Apa Yang Terjadi 2

Apa Yang Terjadi 2
6


__ADS_3

Setelah mengantarkan para tamunya, Vie tak lupa memberikan bingkisan yang sudah disiapkan oleh para pelayannya sebelum para nona muda yang menjadi tamunya benar-benar pergi.


Vie tak menunggui kepergian para tamunya, dia malah masuk terlebih dahulu ke dalam rumahnya. Kepala pelayan menangani masalah yang dibuat nonanya, menjaga agar perasaan para tamu tak tersinggung karena tingkah tak sopan sang nona barusan. Dia beralasan kalau nonanya terlihat sangat lelah, makanya sang nona langsung pergi tanpa mengatakan apa pun saking lelahnya sang nona.


Gosip baru pun beredar di antara para pelayan, tapi langsung dihentikan oleh kepala pelayan yang sangat berdedikasi. Tapi sekuat apa pun seseorang berusaha menghentikan, tetap saja tak akan bisa menjaga dan mengatur apa yang diucapkan oleh mulut semua pelayan di kediaman ini. Buktinya, setelah kepala pelayan pergi. Para pelayan yang ditinggalkan sibuk mai berceloteh tentang nona mereka lagi.


Namun, tak semuanya menceritakan tentang hal buruk. Ada juga pengharapan agar sang nona bisa berteman dan menjadi semakin manis ke depannya. Mereka sangat ingin melayani nona yang cantik, manis, dan baik hati. Bukannya yang berwajah datar tanpa senyum cerah sedikit pun.


Di kamarnya, Vie berbaring. Gadis itu sama sekali tak tahu dan bahkan tak peduli kalau dirinya dijadikan topik pembicaraan yang hangat di kalangan para pelayan yang bekerja di rumahnya. Dia.malah sibuk berpikir kalau dirinya tak akan lagi mau ke sini kalau mereka bisa kembali. Setelah itu, Vie pun jatuh tertidur karena terlalu lelah memutar otaknya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Waktu berlalu, keesokan harinya, Vie sudah bersiap bahkan sebelum matahari mengintip dari tirai jendelanya. Dia akan jalan-jalan keluar dengan beberapa pengawal yang mengikuti. Sebenarnya dia ingin pergi sendirian, tetapi itu langsung ditentang dengan alasan keamanan sang nona harus dijaga atau nyawa mereka yang terancam saat terjadi bahaya. Tak mau mendengar rengekan menjengkelkan di pagi hari, Vie pun hanya mengangguk dan mengurangi pengawal hingga menjadi dua orang saja di sisinya. Tentu saja dia tak akan tahu kalau ada beberapa pengawal yang menyamar dan menjaga keselamatannya dari kejauhan, mereka akan bertindak dan muncul kalau diperlukan saja, misalnya saat ada bahaya yang mengancam dan tak bisa ditangani oleh pengawal yang ditugaskan di sisi nona mereka.


"Ya, dewa. Ya, dewa! Anda cantik sekali, nona!!!" pekik pelayan yang merias wajah Vie. Pelayan itu merasa bangga dengan kemampuan tangannya dalam merias seseorang, nonanya yang sudah cantik menjadi semakin cantik dengan sentuhan ajaib dari tangannya. Tentu saja, produk make up yang digunakan juga menjadi faktor utama alasan itu bisa terjadi.


"Tentu, aku tahu kalau wajah ini sangat cantik!" ucap Vie membalas, gadis itu mengangkat sudut bibirnya ke atas, membentuk seringai angkuh yang mengatakan kalau dirinya sudah terbiasa dengan pujian seperti barusan. "Ambil ini," kata gadis itu lagi menyerahkan aksesoris yang sudah jarang dia gunakan pada pelayan yang tadi memuji dirinya.


"Ya? Bagaimana saya berani mengambil barang milik anda, nona?!" kata pelayan itu menunduk takut. Dia takut kalau-kalau nanti dikira mencuri perhiasan sang nona karena memang dia yang selalu bertugas mengurus penampilan nona mereka itu, jadi pasti dia juga yang menaruh dan merawat semua perhiasan yang sering nonanya gunakan setiap harinya.

__ADS_1


"Ambil saja!" kata Vie melirik dingin. "Aku sudah bosan menggunakan itu," lanjut gadis itu. "Cepat ambil! Kamu mau membuat tangan saya pegal?" hardik Vie melihat wajah pelayannya ragu-ragu, antara ingin mengikuti perintahnya atau menolak pemberian darinya.


"Ba, ba, baik, nona," kata pelayan itu mengulurkan tangannya. "Terima kasih banyak, nona!" katanya menggenggam pemberian dari majikannya dengan erat, seolah itu harta karun yang akan dia jaga untuk selamanya.


"Hn, kamu bisa pergi!" kata Vie melambaikan tangannya, mengusir pelayan tadi ke luar dari kamarnya.


Pelayan yang lainnya saling menatap, kemudian mengangguk serempak. "Kalau begitu kami juga permisi, nona," kata salah satu dari mereka maju sebagai perwakilan.


"Tunggu!" kata Vie dengan nada datar.


"Ada apa, nona?" tanya pelayan barusan. "Apa ada yang nona butuhkan?" lanjutnya menunggu perintah.


"Kalian bertiga jadi saksi kalau pelayan tadi tak mencuri!" kata Vie malas. "Aku yang memberikan benda kecil tadi kepadanya?!" lanjut gadis itu melirik datar.


"Kalau ada keributan yang terjadi, kami akan maju dan memberi kesaksian seperti yang kami lihat, nona!" timpal yang lainnya berjanji.


"Bagus, kalian bisa pergi sekarang!" tukas Vie mengusir sisa pelayan yang ada di kamarnya.


Selang beberapa menit, pintu kamar Vie diketuk dengan pelan. "Kendaraan sudah siap, nona!" kata orang yang mengetuk pintu kamar Vie setelah diperbolehkan untuk masuk.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo kita pergi?!" kata Vie berjalan dengan santai. Sempat-sempatnya gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin, dia tersenyum puas melihat gambaran yang terpantul di sana. Yah, dia rupanya cukup pandai menggambarkan penampilan tokoh novelnya meski hanya lewat kata-kata. Atau mungkin memang hanya itu yang dia bisa, soalnya kalau disuruh menggambar, jangan harapkan hasil yang menakjubkan. Dia tak akan bisa, bersyukur saja kalau bukan gambar abstrak yang keluar sebagai hasilnya.


"Kita akan ke mana, nona?" tanya si supir begitu majikannya masuk.


"Opera," balas Vie singkat.


"Baik, nona. Akan saya antar secepat yang saya bisa!" kata pria itu mulai mengemudi.


Begitu sampai di tujuan, Vie disambut dengan hangat. Bagaimana tidak, gedung ini berada di atas namanya. Jadi, dia pemilik seluruh gedung yang ada di sekitaran sana. "Selamat datang, selamat datang. Senang bisa melihat anda setelah sekian lama, nona!" kata pemilik gedung turun langsung menyambut pemilik asli dari tempat ini. "Jika saya tahu anda kapan mampir, saya akan menyiapkan sambutan yang lebih berkenan dari pada ini, nona," kata pria itu lagi sedikit berkeringat dingin dengan kehadiran Vie yang mendadak tanpa kabar.


"Aku tak mengharapkan itu!" kata Vie datar.


"Ha-ha-ha, baiklah kalau nona berkata seperti itu," kata pria bertubuh tambun itu sambil tertawa canggung. "Mari masuk ke dalam, nona," katanya mempersilakan Vie berjalan lebih dulu.


"Kuberi waktu sepuluh menit, kosongkan gedung ini!" kata Vie memberi perintah dadakan. "Aku ingin menikmati waktu sendirian di sini?!" lanjut gadis itu tetap duduk di dalam mobilnya.


"Ya?" tanggap pria tadi kebingungan. "Itu, itu ... sedikit sulit, nona," katanya takut-takut.


"Ah, sulit?" gumam Vie menyeringai tipis. "Akan aku permudah kalau anda tak bisa!" katanya lagi memberi pilihan yang jelas terdapat ancaman di dalamnya.

__ADS_1


"Tidak, tidak, biar saya saja, nona! Saya bisa melakukannya dalam sepuluh menit!" kata pria itu dengan cepat.


"Delapan menit, dua menit sudah anda habiskan barusan dan akan semakin berkurang kalau anda tak bergerak sekarang juga," balas Vie tanpa peduli orang di depannya sudah seperti kebakaran jenggot. Yah, ini cara pertama yang dia gunakan setelah percobaan sebelumnya gagal. Dia harus kembali ke dunia sosial dan membuat berbagai kejahatan sesuai dengan karakter yang dia mainkan. Setelahnya mungkin saja mereka bisa kembali kalau Vie sudah bersikap lebih dan lebih kejam lagi.


__ADS_2