
Kirana memejamkan matanya perlahan-lahan, mengambil kesempatan yang ada, tangannya mulai bergerak menyentuh tangan David yang kekar hingga menggenggamnya.
"Heyy." kaget David saat Kirana menggenggam tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku nyaman sama kamu David." Kirana melontarkan kata-kata yang membuat David terkejut.
"Aku ingin hubungan kita lebih dari atasan dan bawahan." Ucap Kirana memohon.
"Shiit." Batin David, bagaimana bisa Kirana menyukainya padahal mereka baru bertemu 1 hari yang lalu.
"Kamu gila Kirana!" David menaikkan nada suaranya.
"Aku sudah punya tunangan! dan sebentar lagi aku akan menikah."
"Aku bisa jadi selingkuhan kamu." Sontak semua pengunjung mengalihkan pandangan ke arah Kirana ketika mendengar kata 'selingkuhan'.
"Wanita tidak waras." Dengan cepat David meninggalkan Kirana yang terlihat seperti orang gila di mata pengunjung cafe.
David menghidupkan mobilnya, dan melesat pergi meninggalkan cafe.
"Sepertinya aku harus menambah 1 syarat lagi untuk merekrut pegawai kantor, harus WARAS!"
"Menolak?" Ucap seseorang di balik tubuh Kirana.
"Ya begitu lah"
😏😏😏😏
"Eh li, lo udah beli buku-buku untuk ujian nanti belum?" Tanya Rina yang masih fokus menonton film di leptopnya.
"Hah?" Ntah jawaban macam apa itu, ingin sekali Rina menjitak kepala Lily.
"LO UDAH BELI BUKU BUAT UJIAN BELUM?" Rina meninggikan intonasi suaranya.
"Ngomong apa sih bambang?!" Sewot Lily yang masih memakai headphonenya.
"Perlu periksa mata lu." Rina sudah mulai hilang kesabaran, ia memilih pergi ke kamar mandi untuk membuang zat-zat alam yang ada di tubuhnya, dari pada ia harus beradu mulut dengan Lily.
"EH LU NANYA APASIH." Melihat Rina pergi ke kamar mandi, Lily kepo dengan pertanyaan Rina yang tadi tidak didengarnya.
"GA JADI, PADI SUDAH MENJADI NASI, NASI SUDAH MENJADI BUBUR, TIDAK ADA PENGULANGAN."
"Oh pingin makan bubur." Gumam Lily kecil.
"PESEN DI OJOL AJA RIN.” Balas Lily.
Rina yang sudah masuk ke kamar mandi jadi heran.
"Hah? Apa hubungannya buku ujian sama ojol?"
Rini masuk ke kamar Rina, ia merasa terganggu karena ulah Rina dan Lily.
__ADS_1
"Kenapaa sih berisik-berisik?" Tanya Rini.
"Hah? Gerimis?" Lily melepas headphone yang ia pakai.
"Iiiiih, bukann kak Lily, tadi kenapa berisik teriak-teriak? Rini lagi belajar"
"Ooohhh, itu Rina mau makan bubur." Lily hendak memasang headphonenya lagi.
"Aku juga mauu!" antusias Rini.
"Oh ya udah kita pesen 3 pake ojol ya Rin." Ucap Lily kepada Rini, ia segera mengotak-atik ponselnya dan memesan 3 porsi bubur ayam.
"Yeayyy, nanti kalo udah sampe bilang yaa kakk." Rini kembali pergi ke kamarnya.
Rina membuka pintu kamarnya pelan.
"Lo abis ngomong apaan sama Rini, kok dia seneng?"
"Nih gue lagi baik, gue pesenin bubur, sesuai keinginan lo." Lily mengembangkan senyuman pedenya dan menunjukkan aplikasi ojol yang sedang membelikan bubur ayam.
"Siapa yang pengen makan bubur?" Tanya Rina bingung.
"Lah tadi lo bilang mau makan bubur?!"
"Perasaan gue gak pernah bilang gitu." Batin Rina, ntahlah Rina sudah terbiasa dengan kelakuan abstrak temannya ini.
20 menit berlalu, Rina melanjutkan menonton film di leptopnya dan Lily sibuk memainkan ponselnya sambil mendengarkan lagu yang membuat ia terlihat seperti orang konyol yang tuli.
"Tinnn tinnn." Rina mengalihkan pandangannya ke arah Lily,
"Jujurlah sayangg aku tak mengapa." Bukannya bergegas menuju ojol, Lily malah bersenandung ria, tidak menghiraukan perkataan Rina.
"WOYY." kesal Rina sambil melempar bantal ke arah Lily.
"Hah? Apaan sih Rin?" lagi-lagi Lily harus melepaskan Headphonenya.
"ARGHH." Geram Rina.
"KAK RINA KAK LILY INI ADA OJOL." Suara Rini menggema sampai penjuru rumah.
Rina bangkit dari kasur dan meninggalkan Lily yang sedang kebingungan.
"Ih gak jelas Rina, ditanya malah pergi." Batin Lily.
Lily berfikir sejenak, ada yang salah fikirnya.
"Ee..eh, tadi Rini bilang ojol? Lah ojol bubur udahh sampe, RINAA KOK GAK NGOMONG SIHH." Lily turun dari kasur dan berlari untuk menemui ojol buburnya.
🍀🍀🍀🍀
"Woy, diem-diem bae." Rino menyenggol tangan teman disampingnya.
"Paan sih no, gua lagi ada tugas penting nih." Balas Vero yang masih fokus dengan laptopnya.
__ADS_1
"Dih sok rajin lo." Cibir Rino.
"Gua lagi pengen pacaran nih, tapi kagak ada yang pas gitu di hati." Ucapan Rino tidak dihiraukan Vero.
"WOY"
"WOY GUE NGOMONG NIH"
"Udah dibilang gua lagi ada tugas penting ya bambang, ah suka gangguin temen lo mah." Vero pasrah dengan tingkah laku temannya itu.
"Dih? Memang lo temen gue." Dengan kecepatan kilat Vero melepas sepatunya dan ingin melayangkannya ke wajah tampan Rino.
"Iya iya ampunn." Teriak Rino sambil menaikkan tangannya dan pergi meninggalkan Vero yang sedang sensitif seperti wanita datang bulan.
"Dari kampus yang segede ini, masa gak ada yang jadi pacar gue"
Rino berjalan dengan lesu, jam kuliahnya belum dimulai, ia bingung harus melakukan apa sekarang, teman-temannya belum pada datang, hanya Vero dan dirinya yang sudah datang.
Ia berjalan mengelilingi kampus, ntah apa motivasinya melakukan hal itu, mungkin karena terlalu gabut, jadi ia melakukan hal-hal yang tidak penting.
Berhenti di taman depan kampus, ia mengambil duduk di dekat pohon beringin tua yang besar namun rindang.
"Haii." Eh? suara perempuan.
"Iyaa?" Balas Rino sambil mengangkat kepalanya agar bisa melihat sosok perempuan itu.
"Boleh nanyaa gak?"
Senyuman di bibir Rino mengembang,
"Iyaa iyaa boleh." Rino mengangguk-angguk seperti bocah yang ingin dibelikan mainan
"Mmm... jurusan hukum dimana ya?"
"Ohh ada di gedung tinggi itu." Rino menunjuk gedung yang paling tinggi diantara gedung-gedung lain.
"Ohh makasihh yaa"
"Eh kamu namanya siapa?" Ucap Rino basa-basi.
"Ohh kenalin nama aku Alea, panggil aja Lea." Alea menyodorkan tangan kepada Rino, tentu saja Rino membalasnya dengan sumringah.
"Kenalin nama gue Rino"
"Oh iya, aku permisi dulu ya, lagi buru-buru," Alea pamit dan langsung pergi meninggalkan Rino.
"Ya Tuhan mimpi apaa aku semalam." Ya tidak bisa dipungkiri Alea memang mempunyai wajah yang cantik.
Sowwi ged
Part kali ini gajelas banget yak kayak doi!
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
__ADS_1
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊