
Sebenarnya Arini merasa lega saat Reino mengatakan itu...Arini tidak ingin memberi kan kesuciannya untuk Reino yang melakukan nya dengan terpaksa...
Seminggu kemudian
Hari terus berjalan,seperti biasa saat Reino membuka matanya, yang pertama kali Reino lihat adalah Arini. Dengan wajah cantik alami dan juga senyuman manisnya saat sedang bercermin. Dan bagi Reino itu adalah pemandangan yang sangat indah jika di lihat di pagi hari.
Dan sekarang setiap pagi Arini membuat kan secangkir kopi untuk Reino. Dengan rasa aroma kopi yang khas, membuat pikiran Reino sedikit tenang dengan mencium aroma kopi yang Arini buat....
Entah kenapa Reino menjadi begitu menyukai kopi yang di buat Arini. Padahal kopi dirumahnya adalah kopi yang bisa dia minum . Tetapi kenapa buatan Arini begitu nikmat.
Kini Reino sedang bersiap siap untuk pertama kalinya. Untuk datang ke perusahaan Anggara Star. Yang di pimpin oleh pak Arifin, papah nya sendiri.
Keperluan Reino pun di siapkan oleh Arini, dari pakaian, dasi, jas, kopi dan juga sarapan nya. Semuanya Arini yang menyiapkan untuk Reino...
"Arini sarapan ku mana.?"
"Ini mas, kamu kenapa tidak mau sarapan gabung dengan papah dan mamah kamu mas.?"
"Gak kenapa kenapa, aku malas saja.. Kenapa kamu tanya seperti itu, kamu bosan ya menemani ku sarapan di kamar...?"
"Tidak mas, bukan begitu. Aku hanya merasa tidak enak dengan papah dan mamah kamu. Jika aku tiap hari harus di kamar setiap pagi.."
"Dengar ya, aku sebelum menikah dengan kamu. Aku jarang sekali kumpul dengan mereka. Dan Apalagi sekarang aku sudah menikah, ya wajarlah aku minta kamu melayani aku untuk berangkat ke kantor. Apalagi ini yang pertama kalinya, paham kamu..?" Arini mengangguk..
"Mas..."
"Heeemm..." Jawabnya nya saat menyendok nasi goreng buatan Arini...
"Aku mau izin ke rumah ayah, boleh tidak mas.?" Tanya Arini dengan wajah menunduk..
Reino menatap Arini dengan tatapan tajam. Wajah Arini masih saja menunduk tak berani menatap Reino.
Ck....Reino berdecak saat melihat istrinya yang menunduk melihat ke lantai..
"Arini, kalau bicara itu lihat ke arah yang kamu ajak bicara.. Ngapain kamu menunduk, memang wajah aku berada di bawah...?" Arini menggelengkan kepalanya.." Ya sudah kalau bicara sama aku, lihat orang nya, jangan menunduk..."
Arini pun melihat ke arah Reino. Arini mengatakan ingin kerumah ayahnya,dan Reino pun mengizinkan.....
"Yasudah aku berangkat. Aku tidak bisa jemput, kamu pulang sendiri saja, atau kamu bisa pesan dan naik ojol."
"Iya mas." Saat selesai minum kopi, Reino pun berdiri. Arini melihat dasi yang Reino pakai sedikit berantakan. " Mas Reino tunggu sebentar.."
Reino pun diam, melihat Arini mendekati nya.. Arini membetulkan posisi dasi dan jas nya yang sedikit berantakan...Reino menatap wajah Arini yang terlihat cantik bagi Reino. Entah kenapa ada getaran yang aneh yang Reino rasakan.
__ADS_1
Kenapa dadaku bergetar, apa yang aku rasakan saat ini. Tidak mungkin, tidak mungkin aku menyukai dia. sadar Reino, kamu itu menikahinya hanya karena terpaksa. Hanya menuruti kemauan papah bukan karena kamu mencintai gadis yang ada di hadapanmu ini.
Reino menoleh ke arah lain, untuk menetralisir getaran yang saat ini di rasakan.
Arini mengantar Reino sebelum Reino berangkat, sampai depan pintu. Arini mengulurkan tangannya kepada suaminya. Reino sendiri pun heran menatap tangan Arini mengadah ke arahnya. Lalu Reino mengulur kan tangannya ke Arini, dan Arini pun mencium tangan suaminya.
Hati Reino kembali berdebar kencang saat Arini menyentuh tangan nya dan menciumnya. Ada perasaan aneh di benak Reino...
"Hati hati ya mas, dan semangat ya kerja nya". Senyuman manis pun di berikan untuk suaminya.
"Iya, terimakasih. Yasudah aku berangkat dulu..."Arini pun mengangguk.
Reino masuk ke dalam mobilnya, dan meninggalkan Arini yang masih menatap mobil yang Reino Kendarai. Ada sedikit senyuman saat Reino mengingat Arini mengatakan seperti tadi ..
Inikah rasanya jika memiliki seorang istri. Aku merasa ada kebahagiaan saat Arini mencium tangan ku..(Reino disertai senyuman)
Reino terus mengendarai mobilnya sampai kantor nya..
Arini masuk kembali ke dalam rumahnya. Di sana terlihat mamah Santi yang sedang menatap dirinya..
"Arini..."
"Iya mah, ada apa mah.?"
Arini pun duduk di sofa berhadapan dengan mamah Santi. Mamah Santi menatap Arini dengan tatapan sinis, dan Arini pun menyadari nya.
"Saya ingin tanya, kenapa kamu ingin sekali menikah dengan Reino. Apa karena kamu tau suami saya orang kaya, dan di saat kamu ingin di jodohkan dengan anak saya kamu langsung menerimanya...?"
Arini terkejut dengan apa yang di katakan ibu mertua nya ..
"Astaga mah, aku tidak pernah punya pikiran seperti itu .. Kenapa Mamah menilaiku seperti itu.?"
Bu Sinta tersenyum memandang rendah Arini.
"Arini, Arini. Perempuan seperti kamu itu, saya bisa menembak nya. Tidak mungkin kamu main menerima perjodohan itu, kalau bukan karena kamu tertarik dengan harta suami kamu..?"
Arini mengepalkan kedua tangannya, menahan rasa geram nya...
"Terserah mamah yang jelas alasan ku kenapa aku menerima perjodohan itu. Semata-mata hanya rasa bakti ku kepada ayahku, bukan apa yang mamah katakan. Maaf jika memang aku berkata tidak sopan, kepada mamah.Dan maaf, aku bukan wanita seperti yang mamah katakan itu kepada ku.. Permisi aku harus kembali ke kamar ku, jika memang mamah sudah tidak ada yang di bicarakan lagi..." Arini pun langsung berjalan meninggalkan ibu mertua nya yang masih menatap kepergian Arini. .
Berani sekali dia seperti itu dengan ku....
Dengan senyuman sinis menatap Arini yang menaiki anak tangganya.
__ADS_1
Di tempat lain, di sebuah perusahaan AS ( Anggara Star). Reino nampak gagah karena berhadapan dengan seluruh para karyawan dari perusahaan milik papah nya. Dengan di dampingi oleh pak Arifin, papahnya.
Dan banyak pasang mata menatap betapa gagahnya putra pemilik perusahaan, Yaitu pak Arifin.
Selama Reino memperkenalkan dirinya, dengan para karyawan. Banyak para karyawan berbisik, terutama karyawan perempuan yang memuji ketampanan Reino.
"Eh eh eh... Kalian lihat deh, pak Reino ganteng banget. Senyumnya itu loh, bikin meleleh tau..." Kata salah satu karyawan perempuan..
"Iya ganteng banget. Sayang dia sudah mempunyai istri. hihihi...." Kata teman nya lagi...
"Iya aku mau tuh jadi yang ke dua. Hahay....." Dengan percaya diri nya..
Reino sebenarnya mendengar para karyawan nya sedang membicarakan nya. Namun Reino pura pura tak mendengarnya.
"Baik saya kira cukup perkenalan saya sampai disini. Saya mohon bantuan dan kerja samanya dari kalian.." Reino dengan senyuman ramah nya. " Baik seperti nya Pertemuan dan perkenalan saya, cukup sampai di sini. Terimakasih dan Selamat pagi.. " Dengan wajah yang sedikit ramah, Reino tunjukkan kepada para karyawan.
Reino tidak ingin di kenal sebagai, atasan yang garang. Reino ingin menunjukkan seperti papahnya. Wajahnya ramah, namun dalam pekerjaan papah tegas dan pekerja keras...
Reino yang selalu di nilai hanya menghamburkan uang, oleh papah nya. Reino pun ingin membuktikan kalau dirinya itu bisa bertanggung Jawab dalam pekerjaan nya. Dan tidak akan main main untuk perusahaan papahnya yang sudah di rintis dari bawah...
Next
Arini kini sedang duduk di suatu tempat, bersama Fera yang tak lain sahabatnya...
"Bagaimana beb, selama menjadi istri dari keluarga Anggara..?
"Biasa aja Ra, hanya setatus saja yang berbeda." Dengan tersenyum dan menatap danau yang begitu tenang.
"Maksudnya.. Setatus nya kamu sudah menjadi istri seorang Reino.. Eehh, beb. suami kamu itu orkay loh, masa biasa aja....?"
"Yang kaya itu kan dia, bukan aku. Ya biasa aja lah. Justru aku takut, jika aku hanya di nilai ingin mengincar hartanya mas Reino saja..."
"Memang ada yang bilang seperti itu.? Siapa dia, biar ku hajar orang nya.?"Sambil menggulung lengan kemeja sampai sikut.
Arini tersenyum melihat Fera seakan menantang.. " Memang kamu berani, jika para fansnya mas Reino yang ngeroyok kamu..?"
Mata Fera mendelik, dan mulut menganga, mendengar itu...
"Berani aja. Apalagi jika di keroyok nya bareng kamu, aku pasti berani Rin... " Sambil menunjukkan gigi nya yang rata...
"Iiishhh... Kenapa harus sama aku... kan kamu yang sok berani..?" Ucap Arini,
membuat Fera terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
Fera melihat ada sikap Arini yang berbeda-beda. Fera merasa kalau sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu dari dirinya...