
Hari ini Vie berencana menghabiskan waktunya di luar. Dia dirias bahkan sebelum matahari bersinar. Tentu saja hasilnya lebih dari yang diharapkan, gadis itu kelewat bersinar dan semakin cantik saja.
Pelayan yang merias wajahnya memuji sang majikan, Vie membalas dengan memberikan aksesoris yang sudah jarang dia gunakan. Di awal sang pelayan menolak, dia takut kalau dituduh mencuri. Tapi Vie tak peduli, dia menyuruh pelayan itu tetap mengambil apa yang dia berikan. Setelah pelayan tadi pergi, Vie menyuruh pelayan yang tersisa di kamarnya untuk menjadi saksi kalau-kalau nanti ada masalah karena perhiasan yang dia berikan barusan. Tak ada yang menolak, mereka mengiyakan dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, Vie tiba di depan gedung Opera terbesar di kota ini. Dia disambut bahkan sebelum turun dari mobilnya. Sambutan hangat itu sudah keharusan karena dia pemilik sebenarnya dari tempat ini, bangunan yang digunakan di sini merupakan miliknya pribadi.
Tanpa buang waktu, Vie memberikan sepuluh menit untuk mengosongkan gedung. Dia malas menonton bersama orang-orang, terlalu bising dan menjengkelkan. Belum lagi, dia memang diharuskan untuk berbuat jahat untuk ke depannya agar dia bisa bertindak sesuai dengan karakternya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Tak berapa lama, pria tambun itu pun kembali. Setelah cukup banyak orang yang diusir dari dalam, tentu saja orang-orang itu menggerutu kesal. Niat untuk mencari hiburan, malah mendapatkan kekesalan sebagai hasilnya. Mereka diusir dari sana tanpa penjelasan, hanya langsung dikeluarkan begitu saja dan disuruh pergi dari tempat itu secepatnya.
"Maaf membuat waktu anda terbuang begitu lama, nona," kata pria tambun itu terpogoh menghampiri Vie.
"Bagus kalau anda tahu itu!" kata Vie malas, gadis itu turun dari kendaraannya dan dikawal masuk ke dalam. "Kalian boleh ikut, tapi jangan berisik. Jangan sampai aku mendengar suara napas kalian yang mungkin saja mengganggu konsentrasi ku!" lanjut gadis itu berbicara dengan nada mengancam.
"Baik, nona!" balas pengawal yang ditugaskan untuk mendampingi Vie saat ini dengan cepat.
Si pria tambun tadi ditinggalkan begitu saja, dia pun mengelap peluhnya. "Semoga bisnis yang aku miliki ini masih bisa berjalan untuk besok dan seterusnya!" gumam pria itu menatap langit dengan tatapan penuh harap. Dia sudah mengusir pelanggannya, hal yang tak pernah dia lakukan selama ini. Tak akan mengherankan kalau tak ada lagi yang mau mampir ke tempatnya dan membuat bisnisnya gulung tikar tanpa mendapatkan pelanggan satu pun.
__ADS_1
"Ha-ah, kenapa juga wanita jahat itu harus datang tanpa pemberitahuan?" keluhnya entah kepada siapa, biarkan saja dia berkeluh-kesah dan hanya angin yang mendengarkan semua keluhan-keluhannya itu. "Kalau tidak kan aku bisa tidak menerima satu pun penonton untuk opera hari ini," lanjut pria itu. Tak ada yang bisa dia salahkan, silahkan saja keberuntungannya yang buruk hingga mendapatkan tuan tanah dan bangunan yang sedikit gila seperti ini.
"Bukankah itu dia?" salah satu suara tertangkap masuk ke telinga pria tambun tadi.
"Sepertinya begitu?" kata suara lain menyahuti.
"Rupanya penjahat abad ini yang membuat masalah," kata yang lain lagi seolah paham akan situasi.
"Huss, pelankan suara kalian! Apa kalian mau ditangkap dan dipukuli oleh 'Si gila?'"
"Ughh, andai saja 'Si gila' bisa sedikit lebih baik dan tak membuat masalah. Pasti sudah banyak yang menyukai dia!"
"Heh, orang kaya dan keangkuhan mereka yang seperti tak ada habisnya, mana mungkin bisa bersikap baik. Itu mustahil, setidaknya itu tak akan berlaku.pada orang itu?!"
"Benar, aku sangat suka ada tempat hiburan yang dekat dengan rumah kita. Belum lagi harga tiketnya cukup terjangkau untuk keluarga seperti kita-kita ini!"
Si pria tambun akhirnya bisa sedikit bernapas lega setelah mendengarkan ocehan beberapa orang yang tadi dia usir secara sepihak. Untung saja kejahatan dari 'Si gila' itu cukup terkenal dan diketahui hampir oleh seluruh lapisan masyarakat di sini. Entah mau itu bangsawan atau pun rakyat biasa, rumor tentang Vie yang jahat seperti rumor yang tak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya.
"He-he-he, untung saja wajah dan sifatnya cukup terkenal, sehingga aku tak mendapatkan masalah karena perbuatan tak sopan ku barusan!" kata si pria tambun terkekeh pelan. Dia berjalan ke dalam dengan langkah yang ringan, dirinya percaya kalau bisnisnya akan tetap berjalan. Yah, kecuali si gila yang sedang menonton seenaknya itu melakukan hal tak waras lainnya setelah dia selesai menonton nanti.
__ADS_1
Saat menonton, Vie begitu fokus. Wajahnya menunjukkan kalau dia sedikit mulai bosan dengan akting yang diperlihatkan oleh para pemain di panggung sana. "Aku bisa bermain lebih baik dari mereka!" katanya memiringkan kepalanya ke samping. Vie mengangkat tangannya, seketika drama di depan berhenti dilakukan. "Ganti dengan cerita yang lain," katanya bernada datar.
"Ya?" ucap seorang pria naik ke atas panggung, pria itu membawa gulungan di tangannya. Ah, mungkin saja pria itu yang menulis cerita barusan.
"G.A.N.T.I?!" kata Vie menatap lurus ke depan, tepat di mata lawan bicaranya. "Apa aku harus mengatakan untuk yang ketiga kalinya?" lanjut gadis itu sambil menyeringai tipis.
"Maaf sebelumnya, nona!" kata pria itu balas menatap mata Vie dengan berani. "Kami tak bisa," lanjutnya memejamkan mata, pasrah kalau seandainya dia bakalan dicaci atau disalahkan.
"Hmm?" gumam Vie menaikkan sebelah alisnya.
Respon Vie sedikit lebih tenang dari yang pria itu perkirakan. Dia mengira kalau dirinya pasti akan dihardik dengan keras karena menolak permintaan dari gadis di depannya ini. "Ini cerita yang saya siapkan untuk hari ini, kami sudah beberapa kali melatihnya dan tak mungkin kami bisa mempersiapkan cerita lain dalam waktu singkat," jelas si pria dengan berani.
Vie mengetuk-ngetuk jarinya di pegangan kursi, dia menatap datar ke depan seolah berpikir apa yang akan dia lakukan sekarang. "Berapa bayaran anda?" tanya Vie dengan suara menggema, saking heningnya gedung ini.
"Ya?" tanggap si pria sedikit kaget dengan pertanyaan Vie barusan.
"Oh, sepertinya aku memang harus selalu berkata dua kali saat berbicara dengan anda, ya?!" sarkas Vie mendengus malas.
"Bukan, bukan begitu, nona!" kata pria tadi meralat dengan cepat. "Saya hanya sedikit terkejut, itu saja," ucapnya mengaku. "Saya dibayar sekitar satu keping emas untuk setiap cerita yang saya buat, nona," ucap pria itu jujur.
__ADS_1
Vie tampak berpikir, merebut pekerja orang lain juga merupakan suatu kejahatan bukan. "Bawa dia!" ucap Vie berdiri dari duduknya. "Perlakukan dengan baik penulis kita!" lanjut gadis itu sebelum pergi.
Si penulis melotot kaget, dia diseret dalam keadaan syok. Apa dia akan dihukum makanya dirinya digiring seperti ini. Pria tambun yang melihat itu mau bertanya tapi tak berani menyela, akhirnya dia hanya membiarkan saja penulis satu-satunya diambil di depan matanya.