Arranged Marriage Ends Love

Arranged Marriage Ends Love
Cemburu


__ADS_3

Sejak pagi, keluarga Wintara sudah sibuk mondar-mandir keluar komplek untuk membeli apapun yang dibutuhkan untuk acara hari ini.


Seperti membeli balon, pita, topi kerucut, dan bahan-bahan makanan yang diperlukan.


Hari ini, Wintara memutuskan megadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan kegenapan 15 tahun usia Rini, ia mengundang David dan Lea untuk berpesta daging nanti malam.


Namun sebelum itu, mereka harus menyusun dekorasi untuk merayakan ulang tahun Rini, sepertinya taman yang cukup luas dan berdampingan dengan kolam di belakang rumah cukup strategis untuk menjadi tempat pesta ini.


Kebetulan David dan Lea juga sudah datang sedari sore untuk membantu-bantu mempersiapkan pesta kecil-kecilan ini.


Mereka semua berbagi tugas dengan adil, Wintara dan supir pribadinya memasang bohlam dan lampu-lampu kecil di sekeliling taman.


Mrs.Wintara dan bibi membuat kue ulang tahun untuk Rini, tentunya diawasi oleh Rini agar benar-benar sesuai dengan ekspetasinya.


Rino, Rina, David, dan Lea ditugaskan untuk meniup balon dan membuat pita-pita lucu untuk dipasang berdampingan dengan lampu warna-warni yang sedang dipasang Wintara di taman.


Semua terlihat sibuk dengan kegiatannya masing-masing, kesibukan mereka ditemani dengan iringan lagu pop yang diputar Rino di speaker dengan volume yang kencang hingga terdengar sampai ke penjuru rumah, tak jarang beberapa dari mereka melantunkan lagu tersebut.


David dan Rina melaksanakan tugasnya dengan sepenuh hati, David yang memotong pitanya dan Rina yang membentuknya menjadi berbagai bentuk pita.


"Aw." Ringis David ketika ia tidak sengaja melukai jari telunjuknya, gunting yang tajam itu menggoreskan besinya ke telunjuk David.


Sontak Rina, Rino, dan Lea terkejut, mereka menatap David dengan seksama, terlihatlah telunjuk David yang mengeluarkan sedikit darah.


"Kamu kenapa?" Panik Rina.


"Kena gunting." David mencoba menghentikan darah tersebut, namun semakin diberhentikan malah semakin banyak yang mengalir.


"Cepet obatin Rin." Suruh Rino yang dijawab anggukan oleh Rina.


Rina menarik tangan David untuk bangkit.


"Ayo ke kamar aku, ada betadine." David menurut dan mengekori Rina dari belakang.


Dengan langkah cepat, mereka berdua sampai di depan kamar Rina, Rina membuka pintu.


"Ah aku lupa kapasnya ada di kamar Rini, aku ambil dulu ya, kamu cari aja betadinenya ada di---" Ia berusaha mengingat-ngingat.


"Ah di laci." Ucap Rina yang bergegas pergi meninggalkan David.


David masuk ke kamar yang cukup luas itu, ia terkagum akan kerapihan kamar calon istrinya, semua tertata dengan baik dan sesuai dengan tempatnya masing-masing.


Mata David menelusuri ruangan untuk mencari laci yang dimaksud Rina, ah mungkin laci yang berada di samping ranjang tempat tidur Rina?


Ntahlah, David membuka laci itu, tangannya mulai merogoh-rogoh di dalam sana.


"Ah ini." Batin David saat merasakan tangannya memegang botol kecil yang sepertinya betadine.


Ia mengambil obat luka itu dari dalam laci dan menutup kembali laci dengan rapat, tapi...


Tunggu dulu, mata David seperti melihat sesuatu yang tidak asing, ia kembali membuka laci itu dan mengambil sebuah foto dari dalam sana, ia menatap foto itu dengan nanar.


"Ini kan foto Rina sama Rio." Gumamnya.


Tiba-tiba perasaan cemburu itu muncul.


"David ini kapasnya." Ucap Rina yang sedang berjalan memasuki kamar sambil membawa setumpuk kapas yang ia ambil dari kamar adik bungsunya.


David membalikkan tubuhnya, ia menatap Rina tajam, tatapan penuh tanya, tatapan yang tak biasanya diberikan David pada Rina, seketika darah Rina mendesir, bulu kuduknya berdiri, merinding akan tatapan itu.


"Ke-kenapa?" Tanya Rina gugup.


David mengangkat foto yang ia pegang.


"Ini?" Suara David berubah menjadi berat.


Melihat foto itu membuat Rina diam tak bergeming, tangannya gemetar sampai ia menjatuhkan kapas-kapas yang tidak punya salah itu.


"Ini.. apa Rin?" Kali ini David menaikkan intonasi suaranya.


Rina masih terdiam, tidak dapat menjawab pertanyaan David.


"Sekarang jujur sama aku."


"Foto ini lupa kamu buang atau sengaja gak kamu buang?!" David menekan setiap kata yang ia ucapkan.


Rina menundukkan kepalanya lemah.


"Se-sengaja aku si-simpan." Ucap Rina tak berani menatap mata David.


David mendesis kecil, membuang foto itu ke sembarang arah, ia kecewa kepada Rina, bagaimana bisa Rina menyimpan foto bersama mantannya di dekat ranjang yang pasti sering ia lihat?


David berniat meninggalkan Rina, namun dengan cepat Rina mencegahnya.


Rina mengambil foto yang sudah tergeletak di lantai kamarnya itu, ia mengangkat foto itu tepat di depan wajah David.

__ADS_1


"Kalo ini yang buat kamu marah, aku bakalan robek." Perlahan Rina merobek foto dirinya bersama Rio itu.


"Udah kan? Ini mau kamu kan?" Ucap Rina seolah-olah langkah yang ia ambil bisa menyelesaikan semua prasangka buruk di benak David.


Sayangnya David terlanjur kecewa, tidak peduli apa yang dilakukan Rina barusan, ia melengos pergi meninggalkan Rina sendirian bersama robekan foto itu tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


Dengan sekuat tenaga Rina menahan air mata yang sudah mengaburi penglihatannya untuk tidak berterjun bebas di wajah mulus nan cantiknya.


Tidak berputus asa, Rina mengejar David.


David berjalan dengan cepat, moodnya sudah sangat hancur ketika melihat sebuah foto yang menampakkan tunangannya dan.. Ah sudahlah.


Melewati ruang tv membuat ia bertemu dengan Rino.


"Lah kok belum di perban luka lo?" Tanya Rino.


"Gak sakit lagi Bang." David tetap berjalan tanpa menatap lawan bicaranya, ia tahu perbuatannya tidak sopan, tapi hati mengalahkan segalanya.


Rino melongo tak mengerti keadaan, ucapan David terdengar sangat datar di telinganya, beberapa detik kemudian ia melihat Rina yang berlari menyusul David.


"Ini apaan sih, gue berasa nonton drama." Ocehnya yang benar-benar tidak mengerti, Lea yang ada di samping Rino hanya bisa diam, ia juga tak tau harus berkata apa.


"DAVID TUNGGU." Teriak Rina yang membuat langkah David terhenti.


Rina menggenggam tangan David namun David menepisnya.


"Kenapa kamu membesar-besarkan hal kecil kayak gini sih?"


David mengangkat sebelah alisnya, ia menatap Rina sinis.


"Hal kecil kamu bilang?"


"Oke kalo ini hal kecil, aku berhak simpan foto Lala di kamarku, asal kamu tau Rin, sejak Ayah bilang aku dijodohkan sama kamu, aku benar-benar membuang semua kenangan tentang Lala, tapi kamu malah..."


"Ya tapi kan aku udah robek fotonya David."


"Bukan masalah kamu robek fotonya, masalahnya itu kamu menyimpan foto kamu sama mantan kamu, padahal status kamu udah mau jadi istri aku Rin!"


"Coba aku tanya sekarang, kenapa kamu simpan foto itu?" Tekan David.


"A-aku cu-cuma, aku cuma mau menyimpan kenangan masa laluku! bagaimanapun Rio itu cinta pertama aku Dav, Dia yang mengajari aku apa artinya cinta, jadi aku gak bisa ngelupain dia sepenuhnya!"


David mengepalkan tangannya, mendengar pernyataan itu membuat emosinya naik 2 tingkat.


"Dan satu lagi, aku perhatiin di setiap sudut kamar kamu gak ada foto aku? Tapi kenapa kamu simpan foto itu?! Kenapa? Kenapa hah? Jawab Rin!" Tambah David meluapkan seluruh kekesalannya.


"Kenapa sih?! Kamu terlalu mempermasalahkan ini? Aku juga jarang liat foto itu!"


David menyempurnakan bulatan matanya.


"JARANG? berarti kamu memang sengaja nyimpan foto itu untuk dilihat kalo kamu lagi rindu sama Rio? Kenapa Rin? Kamu belum bisa move on? Kamu masih sayang sama dia?!!! AH SHIT!"


"Kok kamu jadi bentak aku?!" Pertahanan Rina runtuh, ia tidak kuat lagi menahan air matanya ini.


Sadar akan emosinya yang tak bisa terkendali itu, David lebih memilih pergi sebelum ia benar-benar kehilangan kendali dan membuat hal-hal yang mengacaukan hubungannya dengan Rina.


Rina terbungkam seribu bahasa, ia tidak pernah melihat David semarah ini kepadanya, ya Rina tahu bahwa ini semua salahnya.


"Kenapa aku malah marah sih bukannya minta maaf?!" Kesal Rina di dalam hatinya.


Egonga ini tidak mengizinkannya untuk meminta maaf.


Sebelum terlambat, Rina mengejar David yang terlihat masih berada di ambang pintu, untuk menahannya pergi, Rina memeluk David dari belakang, ia melingkarkan tangannya di perut sixpack milik David.


"Maaf." Lirih Rina, ia menangis di punggung David, tidak peduli jika kaos hitam itu harus basah karena air matanya.


David diam, ia masih kecewa saat mengetahui kenyataan bahwa calon istrinya diam-diam suka merindukan mantannya.


"David maaf, aku ngaku aku salah, aku gak bakal ulangin kesalahan aku." Mohon Rina.


Namun, David benar-benar masih diam seperti patung, hatinya hancur, merasa dikhianati oleh calon istrinya.


"David aku mohon maafin aku."


"Sumpah demi apapun, terakhir kali aku lihat foto itu sesudah kita tunangan, abis itu aku benar-benar gak pernah liat foto itu lagi."


Rina melepaskan pelukannya dari David, ia memutar badan David paksa dan sekarang David berada di hadapannya.


Sebelum melakukan hal memalukan ini, Rina hanya bisa berdoa semoga gaya imut ini bisa meredakan amarah David, batinnya.


Rina memegang kedua telinganya.


"Cayangg, atuu mintaaa maapp yahh, janan malahh, atu nda sukaa liat kamu malah malah huhu :( ." Ucap Rina sambil menggelengkan kepalanya lembut.


Oh Tuhan jika tidak karena terpaksa Rina tidak akan melakukan hal yang menjijikan menurutnya itu.

__ADS_1


Melihat wajah imut nan menggemaskan calon istrinya membuat David tidak tega berlama-lama mendiami Rina.


David terkekeh kecil sebentar, wajahnya kembali datar setelah terkekeh selama 3 detik, kali ini ide licik muncul di benaknya.


"Aku maafin dengan 1 syarat."


Mendengar ucapan David membuat Rina sedikit lega.


"Apa?"


"Cium." Ucap David datar.


Rina membelalakkan matanya.


"Ci-cium?" Tanyanya gagap.


"Hmm."


"Tapi ak--"


David memotong ucapan Rina.


"Gak ada tapi-tapi."


Dengan sangat terpaksa lagi, Rina mencondongkan badannya ke tubuh David, wajahnya perlahan mendekat hingga suara nafas David dan Rina terdengar saling beradu, nafas David terasa menggelitik di wajah Rina.


David menutup matanya, Rina mulai memajukan bibirnya dan bersiap mencium David dengan lembut.


Semakin dekat wajah mereka hingga 1 cm lagi akan menempel namun..


"WOY." Ucap Rino yang tiba-tiba datang ntah dari arah mana.


Mengejutkan David dan Rina yang sedang ingin bercumbu.


"Gila maen nyosor-nyosor aja lo Rin." Ceplos Rino tanpa dosa ketika melihat mulut Rina yang sudah monyong-monyong.


Mereka berdua diam seperti batu, wajahnya pucat dan berkeringat padahal sore-sore gini hawanya dingin.


"***** mukanya pada tegang, HAHAHA, untung gue yang ngegep bukan Papah sama Mamah." Ucap Rino jail.


Mendengar kata Papah sama Mamah membuat David lebih menengangkan badannya.


"Lagian nyosor-nyosoran malah di tempat terbuka, di ambang pintu pula, kalo keliatan tetangga gimana coba?!"


Rino geli sendiri dengan ucapannya, ia berniat meninggalkan dua orang yang badannya sudah tegap itu.


Namun sebelum pergi, ia berjalan menuju David dan mengarahkan mulutnya ke telinga David.


"Kalo mau ciuman di tempat yang sepi bro biar sekalian bisa mantap-mantap."


Bisikannya itu cukup terdengar jelas di telinga Rina.


"AH STRESS LO BANG, UDAH SANA PERGI! ISH."


"Eitss, sorry sorry udah ganggu nih haha, ya udah gue pamit ya, silahkan dilanjutkan." Rino berjalan pergi meninggalkan pasangan muda-mudi yang sudah nampak pucat seperti mayat itu.


Ia tertawa puas setelah menjaili adik dan calon Adik iparnya.


Setelah kepergian abangnya, Rina mendengus kesal.


"Kan! Kamu sih! Aku jadi dikira nyosor duluan." Oceh Rina.


"Memang kenapa?" David berusaha memancing suasana.


"Ya kan harusnya yang pertama mulai itu cowok bukan cewek!"


Dengan sekejap David menggendong Rina ala bridal style, membawanya ke kamar kosong di dekat pintu masuk, sepertinya ini kamar tamu.


David mengunci pintu dari dalam, ia menurunkan Rina dari gendongannya.


"Yang harusnya mulai cowok duluan kan?" Bisiknya dengan nada jail.


Rina mati kutu, ia termakan dengan omongannya sendiri, ah sumpah demi apapun dia menyesal mengucapkan kalimat itu.


David mendorong pelan tubuh Rina sampai menyentuh tembok, ia mulai mencium bibir ranum Rina, perlahan-lahan ********** dengan lembut, ntahlah rasanya ingin meluapkan rasa kekesalannya tadi.


Rina membalas ciuman lembut itu juga melingkarkan tangannya di leher David, tangan David mengusap puncak kepala Rina sambil terus ******* bibirnya.


Ey, duh gak boleh kamu masih anak kecil ckckck


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2