Apa Yang Terjadi 2

Apa Yang Terjadi 2
15


__ADS_3

Robin dengan sangat rajin menulis dan terus menulis di saat dia diberi waktu untuk bersama keluarganya lebih lama. Sudah ada beberapa lembar yang dia tulis hanya dalam jangka waktu satu hari. Untuk itulah dia di sini sekarang, di depan ruangan Vie dan meminta izin bertemu sebentar.


Vie yang menerima hasil tulisan dari Robin, bukannya senang tapi malah terlihat tersinggung. Dia bahkan mengatakan kalau Robin telah mengabaikan kata-kata dari dirinya. Vie sudah menyuruh Robin mulai bekerja dua hari kemudian, yang artinya besoklah baru Robin mulai bekerja secara resmi. Tapi apa sekarang yang dia pegang di tangannya. Itu semua hasil tulisan tangan dari orang yang dia berikan waktu untuk bersama keluarganya. Bukannya menghabiskan waktu sebagai mana seharusnya, pria itu malah sibuk bekerja.


Dengan cepat Robin meminta maaf, dia beralasan kalau ide terus mengalir dan dia terburu-buru menulis agar tak lupa. Vie pun menerima begitu saja penjelasan Robin. Dia menyuruh Robin pergi kalau urusannya di sini sudah selesai.


Di luar, Robin bersandar sedikit jauh dari ruangan Vie. Dia menenangkan jantungnya yang bertalu terlalu kencang saking takutnya dia pada bos barunya itu. Kala bosnya yang dulu dia pasti akan dipuji dan diberi bayaran lebih, tapi Vie malah terlihat marah dan tersinggung. Sungguh susah ditebak. Asyik bergumam tentang ini dan itu, Robin tak sadar kalau seorang pelayan mendekat. Pelayan itu bertanya apa yang Robin lakukan di situ, pasalnya pria itu berdiri terlalu lama di tempat yang sama. Robin terkejut, dan si pelayan tadi pun meminta maaf. Sebagai imbalan dan permintaan maaf. Semua masalah terselesaikan dengan cepat, Robin pun kembali ke kediamannya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Baru saja beberapa hari ini para pelayan di kediaman Embross merasakan kedamaian, hari ini kedamaian itu hancur begitu saja. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Vie, si wanita jahat abad ini. Dari matahari mulai menyingsing, sudah ada saja kesalahan yang membuat nona mereka itu marah dan menjatuhi hukuman. Hingga semua di antara mereka sepakat untuk mengindari Vie seharian ini kalau memang bisa.


Sayangnya, terkadang segalanya tak berjalan sesuai rencana. Kali ini, Vie memarahi pekerja yang mengurus taman di rumahnya. "Bagaimana kalian mengurus taman? Coba lihat, aku hampir jatuh karena batu yang tak kalian singkirkan?!" pelayan yang dimarahi hanya bisa menunduk sambil meminta maaf, berharap dengan begitu kemarahan sang nona segera mereda.


"Ada apa ini?" suara tuan mereka membuat kepala para pelayan yang tadinya menunduk langsung tegak dalam postur siap.


"Saya melakukan kesalahan dan hampir membuat nona celaka, tuan besar!" aku salah satu di antara mereka.

__ADS_1


"Kesalahan? Celaka?" suara dingin terdengar mengalun ke telinga mereka. "Bisa-bisanya kalian bersikap teledor dan membahayakan gadis kesayanganku!" jelas tuannya sangat geram mendengar penjelasan mereka. Tetapi tak ada yang bisa mereka lakukan selain mengaku, kalau sang nona yang memberitahu, mereka semua pasti akan dikubur hidup-hidup dan dijadikan pupuk di taman ini.


"Aku tak terluka, jadi lupakan saja. Memikirkan ini malah membuat aku semakin kesal, papa!" dengus Vie. Dia tak ingin kalau ayahnya yang turun tangan, itu tak membuat dirinya menjadi penjahat kalau dia membiarkannya terjadi.


Si ayah tersenyum sangat manis menatap anaknya, kepribadian yang sungguh bisa dengan cepat mengubah ekspresi hanya dengan lawan bicara yang berbeda langsung begitu saja. "Baiklah, kalau kesayanganku mengatakan seperti itu," katanya menuruti semua ucapan sang anak. Ini juga yang membuat Vie dengan bebas melakukan kejahatan di sana-sini tanpa peduli apa pun. Ada ayahnya yang menutupi dan membereskan semua untuknya. "Kalian harus berterimakasih pada kebaikan hati anakku, karena gadis kesayanganku ini kalian lolos dari hukuman!" ucap pria itu dengan tatapan mengintimidasi.


"Terima kasih, my lady! Kebaikan anda tak akan kami lupakan!!!" hanya satu yang berbicara sebagai perwakilan, yang lain hanya ikut menunduk dan mengucapkan terima kasih saja.


"Mau berjalan-jalan dengan papa mu ini, sayang?" tanya sang ayah mengulurkan tangannya.


Selepas kepergian Vie, mereka bernapas lega. "Astaga, jantungku masih berdegup kencang saking takutnya," keluh salah satu di antara mereka dengan suara pelan.


"Kukira aku akan menjadi pupuk tanaman, atau yang paling ringan diusir dan tak diberi surat rekomendasi," timpal yang lain.


"Lagi pula bukankah terlalu mengada-ada kalau marah hanya karena baru sekecil ini terlewatkan saat kita merawat taman?" dengus yang lain setengah protes.


"Atasan tak akan mau tahu itu benar atau tidak, semua yang menjengkelkan sudah menjadi kesalahan kita sebagai pekerja!" balas yang lain dengan suara pasrah, sudah terbiasa dengan tingkah para bangsawan yang sangat tak masuk akal.

__ADS_1


"Dan hal yang paling kubenci, aku masih tak bisa berhenti dari tempat ini," aku salah satunya mendesah menyalahkan dirinya sendiri. Gaji di sini terlalu mengiurkan, jadi walau beresiko, dia tak bisa meninggalkan pekerjaan yang menjanjikan upah sangat-sangat besar.


"Jangan mengeluh saja, mari periksa sekali lagi dan pastikan tak ada satu pun batu yang akan menghalangi jalan wanita itu?!" bisik salah satu dari mereka mengingatkan.


Semua mengangguk dan kembali bekerja, di dalam hati mereka sibuk mengumpati Vie yang terlalu berlebihan hari ini. "Benar, ayo kita periksa lebih teliti lagi!"


"Bagaimana pria yang kamu bawa saat itu? Apa dia melakukan pekerjaannya dengan baik?" tanya ayah Vie merujuk pada Robin.


"Terlalu bagus, sampai-sampai menjengkelkan!" dengus Vie membalas.


"Pecat saja kalau dia membuat suasana hati putri cantikku ini kesal," kata si ayah memberi saran.


"Sayangnya aku menyukai cerita yang dia buat, papa," balas Vie dengan santai. "Lagi pula dia tak terlalu menjengkelkan hingga bisa membuat aku kesal," lanjut gadis itu mengangkat bahu acuh.


"Baiklah, jika kesayanganku mengatakan itu, maka papa hanya akan melihat dari samping," timpal sang ayah menepuk-nepuk pucuk kepala Vie.


Vie jadi merindukan keluarga aslinya, gadis itu pun tak sadar telah membuat ekspresi wajah yang sulit diartikan di depan papanya. "Ada apa? Apa kamu sakit, sayang?" suara sang ayah terdengar sangat khawatir. "Ayo kita kembali ke dalam dan memanggil dokter untuk memeriksa kamu!" lanjut pria itu bertindak dengan cepat. Vie yang bersangkutan pun tak sempat membalas, dia hanya diam saja tanpa mengatakan apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2