Apa Yang Terjadi 2

Apa Yang Terjadi 2
9


__ADS_3

Vie mengambil orang baru untuk dipekerjakan di bawah naungan keluarganya. Kata mengambil sepertinya kurang tepat, lebih tepat kalau mengatakan gadis itu melakukan penculikan di siang bolong. Karena apa, karena dia hanya menyuruh orang tersebut mengikutinya setelah menanyakan ini dan itu. Dia tak menjelaskan untuk apa orang yang bersangkutan dia bawa, dia pun hanya diam selama perjalanan. Vie hanya mengatakan untuk tak gugup dan bersantai, tapi kata-kata seperti itu malah menambahkan kegugupan bagi pria di depannya ini.


Begitu sampai, pria yang diculik tanpa tahu untuk apa ini pun diberi kamar. Kamar yang terlalu mewah hanya untuk pria biasa seperti dirinya. Belum lagi dekorasi kamar yang terlalu berlebihan dan terlalu banyak barang langka yang dijadikan pajangan. Tapi pria tadi memilih untuk menikmati apa yang diberikan padanya, dia bisa mengamati berbagai barang yang tak akan pernah dia lihat selama sisa hidupnya kalau dia tak datang ke mari. Dengan begitu saja sudah merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi dirinya yang berprofesi sebagai penulis jalanan.


Mari kita tinggalkan pria penulis tadi, kita beralih pada sang wanita jahat abad ini. Gadis itu terlihat menulis pesan singkat dan menyuruh pelayan untuk mengantarkan pesan itu kepada ayahnya. Tentu saja bukan peran jahat namanya kalau tak ada ancaman yang keluar dari dirinya. Dia mengancam akan menghilangkan dan membuat pelayan tadi hanya bisa melihat warna gelap di sisa hidupnya jika dia berani mengintip isi pesan yang dia titipkan. Tentu saja pelayan itu langsung membantah, dia tak akan nekat melakukan hal bodoh seperti itu bahkan jika tak diancam. Vie tak peduli, gadis itu menyuruh pelayan tadi untuk bergerak cepat. Sementara dirinya memilih untuk memejamkan mata, dia hanya mengirimkan pesan pada ayahnya, bukan meminta persetujuan. Lagi pula, apa yang dia inginkan selalu akan terpenuhi bagaimana pun caranya.


"Waktunya beristirahat!" kata gadis itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. "Mari kita lihat, apa kejahatan adalah kata kunci untuk kembali? Berapa banyak kejahatan yang diperlukan kalau memang iya?" Vie jatuh tertidur setelah bergumam sendirian.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Sudah dua hari pria yang dibawa Vie tinggal di kediaman ini tanpa tahu apa yang harus dia lakukan. Kegiatannya sehari-hari hanya makan, tidur, melihat-lihat ke luar jendela, tanpa berani berbicara satu patah kata pun. Pria itu juga tak berani bertanya apa alasan gadis muda yang terkenal sebagai dewi kejahatan itu membawa dan membiarkan dirinya tinggal di sini.

__ADS_1


Berbagai pemikiran buruk jelas saling berkeliaran tanpa bisa dia kendalikan di otaknya, tapi tak ada satu pun yang dia tahu mana tepatnya yang menjadi alasan sebenarnya dia berada di sini. Pernah saat dirinya berjalan ke taman, dia berpikir mungkin saja dia akan menghilang tanpa diketahui oleh seseorang dan berakhir menjadi pupuk dari banyaknya tanaman di taman yang baru saja dia lewati. Ada juga pemikiran tentang bagaimana kalau dirinya ditenggelamkan di danau luas yang katanya ada di belakang rumah besar ini. Atau bisa saja dia akan disiksa dan dikurung sepanjang sisa hidupnya di ruang bawah tanah. Tapi sekeras apa pun dia berpikir, dia lebih heran dengan sikap para pelayan yang sering datang ke kamarnya. Mereka memperlakukan dirinya dengan sangat-sangat sopan, menanyai tentang apa yang dia perlukan atau adakah hal-hal yang dia inginkan, misalnya seperti makanan penutup atau berbagai jenis minuman.


Meski masih waspada, tetapi pria itu mau tak mau tetap terbuai dengan kemewahan yang diberikan pada dirinya yang memang bukan berasal dari kaum berada.


"Tuan, nona kami menanyakan apa anda bersedia makan bersama dengan beliau?" kata seorang pelayan yang sejak tadi berdiri di sisi pria itu.


Pria muda itu pun terbatuk hebat mendengar ucapan barusan, dia terlampau terkejut akan hal itu. "Ya?" katanya masih terbatuk.


Si pelayan tersenyum tipis, tak ada raut merendahkan atau kesal yang terlihat dari ekspresi wajahnya. "Nona kami bertanya apa tuan bersedia makan bersama dengan beliau, tuan?" katanya mengulang pertanyaan yang sama sekali lagi.


"Tuan?" panggil si pelayan setelah cukup lama menunggu jawaban dari tamu nonanya ini.

__ADS_1


Pria itu tersentak kaget, dia lupa waktu hanya karena sibuk bertanya-tanya dan takut sendiri. "Baik, saya akan memenuhi undangan Nona Embross untuk makan bersama," kata pria itu setelah mengumpulkan keberanian. Apa yang terjadi, maka terjadilah. Dia tak diajarkan untuk lari dari masalah oleh ibu dan mendiang ayahnya. Kalau untuk keselamatan keluarganya, dia bahkan bersedia meminta maaf dan bersujud meski dia tak membuat kesalahan sama sekali. Ya, dia bisa melakukan apa saja agar tetap bertahan hidup dan terus menafkahi adiknya. Tentu saja dengan syarat hal yang dia lakukan tak melanggar norma apa pun sama sekali.


"Kalau begitu, anda perlu bersiap mulai sekarang!" kata si pelayan. Pelayan itu menepuk tangannya tiga kali, beberapa pelayan lain masuk ke kamar itu dan berbaris dengan rapi. "Mohon kerja samanya, tuan!" kata si pelayan memberi isyarat kalau mereka harus mulai memainkan tangan mereka dengan cepat, memilih baju dan aksesoris pria yang cocok. Pria yang dijadikan kelinci percobaan, hanya bisa berdiri diam kebingungan. Apa harus bersiap seperti ini, memangnya mereka akan makan di mana.


Waktu berlalu, akhirnya pria muda itu terlepas dari neraka yang sangat melelahkan baginya. "Silakan, selamat menikmati waktunya, tuan," kata pelayan yang mengantar dirinya ke ruang makan di lantai atas. Pria tadi mengedarkan pandangannya, pemandangan di sini sangat indah. Kenapa dia baru melihat inspirasi seperti ini di saat begini. Hanyut dalam keindahan alam, pria itu tak sadar kalau Vie sudah ada di depannya.


"Suka dengan apa yang anda lihat?" tanya gadis itu sambil memegang gelas minumnya.


"Maaf, nona. Saya sudah bersikap tak sopan!" kata si pria menunduk meminta maaf dengan tulus.


"Tak apa, aku suka kalau anda menyukai tempat yang ku pilih," balas Vie tersenyum tipis. "Itu artinya pilihanku tak salah," lanjutnya cukup bangga akan hal itu.

__ADS_1


"Mari makan, lalu kita bicara bisnis setelahnya," lanjut Vie melihat pria di depannya ini gugup dan tak nyaman. Dia tak peduli akan hal itu, sudah banyak orang dengan respon yang sama yang dia temui selama dia merasuk di tubuh ini, entah karena kekuatan mental wanita jahat ini, atau karena dia yang menciptakan karakter ini, dia merasa dia bisa memerankan dengan baik, bahkan sebaik karakter aslinya.


"Selamat makan, nona!" kata si penulis mulai makan. Dia tak tahu bisnis apa yang akan mereka bahas, semoga itu tak menyulitkan sama sekali.


__ADS_2