
Dengan langkah lunglai, Arini berjalan menuju lemari. Arini mengambil kasur lantai, untuk alas tidurnya. Setelah itu, Arini memasang kasur lantai nya, tepat di samping tempat tidurnya. Setelah terpasang, Arini meletakan bantal dan selimut nya, lalu Arini merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur lantai.
Arini dengan posisi tidur miring ke kanan. Arini pun menangis meratapi dirinya yang begitu Malang. Dengan menutup mulutnya, untuk meredam suara nya agar tak terdengar suara tangisnya.
Kenapa pernikahan ku seperti ini, kenapa. Aku harus mengatakan apa kepada ayah, kalau aku hanya terpaksa di nikahi nya. Kalau aku mengatakan kepada ayah, aku tidak ingin ayah merasa bersalah dengan apa yang aku alami. Sudah pasti ayah akan kecewa kepada pak Arifin, tentang kelakuan putra nya ini...
Arini hanya berani menumpahkan kesedihan hanya dalam hatinya saja...
Keesokan paginya
Arini terbangun di pagi hari, saat terbangun Arini merasa seluruh tubuhnya sakit sakit. Arini semalam tidurnya tidak nyenyak. Arini pun masih duduk melamun menatap prisoa yang sedang tertidur di kasur besar dengan wajah yang teduh. Namun sikapnya begitu panas bagaikan api yang membara.
Setelah Arini selesai mandi, Arini duduk di depan cermin. Arini mengeringkan rambutnya, dengan hairdryer. Setelah itu Arini menyisir rambutnya dan juga menggunakan make-up tipis.
Bagaimana pun, Arini saat ini sudah berstatus menjadi seorang istri. Walaupun hanya di nikahi dengan keterpaksaan, yang begitu menyakitkan saat mendengar nya. Dan Arini yakin, suatu saat suaminya bisa menerima dirinya. Perlahan Arini akan mencoba memadamkan hati suami nya, agar tidak panas seperti Api yang membakar hati. Arini akan berusaha meluluhkan hati suaminya, agar bisa menerima dan meletakkan namanya di sana.
Tanpa Arini sadari, sajak tadi Reino memperhatikan Arini yang sedang duduk di kursi di depan cermin. Untuk pertama kalinya, saat terbangun ada seorang gadis di kamarnya.
Arini menoleh ke arah Reino. Memberikan senyuman kepada suaminya, di saat suaminya menatap dengan tatapan dingin....
"Mas Reino sudah bangun, mas mau aku buatkan kopi.?" Reino masih menatap Arini, dan tersadar Reino pun mengangguk kan kepalanya.. " Yasudah, sekarang mas bersih bersih badan mas. Nanti akan aku buatkan kopi. Ow iya mas, kopi nya mau aku bawa kesini atau..."Belum selesai bicara lagi lagi Reino menyelak pembicaraan Arini.
"Bawa sini aja, aku malas keluar. Jangan banyak bicara, cepat sana buatkan aku kopi..." Perintah Reino, Arini pun mengangguk.
Kenapa dia masih saja tersenyum kepada aku, padahal semalam aku sudah menyakiti hatinya... ( Reino menatap heran Arini saat melangkah ).
Tanpa banyak bicara, Arini pun keluar kamar. Arini menuruni anak tangganya, dan melangkah menuju di mana letak dapur berada.
Saat sampai di dapur, Arini melihat ada seorang wanita yang sedang berkutat di dapur. Wanita itu memberikan senyuman kepada Arini, Arini pun membalas senyumannya.
"Pagi non Arini...?"
"Pagi juga ibu, sedang membuat sarapan Bu.?"
"Iya non, non Arini mau apa ke dapur.?"
"Aku ingin membuat kopi untuk mas Reino. Maaf Bu, letak cangkir kopi dan gula di mana y Bu....? Maaf, saya tidak tau nama ibu, kalau boleh tau Siapa nama ibu.?"
" Nama saya ibu Siti, non. Ow... Iya Sebentar non, biar ibu ambilkan cangkir nya." Ibu Siti tersenyum lalu memberikan cangkir kepada Arini." Bagaimana non, tidurnya semalam nyenyak .?"
__ADS_1
Arini tersenyum.." Mungkin karena baru pertama kali tidur di sini, jadi biasa lah bu. Bu Siti kalau boleh memanggil saya jangan panggil non ya, panggil saja saya Arini. ."
Sambil membuatkan kopi untuk Reino
"Kan non Arini istri dari den Reino, jadi memang sudah seharusnya saya memanggil dengan panggilan non."
"Tapi rasanya saya tidak pantas di panggil dengan panggilan non Bu.."
"Ya sudah saya panggil mba Arini saja, bagaimana mba Arini..?"
"Yasudah itu juga gak apa apa Bu.."Jawab Arini dengan senyuman.
Bu Siti hanya melihat Arini membuat minuman hanya 1, itupun untuk suaminya..
" Mba Arini tidak buat minuman untuk untuk mba sekalian. ko hanya membuat untuk den Reino saja ..?"
" Aku mah gampang Bu, yang penting mas Reino dulu. kalau begitu aku ke kamar dulu ya , membawa kopi dan sarapan ini untuk mas Reino ." Bu Siti pun mengangguk.
Arini berjalan meninggalkan Bu Siti yang masuk h memperhatikan Arini.
Gadis itu gadis baik, dan sopan. Semoga saja bisa meluluhkan hatinya den Reino menjadi baik....
Setelah sampai kamar, Arini meletakan kopi dan roti yang di olesi selai coklat dan kacang. Lalu di letakkan di atas meja,di samping cangkir kopi..
Reino baru keluar dari dalam kamar mandi, dengan wajah yang segar. Reino hanya menggunakan handuknya yang di lilit di pinggang nya.
Aaaaa..... Arini berteriak. Dan Arini segera memutar tubuhnya, untuk tidak melihat Reino yang hanya menggunakan handuk yang hanya di lilit di pinggang.
"Kamu kenapa.?" Melihat Arini dengan heran.
"Gak, aa.. aku gak kenapa kenapa. Iii....itu kamu sudah memakai baju belum.?" Arini menjawabnya dengan gugup.
Hanya ngeliat aku tela*ja** dada dia sampai seperti itu. Memangnya dia tidak pernah melihat pria seperti ini.?(Reino)
Reino segera membuka lemari pakaiannya, dan mengambil kaos berwarna hitam dengan celana jeans pendek. Reino segera memakai pakaian nya, karena Reino masih melihat Arini masih berbalik badan,dangan mata tertutup...
"Mau sampai kapan kamu seperti itu.?" Reino sambil menyisir rambutnya.
Arini baru membalikkan badannya, dan melihat suaminya kini sudah menggunakan pakaian yang lengkap. Reino melemparkan handuknya ke arah Arini,, sampai menutupi wajahnya..
__ADS_1
Arini masih mengamati suaminya yang berjalan menuju sofa,di mana ada secangkir kopi dan roti. Reino duduk , melihat cangkir kopi yang terlihat masih mengepul...
"Ini kopi buatan kamu kan.?"Arini mengangguk. " Kamu hanya membuatkan kopi saja, untukmu tidak kamu buat juga.?"
"Tidak, biar nanti saja aku buat sendiri..."
"Dengar ya, aku tidak ingin kamu baru tinggal di sini sudah kelaparan. Tolong ambilkan handphone ku di atas meja." Arini pun mengambilkan handphone, lalu di berikan kepada suaminya.
Reino mencari nama dalam handphone nya, lalu menelpon seseorang.
"Hallo Bu Siti, tolong buatkan segelas susu dan roti untuk Arini. Tolong sekalian anterin ke kamar ya Bu, terimakasih..." panggilan pun terputus...
Arini merasa senang saat mendengar Reino masih ada rasa peduli kepada nya..
"Kenapa kamu tersenyum, jangan berpikir aku peduli Sama kamu. Dengar ya, aku hanya tidak ingin seseorang kelaparan saat tinggal bersama ku." Arini mengangguk, tapi dalam hati Arini mengatakan kalau Reino masih mempunyai rasa peduli..
Tidak lama terdengar suaranya ketukan pintu, saat Arini membukanya ternyata Bu Siti membawakan yang di pesan oleh Reino...
"Ini mba Arini, segelas susu dan roti. Selamat menikmati."
"Terimakasih ibu, maaf merepotkan."
"Tidak sama sekali, kalau begitu ibu kembali bekerja ya mba Arini.."Arini mengangguk.
"Terimakasih juga ya Bu.." Bu Siti mengangguk dan tersenyum, setelah itu Bu Siti pergi melanjutkan pekerjaannya...
Arini membawa nampan berisikan susu, dan roti. Dan di letakkan dalam atas meja, kemudian Arini duduk di sofa. Duduk antara Arini dan Reino berjarak 1 Sofa.
Aku ingin izin ke mas Reino, aku ingin kerumah. Kira kira boleh tidak ya, aku khawatir dengan ayah. Apa ayah sudah minum obat atau belum ya.?(Arini)
Mereka menikmati sarapan dengan sunyi tanpa adanya obrolan.. Reino memperhatikan Arini yang nampak bingung, seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Kamu kenapa, apa ada yang ingin kamu katakan.?"Arini menatap Reino dengan sedikit ragu ingin mengatakan sesuatu.
" Cepat katakan, hari ini aku ingin keluar menemui seseorang. Mungkin aku akan sampai malam pulang nya."
"Aku ingin minta izin, mau ke rumah ayah. Aku ingin melihat kondisi ayah, dia sudah minum obat atau belum. Aku khawatir dengan ayahku mas.."
Reino mengamati raut wajah Arini, di sana terlihat kalau istrinya itu terlihat khawatir dengan kondisi ayahnya. Namun tatapan yang Reino tujukan, wajah dingin tanpa ekspresi. Dan itu membuat Arini kembali menundukkan wajahnya, karena sedikit takut dengan tatapan suaminya..
__ADS_1