Apa Yang Terjadi 2

Apa Yang Terjadi 2
11


__ADS_3

Rupanya Vie hanya ingin merekrut pria itu sebagai penulis pribadinya. Tentu saja dia akan menyuruh pria tadi menulis berbagai cerita manis sebagai awalnya. Tapi setelah itu, dia akan meminta si penulis untuk membuat kisah tentang kejahatannya. Semua tentang dirinya harus ditulis sangat jelas dan sejahat-jahatnya. Biar semua pelosok tahu kalau tak ada lagi orang yang bisa menandingi kejahatan dirinya.


Si penulis meminta waktu untuk berpikir, Vie pun memberikannya. Bukannya lima hari seperti yang si penulis pikirkan, ternyata Vie hanya memberi waktu lima menit dan waktu yang diberikan itu terus berkurang tanpa peduli si penulis sudah berpikir atau belum.


Kesal, emosi, dan ketidakberdayaan, membuat si penulis menandatangani dengan cepat kontrak kerjanya. Dia jadi tak perlu berpikir lagi dan menerima semua tawaran yang diberikan oleh Vie kepadanya. Vie bahkan mengizinkan dirinya menjemput keluarganya mengunakan mobil, di mana dia bisa mendapatkan kemudahan seperti itu.


Di satu sisi si penulis merasa takut kalau dia mengambil keputusan yang salah. Namun, di sisi lain. Si penulis justru terlihat senang, seolah beban pikirannya berkurang banyak. Ibu dan adiknya bisa tidur di tempat tidur yang hangat, memakai selimut yang lembut. Tak ada lagi angin dingin yang menusuk, tak ada lagi pemilik rumah yang berteriak marah setiap bulannya padahal dia hanya telah membayar sehari-dua hari, itu pun terjadi kalau gajinya juga belum turun dari bosnya yang lama.


"Kuharap ini keputusan yang terbaik yang pernah aku ambil!" gumam pria itu sebelum bangkit berdiri, dia harus menyapa sesama pekerja di rumah ini. Berteman dengan semuanya dan juga menjemput ibu dan adiknya di hari itu juga. Banyak yang harus dia lakukan sekarang.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

__ADS_1


Robin atau penulis yang baru saja direkrut oleh Vie, kini sedang duduk dengan tak nyaman di kursi penumpang. Seumur hidupnya baru kali ini dia duduk di dalam mobil, rasanya sangat canggung. Lalu dia juga masih bingung apa yang akan dia katakan pada sang ibu nanti, semoga saja semua berakhir tanpa banyak membuang waktu. Dia tak ingin membuat sang majikan marah karena dia terlalu lama di luar tanpa bekerja hari ini.


"Anda bisa duduk dengan tenang, tuan. Saya akan mengantarkan anda sampai ke tujuan dengan sangat hati-hati!" kata si supir mengumbar senyum bersahabat.


Robin menggaruk pipinya canggung, sangat jarang ada orang yang berpakaian rapi dan terlihat berpendidikan tinggi memanggil dan berbicara dengannya dengan sangat sopan seperti ini. "Ehem, jangan terlalu formal. Bagaimana pun, saya juga seseorang yang dipekerjakan oleh nona seperti anda," balas pemuda itu setelah berdehem pelan.


"Ha-ha-ha, mana saya berani. My lady sendiri yang menyuruh kami semua untuk bersikap sopan kepada anda dan juga keluarga anda, tuan!" kata si supir mengaku.


Mata Robin berkedip cepat, dia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bukankah dia hanya salah satu pekerja. Apa memang harus sesopan ini kalau sesama pekerja. "Baiklah, karena itu perintah, lakukan saja kalau di depan. nona," tukas Robin, tangannya mengusap lehernya pelan, dia mungkin harus terbiasa kalau ini memang perintah dari sang majikan.


"Tak usah, tunggu saja di sini!" sela Robin menghentikan pergerakan si supir barusan. "Ada yang ingin saya sampaikan pada ibu saya secara pribadi," lanjut pria itu.

__ADS_1


Sang supir mengangguk paham, membiarkan ibu dan anak itu berbicara di rumah mereka. Yah, mungkin saja ada beberapa kata yang harus pria itu sampaikan pada orang tuanya sebelum mereka pindah dari sana. Supir tadi pun menghabiskan waktu dengan melihat sekeliling melalui kaca jendela mobil, dia tak berani meninggalkan tempat itu, takut kalau seandainya Robin kembali dan dia tak ada. Makanya dia menunggu di sini sampai penulis itu kembali, baru mereka akan pergi bersama ke kediaman Embross nanti.


Di sisi lain, si penulis menarik napas panjang berkali-kali. Dia melakukan itu untuk mengurangi rasa gugupnya. Dia berharap ibunya mau mendengarkan dirinya dan bersedia pindah bersama dengan dirinya. "Aku pulang!" kata pria itu memasang senyum ceria. Mendung yang menggantung di atas kepalanya tadi, segera berganti dengan cuaca yang cerah disertai hangatnya sinar mentari. Itulah topeng yang selalu dirinya pasang kalau sedang berada di rumah. Apa pun kesulitan yang dia hadapi di luar, dia akan meninggalkan semuanya ketika masuk ke rumah. Itu dia lakukan agar sang ibu tak merasa bersalah dan khawatir kepada dirinya.


"Dari mana saja kamu?" tanya sang ibu sambil mendekati anaknya. "Ibu mendengar ada keributan di tempat kamu bekerja, saat ibu ke sana dan mencari kamu, semua tak menjawab dan hanya diam sekeras apa pun ibu bertanya," lanjut si ibu dengan suara cemas yang amat kentara.


Robin menarik garis bibirnya, tersenyum lebar tapi jelas itu bukan senyum yang tulus. Dia sudah terbiasa bersikap seolah baik-baik saj kalau di depan ibunya, jadi secara tak sadar dia melakukan hal yang sama bahkan sebelum dia memutuskan harus berekspresi seperti apa. "Aku hanya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, bu," katanya menjelaskan tanpa tergagap. Tawaran kerja, lebih tepatnya dia diculik dulu baru ditawari pekerjaan di akhir. Itu pun dengan menggunakan ancaman, yah begitulah yang Robin rasakan dari sudut pandangnya.


"Benarkah?" tanya sang ibu terlihat senang, bersyukur anaknya tak terlibat masalah. "Lebih baik dari pada di tempat sebelumnya?" tanya wanita paruh baya itu lagi.


"Iya, bu!" balas si anak mengangguk cepat. "Saya diberi gaji yang cukup tinggi, disediakan tempat tinggal juga. Bahkan saat saya menyinggung kalau saya tak bisa meninggalkan ibu dan adik kecilku, saya diizinkan untuk membawa ibu tinggal bersama saya!" lanjut Robin menjelaskan maksud kedatangannya lancar tanpa gugup sama sekali.

__ADS_1


"Ya, dewa! Ya, dewa! Ini sungguh berkah yang tak terduga, kita harus bersyukur pada sang pencipta?!" kata sang ibu menangkupkan kedua tangannya menjadi satu seraya memejamkan mata. "Kita jadi bisa mengobati adikmu, kan?" tukas si ibu kelewat senang. Adik Robin memang sering sakit-sakitan, mungkin karena cuaca atau mungkin juga tempat tinggal mereka yang sudah sangat tak layak dan harus banyak diperbaiki. Dalam sebulan, bahkan anak kecil itu bisa sakit lebih dari sepuluh kali.


"Tentu, ibu dan Seline bisa tinggal dengan tenang dan saya yang akan bekerja!" kata Robin menjanjikan hari yang lebih baik untuk ke depannya. Entah dia tak tahu, apa dia bisa menjaga janji itu untuk waktu yang lama. Dia bahkan tak yakin kalau nonanya akan terus menyukai karya-karya yang dia tulis untuk jangka waktu yang panjang.


__ADS_2