
Keempat gadis yang diberi keajaiban untuk bisa bolak-balik masuk ke dunia novel itu pun akhirnya bisa ke luar dari sana setelah mencoba berbagai cara. Saat mereka sudah lega karena bisa kembali, mereka malah dihadapkan dengan kenyataan kalau keempatnya hanya berada di tempat yang seperti cerminan bumi. Di sana tak ada keluarga mereka, tak ada siapa pun selain mereka dan bangunan yang sama seperti di dunia mereka sebagai pelengkap.
Saat memikirkan apa yang harus dilakukan, Vie merasa kalau dia harus menyelesaikan novelnya hingga tamat agar mereka bisa benar-benar kembali ke dunia mereka yang sebenarnya.
Ketiga kawannya yang lain mendukung, sebagai antisipasi, mereka akan membiarkan Vie fokus menulis, sedangkan yang lainnya memikirkan cara lain seandainya cara yang Vie temukan tak berhasil membawa mereka kembali.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Kamu udah ada gambaran mau tamat gimana, kan?" tanya Indi sedikit khawatir kalau ini akan memakan waktu lama.
"Serahkan padaku! Aku hanya perlu beberapa hari untuk menentukan akhir dari cerita novel aku?!" balas Vie percaya pada kemampuannya. Dia memang bukan penulis keren yang bisa merangkai kata-kata indah, tapi kalau hanya membuat ending, itu lain soal lagi. Bahkan sudah banyak cabang untuk ending yang dia miliki, dia hanya tinggal menambal di sana-sini agar bisa sedikit masuk di akal dan tak terlalu memaksakan untuk tamat.
"Kamu yakin kita akan berhasil balik kalau udah ngerjain semua ini?" tanya Lili mulai ragu, apa pun yang mereka lakukan tak pernah membawa hasil seperti yang diinginkan.
"Kita tak memiliki pilihan lain, kawan!" timpal Miu mendesah lelah. "Kalau butuh bantuan, katakan saja pada kami!" lanjut gadis itu memberi dukungan, walau dirinya tak yakin mereka bisa membantu atau tidak saat dibutuhkan nantinya.
"Beres, aku berapa dulu bentar, biar makin encer nulisnya!" kata Vie membalas.
Entah mereka harus bersyukur atau tidak, meski ini seperti bukan dunia mereka yang asli. Namun, barang-barang elektronik di sini bisa mereka pakai dengan normal.
Vie pun mulai menulis di kamarnya, dia membuat ending dadakan yang direvisi habis-habisan dari ending yang sebelumnya ingin dia gunakan. Gadis itu terus bekerja tanpa beristirahat, dia juga tak merasa lapar atau pun lelah. Mungkin ini kelebihan dunia ini untuk mereka.
"Aku sangat merindukan rumah," aku Indi tak bersemangat.
__ADS_1
"Aku malah kangen belajar," ucap Lili mengaku.
"Semoga kita bisa benar-benar kembali setelah ini!" timpal Miu membesarkan hati kawan-kawannya yang mulai terperangkap ke dalam keputusasaan. Dia pun hanya bisa berharap dan terus berdo'a, menunggu hasil akhir dari usaha sahabatnya yang lain, yang saat ini sedang mengurung diri dan terus menulis.
Beberapa hari kemudian, Vie ke luar dari masa pertapaannya. Gadis itu dengan penuh semangat mengabarkan kalau dia sudah menyelesaikan semuanya. Dia juga membuat akhir yang bahagia untuk novel yang ditulisnya, Vie yang di sana mulai diterima baik oleh nona bangsawan yang lain. Yah, meski masih sedikit canggung karena mulut pedas gadis itu. Tapi Vie sengaja membuat mereka bisa mulai berteman dan kemudian berkembang menjadi persahabatan yang semakin dalam.
"Jadi, apa kita bisa balik sekarang?" tanya Lili dan Indi ikut senang.
"Itu yang harus kita cari tahu!" kata Miu sambil mengusap dagunya. "Ayo, kita minta dengan sungguh-sungguh sebanyak yang diperlukan agar kita bisa balik!" lanjut gadis itu menjentikkan jarinya.
"Kuharap ini bekerja!" tukas Indi memejamkan matanya.
"Kuharap kita benar-benar kembali ke rumah kita!" sambung Lili menarik napas panjang.
"Tak masalah jika tugas menumpuk, aku tak akan lari lagi hanya untuk bersantai?!" ujar Miu penuh tekad.
Mereka tak sadar kalau dunia yang saat ini mereka tempati mengalami retakan di sana-sini, keempatnya terus memejamkan mata sambil saling berpegangan tangan.
"Tak terjadi apa pun?" kernyit Lili setelah sekian lama menunggu. Mereka tak kehilangan kesadaran, tak ada angin, dan hal-hal aneh lainnya yang terjadi.
"Apa kita gagal lagi?" tanya Indi menimpali.
"Siapa yang berani membuka matanya dan melihat apa yang terjadi?" ucap Miu berharap ada di antara mereka yang mau membuka mata dan melihat apa mereka sudah balik atau masih ada di tempat yang sama.
__ADS_1
"Gue belum siap, mana tahu kalau kita gagal dan bisa jadi itu gara-gara gue yang kurang usaha," gumam Vie berbicara asal saking paniknya dia.
"Eh, tadi lu bilang apa?" sela Miu dengan cepat menanggapi ucapan kawannya barusan.
"Gue gak siap untuk ngeliat apa yang terjadi!" ucap Vie mengaku. "Masa gitu aja lu gak denger, sih?!" omel gadis itu kesal.
"Gak, bukan gitu!" kata Miu cepat. "Kalian sadar gak sih, kalau waktu kita sampai di sini, kita sama sekali gak pernah ngomong lu-gue kayak gini?!" lanjut gadis itu menyampaikan maksudnya.
Keempatnya membuka mata di waktu yang hampir bersamaan. "Jadi ..., bisa disimpulkan kalau kita udah balik, kan?" tukas Lili tersenyum senang.
"Gue belum yakin, tapi mungkin itu pengaturan yang dibuat buat kita berempat agar bisa membedakan kita berada di mana," balas Miu bermain dengan logika lagi kali ini.
"Tunggu apa lagi? Ayo telepon rumah untuk memastikan!" ucap Indi bersemangat.
Keempatnya bergerak dengan cepat, lalu mereka menangis terisak karena teleponnya benar-benar tersambung. Keempatnya berjanji akan cepat pulang ke rumah setelah menyelesaikan tugas mereka di sini.
"Mama ngomel panjang lebar gegara gue gak ngasih kabar," aku Indi mengusap matanya yang mulai berair lagi.
"Emak gue malah ngancem bakalan motong duit jajan gue kalau gue gak balik secepatnya!" kata Vie entah lagi menangis atau tertawa, atau mungkin gadis itu sedang melakukan keduanya di saat yang bersamaan.
"Ayo, kita balik?" ajak Miu menepuk punggung kawannya. "Masih mau ke sana lagi?" tanya gadis itu menatap ketiga kawannya bergantian.
"Gak, makasih. Biar aja gue stress ngadepin tugas, gak bisa liburan, gak punya waktu main, asal gue bisa ketemu keluarga gue itu udah cukup!" kata Lili menjawab dengan cepat. "Kalau lu? Masih mau nulis novel lain?" tanyanya pada Vie.
__ADS_1
"Gak, makasih. Gue gak mau hal aneh terjadi lagi!" katanya cepat, cukup satu novelnya yang menjadi masalah. Dia tak mau hal yang sama terulang lagi. Sudah sukur dia bisa bersama kawan-kawannya saat di sana,kalau dia sendirian saja, mungkin dia masih terjebak di sana sampai mati.
Begitulah akhir cerita kali ini, keempatnya lebih fokus menjalani dunia mereka. Meski banyak tugas, mereka tetap santai mengerjakan. Tak ada lagi tumpukan tugas, karena mereka mengerjakannya segera setelah tugas itu diterima.