
Kini pak Zainal dengan anak dan menantunya, duduk di ruang makan. Arini menyiapkan makanan yang sudah tertata di atas meja makan. Arini menyendok kan nasi di atas piring suaminya, dan juga ayahnya.. Reino tersenyum saat melihat Arini melayani dirinya dan juga ayah nya...
"Yuk kita makan.." Ucap pak Zainal, yang sudah menyendok nasi dan lauknya.
Pak Zainal dan Arini pun memulai makannya. Karena tidak ada jawaban dari Reino, Arini pun menoleh ke arah suaminya yang kini berada di sebelah nya...
Arini tersenyum melihat suami nya yang melamun dengan menatap nya...Arini pun menyentuh tangan Reino, dan itu membuat terkejut...
Reino menjadi salah tingkah, ketika Arini berada di sebelahnya.
"Makan yuk.."Reino pun mengangguk.
Dan untuk kali ini, Reino benar benar makan tanpa melamun memikirkan Arini ..
Selesai makan waktu sudah menunjukkan jam 7 malam. Dan saat itu Fera pun datang ke rumah pak Zainal, saat mengetahui Arini sedang mengunjungi ayahnya.
Reino yang di dalam menemani pak Zainal menemani ayah mertuanya mengobrol. Dan datang lah Rafli, yang membantu pak Zainal di toko. Yang saat ini tinggal bersamanya. Akhirnya 3 pria itu saat ini sedang asyik mengobrol.
Hanya Arini dan Fera yang mengobrol di terasa samping... Arini menceritakan tentang Suaminya yang ternyata saling bertema ..
" Kamu serius Rin, suami kamu itu berteman dengan Aldi..?"
"Iya Ra, mereka berteman. Dan kamu tau, saat itu mas Reino wajahnya di penuhi dengan lebam. Mungkin mereka habis bertengkar..."
"Ya pasti lah, secara gadis yang Aldi cintai. Ternyata di nikahi oleh pria lain, dan ternyata itu temannya." Fera mengatakan itu membuat wajah Arini nampak murung.
"Sebenarnya aku merasa menjadi wanita jahat Ra. Aku bisa melihat wajah kekecewaan di wajah Aldi."
"Rin, jangan merasa bersalah seperti itu. Itu berarti kamu tidak berjodoh dengan nya. Justru jodoh kamu itu Reino, suami kamu..." Arini hanya mengangguk.." Apa di hati kamu masih ada dia.?"
"Jujur untuk saat ini masih ada namanya Ra. Tapi seiring berjalannya waktu, aku yakin nama nya kan terhapus dari hatiku.. Kamu tau Ra, pernikahan kami itu karena perjodohan. Jadi kami butuh waktu untuk dekat dan mengenal dirinya kita masing-masing.. Tidak seperti hubungan yang sudah saling mengenal, akan mudah untuk mengenal sifat dari pasangan kita..."
"Ya sudah aku paham dan mengerti. Kamu yang sabar ya, aku yakin kamu bisa. Aku senang kamu bisa menceritakan masalah kamu. Berarti kamu masih menganggap ku sahabat kamu. Hihihi ..."
"Apaan si kamu. Kita itu berteman bukan setahun atau dua tahun. Kita berteman dari kecil, sampai kapan pun kamu tetap temanku ..."
"Cie cie.. Jadi terharu kamu bilang gitu Rin." Arini dan Fera pun saling tertawa. "Ya sudah aku pulang ya, sudah malam juga besok aku masuk kerja. Kamu mah enak, tidak kerja sudah jadi istri sultan. Lah eyke mah apa atuh, hanya Upik abu di tempat kerja ku.."
"Hussstt..... Jangan bicara seperti itu. Nasib kehidupan seseorang tidak ada yang tau. Siapa tau kamu mendapatkan pria baik, dan pengusaha pula..." Ucap Arini yang di amiiin kan oleh Fera.
__ADS_1
"Aaaaammiiiinnnn...."
Arini dan Fera pun tertawa. Memang antara Arini dan Fera memang seperti itu. Di awal mereka nangis nangis sambil bercerita. Di akhir mereka tertawa..
Sebenarnya tanpa mereka sadari, Reino mendengar Arin dan Fera cerita. Karena posisi kamar nya di sebelah tempat Arini dan Fera mengobrol. Di saat itu Reino Hendak mengambil handphone nya. Tanpa sengaja Reino mendengar Arini menyebutkan namanya, dan Reino pun semakin penasaran. Dan akhirnya Reino mendengar cerita Arini yang masih menyimpan Aldi dalam hatinya.
Wajar Arini masih menyukai Aldi. Mereka pernah mempunyai hubungan. Aku lah yang justru hadir di tengah-tengah mereka, dan membuat kesan buruk untuk Arini. Maaf kan aku Arini, di awal pernikahan kita aku sudah membuat mu menangis dan terluka.
Reino masih diam mematung.
Setelah Fera pulang, Arini pun masuk kedalam. Dan melihat suaminya sudah tidak ada bersama ayahnya.
"Yah, mas Reino kemana.?"
"Suami mu tadi ke kamar sebentar. Biarkan dia istirahat nak, ayah mau ke pos Ronda. Kamu juga istirahat lah, kalian pasti lelah kan.Lagian sudah malam juga, sudah sana istirahat .?"
"Iya yah. Kalau begitu aku masuk ke kamar dulu ya yah."
"Iya nak." Arini pun berjalan menuju kamar nya.
Ceklak.. Suara pintu terbuka. Arini melihat suaminya yang duduk di tempat tidur dengan melamun. Arini segera masuk menutup pintunya kembali, dan menguncinya...
Arini menghampiri suaminya, dan duduk di samping Reino.
"Tidak apa-apa Rin. Aku mau tanya sesuatu sama kamu, tapi kamu jawab ya dengan jujur...?"
"Tanya apa mas. Jika aku bisa menjawab nya, aku akan jawab." Jawab Arini dengan di sertai senyuman.
"Apa nama Aldi masih di hati kamu, sampai saat ini.?"
Arini terkejut mendengar suaminya mengatakan itu. Arini berpikir, kalau Reino mendengar percakapan antar dirinya dan juga Fera..
Arini tidak bisa menjawabnya, Arini hanya diam menundukkan kepalanya. Reino menoleh ke samping,di mana Arini hanya mendudukkan kepalanya.
"Kenapa kamu hanya diam saja. Kamu tidak bisa menjawabnya. Itu berarti pertanda, di hati kamu masih ada Aldi.." Arini mengangguk kan kepalanya. Ada kekecewaan pada Reino saat mengetahui perasaan Arini saat ini..
"Mas maafkan aku. Bukan maksud ku untuk tidak menghargai kamu sebagai suami. Tetapi kamu tau mas di awal pernikahan kita seperti apa. Di saat itu aku berharap kamu bisa memberikan rasa nyaman untuk awal hubungan kita yang baru. Dan aku juga berharap, aku bisa melepaskan masa lalu ku untuk bisa berbakti kepada mu.. Tetapi kamu justru menorehkan luka di hatiku, dengan perbuatan dan perkataan kamu mas. Dan itu membuat ku ragu kembali dengan niat awal ku, untuk membuka hati untuk kamu.. Apa aku salah jika masih menyimpan namanya ,di saat aku merasa sudah menghancurkan hatinya.. Dan itu di saat, suami ku belum mengatakan untuk memulai hubungan baru kita. "Arini mengatakan itu dengan derai air mata, yang membuat Reino semakin merasa bersalah kepada istri nya...
Reino menghapus air mata Arini, dengan perasaan bersalah nya. Kemudian Reino membawa Arini kedalam pelukannya. Arini. Di sana Arini menumpahkan air mata rasa bersalahnya kepada suaminya.
__ADS_1
"Maafkan aku mas...."
" Kamu tidak salah Rin. Seharusnya aku lah yang harus meminta maaf sama kamu. Sudah membuat kamu terluka di awal pernikahan kita.." Reino semakin mempererat pelukannya, agar dapat menenangkan istrinya.
Arini pun juga membalas pelukan Reino, dan itu membuat Reino merasa bahagia. Selama ini, setiap kali Reino mendekati Arini, dia selalu menghindar dari nya.. Tapi untuk saat ini, dia mendapat balasan dari Arini.
Reino pun memberikan kecupan manis di kening Arini. Beberapa kali Reino memberikan nya, hingga membuat Arini tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.
"Syukurlah kamu sudah kembali tersenyum." Reino menggoda nya
"Bagaimana tidak tersenyum. Kamu terus menerus memeluk ku, dengan erat seperti itu. Sampai aku tidak bisa bergerak, dan di tambah lagi kamu...." Arini menghentikan perkataan nya, karena merasa malu. Dan Arini kembali mendekatkan wajahnya ke dada bidang Reino.
"Aku Kenapa.?" Reino menggoda Arini, membuat Arini merasa amat malu. Saat suami nya terus menggoda nya." Aku hanya memberikan ci*man ku ke kamu, sudah hanya itu.."
"Iya itu yang ku maksud, kamu memberikan ci*man terus menerus ke aku.."
"Kenapa harus malu, aku menc*um istri ku sendiri.."Ucap Reino dengan terkekeh...Lalu Arini dan juga Reino saling memandang, tatapan mereka saling bertemu. Dan dengan perasaan yang keduanya saling menerima perasaan masing-masing.
Cup
Reino meng*cup bibir Arini, dan Arini pun justru tersenyum manis.
"Rin, apa kamu keberatan jika kita memulai hubungan baru kita, untuk lebih dekat lagi. Maksudnya aku ingin memberikan hak ku, sebagai suami. Untuk memberikan nafkah batin ku, ke kamu. Yang memang sudah menjadi kewajiban untuk pasangan suami-istri.. Yang tidak pernah kita lakukan, dari awal pernikahan kita. Aku ingin memperbaiki hubungan rumah tangga kita, untuk keluarga kita dan untuk kedepannya. Aku juga ingin memberikan cucu, untuk keluarga ku dan ayah kamu.."
Arini menitikkan air matanya, saat Reino mengatakan itu. Arini sangat terharu dengan perkataan Reino yang ingin memberikan cucu, untuk kedua orang tua mereka. Hati nya berdebar, seakan nafas nya begitu lega . Saat Reino sendiri yang mengatakan keinginan nya, ingin memiliki keturunan dari nya..
"Rin, kamu kenapa menangis. Apa aku mengatakan yang salah, membuat hati kamu terluka...?" Seraya menghapus air mata Arini.
"Kamu tidak salah mas, kamu tidak juga membuat ku terluka.. Aku hanya merasa bahagia, dengan perkataan kamu mas. Dan kamu juga ingin memberikan keturunan untuk papah dan mamah.. Aku bisa bernafas lega saat ini mas, aku sangat bahagia mas. Dan aku juga mau untuk memiliki keturunan dari kamu mas. Dan memulai hubungan kita dari awal untuk keluarga kita kedepannya..." Reino kembali memeluk Arini. Sejujurnya Reino pun juga merasakan sangat sangat bahagia.
Reino mengangkat dagu Arini, hingga Reino dapat melihat bibir ranum Arini sedikit terbuka. Reino menatap mata sendu istri, nampak indah mata Arini. Bukan hanya itu, bibir Arini nampak manis dengan bibir nya berwarna merah bibirnya. Dan itu membuat Reino semakin penasaran, dan ingin sekali lagi dirinya mencicipi manisnya kecupan manis itu... Kalau bisa ingin sekali Reino menikmati kecupan ci*man itu terus menerus..
" Kamu sudah siap.?" Arini mengangguk.
"Aku akan melakukan dengan hati hati ."
"Iya mas, lakukanlah. Aku siap." Reino pun tersenyum.
Pikiran Reino semakin liar, seakan Reino sulit untuk bisa menahan gejolak rasa ingin memiliki Arini seutuhnya ..
__ADS_1
Arini pun memejamkan matanya, dan itu justru membuat Reino merasa senang. Tandanya Arini mengizinkan Reino untuk permainan selanjutnya..
Dan itu hanya meraka saja yang tau, dengan permainan apa yang saat ini mereka lakukan.. Wkwkwkw....