Arini Aku Mencintaimu

Arini Aku Mencintaimu
Arini Sakit


__ADS_3

'Hati hati ya mas, dan semangat kerja nya.'


Bibir Reino pun berbentuk senyuman, saat mengingat itu.


'Simple tapi bermakna. Kenapa kayak nya senang banget ya, saat dia mengatakan seperti itu ..'


Next


Sore hari, Arini saat ini duduk di sebuah cafe dengan seorang pria.. Pria itu dengan tatapan tajam menatap Arini. Dengan wajah kekecewaan, yang teramat.


"Kenapa kamu tega Arin, aku sangat mencintai kamu. Tapi kamu yang mematahkannya, di saat aku ingin melamar mu. Justru saat ini kamu sudah menjadi istri pria lain..."


"Maafkan aku Aldi. Aku tidak ada pilihan lain, selain menerima permintaan ayah... Maafkan aku Aldi. Hiks,, hiks,,, hiks....."Arini menangis tersedu sedu..


"Apa karena aku hanya seorang karyawan, dan laki-laki itu. Laki laki itu adalah anak dari pemilik perusahaan AS ( Anggara Star). Sebuah perusahaan yang cukup terkenal, dan ternama...Iya kan.? Mangkaya kamu mau menerima perjodohan dengan pria itu..." Dengan sedikit emosi, Aldi terpaksa mengatakan itu kepada Arini...


Arini menggelengkan kepalanya.


"Tidak Aldi. Bukan seperti itu, kamu tidak mengerti kenapa aku bisa menikah dengan mas Reino.."


Aldi tersenyum kecut,saat Arini menyebutkan nama Reino...


" Kamu tau Arini, aku sudah memikirkan untuk masa depan kita. Dan kamu tau, kontrak ku akan segera habis di Ternate Dan aku akan di sini untuk selamanya dengan jabatan ku yang baru. Dan aku berniat ingin melamar mu saat aku kembali dari sana. Dan bukan hanya itu, aku juga sudah merencanakan untuk menikahi kamu . Tapi sekarang aku sudah terlambat, kamu sudah menjadi milik orang lain. Kamu bukan hanya menghancurkan hatiku, tapi juga harapan ku. Kamu sudah membuat aku dengan terpaksa menghancurkan harapan keluarga ku .. Kamu jahat Rin, Kamu sudah membuat ku kecewa..." Aldi mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.


Aldi meletakan sebuah kotak kecil, berwarna biru tua... Arini menatap nya, dengan tatapan rasa bersalah. Di tambah lagi, saat melihat mata Aldi yang merah, dengan tangannya di genggam sekuat tenaga.


"Ini untukmu, sebenarnya ini untuk acara kita nanti. Tapi sekarang kamu sudah menjadi milik pria lain, percuma aku simpan barang ini." Arini membuka kotak itu, alangkah terkejutnya saat melihat ada sebuah cincin di dalam kotak itu..


Arini menutupi mulutnya dengan telapak tangan nya Arini tidak menyangka, kalau Aldi benar benar sudah menyiapkan itu semuanya.


''Sebenarnya cincin ini untuk Acara kita. Tapi seperti nya, cincin ini tidak bisa aku pakaikan di jari kamu. Karena jari manis kamu sudah terpasang cincin pernikahan . Dan sepertinya, lebih baik kamu simpan saja. Tapi jika memang kamu tidak mau menyimpan nya, kamu bisa membuang nya.."


"Aldi."

__ADS_1


Huuufffhh....Aldi membuang nafas yang membuatnya sesak." Aku merasakan sesak di dada ku, untuk pertama kalinya.Jadi seperti ini kah rasa nya, saat di tinggalkan oleh seseorang yang kita sayang..."


"Aldi, aku bisa jelaskan semuanya ke kamu.. Kenapa aku bisa menerima perjodohan itu. Agar kamu tidak salah paham, dan menilai ku seperti yang ada di pikiran mu .."


Aldi tersenyum kecut. " Percuma kamu jelaskan, toh kamu juga sudah menjadi istri orang.. Tidak ada yang bisa aku pertahan kan Arini, semuanya itu akan hanya membuat aku sakit. Seperti nya memang aku harus pergi, permisi..." Aldi meninggalkan Arini begitu saja dengan rasa kecewanya. Sedangkan Arini masih menatap kepergian Aldi dengan kesedihan dan rasa bersalah.


Sebenarnya Aldi pun juga tak mau meninggalkan Arini seperti ini.. Tapi Aldi harus menjauh dari Arini, karena Arini sudah ada yang memiliki...


Aldi menaiki motor nya meninggalkan Arini. Arini kini nampak sedih, meratapi dirinya.


Kenapa kamu tidak mau mendengarkan penjelasan ku Aldi. Seandainya kamu tau Di, aku juga tidak mau ada nya pernikahan ini. Maafkan aku Di, maaf sudah membuat kamu kecewa..


Hujan begitu deras, membasahi seluruh jalan. Arini yang mengendarai motor, sekujur tubuhnya basah terkena air hujan yang begitu deras.


Air hujan ini, mewakili perasaan ku saat ini. Yang tidak bisa ku ungkapkan dan hanya bisa ku rasakan. Bertapa sakit,dan perih saat ini,yang aku rasakan.. Ingin sekali ku berteriak menceritakan semuanya kepada Aldi ataupun ayah. Jika pernikahan ini membuatku terluka. Namun aku hanya bisa menutupi semua nya, dan harus kuat menghadapi nya. Biarkan Tuhan yang menentukan kehidupan ku seperti apa nantinya. Yang jelas, untuk saat ini biarkan ku jalani kehidupan ku. Walaupun aku sendiri bingung harus berapa lama aku menjalani kehidupan ku bersama Reino. Pria yang menganggap pernikahan ini hanya keterpaksaan... Aldi, aku rela kamu membenciku. Semoga kamu mendapatkan gadis baik, yang bisa mencintai dan menjaga cinta mu.( Arini)


Saat ini Arini sudah sampai di kediaman rumah pak Arifin, dengan basah kuyup. Dan Arini pun masuk ke dalam kamarnya dan segera mengganti pakaiannya...


Kini Reino sudah berada di dalam kamarnya. Dengan perasaan kesal Reino duduk di Sofa nya, dan melihat Arini sudah tertidur di kasur lantai..


Setelah bersih bersih, Reino pun berniat ingin makan malam. Karena sejak menyelesaikan pekerjaannya, dan berniat ingin makan malam bersama Niken. Namun semuanya gagal, dan terpaksa Reino harus makan malam di rumah.


Reino menghampiri Arini, yang sedang tertidur. Terlihat Arini tidak nyenyak tidurnya. Terlihat sekali Arini mengerutkan keningnya...


'Kenapa dia tidurnya tidak tenang. Tidak seperti biasanya, apa dia sakit .?'Reino menyentuh keningnya Arini. Reino terkejut, saat menyentuh keningnya.' Ya ampun panas banget, dia sakit.'


"Arini...." Reino menepuk pipi Arini.Mata Arini pun terbuka dengan sayup, menatap Reino.


"Mas Reino, kamu baru pulang.." Arini hendak bangun, namun Reino melarang nya.


"Sudah tidak usah bangun, kamu istirahat saja... Kamu sakit Rin.?"


"Kepalaku terasa pusing. Kamu sudah makan belum mas.?"

__ADS_1


"Belum, nanti aku minta bawakan makanannya saja kesini. Kamu sudah makan.?" Arini menggelengkan kepalanya.


Reino pun meninggalkan Arini, mengambil handphone nya. Reino menelpon seseorang di sebrang sana.


Setelah menelpon seseorang, Reino kembali mendekati Arini. Di sana Arin kembali memejamkan matanya, dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Reino merasa tak tega melihat Arini tertidur di lantai, saat sakit. Tanpa pikir panjang, Reino mengangkat tubuh Arini. Dan Arini pun terkejut, saat dirinya di gendong ala bridal style oleh suaminya..


Arini di letakkan di atas tempat tidur dengan hati hati. Arini dapat melihat wajah suaminya dengan jarak yang dekat.


"Jangan tidur di lantai, kamu lagi sakit. Tidur di sini saja." Sambil memakai kan selimut kepada Arini.


Arini tidak mengatakan apa-apa , hanya diam memandang suami nya yang saat ini peduli pada nya..


Tidak lamanya terdengar suara ketukan pintu. Dan ternyata 2 orang ART nya membawakan 2 nampan berisikan makanan dan minuman. Lalu di letakan di tas meja kamarnya.


Setelah meletakkan makanan, 2 ART itu langsung pergi meninggalkan kamar Reino .


"Sekarang kamu makan dulu ya, habis itu minum obatnya..." Sambil mengarahkan sendok ke mulut Arini, dengan nasi dan lauknya di atas sendok.


Mulut Arini masih rapat, belum terbuka sedikit pun.Arini masih menatap Reino, yang begitu peduli padanya...


"Ayo buka mulut kamu, ini makan nasi nya. Habis itu minum obatnya.. Bukan melihat aku dengan tatapan seperti itu ."


"Kenapa kamu begitu peduli dengan ku..?" Arini bertanya dengan wajah pucat dan mata sendu nya...


"Dengar ya, aku peduli dengan mu, Karena aku juga manusia dan punya hati. Dan ingat, jika kamu sakit sudah pasti akan membuat ku repot mengurus kamu. Aku tidak mau itu. Mangkanya ayo makan." Ucap Reino.


mendengar Reino yang menjawabnya dengan seperti itu, Arini pun menangis.


"Kalau Hanya bisa merepotkan mu saja, lebih baik ceraikan saja aku. Aku tidak ingin merepotkan mu, bukan kah kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini. Kalau seperti itu yasudah kita pisah, biarkan aku pulang kerumah ayah. Agar aku dan kamu bisa bahagia tanpa adanya pernikahan yang penuh dengan kata keterpaksaan. Agar tidak banyak hati yang terluka."


Arini terus saja berbicara seperti itu, dengan menangis tersedu-sedu. Reino sendiri bingung kenapa Arini bisa seperti itu. Sebenarnya selama ini Reino juga sedikit mengubah sikapnya, untuk tidak terus menerus keras kepada Arini. Reino berusaha menghargai Arini sebagai istrinya. Walaupun menikah dengan terpaksa, terapi sikap Arini yang lembut dan perhatian kepada dirinya. Membuat Reino sedikit luluh, Reino juga berusaha menghargai sikap baik dan lembut Arini...

__ADS_1


__ADS_2