
Arini pun memejamkan matanya, dan itu justru membuat Reino merasa senang. Tandanya Arini mengizinkan Reino untuk permainan selanjutnya..
Setelah sepasang pengantin baru itu, melakukan sebagaimana pasangan lainnya yang sudah halal. Untuk pertama kalinya, mereka pun berbaring hanya menggunakan satu selimut untuk berdua..
Suasana malam hari pun terasa dingin, Reino dan Arini masih nyaman dengan bersandar. Arini yang masih dalam pelukan Reino, dengan wajahnya menempel di dada bidangnya. Reino merasa ayah mertuanya dan juga Rafli, sudah tidak bersuara. Seperti nya mereka pun sudah masuk ke kamar mereka masing-masing.
"Seperti nya ayah sudah tidur ya Rin.?"
"Jam 9 malam, ayah belum tidur mas. Biasanya ayah ke pos ronda, kumpul dengan bapak bapak lainnya yang sedang main catur. Kalau sudah jam 12 baru lah ayah pulang.."
" Ooohhh ya, berarti sebelum kamu menikah. Kamu selalu sendiri di rumah.?" Arini mengangguk." Memang kamu tidak takut kalau sendiri di rumah.?" Sambil memainkan rambut Arini.
"Apa yang di takutin, Hantu atau maling." Ucap Arini dengan percaya dirinya.." Biasanya Fera main mas di sini, kadang juga nginep. Meskipun dia kerja masuk pagi, dia akan tetap main di sini. Karena ada kamu saja dia pulang. Gak mungkin kan dia masih nginep di sini".
"Ow gitu, memang gak bosen tuh tiap hari ketemu. Apa yang di obrolin, tiap hari gitu...?"Reino masih belum bosen memainkan rambut Arini, karena wanginya rambut Arini, Reino sangat menyukainya. Sesekali Reino menciumi rambutnya.
"Ada deh, rahasia perempuan." Jawab Arini dengan terkekeh.. "Lagian kamu kepo banget ya mas. " Mendengar Arini bicara Reino sedikit terkejut. Yang dia pikir istrinya itu gadis pendiam manis dan menggemaskan ternyata jauh dari penilaian nya .
"Iiih... Ternyata istri ku seperti ini ya, kalau di rumah. Aku kira, kamu gadis manis Yang menggemaskan. Ternyata kamu seperti ini."
"Aku memang seperti ini mas. Kenapa kamu gak suka dengan gadis yang seperti aku ini..?" Tanya Arini, dengan menatap wajah sang suami.
Reino menatap bola mata Arini yang nampak indah. Bola mata hitam dengan bulu mata yang panjang dan juga terlihat lentik..
Reino justru tersenyum mendengarnya..
"Dengar kan aku ya. Aku lebih suka dengan gadis yang apa adanya, jangan di buat buat untuk jadi diri orang lain. Maksudnya jika memang sikap kamu yang seperti ini bagus dong. Yang terpenting, jadilah diri kamu sendiri. Karena dari sikap kamu yang seperti itulah yang membuat aku penasaran. Ternyata istri ku ini bukan gadis manja, ternyata istri ku wanita yang kuat. "
Mendengar pujian sang suami, hati Arini berbunga bunga. Arini merasa bahagia, berharap suaminya akan seperti ini.
Semoga mas Reino akan selalu tetap seperti ini, menjadi laki laki yang baik. Untuk ku dan juga anak anakku nanti... (Arini)
"Terimakasih mas.."
"Untuk..?"
"Pujian kamu. Karena sebenarnya aku bukanlah gadis manis dan pendiam, seperti yang kamu nilai. Aku bukan seorang gadis yang pendiam, yang akan diam jika di sakiti. Tapi aku akan mencoba. bertahan jika memang masih bisa di pertahankan.."
__ADS_1
"Kamu tau, aku semakin di buat kagum dengan kamu. Entahlah aku merasa kamu gadis yang istimewa. Bagaimana tidak, papah ku saja sampai menyuruh ku untuk menikahi kamu. Kata papah, kamu gadis baik, dan bukan hanya baik. Kamu juga cantik, bukan hanya wajah kamu yang cantik. Tapi hati kamu juga cantik, Rin. Sungguh aku menyesal, kenapa aku tidak mengenal mu sejak dulu."
"Mas, kamu memuji ku terlalu berlebihan. Aku bukan gadis seperti itu, kamu menilai ku terlalu sempurna. Aku masih mempunyai kekurangan dalam hidup ku.."
"Setiap manusia pasti akan mempunyai kekurangan. Begitu pun juga aku, yang mempunyai kekurangan dan salah. Terutama dengan kamu Rin. Aku sudah menyakiti hati kamu, di awal pernikahan kita.."
" Mas. Sudahlah jangan di ingat lagi, yang terpenting sekarang. Sekarang kamu jangan pernah melakukan lagi kesalahan yang sama, seperti yang sudah kamu lakukan sebelumnya.. Kita harus jalan terus ke depan, untuk keluarga kita. Jadikan masa lalu kamu itu sebagai pembelajaran, untuk tidak akan mengulangi lagi .."Reino mengangguk.
"Terimakasih Rin, ternyata kamu bijak dan dewasa. Kamu mau menerima dan memaafkan kesalahan ku. Aku sayang kamu Rin.."
"Aku juga mas..."Dan keduanya pun saling berpelukan kembali.
Dan pel*kan mereka pun menjadi pel*kan yang membuat mereka akhirnya melanjutkan permainan selanjutnya.Dan begitu pun selanjutnya. Bagaimana pun mereka berdua, masih berstatus pasangan pengantin baru.
Apalagi, Reino yang baru memberikan gol untuk awal pertandingan. Dan Reino semakin bersemangat, ketika ada peluang untuk permainan selanjutnya. Dan akhirnya Reino pun melajukan pertandingan yang selanjutnya. Semangat keduanya pun masih menggebu-gebu, untuk mencapai skor yang di inginkan oleh kedua pasangan pengantin baru itu ..
Suasana dan keadaan sangat mendukung, untuk apalagi ditunda ya gak bang Reino.?Wkwkwkw...( Author)
Berisik Thor. Sana sana ganggu pertandingan aja sih. Hahahaha....
Next
Setelah Arini selesai beberes rumah dan membeli sayuran. Dan sekarang Arini sedang berkutat di dapur, membuat makanan untuk ayah dan suaminya. Hari ini, Arini memasak SOP daging, telor balado, tahu dan tempe. Reino yang sedang tertidur pun, tercium aroma masakan Arini sampai ke kamar...
" Siapa yang memasak, wangi sekali masakannya sampai kesini." Reino pun terbangun, lalu mencari di mana istrinya berada.
Reino pun keluar kamarnya, dan mencium aroma masakan. Reino berjalan ke arah dapur, dia yakin kalau Arini lah yang saat ini sedang memasak. Saat yang di lihat istri nya yang memasak, Reino pun tersenyum.
" Benar kan yang masak dia. Arini...?"Reino pun memanggil istrinya.
"Eehhh Mas Reino, kamu sudah bangun."Arini menoleh ke arah suara yang memanggil nya..
"Iya aku terbangun, karena tidak ada kamu di samping ku.. Terus juga wangi masakan kamu ini, yang terus menggoda hidung ku." Seraya tersenyum.
"Hihihi... Apaan si mas, Sampai segitu nya.." Arini pun terkekeh." Kamu mau aku buatkan kopi atau teh..?"
"Kopi saja Rin." Arini mengangguk." Rin, siang nanti kita pulang ya.? Papah ingin bicara dengan kita, kata nya penting.."
__ADS_1
"Ada apa ya.?" Tanya Arini, Reino pun menaikan kedua bahunya.. "Yasudah nanti kita bilang sama ayah, kalau kita ingin pulang.."Reino pun mengangguk.
Tidak lamanya, datanglah ayah Zainal baru keluar dari kamarnya..
"Reino, kamu sudah bangun nak..?"
"Iya yah, aku sudah bangun."
"Bagaimana tidurnya nyaman tidak. Maaf kamar Arini kecil, tidak seperti kamar kamu. Ayah hanya takut kamu tidak nyaman dengan tidur nya."
" Biasa aja yah.. Aku nyaman ko tidurnya. Aku terbangun karena mencari Arini, dan juga wangi masakannya. Bukan karena kamar atau tempat tidurnya.."
Ayah Zainal pun tersenyum, saat mendengar nya..." Syukurlah kalau seperti itu. Oo ya... Semalam maaf ya ,kalian ayah tinggal ke pos ronda. Ayah di wa di ajak main catur. Ayah sudah bilang juga dengan Arini semalam."
"Ow iya yah, semalam Arini juga sudah bilang. Ayah suka ke pos ronda, main catur bareng warga sini..."
"Iya nak, ayah suka main catur dengan warga sini.."
Saat sedang bercerita, Arini pun datang dengan membawa tiga cangkir kopi.
"Taaaraaa..... kopi nya sudah jadi." Ucap Arini, meletakan dua cangkir kopi, dan satu cangkir teh. Ke 3 Cangkir itu terlihat masih panas, karena terlihat uap panas.
"Ayah kan belum pesan nak, sudah di buatkan kopi nih ."
"Iya dong, aku kan sudah tau yang di cari ayah itu kopi." Ucap Arini dengan senyum nya..
Reino dan ayah Zainal tersenyum. Lalu menyeruput kopi buatan Arini. Reino dan ayah Zainal meminum kopi dan di sertai obrolan. Lalu Arini pun meninggalkan dua laki laki itu, untuk melanjutkan masak nya . Setelah masakan nya Arini sudah matang, Arini menata makanan di atas piring. Lalu di letakan di atas meja.
Reino yang sedang mengobrol dengan ayah mertuanya. Sesekali dirinya memperhatikan istrinya yang begitu semangat menyiapkan makanan di atas meja. Ada senyuman di bibir Reino saat memandangi istrinya. Dan itu tak lepas dari pandangan ayah Zainal,ayah Zainal pun tersenyum melihat menantunya itu..
Ekhem....Ayah Reino berdehem, dan itu membuat Reino kaget dan menjadi salah tingkah. Karena ayah mertuanya memergoki dirinya menatap Arini.
"Arini memang seperti itu. Dia bahagia jika melakukan pekerjaan rumah, apalagi jika memasak untuk orang yang dia sayang. Dia akan sangat bahagia melakukan nya. Dan kamu tau Rei, dia itu gemar sekali memegang pekerjaan rumah dengan di sertai nyanyian. Katanya sih biar lebih semangat ."
"Masa sih yah. Aku tidak tau kalau Arini suka bernyanyi..Ya soalnya aku jarang di rumah, dan pekerjaan rumah pun juga sudah ada ART yang mengerjakan.."
"Nanti juga kamu akan tau dan akan terbiasa setiap kali Arini bernyanyi. Dan hati kamu akan terus berbunga bunga. Seperti saat ini, kamu diam diam memperhatikan Arini." Goda ayah Zainal, dan itu membuat Reino menjadi salah tingkah..
__ADS_1
Bersambung..