
Sesuai janji yang dibuat, Vie dan ayahnya menghabiskan waktu seharian di luar. Mereka melakukan banyak hal bersama, menonton, berbelanja, makan, dan hal-hal lainnya.
Begitu sampai ke kediaman mereka, Vie tak langsung masuk ke kamer. Dia malah memilih berputar arah dan menuju rumah para pekerja. Sang ayah yang dibisiki oleh tangan kanannya pun mengikuti anaknya, jadilah mereka berkunjung ke rumah Robin berdua secara dadakan.
Ayah Vie tak berbicara sama sekali, dia hanya memperhatikan anaknya dengan seksama. Pria itu ingin tahu apa yang anaknya sukai sehingga sangat sering mampir ke sini. Kalau memang pria muda itu yang menjadi alasannya, dia bis membuat pria tak punya masa depan itu menjadi menantunya bagaimana pun caranya. Bahkan jika dia harus melakukan pemaksaan yang sedikit kasar.
Setelah memperhatikan, tak ada tanda-tanda anaknya menyukai pria yang hanya menang ditampangnya saja itu. Meski tak mau mengakui, memang benar bahwa pria yang bernama Robin itu memiliki wajah yang tampan. Yah, kalau dipoles sedikit, pasti akan terlihat seperti bangsawan kelas atas. Jadi kalau anaknya memang ingin, dia tak masalah menjadikan Robin sebagai menantu dadakan. Namun, mata anaknya tak pernah tertuju pada pria muda itu. Apa memang anaknya ke sini hanya untuk bertemu dengan gadis kecil yang bernama Anne. Apa dia harus mengadopsi anak itu agar tak bisa pergi dari kediamannya, mungkin itu bisa jadi salah satu solusi agar anaknya bisa berbincang dengan ceria seperti sekarang. Yah, walau ada perbedaan usia yang cukup jauh di antara keduanya, tapi tak ada larangan yang tidak memperbolehkan keduanya menjadi teman kan.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Bagaimana? Dia cukup manis, kan pa?" tanya Vie saat mereka berjalan santai untuk kembali ke rumah utama.
"Kalau anakku mengatakan itu, tentu itulah yang papa pikirkan!" kata sang ayah mendukung apa saja yang anaknya pikirkan, inginkan, dan juga katakan.
"Aku tahu, papa pasti juga menyukainya," kata Vie tersenyum cerah, senyum yang hanya dia lakukan di depan sang ayah.
"Sekarang istirahat, tuan putriku! Kita akan bersenang-senang lagi nanti," kata sang ayah mengucapkan salam perpisahan begitu mereka sampai di depan kamar tidur Vie.
"Lain kali aku yang akan mengantar papa ke kamar!" balas Vie dengan cepat.
"Papa tak sabar menunggunya," kekeh sang ayah kelewat bahagia. Interaksi keduanya diperhatikan oleh cukup banyak pasang mata dari para pelayan. Membayangkan kedua majikannya itu bertingkah normal dan terlihat manis, membuat mereka bergidik ngeri. Mereka tak terbiasa dengan hal seperti itu, lebih baik kedua majikan mereka memasang tampang datar dan dingin seperti biasanya saja, dari pada wajah penuh senyum tapi terlihat sangat mengerikan di mata mereka.
__ADS_1
"Selamat tidur, papa," kata Vie sebelum masuk ke kamarnya.
"Kamu juga, mimpi indah, sayangku!" balas sang ayah.
Begitu anaknya masuk ke kamar dan pintu kamar sang anak tertutup, wajah poker kembali terpampang. Pria itu berbalik dan segera meninggalkan tempat itu, dia menuju ke arah kamarnya berada. "Kukira yang menjadi masalah pria jelek itu, rupanya adiknya yang membuat anakku senang," gumamnya menyeringai kecil. "Haruskah ku buat dia tinggal di sini selamanya? Aku bisa mengajukan kontrak seumur hidup untuk gadis kecil itu," katanya lagi.
"Apa aku harus ikut campur atau diam saja?" sang ayah menimbang mana yang paling baik untuk dia lakukan. "Mungkin saja kesayanganku akan bosan, kan?" kata pria paruh baya itu. "Biarkan tuan putriku yang melakukan semuanya," katanya memutuskan.
Keesokan harinya, seorang pelayan datang sambil terpogoh-pogoh. "Nona, nona! Ada undangan untuk anda!!!" teriakan itu cukup nyaring, sehingga semua mata menatap pelayan yang baru saja menyelonong masuk tanpa permisi ke ruang makan. "Ah, maafkan saya, nona! Maaf, tuan besar!" ucap pelayan itu setelah dia sadar kalau dirinya sudah berbuat salah.
"Berikan padaku!" ucap Vie tanpa peduli permintaan maaf pelayan itu.
"Dari siapa, sayang?" tanya sang ayah ingin tahu.
Vie menaruh undangan yang dia pegang di meja. "Hah, sopan sekali. Mengirim undangan di hari undangan itu dilaksanakan!" dengus Vie sedikit kesal. Bagiamana karakter yang dia buat tak jadi penjahat kalau diperlakukan seperti ini. Dia diundang tapi kehadirannya tak diharapkan, makanya dia baru dikirimi undangan pada hari pelaksanaan acara itu juga berlangsung. Kalau dia datang, dia akan diejek. Kalau tak datang, dia akan dicibir dan dikatai sombong.
"Kamu mau datang? Atau kamu ingin membalas perlakuan mereka?" tanya sang ayah yang hatinya merasa lebih geram. Dia masih hidup saja anaknya sudah diperlakukan seperti ini, bagaimana kalau dia sudah tak ada di dunia ini. Bisa-bisa anaknya dikeroyok oleh para serigala yang berwujud bangsawan tak berguna itu.
"Bisakah kulakukan dengan caraku, papa?" tanya Vie menyeringai sinis.
"Tentu, lakukan apa yang kamu inginkan. Pakai nama papa kalau perlu!" ucap sang ayah setuju tanpa banyak bertanya sama sekali.
__ADS_1
"Terima kasih, papa," balas Vie terkekeh pelan. Di kepalanya muncul rencana jahat untuk membalas kelakuan orang-orang bodoh itu padanya. "Boleh aku.mengajak Robin dan keluarganya juga, papa?" kata Vie meminta izin yang sebenarnya tak perlu dia lakukan.
"Ajak semua yang kamu ingin ajak. Papa tak akan melarang, semua akan berjalan sesuai keinginanmu, gadis kecilku!" balas sang ayah yang kelewat memanjakan anaknya.
Vie menjentikkan jarinya, seorang pelayan pun datang menghampiri. "Ada apa, nona?" tanyanya.
"Beri tahu Robin dan keluarganya untuk bersiap, aku akan mengajak mereka ke suatu tempat!" kata Vie dengan nada memerintah
"Akan saya lakukan, nona!" balas pelayan tadi dengan sangat sopan.
"Siapkan juga gaun paling sederhana yang aku miliki, tak usah gunakan aksesoris yang berlebihan, dan berikan riasan yang sederhana saja nanti," ucap Vie memberi perintah lain.
"Akan saya siapkan segera, nona!"
"Bagus, pergilah!" si pelayan pergi dengan cepat
"Papa pergi dulu, sayang. Papa akan meninjau wilayah di bagian timur," kata sang ayah berdiri mendekat dan mengecup singkat pucuk kepala anaknya.
"Hati-hati, papa. Jangan bekerja terlalu keras!" kata Vie balas mengecup pipi ayahnya.
Begitu sang ayah pergi, Vie juga bangkit dari duduknya. "Bereskan semua!" katanya sebelum meninggalkan ruang makan. Dia mengangkat sudut bibirnya, setidaknya dia bisa bersenang-senang dan membuat masalah nantinya. "Cuaca hari ini sangat indah!" kata Vie menatap ke luar. "Yah ..., sangat-sangat INDAH!!!" lanjut gadis itu dengan maksud lain yang tersirat. Vie pun kembali ke kamar dan bersiap, sebagai penjahat dia harus memamerkan kejahatannya. Ah, atau lebih tepatnya dia kan memamerkan kekayaannya kali ini.
__ADS_1