
"Nanti juga kamu akan tau dan akan menyukai setiap kali Arini bernyanyi. Dan hati kamu akan terus berbunga bunga. Seperti saat ini, kamu memperhatikan Arini diam diam..." Goda ayah Zainal, dan itu membuat Reino menjadi salah tingkah..
"Ayah, mas Reino. Ayo sarapan, makanan nya sudah siap.." Reino dan ayah Zainal menghampiri Arini, yang berada di ruang makan..
Reino dan ayah Zainal melihat menu masakan yang di buat Arini.
" Wah sepertinya masakan nya sangat lezat. Ayah langsung lapar tiba tiba melihat semua masakan kamu nak..." Arini terkekeh mendengarnya ayahnya bicara." Arin sayang, jangan lupa ya. Kamu pisahkan nasi,dan juga lauknya untuk Rafli. Soalnya dia sudah di toko dari pagi.."
"Iya yah, sudah aku siapkan ko. Tinggal di bawa saja."
"Terimakasih nak. Anak itu rajin sekali nak. Ayah senang melihat dia giat dalam bekerja. Untung saja ada dia di sini, jadi ayah tidak merasa kesepian."
"Ooh ya.. Bagus dong yah kalau seperti itu . Arin merasa sedikit lega, jadi ayah tidak kesepian. Setidaknya ada teman mengobrol di rumah ini, dan di toko.."
"Iya nak, bagaimana pun kan. Keluarga nya masih ada saudara kita, meskipun saudara jauh."
" ooh jadi Rafli itu masih ada saudara dengan kita yah.?"
" Iya saudara. Ibunya itu adik dari ibunya Fera. Nenek dari ibunya Fera dan Rafli itu, adiknya nenek kamu nak..Jadi masih saudara kan.."
"Ow gitu.. Bagus dong jadi nya. Jadi dia itu sepupuku.."
"Ya benar sayang.. Sudah Yuk sekarang kita makan, ayah sudah lapar.".. Reino dan Arini pun mengangguk.
Dan mereka pun akhirnya menikmati sarapan bersama, menikmati masakan yang di buat Arini..
Selesai makan, Reino mengatakan sesuatu kepada ayah Zainal.
"Yah, maaf sebelum ayah ke toko. Aku dan Arini mau bilang, kalau kita ingin pulang. Karena papah memberitahu kalau papah ingin mengatakan sesuatu kepada kita di rumah. Jadi maaf, kalau kita menginap nya hanya semalam saja.." Ucap Reino merasa tak enak hati
"Ya ampun nak, ayah tidak apa-apa. Dengar nak Reino, Arini sekarang sudah menjadi hak kamu. Sudah menjadi milik kamu, jadi kemanapun kamu pergi, di harus ikut dengan kamu juga. Kamu jangan merasa tidak enak hati seperti itu.. Lain waktu kamu bisa kesini lagi nak. Justru ayah bahagia, dengan kedatangan kalian. Walaupun hanya semalaman saja, itu sudah cukup untuk mengobati rasa rindu ayah kepada anak anak ayah..."
"Ayah .." Arini pun kini memeluk lengan ayahnya..
"Ya sudah kalau kalian memang mau pulang tidak apa-apa. Ayah juga ingin ke toko membantu Rafli.Ow ya Rei, ayah titip salam untuk papah kamu ya..?"
__ADS_1
"Iya yah..."
Selesai sarapan bersama dan berpamitan. Kini Arini dan Reino sudah berada di dalam mobil, untuk kembali kerumah papah Arifin...
Setelah sampai rumah, Reino mendapatkan pesan untuk langsung keruang kerja papahnya..
"Rin, papah di ruang kerja."
"Yasudah. kamu saja yang ke dalam menemui papah, aku mau langsung ke kamar saja.."
"Papah menyuruh kamu untuk ikut. Ayo kita ke sana..." Belum mendengar jawaban Arini, Reino sudah menarik tangannya untuk ikut bersamanya...
"Mas..."
Arini pun terkejut saat tangannya di tarik oleh Reino. Arini pun mengikuti langkah cepat Reino.. Saat berada di depan pintu ruang kerja papah nya. Reino pun mengetuk pintunya.
Tok tok tok... Terdengar jawaban dari dalam, Reino dan Arini pun masuk..
"Pah.."
" Pah sebenarnya ada apa, kenapa papah menyuruh kami ke sini. ?" Tanya Reino dengan penasaran.
Pak Arifin menanggapi pertanyaan putra nya dengan senyuman.
"Arini, bagaimana keadaan ayahmu. Dia sehat kan nak.?"
"Ayah sehat pah."
"Syukurlah lah nak. Ow iya, papah ingin meminta maaf sama kamu, atas kesalahan mamah yang kemarin ya.. Papah merasa bersalah dengan kamu, mamah memang keterlaluan."
"Sudahlah pah, aku tidak terlalu menanggapi masalah itu.."
"Kamu memang memiliki hati yang baik nak. Beruntung papah mempunyai menantu seperti kamu nak.."Arini tersenyum mendapat pujian dari papah mertuanya...
"Terimakasih pah."
__ADS_1
"Iya nak." Pak Arifin menoleh kearah Reino. "Begini Reino. Papah menyuruh kamu dan istri kamu untuk ke kampung nenekmu. Karena ada hal yang penting untuk kamu ketahui..Selain itu juga nenek mu ingin sekali menemui mu, cucu semata wayangnya.."
"Ke kampung halaman nenek.Hal yang penting untuk aku ketahui, hal apa pah.?"
"Nanti kamu akan mengetahui di sana. Paman kamu nanti yang akan menjelaskan masalah itu.. Besok pagi kamu harus sudah berangkat kesana, bersama Arini.." Arini dan Reino saling menatap. Arini tersenyum dan mengangguk kan kepalanya, tanda setuju nya.
"Baik pah, istri ku setuju. Aku pun juga setuju. Baik besok pagi aku berangkat ke sana. Tapi bagaimana dengan pertemuan ku dengan pak Kurniawan pah. Karena besok aku dan Aldo akan bertemu dengan beliau.?"
"Masalah bertemu dengan pak Kurniawan, nanti akan di handle oleh Aldo. Kamu tenang saja nak. Yang terpenting temuin nenekmu terlebih dahulu. "
"Siap pah.."Pak Arifin tersenyum dengan jawaban putranya itu..
"Nak, setelah pulang dari sana. Papah ingin memberikan sesuatu kepada kalian.."
"Apa pah..?" Tanya Reino dengan penasaran.
"Papah ingin memberikan rumah untukmu. Bukan rumah baru si, itu rumah lama kita saat kamu kecil dulu. Saat kita masih sama-sama bunda dulu nak. Hanya saja rumah itu sudah di renovasi, dan ada seseorang yang menempati rumah itu selama ini. Agar rumah itu terawat, dan ada yang mengurus nya."
"Apa rumah lama kita, kenang kenangan saat bersama bunda.." Ada perasaan sedih, yang saat ini Reino rasakan. "Bukan kata papah, rumah itu sudah tidak ada. Papah sudah jual dengan orang lain.?"
"Iya betul nak, rumah itu sempat papah ingin jual. Tapi papah mengurung niat papah itu. Bagaimana pun rumah itu, banyak kenangan papah dan bunda. Dan itu yang menyebabkan papah tidak jadi menjualnya. Berniat papah akan merenovasi rumah itu. Setelah nanti kamu dewasa,rumah itu untuk mu dan juga anak istri mu. Dan sekarang kamu sudah menikah, dan saatnya papah memberikan rumah itu untuk mu. Rumah itu tidak besar seperti rumah kita ini Rei. Tapi semoga kalian suka dengan rumah itu."
"Iya pah, terimakasih. Aku tidak butuh rumah besar. Yang terpenting istri ku nyaman, dan aku juga tidak ingin kehidupan rumah tangga aku di usik oleh orang lain."
"Papah tau Rei, papah minta maaf atas kesalahan mamah. Justru itu, papah menyuruh kalian kesini untuk mengatakan ini. Papah ingin keluarga kamu bahagia, tanpa di usik siapa pun. Bukan maksud papah ingin mengusir kalian dari sini nak.Papah yakin Arini pun tidak nyaman jika berada di sini, jika sikap mamah yang seperti itu.."
"Terimakasih atas pengertiannya papah. Reino bangga memiliki papah yang baik, dan pengertian. Walaupun kadang papah sedikit nyebelin, dan suka memaksa." Ucap Reino dengan Senyuman.
"Mas..". Arini menyenggol lengan suaminya untuk bicara yang sopan dengan orang tua..
"Apa sih Rin. Aku sudah biasa seperti itu sama papah. papah kalau di puji terus, semakin besar kepala. Heheheh.... Maaf pah.." Sambil menunjukkan dua jari berbentuk huruf V.
Pak Arifin menggelengkan kepalanya. Namun benar yang di katakan putra, dia itu selalu bercanda dengan dirinya. Terkadang putra nya itu suka membuat emosi, dan darah nya naik. Namun di balik sikapnya yang terkadang membuat kesal, Reino memiliki hati yang lembut dan tidak tega dengan orang yang terluka. Apalagi jika menceritakan tentang bunda nya, Reino akan menutupi kesedihannya dengan meledek pak Arifin sebagai papahnya .
Bersambung..
__ADS_1