan kenyang.
__ADS_1