
"Aku ingin minta izin, mau kerumah.Aku ingin melihat kondisi ayah, dia sudah minum obat atau belum. Aku khawatir dengan ayahku mas.."
Reino mengamati raut wajah Arini, di sana terlihat kalau istrinya itu terlihat khawatir dengan kondisi ayahnya. Namun tatapan yang Reino tujukan, wajah dingin tanpa ekspresi. Dan itu membuat Arini kembali menundukkan wajahnya, karena sedikit takut dengan tatapan suaminya..
Kenapa dia setiap kali aku lihat, dia selalu menunduk. Dia itu sebenarnya takut atau malu si dengan ku. Kenapa dia terus menunduk seperti itu.?"(Reino)
"Yasudah aku izinkan kamu menemui ayah mu. Tapi aku antar, dan nanti pulang kamu tunggu saja, biar nanti aku jemput. Aku tidak ingin papah beranggapan aku tidak peduli dengan mu, kamu mengerti kan maksud ku.?" Arini mengangguk kan kepalanya, dan terlihat senyuman di bibirnya.
"Terimakasih mas, aku siap siap dulu.."
"Heeemm..." Jawabnya Reino.
Siang harinya, Reino dan Arini makan siang bersama. Pak Arifin melihat anak dan menantunya sudah rapih seakan ingin pergi keluar. Sedangkan mamah Santi dan juga Sintya, diam diam memperhatikan Arini dengan tatapannya seakan tak suka melihat Arini makan bersama dengannya..
Ekhem.. Mamah Sinta berdehem.
" Arini bagaimana nak, tidur di rumah ini untuk pertama kalinya..?"
"Mamah, pakai tanya lagi jelas jelas tidurnya pasti nyenyak lah. Secara kasur milik ka Reino itu sangat nyaman dan bagus, belum tentu kasur miliknya bagus. Tya yakin, kasur miliknya pasti sangat jelek,dan setiap kali dia tidur badannya sakit sakit." Ucap Sintya dengan menyiyir Arini. Membuat pak Arifin sangat tak suka dengan perkataan putri nya itu.
Reino mendengar adiknya bicara seperti itu, hanya diam tanpa membela Arini. Justru Reino sedikit tersenyum saat Shintya mengatakan itu kepada Arini.
Bukan hanya Reino, mamah Sinta pun diam diam tersenyum mendengar perkataan putri nya. Hanya pak Arifin yang tak suka mendengarkan perkataan putri nya itu..
"Tya, apa apaan kamu bicara seperti itu kepada kakakmu. Bagaimana pun Arini itu kakakmu sekarang. " Bentak pak Arifin..
"Tapi pah." sela Shintya.
"Minta maaf sama kakak kamu sekarang, cepat." Pak Arifin membentak Shintya membuat Arini merasa tak enak hati.
"Sudah pak, jangan marahi Shintya lagi. Tya pasti hanya bercanda, aku tidak marah ko pak."
"Maafkan Sintya ya Arini." Arini mengangguk." Ow iya kalau boleh, kamu jangan panggil pak . Panggil saja papah, seperti Reino dan Tya..."
__ADS_1
"ii... iya pak,, eeh... papah.." Jawab Arini dengan kaku. Pak Arifin justru tersenyum mendengarnya.
"Terus kalian berdua ingin kemana, seperti nya sudah rapih. Kalian ingin keluar.?"
"Iya pah, aku ingin mengantar Arini kerumahnya. Dia bilang ingin melihat kondisi ayahnya. Arini ingin memastikan Ayahnya sudah minum obat dengan teratur belum...Iya kan Arini.?" Sambil menggenggam tangan Arini.
Arini mendapatkan perlakuan Reino menggenggam tangan , sangat terkejut. Sedangkan pak Arifin yang melihat putra nya menggenggam tangan Arini merasa senang..
"Ii...iya pah, Arini ingin melihat kondisi ayah. Soalnya memang selama Arini sama ayah, Arini lah yang memperhatikan kondisi kesehatan ayah.." Jawabnya dengan sedikit gugup.
Arini gugup bukan karena berbicara dengan ayah mertuanya, tetapi karena Reino yang menggenggam tangannya.
"Reino yang mengantarkan kamu nak.?"
"Iya dong pah, kan Reino sekarang suaminya. Jadi sudah tanggung jawab Reino sekarang mengantar kemanapun istriku pergi. Iya kan sayang..?" Reino memberikan senyuman kepada Arini, dangan tangannya yang memegang tangan Arini.
"Iya pah, kan sekarang ada mas Reino. Jadi mas Reino yang akan mengantarkan Arini kemana saja. Tapi jika mas Reino sibuk, Arini boleh kan mengendarai motor sendiri.."
"Boleh dong nak.. Yasudah kalau seperti itu, kamu jenguk lah ayah kamu Arini. Ow iya titip salam untuk ayah kamu, Semoga cepat sehat."
"Ow iya Reino, Minggu depan kamu sudah mulai masuk ke kantor ya. Kamu harus memperkenalkan diri ke seluruh karyawan yang berada di perusahaan papah. Dan satu lagi, kamu harus serius dalam bekerja, dan harus profesional dalam pekerjaan. Jangan kamu campuri urusan pekerjaan dengan urusan pribadi..Kamu mengerti Rei.?"
"Iya pah, Reino mengerti. Dan Reino juga siap untuk bergabung di perusahaan papah.."Reino dengan senyum bahagia..
Pak Arifin pun juga merasa bahagia dengan kesungguhan putra nya itu ..
Next
Kini Arini dan Reino berada di dalam mobi, dan akan sampai di rumah Ayahnya.. Sedangkan pak Zainal yang sedang beristirahat di kamarnya, mendengar suara deru mesin mobil yang berada di depan rumah nya..
Pak Zainal berjalan membukakan pintu nya untuk melihat siapa yang datang.
Tok tok tok... Terdengar Suara ketukan pintu.
__ADS_1
"Iya tunggu...." Ucap pak Zainal dari dalam .
Ceklak pintu pun terbuka, pak Zainal tersenyum saat melihat putri dan menantunya datang kerumahnya...
"Kalian, ya ampun ayo masuk nak.."Arini dan Reino mencium tangan pak Zainal..
"Saya datang ingin mengantar Arini, kata nya dia kangen sama ayah. Dan Arini juga mengkhawatirkan kondisi ayah..." Ucap Reino di sertai senyuman.
"Ya ampun Arini, ayah tidak kenapa kenapa.. Maafkan Arini ya nak Reino, jadi merepotkan kamu mengantarkan Arini kesini.."
"Tidak apa apa yah, Arini sudah menjadi istri saya. Dan itu sudah kewajiban saya mengantarkan Arini kesini. Lagian kebetulan saya juga akan keluar sebentar,menemui teman teman saya. Jadi sekalian saja, ow iya nanti saya kesini lagi ya, buat jemput Arini..."
"Ya ampuun. Iya iya iya... Yasudah terima kasih sudah mengizinkan Arini untuk main kesini...." Reino pun mengangguk kan kepalanya .. Ayo masuk dulu nak Reino, barangkali kamu mau minum kopi.?"
"Tidak yah, terima kasih. kebetulan tadi Arini membuat kan saya kopi. Saya tidak enak kalau kelamaan, karena teman saya sudah menunggu lama di sana..."
" Ya sudah kalau begitu, kamu hati hati ya Reino."
"Iya yah, terimakasih.. Kalau begitu saya izin pamit ya yah.."Reino dengan hormat nya, mencium tangan pak Zainal." Arini aku berangkat ya."Reino pun memberikan senyuman manisnya kepada Arini, Arini pun hanya mengangguk tanpa membalas senyuman nya...
Pak Zainal melihat wajah putri nya , yang tak membalas senyuman suaminya. Pak Zainal merasa ada yang di sembunyikan pada putrinya..
Andai saja sikap baik mu itu sungguh sungguh mas. Mungkin aku akan merasa kan sangat bahagia . Tapi sayang mas, semua yang kau tunjukkan itu hanyalah palsu. Dan aku terpaksa harus mengikuti sekenario, yang telah kamu buat... Dan sekarang apa yang harus aku lakukan .
"Sayang, ada apa dengan kamu nak. Kenapa raut wajah kamu seperti itu, seperti ada yang di sembunyikan dari ayah.?"Pak Zainal menatap Arini penuh dengan selidik.
"Apa sih yah, gak ada yang aku sembunyikan dari ayah . Lagian aku gak kenapa kenapa ko yah, ayah tidak perlu khawatir seperti itu ya yah..Lagian aku hanya belum terbiasa tinggal di sana, dan aku juga memikirkan kondisi ayah sejak malam. Mangkanya aku minta mas Reino untuk mengantarkan aku kesini."
"Yakin kamu gak kenapa kenapa, terus bagaimana kamu tinggal semalaman di rumah keluarga suami kamu nak.? Reino memperlakukan kamu dengan baik kan Sayang.?"Ada ke khawatiran di wajah ayah nya, dan itu membuat Arini semakin merasa tak tega jika harus mengatakan sejujurnya kepada ayahnya...
"Baik ko yah, mas Reino memperlakukan aku dengan baik. Terutama pak Arifin, beliau begitu amat perhatian dengan ku, seperti ayah.." Ada senyuman di bibir Arini.
Arini tak mau ayah nya khawatir dengan dirinya. Arini sendiri juga bingung bagaimana nasib pernikahan nya dengan Reino. Karena Reino mengatakan terpaksa menikah dengannya, karena pak Arifin. Arini tidak tau alasannya kenapa, bisa menerima perjodohan itu..
__ADS_1
Bersambung...