
Pak Arifin menggelengkan kepalanya. Namun benar yang di katakan putra, dia itu selalu bercanda dengan dirinya. Terkadang putra nya itu suka membuat emosi, dan darah nya naik. Namun di balik sikapnya yang terkadang membuat kesal, Reino memiliki hati yang lembut dan tidak tega dengan orang yang terluka. Apalagi jika menceritakan tentang bunda nya, Reino akan menutupi kesedihannya dengan meledek pak Arifin sebagai papahnya .
Reino yang berada di dalam kamarnya, sedang melamun.Sejak membicarakan untuk ke kampung nenek nya, Reino kembali memikirkan nya.
Arini yang sedang menyiapkan pakaian ke dalam koper. Sejak tadi memperhatikan suaminya yang asik dengan lamunannya...
"Mas kamu mau bawa pakaian yang mana.? Aku tidak tau mau yang mana, yang akan kamu mau bawa.." Dan itu berhasil membuat Reino tersadar dari lamunannya..
"Ya Rin, Kenap Rin.?" Tanya Reino balik.
"Kamu mau bawa pakaian untuk di sana yang mana. Aku tidak tau.?"
"Oow... Yasudah biar aku saja yang membereskan pakaiannya. Kasian istri ku kebingungan.."Reino pun mengambil alih tugas Arini.
"Rin sebenarnya aku sedikit malas ,jika harus ke kampung nenek. Tapi aku tidak bisa jika harus menolaknya. Bagaimana pun itu nenek dari bunda."
"Alasan kamu slalu menolak untuk kesana Kenapa mas.?"
"Setiap kali di sana, aku melihat foto bunda yang terpasang di rumah nenek. Dan aku sedikit sedih aja, jika melihat foto bunda di sana. Mungkin kalau bunda masih ada, aku akan nyaman dan enggan kembali kesini. Tapi apa nyatanya bunda tidak ada, bahkan aku tidak mengenal wajah ibuku sendiri..Yang aku kira mamah Santi itu, mamah kandungku. Ternyata dia ibu sambungku. Aku teringat Rin, saat aku kecil aku ingat bagaimana mamah Santi memperlakukan ku dengan buruk."
Arini dan Reino pun menghentikan membereskan pakaiannya. Reino menceritakan yang di alami oleh nya
Flashback
Saat usia Reino 8 tahun. Saat itu pak Arifin mengecek perusahaannya yang berada di kuat daerah selama 2 Minggu. Dan saat itu Reino bermain di taman bersama adik nya Sinthya berusia 3tahun. Saat itu Reino sedang asyik bermain di tepi kolam, melihat ikan ikan. Tanpa Reino ketahui, adiknya yang saat itu mengikuti dirinya. Dan tiba tiba saja terdengar bunyi benda jatuh ke dalam air .
Byyuuuurrrr.... Kakak, kakak. Tolong Tya. Suara teriak seorang memanggil namanya. Dan saat Reino lihat ternyata adik nya yang terjatuh.
Reino pun terkejut melihat adik kecil nya berusaha berdiri namun tidak bisa. Karena kolam ikan itu cukup dalam untuk anak usia 3 tahun. Tya pun kini berhasil Reino selamat kan, dan berada di atas atas. Namun adiknya Reino itu masih saja menangis, mungkin masih merasa ketakutan. Dan tidak kama pun terdengar suara mama Santi datang menghampiri mereka.
"Ada apa ini, Reino kenapa adik kamu menangis. Dan kenapa tubuh kalian basah, ada apa ini. Jelaskan sama mamah.?" Tanya mamah Santi dengan suaranya yang cukup kencang.
"Maaf mah, tadi adik Tya mengikuti ku di belakang. Karena aku bermain di kolam ikan itu, dan aku tidak tau ternyata adik sudah terjatuh di kolam itu.." Reino mencoba menjelaskan ke mamah Santi
"Apa anak ku terjatuh di kolam. Memang kamu tidak menjaga nya. Kakak macam apa kamu, tidak becus menjaga adik kamu. Lihat dia sampai terjatuh dan basah. Kolam itu kan cukup dalam untuk adik kamu, kamu ingin membuat adik kamu sakit ya..?"Reino menggelengkan kepalanya.
Mamah Santi melihat putri nya, yang di mana terdapat luka di lututnya.
"Lihat ini, adik kamu terluka. Seperti nya memang kamu mau mamah kasih hukuman ya.."Ancam mamah Santi
"Jangan mah, ampun mah. Aku tidak tau kalau Tya mengikuti ku di belakang."
"Bu Siti... Bu.. Bu Siti.." Dengan tergesa-gesa Bu Siti menghampiri mamah Santi.
" Ada apa Bu..?"
__ADS_1
"Gantikan pakaian Shintya, dan obati luka di lututnya." Bu Siti pun mengangguk.
" Sini kamu, ikut saya. Jangan banyak bicara." Ancam mamah Santi, yang menarik Reino.
"Ampun mah ampun.." Reino memohon kepada mamah Santi, namun tak di dengar nya.
Kini Reino berada di dalam kamarnya, bersama mamah Santi. Dengan tatapan marah, Reino tak berani menatap wajah mamah Santi.
"Sini kamu." Sambil menarik tangan Reino untuk berdiri." Kakak macam apa kamu, membuat adik mu terjatuh dan terluka. Seharusnya sebagai kakak kamu harus melindungi nya, bukan membuat nya celaka."
Ppplllaaaakkk.... Mamah Santi menampar pipi Reino. Sampai Reino tersungkur ke lantai. Di tangan mamah Santi terdapat sebuah rotan, dan Reino kecil saat itu mulai ketakutan melihat benda yang berada di tangan itu ..
"Mah ampun mah, jangan pukul Reino. Aku minta maaf, mulai besok Reino akan menjaga dan melindungi Shintya." Reino sudah amat ketakutan.
Ceeetttaaar.. Ceeetttaaar... Ceeetttaaar...
Aaaaahhh .. aaaaaaa.... aaaaaaa... Ampun mah ampun.. Reino minta maaf...
Tiga kali benda itu, melukai tubuh Reino. Dan itu membuat Reino mendapatkan luka di bagian kaki dan tubuhnya.
" Ibu Santi, cukup, cukup. Jangan sakiti den Reino. Kalau bapak tau putra nya di pukuli ibu , Bapak pasti juga akan marah sama ibu. Saya akan mengatakan kepada bapak, sampai ibu menyakiti den Reino.." Bu Siti menolong dan melindungi Reino saat itu .
"Oooh... Jadi kamu mengancam saya iya . Saya tidak takut, silahkan katakan pada suami saya . Tapi sebelum nya saya akan memberikan pelajaran kepada kamu dan anak sia*an itu.Ingat baik baik yang saya katakan ini, kamu mengerti kan." Mama Santi memandangi Reino dengan tatapan marah.." Dan kamu, awas kamu sampai melukai anak kesayangan saya. Bukan hanya ini yang akan mengenai tubuh mu, bahkan kamu pun bisa aku buang dari rumah ini. Mengerti kamu.?" Reino mengangguk Kerena ketakutan..
Sejak saat itulah Reino benar benar menjaga adiknya dengan baik. Dan mengikuti permintaan ibu sambung nya. Bukan hanya itu setiap kali pak Arifin pulang ,mamah Santi memperlakukan Reino dengan baik. Namun saat pak Arifin pergi mamah Santi merasa tidak peduli dengan Reino. Bahkan tak segan-segan mamah Santi memberikan hukuman kepada Reino.
Flashback Of
"Begitu lah Rin, kenapa terkadang aku sedikit cuek dengan mamah. Dan aku lebih dekat dengan Bu Siti, karena aku menganggap Bu Siti seperti ibuku... Sedangkan mamah hanya ku anggap sebagai istri papah, ku hormat dengannya hanya melihat papah."
"Apa papah tidak tau mas, kalau mamah Santi sudah membuat kamu terluka.?"
"Tau, papah tau. Bahkan di saat ku SMP papah pernah sempat ingin pisah dengan mamah. Namun lagi lagi papah melihat Shintya yang masih membutuhkan sosok papah."
"Iya si, jika keluarga sudah terpecah belah. Dampak nya yang akan terluka adalah anaknya. Contoh nya aku mas. Ibuku entah kemana, dan aku sejak kecil hanya mengenal sosok ayah. Sedangkan ibuku entah kemana. Apa dia tidak menginginkan aku sebagai anaknya.."Arini menaikkan kedua bahunya.
Ada perasaan sedih dan marah saat ini Arini rasakan. Namun Arini berusaha keras menutupi itu semuanya dari setiap orang. Termasuk di hadapan suaminya. Namun Reino mengetahui perasaan Arini saat ini.
"Sudah lah jangan di bahas lagi. Aku tidak ingi sedih sedih di saat kita sedang memulai baik hubungan kita .." Ucap Reino,dan Arini pun mengangguk kan kepalanya...
****
π
π
__ADS_1
π
π
π
Keesokan paginya Reino dan Arini sudah berada di dalam mobil. Mereka berangkat menggunakan supir, yang di perintahkan oleh papah nya.
Reino dan Arini duduk di kursi belakang supir. Reino yang ingin dekat dengan istrinya,memang tidak ingin menyetir kendaraan menuju kampung halaman nenek nya. Selain malas menyetir, Reino pun sedikit lupa jalan menuju kesana.
Reino yang saat ini sedang bucin bucin nya kepada Arini. Sengaja Reino menutup pembatas atara supir dan kursinya, agar sang supir tidak melihat jika dirinya sedang bermesraan dengan Arini. Sang supirnya pun mengerti, bagaimana pun mereka masih berstatus pengantin baru.
( Pasti paham lah bapak supirnya, wkwkwkwkw....)
Arini sebenarnya tidak enak dengan pak supir nya, yang merasa seperti obat nyamuk. Namun bagaimana, Reino sedikit keras kepala, dan Arini pun tidak bisa berbuat apa-apa..
"Mas, aku tidak enak dengan pak Edi. Pasti dia jenuh loh hanya diam. Kita tidak mengajak ngobrol nya..."
"Arini, istri ku tersayang. Supir keluarga kita itu, supir yang handal dan hebat. Jadi kamu jangan khawatir, kalau tidak percaya tanya saja sama pak Edi.?"Ucap Reino dengan senyuman.." Iyakan pak Edi.?"
"Iya Mas Rei. Mba Arin jangan khawatir sama saya. Lagian saya maklum, mas,dan mba ini kan pasangan pengantin. Lebih baik di tutup saja biar saya tidak melihat ke bucinan mas Reino. Begitu lah kalau kata anak ABG sekarang, lagi bucin bucin nya."
Jawab pak Edi membuat Arini dan Reino terkekeh..
"Tuh kamu dengar kan apa yang pak Edi katakan. Lagian ya, pak Edi itu ikut kita sekalian dia juga mau bertemu istrinya yang sedang di kampung. Betul gak pak.?"
"Betul mas Reino. Iya mba Arini, santai saja dengan saya. Hahahaha..." Kata pak Edi dengan tertawa.
Setelah menempuh perjalanan 8 jam lamanya. Kini tibalah Arini dan Reino sampai di tempat tujuannya. Mereka sampai masih tujuan jam 4 sore, dan itu masih terlihat pemandangan yang indah.
Reino dan Arini menatap rumah yang kini berada di depan matanya. Rumahnya terlihat asri, dengan teras rumah. Serta banyak tanaman yang hijau dan bunga bunga yang cantik..
Ada perasaan sesak yang di rasakan Reino, saat melihat keliling rumah itu. Arini pun mengerti perasaan suaminya saat ini .
Mereka menaiki anak tangga, yang di sisi kanan dan kiri terdapat tanaman Bunga bugenvil warna pink dan orange. Tangan Reino tak sedikitpun melepaskan tangan Arini, dan Arini pun tak keberatan.
Tok tok tok... Arini mengetuk pintu yang berwarna biru langit.
"Assalamualaikum..." Tidak ada jawaban Arini mencoba mengetuk pintunya kembali.
"Waalaikumsallam. enya, saja eta.?"
Ceklak terdengar suara kunci di putar, dan pintu pun terbuka. Terlihat wanita yang tidak lagi muda, namun wajahnya masih terlihat cantik. wanita itu tersenyum menatap Arini dan Reino yang kini berada di hadapannya.
Ada getaran yang saat ini Reino rasakan, saat melihat seorang wanita seumuran mamah Santi. Dengan rambut panjang, kulit putih hidung mancung dan terdapat lesung pipi. Namun Reino tidak mengenal wanita itu, itulah yang saat ini Reino rasakan terasa bingung .
__ADS_1
Bersambung
...Jangan lupa untuk tinggal kan jejak kalian ya. Agar author semangat untuk membuat cerita nya. Terimakasih semuanya πππ...