Arini Aku Mencintaimu

Arini Aku Mencintaimu
Teringat Ucapan Arini


__ADS_3

"Iiishhh... Kenapa harus sama aku... kan kamu yang sok berani..?" ucap Arini, membuat Fera terkekeh mendengarnya.


Fera melihat ada sikap Arini yang berbeda-beda. Fera merasa kalau sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu dari dirinya...


***


Saat sore harinya, Arini sudah berada di rumah Reino... Reino meminta Arini untuk di rumah saat dirinya pulang kerja.


Sebenarnya aku malas jika harus kembali ke rumah ini lagi . Tapi jika aku pulang kerumah , ayah pasti curiga dengan pernikahan ku. Aku tidak ingin ayah sakit, karena kepikiran masalah pernikahan ku..( Arini)


Jam sudah menunjukan angka 5 sore. Terdengar suara deru mesin mobil. Arini yang memang sedang berada di atas balkon, melihat ada 2 mobil masuk ke halaman rumah...


Arini segera berlari menuju lantai bawah, menyambut suaminya pulang... Arini harus melakukan aktingnya di hadapan keluarga, untuk bersikap layaknya pasangan suami istri lainnya...


Pak Arifin dan Reino sudah masuk, dan Arini pun segera menghampiri dua laki laki gagah yang menggunakan setelan jas tersebut...


Pak Arifin tersenyum melihat menantunya, yang menyambut kedatangan mereka.. Arini mencium tangan Reino, seperti saat tadi pagi..Lalu Arini juga mencium tangan pak Arifin, sebagai bentuk rasa hormatnya.


"Arini kamu semangat sekali, menyambut kedatangan suami mu pulang ..." Goda pak Arifin, untuk menantu nya..


"Kan memang sudah tugas istri pah, menyambut kedatangan suaminya." Arini dengan senyum manisnya. Dan Reino menatap Arini saat mengatakan itu....


"Ya ya ya, kamu benar nak. Memang kamu gadis pintar, tidak salah papah menjadikan kamu istri Reino . Sudah cantik, pintar, hormat lagi dengan suami mu..."Arini tersenyum mendengarnya.


Reino pun ikut tersenyum, apalagi saat kedua mata mereka saling bertemu. Reino memberikan senyuman kepada Arini..


Pintar juga dia memainkan drama ini di depan papah. .


"Yasudah kalau begitu papah ke kamar dulu ya. Mamah belum pulang Rin.?"


"Arini tidak tau pah, tadi Arin habis dari rumah ayah. Arin juga bru pulang ."Jawab Arini, di angguki pak Arifin...


"Yasudah papah ke kamar dulu ya." Reino dan Arini mengangguk.


Saat berada di dalam kamar, Reino memberikan tas dan jas kepada Arini. Arini menyimpan nya dengan rapih. Sebenarnya diam diam Reino memperhatikan Arini setiap kali melakukan apapun...


"Rin, seperti nya akting kamu cukup bagus. Sejak tadi pagi aku berangkat, dan saat ku pulang, kamu menyambut nya dengan senyuman. Keren banget pokoknya Rin..?"


Arini menatap Reino yang sedang tersenyum seakan menyindir Arini.

__ADS_1


"Itu bukan akting mas, itu sungguhan. Mungkin kamu menikahi aku karena terpaksa, tetapi bagiku kamu itu tetap suamiku. Dan rasa hormat dan bakti ku ke kamu itu bukan sandiwara, itu sungguhan. Aku hanya berakting tersenyum, dan bahagia, jika aku di hadapan ayahku dan ayah mu. Agar apa, agar mereka tidak tau, rasa sakit ku ini. Saat tau suamiku menikahi aku karena terpaksa. Dan aku tidak ingin mereka tau, dan akan terluka nantinya.. Aku melakukan itu semata-mata, hanya untuk mereka. Bukan untuk aku, ataupun dirimu mas..." Arini mengatakan itu, mata yang basah, dan berhasil dari pelupuk matanya.


Reino menatap Arini dalam dalam hati Reino pun terasa tercubit, saat mendengar Arini berkata seperti itu.


Arini pun tidak ingin berlama-lama berada di dekat Reino. Arini pun berjalan meninggalkan Reino, menuju balkon kamarnya.


Saat ini Ingin sekali Arini berteriak dan menangis agar tidak merasakan sesak di dadanya...


Cukup lama, Reino memperhatikan Arini yang berada di balkon kamarnya...Saat tersadar, Reino pun melangkah menuju kamar mandi. Untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Next


Sudah dua Minggu lamanya Arini berperan sebagai istri dari Reino Anggara.. Sikap Arini dan Reino seperti bisa, berakting jika di depan keluarganya.. Dan mereka pun kini juga menikmati sarapan pagi bersama keluarga. Dan itu membuat pak Arifin bahagia melihat pasangan pengantin baru..


Selesai sarapan, Reino dan pak Arifin hendak berangkat menuju kantor. Seperti bisa Arini mengantar Reino dan mencium tangan Reino sebelum berangkat...


"Mas, aku habis ini pergi ketempat ayah ya.? Dan seperti yang tadi aku bilang, aku izin ingin menemui seseorang. Boleh kan mas ?" Reino mengangguk, tanpa ekspresi.


Arini pun tersenyum, saat Reino memberikan izin. Meskipun Reino memberikan jawaban nya dengan wajah datar nya.


" Hati-hati ya mas, dan semangat kerja nya." Lagi lagi Arini memberikan senyuman manisnya untuk Reino..


kaca mobil pun masih terbuka, dan terlihat ayah mertuanya di samping Reino memberikan senyuman kepada Arini. Arini pun membalas senyuman ayah mertuanya.


" Hati hati ya pah." Pak Arifin mengangguk dan melambaikan tangan seraya tersenyum kepada Arini...


Mobil pun kini sudah melaju meninggalkan rumahnya...Arini masih memandangi mobil itu ,sampai tak terlihat lagi Arini baru masuk kedalam...


Saat masuk, Arini melihat mamah mertuanya sudah terlihat rapi dan cantik. Bu Sinta menghampiri Arini..


"Hei... Saya mau pergi, kalau bisa kamu nanti sore saat papah dan Reino pulang. kamu harus sudah berada di rumah. Jangan sampai mereka duluan yang sampai, kamu nya masih ngerayab di luar sana.." Ucap Bu Sinta dengan ketus..


" Iya mah, nanti aku akan usahakan pulang sampai sini sebelum papah dan mas Reino sampai rumah.."


" Bagus... Ow iya biarkan Sintya tidur. Semalam dia pulang pagi. " Arini mengangguk.


Dan Bu Sinta pun berjalan meninggalkan dengan angkuhnya meninggalkan Arini.


Arini masih menatap ibu mertuanya masuk kedalam mobil, dan mengendarai mobilnya seorang diri tanpa supir..

__ADS_1


Ternyata mamah seperti itu, jika tidak ada papah. Apa papah tau, 0kalau mamah seperti itu.(Arini dalam hati)


Di sebuah perusahaan, Reino sedang berkutat di depan layar laptop dan juga berkas yang menumpuk. Dan harus membutuhkan tanda tangan nya. Sejak dirinya datang, sudah banyak map, berisikan hasil laporan setiap pekerjaan, yang harus di tanda tangani. Dan Reino pun juga membaca dari hasil semua laporan yang saat ini berada di depannya...


Kepala Reino terasa berdenyut, saat membaca dari setiap laporan, yang harus dia tanda tangani...


"Astaga, laporan segini banyaknya. Bagaimana papah, yang kemarin mengurus ini semuanya.." Reino memijat keningnya sendiri...


Tok tok tok.... Ada seorang pria tampan masuk keruangan Reino..


" Selamat siang pak Reino."


"Siang Dit, ada apa lagi.?" Dengan matanya masih menatap layar laptop...


"Pak Arifin meminta bapak untuk ikut meeting di luar, bertemu dengan rekan kerja. Dan kata beliau, pak Reino harus ikut.. " Ucap asisten Reino bernama Adit.


Reino menatap Asistennya , yang saat ini menunggu jawaban nya.


"Hufffhh.... Kerjaan ku saja masih numpuk Dit. Terus sekarang harus ditinggal lagi, setelah meeting tadi pagi. Dan sekarang saya juga harus meninggalkan berkas berkas itu lagi .?"


"Iya pak. Maaf pak Saya hanya menjalankan tugas. Untuk menyampaikan apa yang di katakan pak Arifin, untuk pak Reino... "


"Ya sudah. Memang jam berapa pertemuan itu.?"


"Jam 3 nanti pak."


" Yasudah, nanti saya ikut pertemuan itu..."


"Siap pak, kalau begitu saya permisi.." Reino mengangguk. Adit pun meninggalkan ruangan Reino...


Setelah Adit keluar, Reino menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.. Reino memejamkan matanya sejenak, sambil memijat pelipisnya. Dan saat matanya terpejam, Reino teringat ucapan Arini saat tadi pagi.


'Hati hati ya mas, dan semangat kerja nya.'


Bibir Reino pun berbentuk senyuman, saat mengingat itu.


'Simple tapi bermakna. Kenapa kayak nya senang banget ya, saat dia mengatakan seperti itu ..'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2