
Arini terus saja berbicara seperti itu, dengan menangis tersedu-sedu. Reino sendiri bingung kenapa Arini bisa seperti itu. Sebenarnya selama ini Reino juga sedikit mengubah sikapnya, untuk tidak terus menerus keras kepada Arini. Reino berusaha menghargai Arini sebagai istrinya. Walaupun menikah dengan terpaksa, terapi sikap Arini yang lembut dan perhatian kepada dirinya. Membuat Reino sedikit luluh, Reino juga berusaha menghargai sikap baik dan lembut Arini...
Reino menatap Arini seakan marah dengan perkataan Arini.
"Enak saja kamu bicara cerai. Dengar ya aku cape pulang kerja Tapi justru kamu malah mengatakan cerai. Sebenarnya kamu kenapa, mengatakan cerai. Tidak enak saja kamu mengatakan cerai. Kamu Ingin liat banyak hati yang akan terluka, kalau kita bercerai. Dan terutama ayah kamu, Kamu tidak mikir kesitu hah .?"
"Sudah banyak yang terluka , bukan hanya ayah ku saja. Tapi orang yang dekat dengan ku dan kamu... Semua gara gara kamu, yang sudah menerima perjodohan ini. Dan ujung-ujungnya, kamu mengatakan kalau ini hanya keterpaksaan, kamu jahat. Dan bukan hanya itu, aku di nilai buruk oleh banyak orang. Aku di pandang rendah oleh orang orang seakan akan aku hanya menginginkan harta keluarga mu saja. Kalau waktu bisa di putar kembali, aku tidak ingin menikah dengan pria jahat seperti kamu." Hiks hiks hiks....Arini pun sampai duduk lemas di lantai. "Sampai aku menyakiti perasaan seseorang yang baik dan peduli dengan ku. Bukan seperti kamu, pria jahat tak punya hati..." Arini terus saja berbicara, Reino sendiri bingung kenapa Arini tiba tiba seperti ini...
"Untuk apa kamu mendengarkan perkataan orang. Kalau memang kamu tidak menginginkan harta ku.. Siapa yang mengatakan seperti itu." Reino tersenyum sinis mendengar Arini mengatakan seorang yang peduli dengannya.." Siapa yang kamu maksud seseorang yang peduli dengan mu. OOO... Aku tau kamu mengatakan ini, kamu habis menemui seseorang kan. Jangan bilang yang kamu katakan dan yang kamu maksud itu, mantan kamu. Jadi kamu meminta izin kepada ku tadi, hanya untuk menemui mantan kamu. Iya kan Rin, kamu menemui pria lain. Bisa bisa nya kamu mengatakan seperti itu setelah menemui mantan kamu.?"
Arini hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Reino...
"Jawab, jangan hanya diam saja. Bukan kah tadi kamu marah dengan ku. Kenapa kamu diam saat aku bertanya, apa kamu menemui mantan kamu tadi.....?" Bentak Reino, sambil menarik tangan Arini dan menggenggamnya dengan sangat kencang.
Dan itu membuat Arini merasa sakit di pergelangan tangannya. Aaaaaaa.... Arini meringis kesakitan .
"Lepasin Reino, sakit tanganku.." Arini sedikit berontak meminta di lepaskan tangannya.
Tapi Reino enggan untuk melepaskan tangan Arini. Justru Reino menatap Arini dengan tatapan yang dingin..
" Bangun kamu.." Reino membangun kan Arini dari lantai, dengan paksa.
__ADS_1
" Katakan apa kamu menemui seseorang, dan orang itu kekasih kamu Sampai kamu bersikap seperti ini.. Iya..?" Dengan mata yang memerah Reino menatap Arini..
Arini menatap mata Reino, dengan air matanya yang membasahi pipinya
"Iya kamu benar, tadi aku menemui nya. Dia kecewa kepadaku, Karena aku sudah menikah denganmu. Dan itu yang membuatku menyesal, karena aku menuruti permintaan ayah ku. Untuk menerima lamaran mu, padahal kamu menikahi ku hanya terpaksa. Iya kan, apa yang aku katakan benar.. Dan jika sampai ayah ku tau, dengan rencana mu yang menikahi ku karena ke terpaksa. Aku yakin bukan hanya ayahku yang terluka. Tetapi papah kamu juga akan terluka, dan kecewa dengan mu.." Arini mencoba memberanikan dirinya untuk mengungkapkan perasaan marah yang dia tahan.
"Kenapa kamu diam mas, kamu heran melihat ku seperti ini. Ingin sekali aku mengatakan perkataan mu malam itu, kepada papah kamu dan juga ayah ku. Kalau kamu menikahi ku karena terpaksa, walaupun aku tak tau kenapa yang menyebabkan kamu terpaksa menikahi ku.. Tapi aku masih mempunyai perasaan tak tega kepada mereka. Aku menangis, bukan karena aku wanita lemah. Dan aku, aku akan bertahan untuk bisa hidup dengan kamu. Sampai kamu sendiri yang akan mengatakan, mengakhiri, atau melanjutkan pernikahan ini . Kamu tidak perlu khawatir, aku akan mencoba menutupi semuanya dari ayah dan papah. Dan akan tetap melanjutkan peran ku sebagai istri, semua nya ku lakukan untuk keluarga kita."
Mendengar perkataan Arini, membuat hati Reino tercubit . Dan secara perlahan Reino melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Arini.
"Dan jika kamu tidak mengatakan pernikahan itu sebuah keterpaksaan. Mungkin, aku akan merasa bahagia. Dan mungkin, aku akan berusaha membuka hatiku untukmu. Walaupun banyak yang tidak suka dengan ku, atau menilai ku buruk. Aku tidak perduli, seperti apa yang kamu katakan... Tapi nyatanya, Kamulah yang menyakiti hati dan perasaan ku untuk pertama kalinya." Arini menghindari tatapan matanya dari Reino, dan mencoba menghindar dari Reino.
Reino melihat Arini memegangi kepalanya, Reino sedikit khawatir dengan kondisi Arini. Namun Reino masih sedikit kesal dengan Arini. Namun semakin lama Reino tak tega, dan mencoba mendekati Arini. Saat Reino ingin membantu memegangi Arini, Arini menolak untuk di bantu.
Reino segera menghampiri Arini, dan membopongnya. Reino meletakan Arini di kasur dengan hati hati...
" Astaga tubuhnya panas sekali.."
Reino mengambil handuk kecil dan tempat wadah untuk mengkompres Arini. karena Arini demam, itu membuat Reino sedikit khawatir...
Kenapa dia pakai pingsan segala si. Memang siapa si kekasih nya itu, bisa membuat dia seperti ini. Apa yang pria itu katakan ke Arini.? Sebenarnya memang benar apa yang dia katakan nya, aku memang jahat. Di awal perkenalan memang aku sangat terpaksa untuk menikahinya. Hanya untuk tetap berada di sini, dan terpaksa harus menuruti permintaan papah. Papah pun juga tau, aku pasti menerima perjodohan itu karena terpaksa. Tetapi kalau sampai sekarang papah tau, aku juga belum menyentuh nya selama dia menjadi istri ku. Dan menganggap pernikahan ini keterpaksaan, aku yakin papah akan sangat marah besar. Tapi kenapa aku sekarang jadi peduli dan khawatir dengannya.. Sudahlah nanti aku pikirkan lagi, lebih baik aku jelaskan lagi dengannya nanti...( Reino)
__ADS_1
Reino pun memeras handuk kecil dari wadah berisikan air hangat. Lalu handuk itu di lipat kecil untuk di letakkan di kening Arini. Reino pun melupakan makanan nya, justru Reino menemani Arini.
Sampai sang Surya pun datang.Arini membuka matanya terlebih dahulu, dan menyentuh keningnya yang terdapat handuk kecil...Arini mengingat kejadian semalam, saat mereka bertengkar. Saat Arini menoleh, ternyata Reino berada di sampingnya. Arini terkejut, karena Reino tertidur di kursi yang di dekat kan di samping tempat tidurnya.
'Ya ampun mas Reino, dia di sini. Apa dia yang merawat ku semalaman.' Arini dalam hatinya.
Saat melihat Reino bergerak, menandai akan bangun dari tidurnya. Arini kembali memejamkan matanya, dan berpura pura tertidur.
Mata Reino terbuka, dan Reino pun memposisikan duduknya.
"Syukurlah badannya sudah tidak demam seperti semalam.." Reino Saat menyentuh keningnya Arini.." Lebih baik aku siap siap untuk ke kantor, biar dia istirahat saja." Reino pun pun meninggalkan Arini dan masuk kedalam kamar mandi ..
Setelah Reino masuk dalam kamar mandi, Arini pun mengintip untuk melihat Reino... Arini pun baru membuka matanya setelah melihat Reino tidak ada...
'Ternyata dia masih punya hati yang baik, dan peduli sama orang. Sssssttt..... Kepala ku masih pusing banget lagi...' Arini Sambil memegangi kepalanya...
Arini memegangi kepalanya,yang terasa pusing. Bukan hanya itu,Arini juga masih merasakan lemas pada tubuhnya. Mungkin dari efek hujan hujanan kemarin..
Arini berusaha keras berjalan untuk mempersiapkan keperluan suaminya kerja. Walaupun dengan kata kata Reino yang selalu mengatakan pernikahan ini penuh dengan keterpaksaan. Tetapi bagi Arini, pernikahan itu SAH, dan kewajiban Arini itu bukan karena terpaksa. Biarkan Tuhan yang menentukan kehidupan nya nanti.
Dan sudah kewajiban Arini untuk menyiapkan keperluan suaminya. Walaupun untuk masalah ranjang, Arini belum berani memberikannya. Bagi Arini kalau suaminya sudah memintanya, dirinya pun akan memberikan nya. Apalagi bila suaminya memintanya dengan ikhlas, sebagaimana suami meminta hak nya kepada istri nya dengan penuh kasih sayang, bukan karena keterpaksaan...
__ADS_1
Arini juga akan memberikan nya, kehormatannya yang Selama ini dia jaga hanya untuk suaminya ...