Arini Aku Mencintaimu

Arini Aku Mencintaimu
Arini vs mamah Sinta


__ADS_3

Tatapan mata mereka saling bertemu, Arini mencari kebohongan dari sorot mata Reino. Namun Arini tidak dapat menemukan nya. Yang Arini lihat, ada kata ketulusan dari sorot mata Reino saat ini ..


Apa sekarang sudah saatnya aku memulai hubungan baru ku dengan mas Reino..Apa mas Reino sungguh sungguh. Tapi aku tidak melihat kebohongan pada mas Reino.( Arini)


"Rin, kenapa kamu hanya diam. Apa kamu tidak ingin memaafkan aku, dan memulai hubungan kita dari awal.. ?"


"Mas, aku bukannya tidak ingin memaafkan kamu. Mas....?"


"Hemm.... Kenapa Rin.?"


"Apa kamu yakin dengan perkataan kamu. Jika kamu ingin memulai hubungan kita dari awal. Tidak ada kata keterpaksaan lagi mas ..?"


"Aku yakin Arini, tidak ada kata keterpaksaan lagi untuk hubungan kita. Maafkan aku, di awal pernikahan. Aku sudah membuat kamu menangis, karena kata kata ku .. "Dengan menggenggam tangan Arini.." Maafkan aku ya.?"


Arini pun mengangguk kan kepalanya, dan tersenyum." Ya... Aku maafkan kamu mas."


"Terimakasih ya." Seraya mengecup tangan Arini..


Arini tersenyum malu saat pertama kalinya suaminya melakukan seperti itu...Arini menundukkan wajahnya, karena Arini merasa pipinya saat ini terasa hangat ..


Reino tersenyum melihat sikap istri nya yang tersenyum malu. Lalu Reino mengangkat dagu Arini, Reino melihat wajah istrinya yang nampak cantik alami. Reino menatap Bibir ranum Arini yang berwarna pink, merah alami tanpa polesan warna bibir...


Deg deg deg .. Itulah getaran yang saat ini Arini dan Reino rasakan... Nafasnya yang terasa sesak seakan-akan mereka berada di ruangan yang sempit dan pengap.


Astaga mas Reino kenapa menatap ku dengan tatapan seperti itu. Apa yang ingin dia lakukan. Kenapa jantungku berdebar seperti ini. Ya ampun aku gak kuat jika mas Reino menatap ku dengan tatapan seperti itu.( Arini)


Semakin lama wajah Reino semakin mendekat. Bahkan sampai tidak ada jarak di antara mereka saat ini..Arini memejamkan matanya, Reino tersenyum saat melihat mata Arini terpejam...


Cup


Dan Arini merasakan bibirnya bersentuhan dengan sesuatu... Saat Arini membuka mata, dan melihat dua pasang mata. Arini membelalakkan matanya saat tau posisi merek saat ini sedang berci**an. Arini pun menoleh ke arah lain, dan Ci*man itu pun berhenti...


Reino pun paham dan mengerti, maksud Arini menghentikan adegan mereka tadi...


"Maaf mas... " Arini menundukkan wajahnya.


"Tidak apa-apa Arini. Justru akulah yang harus meminta maaf, karena melakukan itu ke kamu...Aku faham mungkin kamu belum siap melakukan itu...?" Reino pun memberikan senyuman nya. " Oooh iya sekarang kamu istirahat ya, sudah jam 2."


Arini mengangguk, dan melihat msih ada luka di bagian bibir suaminya.


"Tapi itu luka kamu mas, belum di obati...?"


"Kan tadi kamu sudah obati, dengan Ci*man tadi. Sebentar lagi juga akan sembuh ko.?" Goda Reino.


Membuat Arini menoleh ke arah lain, Arini tersenyum malu. Dan Reino tau itu ..


"Emmm ... Yasudah aku istirahat duluan ya mas.?"

__ADS_1


"Ya istirahat lah kamu.. Kamu juga baru sehat harus banyak istirahat. Aku mau ke kamar mandi dulu."


Arini pun mengangguk dan kembali tidur. Namun sebelum terpejam, Arini tersenyum dan menyentuh bibir nya akan kejadian barusan.. Dan sampai Arini akhirnya tertidur..


Setelah selesai dari kamar mandi, Reino pun mengambil pakaian untuk tidur. Saat ingin berjalan menuju sofa, Reino mengurungkan niatnya. Dengan senyuman Reino pun berjalan menuju tempat tidurnya. Yang di mana, Arini sudah tertidur pulas di sana...


Arin saat ini tidur dengan posisi miring menghadap Reino. Mangkanya Reino tersenyum, saat mendapati Arini yang tertidur apalagi menghadap nya.


Cantik, benar benar cantik . Beruntung sekali Aldi mendapatkan gadis cantik dan baik seperti Arini. Bukan, bukan Aldi yang beruntung melainkan akulah yang beruntung saat ini. Karena aku sudah menikahinya, dia kini sudah menjadi istri ku. Tak akan ku biarkan Aldi merebut nya dariku... Semoga di awal hubungan baik kita, bisa berjalan baik terus menerus..Amiin....'


Reino menatap Arini dengan terlelap....


Sampai Reino pun akhirnya ikut tertidur di samping Arini...


Saat pagi harinya. Yang biasa Arini lah yang bangun lebih awal, kini justru terbalik. Reino lah yang bangun lebih dulu, namun sengaja Reino lakukan untuk menatap wajah indah Arini. Reino masih betah menatap wajah Arini dengan senyuman nya...


Reino justru terkekeh saat Arini menggusel gusel saat tidur di dada bidang Reino.. Layaknya seekor anak kucing kepada induk nya... Reino menyukai Arini dengan seperti ini, tidurnya Arini sangat menggemaskan....


Saat Arini menunjukkan tanda-tanda untuk bangun, Reino kembali memejamkan matanya. Berpura pura masih tertidur...


Arini sangat terkejut dengan posisinya saat ini, yang berada dalam dekapan suaminya...


"Ya ampun..." Arini segera menjauh dari Reino." Apa yang aku lakukan, aku berada dalam dekapan mas Reino. Malu nya aku... Uuuuhh...." Sambil menutup mukanya dengan telapak tangan nya ..


Reino mengintip Arini dengan mata sebelah nya dan tersenyum. Kemudian Reino kembali pura pura tertidur.... Lalu Reino pura pura merenggang kan tubuhnya, layak nya bayi yang bangun dari tidurnya...


"Eehh Arini kamu sudah bangun. Memangnya sekarang jam berapa.? Hooooaaammmm...." Sambil menutup mulutnya, karena menguap...


Reino tersenyum.." Iya semalam aku tertidur di sofa, terus badan aku pada sakit semua Rin.. Ya akhirnya terpaksa aku pindah kesini. Gak apa apa kan, lagian aku kan suami kamu. Dan kamu juga istri ku, masa tidurnya harus pisah..."


"Bukannya kamu yang menyuruh ku mas, untuk tidur di lantai..?"


Reino merasa bersalah saat Arini mengatakan itu ..


"Iya, itu kan kemarin kemarin.. qMulai sekarang kita tidur satu ranjang ya.?" Arini belum menjawab pertanyaan Reino.." Ko kamu hanya diam. Kenapa kamu tidak mau ya.Kamu masih ragu dengan perkataan aku ini."


"Bukan, Bukan seperti itu mas. Hanya saja aku belum terbiasa tidur di samping dengan seorang pria. Aku....." Arini tidak melanjutkan kata-katanya.


Reino tau Arini malu, terlihat pipinya merah seperti tomat...


"Yasudah, nanti akan terbiasa ko... Rin, kamu buatkan kopi aku ya.. Aku mau mandi dulu." Arini mengangguk.


Saat Reino Hendak meninggalkan Arini, Reino tiba tiba saja...


Cup


Memberikan kecupan manis di pagi hari, di pipi Arini. Reino pergi begitu saja ke dalam kamar mandi, sedangkan, Arini terdiam saat mendapatkan kecupan dari Reino .

__ADS_1


Arini menyentuh pipinya, yang masih terasa hangat bekas kecupan suaminya...


Arini tersenyum mengingat kejadian semalam dan tadi.


Arini kini berkutat di dapur, untuk membuatkan kopi untuk suaminya. Dengan senyuman yang menghiasi di bibirnya. Membuat Bu Santi yang tak lain ibu mertuanya, tak suka melihat Arini tersenyum seperti itu..


Sejak tadi Bu Santi memperhatikan Arini yang terus-menerus tersenyum saat membuatkan kopi.


"Senang betul non, sejak tadi ibu perhatikan non Arini bahagia sekali.." Goda Bu Siti, ART di rumahnya..


"Ibu, bikin aku kaget saja. Iya aku senang aja, aku sudah bisa aktitas lagi. Setelah hampir seminggu aku sakit..."


"Ow iya ya non, ibu kira kenapa. Ibu juga senang non Arini sudah sehat."


"Terimakasih ya Bu Siti."


"Sama sama non..."


Saat itu juga mamah Sinta datang dengan wajah angkuhnya.


Ekhem..... Sambil mengambil gelas dan menuangkan minum jeruk dari dalam kulkas...


"Kerja bi, jangan mengobrol."


"Iya Bu .."


"Kamu Arini, seharusnya kamu sebagai menantu di rumah ini. Jangan hanya diam saja dong. Bantuin ngapain ke, masak tau memegang kerjaan rumah. Ini enak saja di kamar selama seminggu, dengan alasan sakit. Jangan sok jadi ratu ya di rumah ini, bisa nya hanya di kamar dan ke rumah ayah kamu yang sakit sakitan itu.."


"Ya ampun Bu, jangan katakan seperti itu Bu. Saya tidak masalah, lagian non Arini juga majikan saya juga Bu.."


"Eeeh mbo Siti, memang saya ngajak kamu untuk menjawab perkataan saya .. Jangan ikut campur ya mbok..."Sambil melotot ke arah Bu Siti. Bu Siti hanya menundukkan kepalanya .


" Bu Siti sudah ya Bu. Jangan membela saya."


"Tapi non...?"


"Sudah Bu.."Bu Siti pun diam dan mengangguk..


Arini tersenyum menatap ibu mertuanya yang menatapnya dengan angkuh.


"Mah maaf jika perkataan ku ini tidak sopan, dan membuat mamah marah. Tetapi ini sudah menyangkut harga diriku dan ayah ku .. Seperti nya mamah tidak perlu tau, aku melakukan pekerjaan apa di rumah ini... Karena kan mamah memang tidak pernah ada di rumah tiap hari.. Jadi mamah tidak akan tau, aku ngapain saja di rumah ini.. " Arini memberikan senyuman.


Dan itu berhasil membuat mamah Sinta marah dan mengangkat tangannya hendak menampar Arini...


"Kamu...."


Haaaap... Arini menahan tangan mamah Sinta, yang hendak menamparnya..

__ADS_1


"Maaf mah, aku memang selama ini diam di hadapan mamah. Tetapi aku tidak akan diam jika seseorang sudah menghina ayahku... Dan satu lagi jangan menghina ayahku, apalagi menilai ayahku sakit sakitan... Karena ayahku sakit, tidak pernah merepotkan mamah, papah ataupun mas Reino. Jadi mamah tidak berhak menghina ayahku..." Arini cengkraman tangan mamah Sinta dengan sangat erat.


Membuat Sinta meringis kesakitan, barulah Arini melepaskan..


__ADS_2