
Hingga sampai akhirnya aku merasakan nyaman jika di dekatnya, dan ada ke khawatiran saat dirinya sakit. Terkadang aku merasa bersalah kepada nya setiap kali, dia menangis. Mungkin karena aku telah jahat kepadanya. Setiap kali wajah dan senyuman nya sering terlintas, dan membuat ku menjadi bersemangat menjalankan aktivitas ku. Dan aku pun berniat ingin memulainya hubungan pernikahan kami mulai saat ini...
POV Reino and....
ketika filmnya akan habis, baru lah Reino kembali pada layar yang besar.. Lampu pun menyala kembali, Arini tersenyum kepada Reino..
"Seru ya mas, filmnya.?"
"Aaah... Iya seru banget filmnya. Ternyata kamu suka film action Rin.?"
" Hemmm.... "
"Kamu lapar tidak, Kita makan yuk...!! Ow iya sekalian ada yang aku ingin beli, kita jalan dulu yuk..."
" Aku si terserah kamu saja mas.." Dan akhirnya Arini dan Reino meninggalkan tempat duduk nya.
Saat ini Reino mengajak Arini berbelanja. Namun lagi lagi Arini hanya diam, setiap kali Reino bertanya membeli apa. Jawaban nya hanya menggeleng kan kepalanya...
"Rin, kamu mau apa.?"
"Tidak usah mas, buat kamu saja mau beli apa."
"Rin, dengarkan aku ya. Selama kamu menjadi istri aku, kamu tidak pernah meminta apapun dari aku. Ayoo kamu mau aku belikan apa, hemmm....?"
Arini justru terkekeh mendengarnya..
"Hahahaha.... Mas kamu yakin ingin membelikan apapun yang aku mau. Kalau perempuan di paksa seperti itu, aku hanya takut khilafah mas minta nya." Mendengar Arini mengatakan itu, membuat Reino ikut tertawa ..
"Ya tidak apa-apa dong Rin. Kamu kan istri ku, wajar kalau kamu minta belikan. Mau seberapa banyak kamu pilih, pasti aku belikan. Sekarang Kamu mau beli apa Rin...?"
"Terserah mas saja."
"Ko terserah aku sih.." Reino menatap Arini, lalu tersenyum saat menatap nya.
" Ikut aku yuk." Sambil menggenggam tangan Arini, Reino mengajak Arini ke suatu tempat. Yang di mana , Reino mengajak Arini ke toko, perhiasan. Di mana di toko itu, para wanita menginginkan seseorang akan membelikan sesuatu untuk dirinya..
"Mas ko kita kesini si.?"
"Eeemmm... Habis nya kamu di beliin ini menolak, beli itu menolak juga. Yasudah kesini aja lah..."
__ADS_1
Reino berdiri di depan etalase kaca, untuk melihat apa yang ingin di berikan untuk Arini..Saat Reino sedang sibuk memilih barang nya, Arini hanya bisa memperhatikan suaminya.
Kenapa hanya dengan mas Reino bersikap baik dengan ku saja, sudah membuatku bahagia. Ya Tuhan, memang seperti nya aku pun juga harus membuka hatiku. Untuk menerima seutuhnya mas Reino menjadi suami ku. Walaupun aku sudah menjadi istrinya. Tetapi mas Reino tidak pernah menyentuh ku , yang mas Reino berikan hanya kata kata yang kasar. Yang membuat hatiku selalu terluka, dan aku pun dengan sabar bertahan dengan luka yang dia berikan kepada ku... Dan aku yakin, kalau mas Reino nantinya akan peduli dan baik dengan ku.. Dan sekarang saat ini, aku dapat melihat, bertapa baik dan perhatian nya mas Reino kepada ku...
Arini terkejut, dan tersadar dari lamunannya. Dan terlihat kini suaminya berada di hadapannya, dan menyentuh pipinya.
"Mas, ada apa..?"
"Kamu kenapa ko melamun. Ada yang kamu pikirkan. Heeemmm?"
"Tidak ada mas..." Senyuman Arini membuat Reino yakin, kalau tidak ada apa apa dengan istrinya...
"Ya sudah kalau begitu. Sekarang kamu pilih mau perhiasan yang mana..?"
Arini melihat beberapa bentuk perhiasan di atas etalase kaca. Terlihat bentuknya cantik cantik, dan pasti setiap mata yang melihatnya akan tergiur menginginkan itu semuanya...
Namun tidak dengan Arini, justru dia terlihat kebingungan di saat memilih perhiasan yang mana yang akan di ambil...
Arini menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dan itu membuat Reino menahan senyum nya saat melihat Arini seperti kebingungan..
Yang biasanya Reino lihat, setiap wanita pasti begitu sangat antusias ketika di suruh memilih perhiasan. Dan sudah pasti, setiap wanita akan memilih nya yang terlihat bagus dan harganya pun yang mahal.. Tapi Reino tidak melihat pada diri Arini, Arini justru terlihat kebingungan memilih perhiasan yang sudah tersedia di depan mata.
"Rin, ko diam aja.?"
"Hihihi.... Aku bingung mas mau pilih yang mana, semuanya bagus."
"Masa bingung si, kan bagus bagus. Pilih saja mana yang kamu mau..?"Jawab Reino dengan berbisik.
Dan karyawan toko perhiasan pun nampak bingung dengan dua orang di hadapannya itu. Namun senyuman nya masih terlihat ramah dan sabar melayani Reino dan Arini. Bagaimana pun Reino pelanggan setia di toko itu.
"Yasudah aku yang pilihkan ya buat kamu. Semoga saja kamu suka dengan apa yang aku pilih." Arini mengangguk dan tersenyum.
Arin hanya duduk, Reino yang memilih perhiasan untuk Arini.Setelah Reino memilih 1 Set perhiasan.
"Lihatlah ini pilihan aku, kamu suka tidak.?" Arini nampak terkejut saat melihat apa yang Reino pilihkan.. " Ini perhiasan keluaran terbaru, dan aku lihat seperti nya ini cocok untuk kamu."
"Ya ampun mas, kamu Kenapa beli yang seperti ini sih.?"Dengan berbisik kembali Arini mengatakan." Pasti ini sangat mahal kan.?"
Reino tersenyum melihat kepolosan Arini akan perhiasan. Arini berbeda dengan gadis gadis yang Reino kenal..
__ADS_1
"Tidak sama sekali. Dan justru aku punya sesuatu lagi untuk kamu.." Reino mengambil sebuah kalung bertuliskan inisial nama Arini, yaitu huruf A. "Kalau yang ini, kamu pakai sekarang saja ya..!"
"Tapi mas..?"
" Sudah jangan banyak tapi tapi an.. Ini sebagai bentuk rasa permintaan maaf ku, yang pernah menyakiti kamu. Sini aku pakaikan ya."Arini menatap Reino, dan Arini tidak bisa mengatakan apa apa selain mengangguk kan kepalanya..
Reino pun memasangkan kalung itu di leher Arini. Ada rasa haru, yang saat ini Arini rasakan.
"Cantik..." Dengan senyuman dan pujian Reino, membuat jantung Arini berdebar...
Reino pun membayar perhiasan yang sudah di pilih. Selesai dari toko perhiasan Reino membawa Arini pulang kerumah ayah nya. Tak lupa Reino membelikan makanan yang di pesan di sebuah restauran. Karena Arini menolak untuk makan di sana, Arini mengingat ayah nya. Dan Reino pun mengerti, akhirnya Reino memesan nya untuk di bawa pulang saja...
Setelah sampai rumah, pak Zainal pun menyambut kedatangan putri dan menantunya. Arini dan Reino pun memberikan senyuman, saat melihat ayahnya menyambut dengan wajah bahagia...
"Ya ampun anak anak ayah datang. Ko Kalian kesini gak ngabarin ayah si.?"
"Iya yah, memang sengaja kami kesini tidak bilang ayah lebih dulu. Kami juga akan menginap di sini, boleh kan yah." Ucap Reino, membuat pak Zainal tak percaya dengan perkataan nya Reino...
Pak Zainal pun menatap ke arah putri nya, dan Arini pun mengangguk kan kepalanya seraya tersenyum..
"Hahahah.... Ayah terkejut loh, kalian mau menginap di sini. Ayah bahagia sekali mendengarnya.. " Arini dan Reino pun tersenyum mendengar pak Zainal terlihat bahagia. " Ya sudah kalau seperti itu kalian masuk, biar ayah belikan makanan untuk kalian."
Arini pun mendekati ayahnya, lalu memeluk lengan sang ayah.
"Ayah tidak perlu membeli makanan segala untuk kami. Tadi mas Reino membeli banyak makanan untuk kita..."
"Oh ya.. Ya ampun Reino kenapa kamu repot repot segala nak.."
"Tidak sama sekali. Tadi niatnya kami mau main kesini, tapi kami jalan jalan dulu sebentar. Saat ingin makan, Arini ingat ayah. Jadi sekalian saja saya pesan yang banyak untuk kita makan di rumah.." Ucap Reino dengan sopan. Arini memperhatikan saat Reino bicara, terlihat sopan.
" Biar Reino ambil makanan nya di dalam mobil dulu yah."
"Biar ayah bantu ambilkan nak...."
"Tidak usah yah. Biar Reino saja ." Reino membuka pintu mobil belakang, lalu mengeluarkan bingkisan yang cukup besar. "Cuma satu bingkisan saja yah, Reino masih bisa bawa."
"Satu juga besar Rei." Reino tersenyum, hendak menutup pintu mobil. "Biar ayah tutup pintu mobilnya."
"Terimakasih yah.." Pak Zainal pun mengangguk dan tersenyum..
__ADS_1
Kini pak Zainal dengan anak dan menantunya, duduk di ruang makan. Arini menyiapkan makanan yang sudah tertata di atas meja makan. Arini menyendok kan nasi di atas piring suaminya, dan juga ayahnya.. Reino tersenyum saat melihat Arini melayani dirinya dan juga ayah nya...
Bersambung...