Arini Aku Mencintaimu

Arini Aku Mencintaimu
Malam pengantin yang menyedihkan


__ADS_3

"Terimakasih Fera, aku tidak tau harus cerita dengan siapa. Hanya kamu dan ayah yang aku percaya untuk menceritakan masalah ku..."


Arini menceritakan masalah nya dengan Fera, membuat hatinya sedikit lega. Setelah bertemu Fera Arini kembali kerumahnya dan beristirahat.


*****


Sebulan kemudian, acara pernikahan antara Arini dan Reino pun di selenggarakan. Pernikahan yang di selenggarakan di sebuah gedung, dengan di hiasi bunga bunga, serta taman pelaminan untuk sepasang pengantin.


Ijab Kabul dan janji pernikahan pun sudah terucap. Kini Reino dan Arini sudah sah menjadi pasangan suami istri..


Tempat itu di sulap seperti istana di negeri dongeng. Hiasan bunga bunga dan di depan taman terdapat air mancur kecil sebagai pemanis untuk penghias pelaminan. Reino dan Arini bagaikan raja dan ratu saat itu. Semua mata tertuju kepala mereka berdua. Apalagi Arini di balut dengan gaun pengantin bagaikan putri raja. Tak dapat di pungkiri kalau Reino sejak tadi terkesima melihat Arini yang terlihat sangat cantik.


Tapi lagi lagi, Reino mengingat kalau pernikahan nya itu, dia Anggap hanya untuk papahnya. Agar dirinya tak di usir papahnya, dan bisa membantu perusahaan papahnya.Dan Reino jadi terus mengingat kalau dirinya harus berpura pura untuk drama yang akan dia jalani bersama Arini.


Sepasang pengantin pun kini duduk di kursi pelaminan, bersalaman dengan para tamu undangan. Tamu tamu undangan dari kolega dan teman teman pembisnis dari pak Arifin. Acaranya pun di buat semeriah mungkin, sebagai anak pertama yang memiliki perusahaan ternama.


Wajah bahagia pak Arifin dan pak Zainal pun terpancar di wajah mereka sebagai orang tua .. Dan Reino sebagai pengantin pria, nampak tersenyum. Begitu pun juga Arini, meskipun bibirnya tersenyum, tetapi hatinya menangis akan pernikahan yang saat ini terjadi...


Banyak pasang mata yang menatap sepasang pengantin tersebut. Ada yang kagum dan ada yang tak suka saat menatap pengantin yang berada di pelaminan...


Terutama tatapan yang diberikan dari adiknya yang bernama Shintya, dan juga Bu Sinta yang tak lain ibu tirinya Reino. Mereka menatap Arini penuh dengan tatapan sinis.


"Mah, lihat gadis itu. Dia tersenyum bahagia, aku yakin dalam hatinya sangat bahagia bisa menikah dengan kakak. Gadis miskin, yang di nikahi dengan pria tampan dan kaya raya. Dasar Upik abu.."


"Kita lihat saja sayang, bagaimana sikap Reino nanti setelah dia menjadi istrinya."

__ADS_1


"Iya kita lihat saja adegan drama apa yang akan di lakukan kakak nanti.." Dengan senyuman menyeringai yang di berikan saat menatap Arini...


POV Arini


Maafkan aku Aldi, aku sudah menyakiti mu. Aku pun sebenarnya tidak menginginkan pernikahan ini. Tetapi apa yang harus aku lakukan. Pernikahan yang tidak aku inginkan. Aku lakukan ini hanya demi ayahku. Aku tidak tau, kenapa ayah sampai menginginkan aku menikah dengan Pria ini.. Aku sendiri tak tau bagaimana nasib pernikahan ku ini... Aku berharap pria ini baik, dan nantinya hubungan rumah tangga ini baik baik saja ...


***


Setelah malam hari,acara pernikahan pun kini sudah selesai. Dan pasangan pengantin baru itu, kini sudah berada di dalam kamarnya..


Arini yang sudah bersih bersih dari makeup pengantin, dan gaun pengantin. Arini pun sudah mengganti nya dengan piyama tidurnya. Arini masih mengamati sekitar kamar nya yang begitu lua, lebih luas dua kali lipat dari kamar miliknya. Arini menatap tempat tidur dengan seprai berwarna putih,dengan di hiasi kelopak bunga mawar berbentuk hati. Arini merasa berdebar saat melihat kelopak bunga yang di hias di atas kasur dengan berbentuk hati


Ya Tuhan, kenapa jantungku berdebar seperti ini.. Aku tidak menyangka kalau hari ini aku sudah berstatus menjadi istri mas Reino. Aku jadi memikirkan ayah, jika aku tinggal di sini. Pasti ayah akan kesepian jika tidak ada aku di rumah..


' Harum sekali bunga mawar ini..'


Arini tersenyum saat mencium bunga mawar yang begitu wangi, dan Arini menyukai wangi dari bunga tersebut.


Ceklak... Suara pintu kamar mandi terbuka, terlihat Reino yang keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan wajah yang segar.


Reino melihat Arini yang sedang duduk di pinggir tempat tidurnya dengan wajah yang menunduk karena malu. Reino tersenyum melihat Arini seperti itu . Reino berjalan mendekati Arini dengan tersenyum menyeringai , menatap Arini.


"Bangun kamu." Pinta Reino, Arini pun berdiri mengikuti apa yang Reino katakan.


Arini bingung melihat Reino yang justru menarik selimut dan juga bantal nya . Reino memberikan selimut dan juga bantal nya kepada Arini..

__ADS_1


"Nih selimut dan bantal kamu, kamu tidur di lantai atau di sofa, aku tidak peduli. Asalkan kamu jangan tidur di kasur ini, mengerti kamu.?" Selimut itu pun terjatuh dari tangan Arini..


"Ta.. Tapi mas,kita kan sudah...." Belum selesai bicara, Reino menyelak nya..


"Kita sudah menikah, itu maksud kamu, iya...?" Arini mengangguk kan kepalanya. Reino justru tersenyum sinis." Hei.... Dengar kan aku ya, kita memang sudah menikah. Tetapi pernikahan kita ini karena paksaan ayahmu dan papah ku saja, bukan kemauan aku. Jadi kamu jangan mimpi untuk tidur satu ranjang dengan ku, mengerti kamu..?" Sambil menunjukkan jari telunjuk nya ke arah Arini, sebagai peringatan. " Ow iya satu lagi, kalau di depan keluarga ku, terutama papah. Kita harus bersikap seperti pasangan pengantin lainnya, kamu paham kan.?" Arini masih diam tidak menjawab.


Reino tersenyum sinis menatap Arini, yang hanya diam menatap nya.." Kamu jangan diam aja, kamu itu bukan patung. Kamu paham gak, apa yang aku katakan ini. Punya kuping kan, dan kuping kamu masih bisa dengar dan berfungsi kan. Jawab, jangan diam aja." Bentak Reino dengan suara yang kencang. Sampai pundak Arini bergerak karena terkejut dengan Reino membentak nya..


Kamar Reino kedap suara, jadi mau Reino berteriak sekali pun. Tidak akan terdengar dari luar, jadi Reino merasa santai jika berbicara dengan suara yang kencang.


Arini menangis saat mendapatkan perlakuan dan ucapan Reino.


"Kenapa kamu tega, kenapa mas. Kamu mempermainkan sebuah pernikahan yang begitu sakral. Jika memang kamu tidak ingin menikah dengan aku, seharusnya kamu katakan kalau kamu tidak mau menikahi ku mas. Jangan seperti ini, sama aja kamu menyakiti perasaan papah kamu mas.?" Ucap Arini dengan derai air matanya.


"Kamu tuli atau giman sih. Kan tadi aku bilang ke kamu, kalau aku terpaksa menikahi kamu. Kalau di hadapan keluarga ku dan ayah kamu, kita biasa aja seperti pasangan pengantin lainnya. Kamu ngerti gak si.?" Sukses air mata Arini lolos dengan sempurna membasahi pipinya.


"Seharusnya kamu beruntung, aku jujur di awal malam pengantin kita. Di saat aku belum menyentuh kamu sama sekali, sebagai mana layaknya pengantin baru di malam pengantin. Jika aku mengatakan itu,di saat kamu sudah ku sentuh. Dan di saat itu aku baru mengakuinya, maka kamu akan tersiksa melebihi dari ini. Sudah lah Aku tidak ingin bicara terlalu banyak dengan kamu, buang buang waktu ku saja. Dan sekarang aku butuh istirahat, kamu pindah sana jangan di sini." Reino pun sudah berbaring di tempat tidurnya, dan memeluk guling nya .


Tinggal Arini yang menatap punggung belakang suaminya, sambil menangis meratapi dirinya. Yang di mana malam pengantin penuh dengan ke indahan. Justru ini malam pengantin yang sangat menyedihkan dan menyakitkan.


"Jangan berisik dengan tangisan kamu itu, aku mau tidur. Ooh iya kalau kamu mau tidur, kamu pakai kasur lantai. Dan ksur lantai nya ada di samping lemari itu. Aku sudah siapkan untukmu tidur di lantai, dan harusnya kamu berterima kasih dengan ku. Walaupun dengan keterpaksaan aku menikahi kamu, tapi aku masih memikirkan untuk kamu tidur. Ya walaupun kamu tidurnya hanya di lantai." Reino pun kembali dengan posisi tidur nya.


Arini menggelengkan kepalanya, melihat pria yang kini telah menjadi suaminya. Ternyata begitu jahat dengannya, dan ucapan Reino benar benar membuat hati Arini terluka.


Dengan langkah lunglai, Arini berjalan menuju lemari. Arini mengambil kasur lantai, untuk alas tidurnya. Setelah itu, Arini memasang kasur lantai nya, tepat di samping tempat tidurnya. Setelah terpasang, Arini meletakan bantal dan selimut nya, lalu Arini merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur lantai.

__ADS_1


__ADS_2