
Sesuai mengirim semua orang pulang dari gedung besar tersebut, Vie malah menikmati pemandangan dari lantai teratas. "Ada apa?" tanya Vie melirik singkat Robin yang sepertinya sejak tadi ingin bicara pada dirinya.
Robin menggeleng, ragu untuk mengutarakan ucapan yang tertahan di ujung lidahnya. "Katakan saja selagi aku mengizinkan!" ucap Vie lagi.
"Apa nona sedang ... sedih?" tanya pria itu ragu.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" tanya Vie tak percaya. Biasanya dia dikatai jahat kalau begini, bukannya malah dikira sedih.
"Maaf kalau saya salah, tapi begitulah yang saya lihat," kata Robin menimpali.
"Tak semua yang terlihat oleh mata itu pasti kebenaran," kekeh Vie. "Siapkan jamuan, aku akan makan dengan mereka sekarang!" titah Vie tanpa menoleh. Sudah pasti dia berbicara dengan pekerja di gedung itu, bukan dengan Robin dan keluarga Robin yang ikut bersamanya.
Semua disiapkan dengan cepat, terlambat sedikit saja bisa-bisa tempat usahanya digusur tanpa peringatan. Untuk mencegah hal buruk seperti itu terjadi, mereka harus memuaskan keinginan pelanggan nomor satu mereka ini. "Semua sudah siap, nona!" kata si pelayan berdiri dengan tegak.
"Kamu tak mengambil dari hidangan yang ditinggalkan barusan,.kan?" mata Vie memicing, memastikan kalau apa yang dia katakan benar atau tidak.
"Tentu saja tidak, nona. Keberanian dari mana yang saya miliki untuk melakukan hal memalukan tersebut!" balas si pelayan dengan tegas. "Begitu tahu nona berkunjung ke mari, pihak kami segera menyiapkan beberapa hidangan yang mungkin nona sukai!" lanjutnya lagi menjelaskan.
"Mari kita makan sekarang, kalian pasti lapar, kan?" tukas Vie tersenyum meski tak terlalu kentara.
"Kakak cantik, apa saya benar-benar boleh memakan makanan ini?" tanya Anne dengan mata berbinar melihat berbagai jenis hidangan yang disediakan dengan cepat seperti sihir dalam dongeng saja.
"Untuk itu semua dibuat," kata Vie membalas. "Makan sebanyak yang kamu inginkan, kalau kurang pesan lagi sampai kamu puas dan tak sanggup mengunyah lagi!" lanjut gadis itu dengan nada serius.
"Wah, luar biasa! Kakak cantik memang hebat!" puji Anne samb tersenyum kelewat cerah. Dia pun mulai makan dengan lahapnya.
__ADS_1
"Maafkan anak saya, nona. Anne masih kecil dan belum tahu etiket sama sekali," kata ibunya Robin tak enak hati melihat anaknya menyantap makanan duluan bahkan sebelum bos anaknya itu mulai makan.
"Tak masalah, aku senang melihat Anne makan dengan lahap," kata Vie santai. "Anda juga cobalah cicipi," lanjut Vie menatap ibunya Robin.
"Ibu harus mencoba ini!" kata Anne menyodorkan sepotong daging pada ibunya. "Enak, kan bu?" tanya gadis kecil itu ketika ibunya mulai mengunyah makanan yang dia suapi barusan.
"Tentu, malah semakin enak karena Anne yang menyuapi ibu," kata sang ibu tersenyum hangat. "Tapi Anne, lain kali tunggu kakak cantik makan duluan, baru Anne boleh mulai makan, mengerti?" bisik sang ibu memberi nasehat.
"Tak per–," Vie melihat Robin menangkupkan tangannya sambil menggeleng, pria itu mencegah Vie yang ingin berbicara. Dia tahu apa yang mau dikatakan oleh bosnya itu, tapi sebagai seorang kakak dia ingin adiknya dididik dengan baik agar tak bersikap kurang ajar ke depannya.
Usai makan, Vie menatap Anne. "Apa kamu ingin berkeliling?" tanyanya.
"Apa boleh?" tanya Anne ingin tahu.
"Tentu, pergilah melihat-lihat. Aku akan menunggu di sini," kata Vie yang memilih menatap pemandangan dari balkon.
"Berkeliling lah bersama ibu, kakak harus membicarakan pekerjaan bersama nona dulu," bisik Robin. Anne mengangguk, ibu dan anak itu pun berkeliling ditemani oleh dua pekerja lainnya.
"Kamu bisa mengikuti mereka kalau mau," kata Vie tanpa menatap Robin.
"Saya bekerja pada anda, sudah pasti saya harus ada di sisi anda, nona!" balas Robin yang berdiri satu langkah di belakang Vie.
"Duduklah," kata Vie menunjuk kursi kosong disisi meja lain. "Kamu penulis, bukan pengawal!" lanjut gadis itu mengingatkan.
"Sebagai pria saya bisa melayangkan beberapa tinjuan kalau memang diperlukan, nona!" kata Robin memberitahu, tapi tetap saja dia mengikuti perintah majikannya yang menyuruhnya untuk duduk.
__ADS_1
"Oh, mungkin aku bis mendapat kesempatan untuk melihatnya," ucap Vie asal tanpa maksud apa pun.
Hening sejenak, Robin sibuk menyaring pertanyaan apa saja yang pantas dia tanyakan pada majikannya itu, tapi tak ada satu pun pertanyaan yang berani dia utarakan pada gadis sekaligus atasannya ini.
"Katakan saja kalau memang ada yang ingin kamu katakan!" ungkap Vie seolah tak peduli.
"Apa saya boleh bertanya alasan anda membawa saya dan keluarga saya jalan-jalan hari ini, nona?" tanya Robin setelah mengumpulkan keberanian.
"Hanya untuk bermain," balas Vie santai.
"Bermain? Dengan menghancurkan acara orang lain?" ucap Robin kelepasan. Pria itu menutup mulutnya, dia bahkan terkejut dengan apa yang dia katakan barusan. "Maaf, nona. Saya kelewatan! Tidak seharusnya saya bertanya seperti tadi, tolong lupakan apa yang saya katakan barusan, nona," ucap Robin penuh sesal.
Vie terkekeh kecil, menurutnya Robin cukup lucu. "Mereka yang meminta itu," kata Vie membuat Robin semakin bingung. Memangnya ada orang di dunia ini yang meminta pestanya dihancurkan ya.
"Kamu bingung, kan?" kata Vie masih terkekeh.
Robin mengangguk membenarkan. "Saya memang bodoh dan tak paham maksud perkataan anda, nona!" kata pria itu mengaku.
"Maksudku salah mereka sendiri, mereka, mengundangku tapi undangannya datang beberapa jam sebelum acara ini diselenggarakan. Bukankah itu artinya mereka menyuruh aku menghancurkan acara mereka?" ucap Vie menjelaskan mengapa dia melakukan hal gila tadi.
Robin jadi paham mengapa nonanya seperti barusan, para bangsawan itulah yang sudah bersikap tak sopan duluan. Jadi bisa dikatakan kalau nonanya tak salah sama sekali dalam hal ini. "Saya mendukung anda melakukan hal tadi, nona!" kata pria itu mengepalkan tangannya memberi dukungan pada bosnya.
"Dukung saja dengan membuat cerita yang keren seperti sebelumnya!" balas Vie tersenyum kecil.
"Tentu, nona! Akan saya lakukan lebih baik dari pada sebelumnya?!" kata Robin percaya diri.
__ADS_1
Mereka menghabiskan sebagian besar waktu di sana, Robin sebenarnya ingin menanyakan bagaimana nonanya itu bisa mengusir banyak orang dan memberi perintah semudah itu. Apa memang keluarga nonanya itu sungguh sangat berpengaruh, sehingga bisa melakukan apa saja tanpa takut terkena masalah. Ini masih menjadi misteri, dan Robin tak berani menanyakan hal tersebut. Tugasnya hanya satu, menulis karangan yang bagus untuk sang majikan yang mempekerjakannya dengan bayaran yang sangat banyak.