Apa Yang Terjadi 2

Apa Yang Terjadi 2
13


__ADS_3

Robin menjemput ibu dan adiknya. Dia juga membantu keduanya berkemas. Karena hanya ada sedikit barang yang harus dibawa, waktu yang diperlukan untuk berkemas menjadi sangat singkat. Mereka langsung kembali begitu sudah selesai, padahal Robin ditawari untuk mampir ke mana saja yang pria itu inginkan kalau memang ada tempat yang ingin dia datangi.


Saat akan duduk di dalam mobil, sang ibu takut membuat mobil yang terlihat mengkilat dan bersih itu kotor. Setelah diberi penjelasan dan ditenangkan agar tak khawatir, akhirnya sang ibu pun mau duduk. Tetapi masih tetap saja beliau memangku anak keduanya di pangkuannya.


Vie yang mendapat laporan kalau bawahan barunya sudah kembali pun menyuruh bagian dapur untuk menyiapkan cemilan dan jus segar. Dia sendiri yang akan mengantar, ya tentu saja pelayan yang membawa makanan dan minuman yang dia minta disediakan itu.


Kedatangan Vie membuat Robin sangat terkejut, pemuda itu mengira kalau sang nona memiliki tugas dadakan yang harus segera dia selesaikan, makanya sang nona menampakkan diri di sini. Vie mengatakan kalau dia hanya ingin menyapa saja dan membawakan makanan untuk menyambut anggota baru. Robin yang tahu diri pun mengajak Vie bergabung, tentu saja itu hanya basa-basi. Pria itu berharap kalau nonanya langsung menolak tanpa pikir panjang. Rupanya Vie malah menerima dengan cepat, duduk dengan santainya tanpa beban. Robin pun sadar kalau dia sudah menginjak ranjau yang salah, ini pasti akan sangat canggung ke depannya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Ada apa?" tanya Vie melihat adiknya Robin melirik dirinya takut-takut.


"A, a, apa ... saya boleh mengambil satu?" cicit gadis kecil itu.


"Ambil sebanyak yang kamu inginkan!" balas Vie dengan nada acuh.


Gadis kecil itu mengulurkan tangannya, senyum manis tergambar cantik di bibirnya nan mungil. "Terima kasih, kakak cantik!" katanya senang, memakan dengan lahap kue yang baru saja dia ambil. "Ini enak sekali, ibu coba juga. Ibu pasti suka!" lanjut anak itu setelah mengigit satu potong. Baru kali ini dia memakan kue seenak ini, dia ingin ibunya juga mencicipi makanan lezat tersebut.

__ADS_1


"Maafkan adik saya, nona!" kata Robin dengan perasaan cemas. Bangsawan mana yang suka dipanggil kakak oleh orang tak punya seperti mereka. Itu merupakan suatu penghinaan bagi bangsawan yang menganggap diri mereka paling berharga.


"Tak perlu meminta maaf," kata Vie tak peduli. "Makan yang banyak!" lanjut gadis itu sambil menatap anak kecil di depannya. Dia senang melihat anak kecil makan dengan lahap seperti ini.


"Terima kasih sudah memberikan pekerjaan kepada anak saya, nona besar!" kata si ibu penuh dengan syukur.


"Malah saya yang senang ada seseorang yang bisa saya buat repot kedepannya," balas Vie.


"Anda nona yang sangat baik dan cantik rupanya," kata si ibu lagi. Pujian yang terdengar sangat tulus yang baru pertama kali Vie dengar dari sini.


Vie melirik singkat Robin, sedangkan Robin menangkupkan tangannya sambil menggeleng tanpa sepengetahuan keluarganya. Dia berharap majikannya itu tak berkata macam-macam yang membuat ibunya khawatir akan kesulitan yang mungkin saja dia dapatkan selama bekerja di sini. "Saya tak sebaik itu," balas Vie mendengus dalam hati. Rupanya masih ada orang yang tak tahu rumor tentang dirinya. Padahal dia sangat terkenal karena terlalu jahat dan berdarah dingin. Bisa-bisanya dia dipuji seperti barusan.


"Kakak cantik tak mau?" kata adik Robin menyodorkan makanan bekas dia gigit, masih tersisa separuh. Gadis kecil itu melakukan hal tersebut karena terbiasa berbuat seperti itu kepada keluarganya.


"Anne, jangan tak sopan!" tegur sang ibu pelan. "Nona ini adalah majikan kakak mu, nak!" lanjut wanita paruh baya itu menjelaskan.


"Maafkan adik saya, nona! Itu kebiasannya berbagi apa saja yang dia makan!" timpal Robin seraya menunduk berkali-kali. Pria itu bahkan memaksa adiknya untuk ikut menunduk sebagai permintaan maaf. "Tolong maklumi karena Anne masih kecil, nona!" lanjut Robin. Jantungnya bertalu kencang, mengumpat dan menyalahkan dirinya karena dia terlalu ceroboh membiarkan adiknya melakukan hal yang biasa mereka lakukan saat bersama.

__ADS_1


Vie memejamkan matanya. Itu membuat Robin semakin gelisah, pasti wanita jahat ini akan mengamuk dan mengusir mereka. Masih untung kalau ini berakhir hanya dengan pengusiran, bagaimana kalau adiknya dihukum cambuk atau yang lainnya. Tubuh adiknya yang lemah tak akan bertahan di bawah siksaan seperti itu.


Suara helaan napas terdengar, ibunya Robin memeluk anaknya yang kecil sambil membekap mulut sang anak, berharap anaknya tak lagi berbicara sembarangan dan membuat masalah. "Buat ini menjadi cerita sebagai gantinya!" titah Vie dengan suara dingin. "Gunakan imajinasi mu dan buat aku menjadi tokoh utama jahat yang tak terkalahkan, paham?" lanjut gadis itu segera bangkit.


"Baik, nona!" kata Robin menjawab dengan cepat. "Akan saya lakukan sebaik mungkin!" lanjut pria itu. "Terima kasih atas kesempatan yang anda berikan, nona!" tambahnya merasa bersyukur mereka bisa lepas dari keadaan genting.


"Ya, ya, ya!" tanggap Vie malas. "Nikmati waktumu, bermainlah bersama keluargamu lebih lama!" kata gadis itu memberi izin Robin untuk menemani keluarganya beradaptasi di sini. "Kembalilah bekerja dua hari kemudian!" tambahnya sebelum dia benar-benar pergi.


"Fyuh, untung saja," kata Robin menghela napas lega. "Sepertinya nona sedang salam mood yang baik," katanya penuh syukur bisa lepas dari keadaan yang berbahaya.


"Nak, jangan lakukan hal seperti tadi pada siapa pun kecuali pada ibu dan kakakmu, ya," kata si ibu menegur dengan lembut.


"Kenapa?" tanya Anne tak paham. "Apa kakak cantik tadi tak suka?" gadis kecil itu menatap kue yang dia makan. "Padahal rasanya sangat enak," gumam gadis itu terlihat sedih tak bisa berbagi.


"Anne, panggil nona pada orang tadi! Jangan panggil kakak, paham!" tegur Robin mencoba tak memarahi adiknya. Dia tahu kalau adiknya tidak melakukan itu dengan niat buruk, malah adiknya berniat baik dengan membagi makanan enak yang dia makan. Tapi tak mungkin juga majikannya mau membuka mulut dan menerima suapan dari bekas gigitan orang lain. Sungguh hal yang mustahil terjadi.


"Dengarkan apa yang kakakmu katakan, nak. Kalau tidak, kita tak akan bisa tinggal di sini lagi nanti," bisik si ibu membantu anak sulungnya berbicara.

__ADS_1


"Kalau tidak tinggal di sini, tak akan ada makanan seperti ini kan, bu?" tanya gadis kecil itu polos.


Si ibu mengangguk, Robin juga mengangguk saat tatapan adiknya beralih padanya. "Akan aku lakukan seperti yang ibu dan kakak katakan!" kata gadis kecil itu menurut. Yah setidaknya satu masalah teratasi, adiknya tak akan lagi membuat masalah seperti barusan selama beberapa waktu.


__ADS_2