
Sebenarnya aku ini anak nya bukan si.? Kenapa tega sekali dia membuang ku ke kampung nenek, ayah macam apa itu. Lama lama aku bisa tumbuh uban, memikirkan permintaan papah yang menyuruh ku menikah..(Reino)
Akhirnya Reino pun keluar dari ruangan itu, dan kembali menuju kamarnya.
Setelah sampai kamarnya, Reino masih memikirkan kembali permintaan papahnya.
Menikah, aku belum memikirkan ke arah sana. Aku belum ada niatan untuk menikah. Menikah bukan hubungan yang sangat membosankan, lagian aku sudah mempunyai Niken. Jelas jelas aku mencintai Niken, kenapa mesti harus menjodohkan ku segala. Belum tentu gadis pilihan papah itu, cantik dan se*si seperti Niken.
Dengan tersenyum memikirkan kekasih nya itu. Tiba-tiba senyuman nya itu memudar, saat mengingat perkataan papahnya. Yang menyuruh dirinya untuk angkat kaki dari rumah itu, dan tinggal bersama nenek dan kakeknya di kampung...
Astaga, papah memang tau kelemahan ku. Aku tidak menyukai kampung, di sana sangat membosankan. Kalau sampai aku menolak nya, aku bisa di buang oleh papah.. Dan di sana aku tidak memiliki uang lagi, dan aku pun juga harus bekerja di pabrik. Tidak tidak, aku tidak mau seperti itu. Apa aku terima saja permintaan papah, dan aku juga masih bisa menikmati hasilnya dari membantu perusahaan papah. Daripada aku harus di kampung dan di pabrik paman, lebih baik aku menikahi gadis itu. Ya walaupun aku sebenarnya tidak ingin ada pernikahan dengannya.
Sedangkan di kamar pak Arifin. Beliau masih menikmati malam yang sepi, sambil menikmati semilir angin malam,di teras balkon kamarnya.
Alya maafkan aku, yang harus melakukan ini dengan anak kesayangan mu. Aku sudah bingung harus bagaimana dengan sikap putra mu yang selalu membuat ku kepikiran. Aku pun sebenarnya sangat sangat menyayangi nya, hanya dia putra kita Alya. Dan justru itu aku terpaksa harus memilih gadis yang baik untuknya. Agar dia tidak semakin liar, seperti dengan teman temannya itu. Aku memikirkan gadis yang tepat, yang bisa membuatnya sadar.( Ucap dalam hatinya)
Sedangkan Bu Sinta istrinya pak Arifin pun sejak tadi memperhatikan suaminya yang sedang melamun. Dengan senyuman menyeringai, menatap pak Arifin . Lalu mengubah senyumannya menjadi senyuman manis, dan melangkah menghampiri suaminya...
"Mas, masuk yuk. Ini sudah malam,tidak baik untuk kamu mas..?" Bu Sinta menghampiri Pak Arifin.
"Iya ..."
Dan pak Arifin pun masuk ke dalam.
Dua hari kemudian
Siang itu udara sangat panas, setelah tengah malam tadi hujan mengguyur seluruh rumah jalan dan tanaman. Di siang harinya udara pun sangat panas, dimana banyak anak anak, orang dewasa membeli minuman dingin di toko milik Arini..
Ketika Arini, sedang membereskan barang brang dagangannya yang berada di dalam etalase. Tiba-tiba ada seorang pria mengetuk kaca etalase.
Tik tik tik.... Arini yang berada di dalam sedang di bawah, membereskan barang barangnya. Lalu berdiri dengan tersenyum dengan seorang pembeli..
"Iya... Beli apa.?" Saat melihat pembeli itu seorang pria, dengan membawa sebotol minuman isotonik.
Membuat senyuman manis Arini pun sedikit memudar. Bagaimana tidak, yang Arini lihat pria tersenyum dan wajah tampan, membuat Arini menjadi salah tingkah mendapat tatapan sejuk dari pria itu.
"Minuman ini harganya berapa.?" Sambil menunjukkan botol minuman tersebut..
__ADS_1
"Iii....itu 8000 harganya mas." Pria itu mengangguk.
Pria itu, mengambil uang dari saku celananya. Dan memberikan Arini uang 20 ribu, dan di letakan di atas etalase kaca. Arini pun segera mengambil kebalian untuk pembeli itu. Pria itu masih mengamati Arini, membuat Arini menjadi salah tingkah saat mencari uang untuk kembaliannya.
" Ini mas, kembaliannya 12 ribu."
"Kembaliannya untuk kamu saja..." Setelah mengatakan itu, pria itu langsung berjalan menuju motor nya.
"Terimakasih... " Pria itu mengangguk kan kepalanya, tanpa menoleh kearah Arini..
"Lumayan..." Ucap pria itu dengan senyum kecil nya. Lalu pria itu mengendarai motor nya meninggalkan toko Arini...
Arini masih menatap kepergian pria yang mengendarai motor itu dengan tersenyum. Membuat seseorang juga tersenyum melihat Arini yang tersenyum seorang diri..
"Door...."Arini terkejut saat ada seseorang mengangetkan nya. "Wooy... Ngapain tengah hari begini bengong, kesambet baru tau nanti." Ucap seorang gadis dengan tersenyum.
"Fera, kamu itu ngagetin aja sih. Bisa gak, kamu tuh gak usah ngagetin Dateng kesini.?"
"Ya lagian siang bolong begini pake melamun, udah gitu senyum senyum sendiri. Kan jadi takut liat nya, takut ada yang kesambet tau. hihihi...." Fera dengan tertawa ngeledek. "Memang apa sih yang kamu liat, sampai senyum senyum kaya tadi, Hem .?" Fera menaikan alis, menggoda Arini..
"hihihi .... Gitu aja ngambek.."Sambil mencebik kan bibirnya.." Aku kesini mau beli kopi untuk bapak. Kopi kapal merah, yang besar ya. Sama gula pasir nya setengah kilo..Ow iya Telor 1kilo, sama mie instan yang goreng dan soto. Dan masing masing mie nya 4 bungkus, oke cinta..."
"Emmm.... " Jawab Arini, sedangkan Fera hanya tersenyum mendapatkan jawaban dari Arini..
Fera itu teman Arini, sejak mereka sama-sama kecil.. Bukan hanya teman satu rumah, Mereka juga satu sekolah. Hanya di bangku SD saja mereka beda sekolah. Karena saat itu Fera sudah di masukkan oleh ayahnya di sekolah lain.
Setelah barang barang yang di pesan Fera sudah siap. Arini menghitung jumlah belanjaannya.
"Fera, semuanya 62 ribu."
"Oke..." Fera pun membayar belanjaannya dengan selembar uang berwarna biru dan hijau..
Saat Arini mengambil kembaliannya, Fera membuka kulkas,dan mengambil minuman dingin.."Arini nih minuman berapa harganya.?"
"Itu 8 ribu..."
"Yasudah kembaliannya ini aja. Masa iya di suruh doang, terus gak jajan gitu.. Ow tidak bisa..." Ucap Fera, sambil menggerakkan jari telunjuk ke kiri dan ke kanan. Membuat Arini tersenyum dan menggelengkan kepala, melihat tingkah temannya itu.
__ADS_1
Setelah memberikan belanjaannya kepada Fera, Fera pun akhirnya pulang dengan membawa belanjaan nya ..
***
Seminggu kemudian, Arini merasa bingung dengan sikap ayah.
"Ayah, toko tumben ayah suruh tutup sore hari. Ada apa memang nya yah.?"
"Teman ayah, pak Arifin kata nya akan datang hari ini nak.."
"Ayah senang banget kalau pak Arifin datang main. Memangnya pak Arifin itu teman ayah waktu di mana, aku tidak mengenalnya.?"
Pak Zainal menatap putri satu-satunya itu, dengan raut wajah yang tak di mengerti Arini.
"Kalau ayah jelaskan kamu juga tidak akan tau sayang. Pak Arifin itu dulu nya teman ayah, dan karena suatu kejadian yang tidak bisa ayah jelaskan. Beliau menganggap ayah seperti saudara nak."
"Tapi kenapa Arini tidak pernah melihat pak Arifin kalau memang dia itu teman ayah.?"
"Dia itu orang yang sangat sibuk. Dia tidak tau alamat kita ini nak. Ayah dan pak Arifin los konteks, mangkanya dia terus mencari di mana ayah berada. Dan waktu itu, ayah bertemu tidak sengaja saat di jalan. Dan kata nya dia selama ini mencari ayah, itulah nak kenapa ayah bahagia mendengar dia mau main ke rumah kita. Dan katanya dia datang dengan putra nya." Arini mengangguk kan kepalanya...
30 menit kemudian, terdengar suara deru mesin mobil di halaman rumah pak Zainal.
Pak Zainal pun menyambut nya dengan hangat saat kedatangan pak Arifin dan juga anaknya...
Saat pak Arifin keluar dari mobilnya, pak Zainal menyambut dan mereka bersalaman.
"Zainal ini anakku, yang saat itu kamu lihat saat masih usia 5 tahun."Pak Arifin memperkenalkan Reino kepada Pak Zainal.
Reino pun bersalaman dengan pak Zainal seraya tersenyum kepada beliau, sebagai bentuk rasa hormatnya kepada pak Zainal.
"Ow ya, ini Reino. Kamu sekarang terlihat tampan dan gagah. Dan itu. rambut kamu lurus, dulu rambut kamu itu agak ikel, hahahah... Maaf maaf saya bercanda.."
"Tidak apa-apa om, santai aja .."
"Ayo masuk ayo masuk, biar nanti di buatkan kopi oleh anak saya...Biar lebih santai mengobrol sambil minum kopi ."
pak Arifin dan Reino pun mengangguk kan kepalanya. Dan mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah pak Zainal..
__ADS_1