Apa Yang Terjadi 2

Apa Yang Terjadi 2
22


__ADS_3

Vie dan Robin menghabiskan waktu bersama. Robin banyak bertanya tantang hal yang tak dipahaminya, salah satu contohnya adalah alasan Vie sampai menghancurkan acara orang lain. Vie menjelaskan dengan santai, dia mengatakan kalau mereka sendiri yang meminta hal tersebut. Begitu mengetahui alasannya, Robin jadi ikutan kesal. Dia malah mengatai kalau mereka yang sebenarnya telah bersikap kurang ajar duluan, bagus nonanya sudah melakukan hal yang tepat.


Keduanya banyak bercerita, hingga mereka memutuskan untuk kembali saat Anne dan Ibu Robin telah kembali. Tidak seperti Vie yang bisa dengan santainya pulang tanpa peduli apa pun, para pekerja di gedung yang baru saja ditinggalkan oleh Vie terlihat sangat kacau. Para pekerjanya sibuk ke sana ke mari, para atasan sibuk mengurus banyak hal.


"Tuan, ada komplain baru yang datang!" lapor salah satu karyawan membawa setumpuk kertas, itu semua merupakan komplain dari para bangsawan yang tadi dia usir dari sini.


"Tulis surat balasan, berikan bingkisan sebagai bentuk permintaan maaf. Sampaikan juga alasan yang sebenarnya pada mereka!" titah pemilik usaha mencoba menyelamatkan bisnisnya.


"Tapi tuan ... apa tak masalah kalau sampai Tuan Embross tahu?" cicit si pegawai ragu-ragu.


Si bos terdiam, dia lupa akan hal yang paling penting. Mereka memang tak boleh menyinggung pelanggan agar bisnis mereka tetap berjalan. Tapi mereka lebih tak boleh lagi mengganggu predator asli yang sedang tidur dengan lelapnya. Bukan hanya bisnisnya, mungkin dia pun akan menghilang tanpa ada yang tahu. "Taruh saja, nanti biar saya yang mengurus semuanya. Terima kasih sudah mengingatkan hal yang paling penting," katanya menghela napas panjang. Dia memang ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah, tapi bukan berarti dia harus terperosok ke dasar jurang hanya karena hal tersebut.


"Aku bisa gila kalau begini!" gumamnya mulai membalas satu persatu komplain yang dia terima. Dia merasa semua tak akan ada habisnya. Baru satu yang selesai dia balas, sudah ada sepuluh komplain baru yang langsung datang dan meminta untuk diselesaikan.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Keesokan harinya, Robin menemui Vie. Pemuda itu dibawa ke rumah kaca karena Vie sedang bersantai di sana saat ini. "Ada apa kamu ingin bertemu?" tanya Vie menatap Robin.


"Saya ingin menyerahkan ini, nona," kata Robin membalas.

__ADS_1


Vie menerimanya dan membuka lembaran demi lembaran kertas tersebut. "Jangan bilang kamu bergadang untuk membuat ini semalaman?" tanya gadis itu tak percaya.


Robin mengangguk membenarkan. "Saya hanya ingin menyelesaikannya dengan lebih cepat saja, nona!"


"Dengar, aku suka semuanya. Kamu yang sangat rajin bekerja, kamu yang memilih menulis sepanjang malam, kamu yang menyelesaikan apa yang aku minta dengan cepat. Namun, aku benci dengan adanya kemungkinan penulis yang aku bawa akan jatuh sakit hanya karena kebodohannya dalam memutuskan bekerja terlalu keras!"


Robin menundukkan kepalanya, apa dia salah kali ini. Tapi dia hanya ingin menunjukkan kalau dia tak hanya makan gaji buta, dia bisa bekerja lebih giat sesuai dengan bayaran yang dia terima. "Maaf kalau saya sudah melakukan hal bodoh, nona!" kata pria itu dengan suara yang terdengar penuh sesal.


Vie menghela napas pelan, susah kalau bicara dengan seseorang yang perasaannya terlalu halus seperti pria di depannya ini. "Ya, aku tak mengatakan itu untuk mendapatkan perminta maafkan dari kamu! Aku mengatakannya agar kamu bekerja secukupnya dan tidak berlebihan seperti sekarang. Kamu juga memiliki kehidupan yang harus kamu perhatikan. Jadi jangan hanya fokus bekerja saja!"


"Saya akan melakukan sebaik mungkin lain kali, nona!" ucap Robin dengan wajah terlihat lebih ceria.


"Duduklah, temani aku menghabiskan semua ini!" titah Vie mulai.membaca lagi karya kedua tulisan tangan Robin.


"Kamu sudah bertanya barusan!" balas Vie tak peduli.


Robin menggaruk pipinya canggung. "Bukan pertanyaan seperti itu, nona," timpal Robin melirik ke arah lain.


"Tanyakan saja," Tukad Vie acuh tak acuh.

__ADS_1


"Emm, mengapa nona selalu ingin menjadi tokoh jahat di dalam cerita yang saya buat?" Robin akhirnya menanyakan pertanyaan yang akhir-akhir ini membuat dia selalu penasaran. Pasalnya beberapa orang yang dia temui sebelumnya, sekali berebut untuk menjadi pahlawan atau tokoh utama dalam cerita. Tak ada yang ingin menjadi penjahat sama sekali.


"Memangnya kenapa? Asalkan menjadi penjahat yang keren, pintar, berkuasa. Hal lain bukanlah masalah sama sekali!" balas Vie asal. "Sebagian penjahat dalam cerita selalu bersenang-senang, tak pernah dirundung, yah paling hanya memiliki akhir yang tragis. Tapi dia sudah cukup banyak tertawa dan bahagia selama berjalannya cerita," lanjut Vie mulai bercerita mengapa dia memilih tokoh jahat sebagai peran yang dia sukai. "Berbanding terbalik dengan tokoh baik yang selalu saja menangis, menangis, dan menangis entah karena dirundung atau sesuatu yang lain. Mereka hanya tersenyum bahagia sekali saat di akhir cerita. Itu pun kalau ceritanya berakhir happy ending, kan?!" tambah Vie cukup masuk akal.


"Saya mengerti sekarang!" ucap Robin tiba-tiba. "Anda benci menangis makanya anda memilih menjadi tokoh jahat di cerita saya, kan?" tanya pria itu penuh semangat dan percaya diri.


Vie mengangguk sekali. "Bisa dibilang begitu," kata gadis itu setuju tanpa pikir panjang.


"Baiklah, akan saya buatkan cerita tentang penjahat yang penuh kuasa, seenaknya, tapi tetap memiliki akhir yang bahagia untuk anda!" mata rabun terlihat berapi-api, sepertinya pria itu menjadi lebih bersemangat setelah tahu alasan bosnya itu menyukai peran antagonis.


Vie menarik sudut bibirnya ke atas. "Aku menantikannya kalau begitu," kata gadis itu cukup tertarik mendengarnya. Yah, siapa yang mengharuskan seorang penjahat harus berakhir tragis. Mereka bisa membuat cerita yang berbeda sesuai dengan yang mereka inginkan bukan.


"Kalau begitu saya permisi, nona!" kata Robin terburu-buru.


"Jangan terlalu memaksakan diri!" tukas Vie mengingatkan.


"Tenang saja, nona. Kali ini saya akan melakukan sesuai dengan kemampuan saya tanpa memaksakan diri sama sekali!" balas Robin sebelum dirinya benar-benar pergi.


Baru saja Robin masuk ke tempatnya menulis dan memegang pena, sudah ada yang mengetuk pintunya. Dengan berat hati dia pun bangkit kembali dari duduknya dan membukakan pintu untuk tamu yang datang di saat yang tak tepat ini. "Ada apa?" tanya Robin tetap sopan meski kesal.

__ADS_1


"Tuan besar ingin bertemu dengan anda, tuan!" kata pelayan itu membuat Robin menegakkan punggungnya karena terkejut mendengar siapa yang memanggil dirinya.


Robin menarik napas pelan. "Saya mengerti, bisa tolong pimpin jalan?" kata pria itu bersikap lebih sopan lagi. Dia tahu percuma kalau dia bertanya pada pelayan yang berjalan di depannya ini, jadi lebih baik dia langsung saja menemui tuan besar yang memiliki kekuasaan sesungguhnya atas semuanya di sini. Dia pasti pada akhirnya akan tahu apa alasan dia dipanggil seperti ini nantinya.


__ADS_2