
Hujan yang bertambah deras menambah rasa khawatir Lily, entah mengapa hatinya tidak tenang sejak kepergian Rina.
"Kamu kenapa?" Tanya Berian yang sedari tadi memperhatikan perilaku Lily.
"Aku mikirin Rina, ini hujan deras, dia ada dimana, aku gatau."
Berian mengusap lembut kepala Lily.
"Udahh, Rina kan pake mobil Ly, dia gak kebasahan pasti."
Walaupun Berian berusaha menenangkannya, tetapi feeling Lily tetap tidak berubah, dia merasa ada yang tidak beres.
Ia menatap Berian serius.
"Aku mau nyusul Rina Ber."
"Memang kamu tau Rina ada dimana?"
Lily berfikir sejenak.
"Ya kita cari aja keliling-keliling." Ucapnya sedikit memaksa.
Berian menggelengkan kepalanya,
"Kan mobil aku di pake Rina."
"NAIK TAKSI."
😢😢😢😢
"Ri..Ri..Rinaa?"
Sontak Rina dan Kirana mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara.
David sadar, namun pandangannya masih mengabur, ia tidak dapat melihat sekelilingnya dengan jelas.
"Ri..Rin?"
Pertahanan Rina runtuh seketika, ia menitihkan air matanya, nafasnya sesak saat melihat David yang sedang terbaring di atas kasur, hatinya hancur.
Rina mengusap air matanya kasar, ia berusaha tegar dihadapan David.
Perasaan kecewa terus menghantui kepala Rina, ia menampilkan senyuman sinis ke arah David, menatapnya dengan tajam, tatapan yang mengartikan bahwa ia sedang terluka.
"Jahat kamu David." Gumamnya.
Dengan cepat Rina berlari keluar kamar, meninggalkan David dan Kirana, ia ingin meluapkan kesedihannya.
Ia berlari hingga ke luar hotel, berlari sambil ditemani hujan deras, bahkan air mata Rina menyatu dengan lebatnya air hujan.
Hujan seperti mengibaratkan kesedihan Rina, suara petir yang berbunyi kencang seakan-akan menyuarakan isi hati Rina yang sedang terluka.
Rina masuk mobil dalam keadaan basah, tidak peduli jika Berian marah, ia hanya bisa memikirkan pengkhianatan David saat ini.
Dengan air mata yang masih mengalir, ia mengendarai mobil dan meninggalkan hotel.
Rina mengendarai mobil dengan kecepatan di atas batas wajar, ia terus menginjak gas untuk melewati jalanan yang sepi karena hujan.
Beberapa kali ponselnya berdering, menampakkan nama Lily di atas layar ponsel, namun Rina mengabaikannya.
"Kenapa kamu ngelakuin ini David, apa salah aku? Hiks hiks."
Rina meluapkan emosi dan kesedihannya dengan memukul-mukul stir mobil yang mengakibatkan klakson berbunyi tanpa henti.
"Semua kata-kata kamu itu bohong! Aku benci kamu! Hiks."
"AKU BENCI KAMU DAVID!" teriak Rina yang mulai kehilangan kendali.
Rina terus saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan pengemudi-pengemudi yang mengklaksonnya karena mobilnya nampak ugal-ugalan.
Akhirnya, mobil yang dikendarai Rina terparkir tepat di halaman rumahnya.
__ADS_1
Rina keluar dari mobil dalam keadaan basah, ia masuk ke dalam rumah.
"Hiks hiks." Rina berusaha menghapus air matanya agar tidak ketahuan orang-orang di rumah.
Dengan tergesa-gesa, Rina segera menuju kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya yang lemas ke atas kasur.
"Semuanya hancur hiks."
😭😭😭😭
Di dalam mobil taksi, Lily terlihat sangat cemas, ia terus saja menyuruh sopir untuk melajukan mobil menelusuri jalanan ibu kota.
"Pak belok kanan pak." Ucap Lily sambil memperhatikan sekitaran jalan untuk menemukan objek yang ia cari.
"Pak ngebut Pakk."
Sedari tadi, Berian sedikit marah dengan tingkah Lily.
"Agak ngeb...."
"Kamu sadar gak sih?" Ucap Berian.
Seketika Lily terdiam, ia menatap Berian dengan seksama.
"Dari tadi kamu suruh sopir ngebut terus padahal jalanan lagi licin karena abis hujan."
"Kalo kita kenapa-napa gimana?"
Lily mencerna baik-baik perkataan Berian, sebenarnya ada benarnya juga batin Lily.
"Bukan Rina yang ada dalam bahaya, tapi kamu Ly"
"Kamu terlalu khawatir sama Rina sampe ngelupain keselamatan kamu sendiri Ly!"
Lily tertegun, sebenarnya ia juga sadar bahwa selama perjalanan mobil sudah sedikit kehilangan kendali karena jalanan yang sangat licin.
"Maaf." Lirih Lily.
"Liat Bapak yang kamu suruh ngebut dari tadi ini, dia juga punya keluarga Ly"
"Kalo sampe terjadi apa-apa, gimana nasib keluarganya?"
Sekali lagi Lily hanya bisa menunduk.
"Maaf pak..."
"Terus kalo terjadi apa-apa sama kamu, gimana nasib aku?!" Lily menaikkan kepalanya.
Ia menoleh 90° ke arah Berian, lalu menaikkan alis kirinya.
"Kamu kenapa memang?"
"Aku gak bisa hidup tanpa kamu."
Mulut Lily terbuka kurang lebih 1 cm, ia tercengang, bagaimana bisa Berian bergombal di saat-saat seperti ini?
"HALAH NGAPUSI KUWE MAS."
Berian dan Lily membelalakkan matanya.
Mereka terkejut dengan sopir yang sedari tadi diam tiba-tiba membuka suaranya.
"Maaf pak, itu artinya apa ya?" Tanya Berian sopan.
Sopir taksi menunjukkan sederet giginya, tersenyum tanpa dosa.
"Maaf mas terbawa suasana hehe..."
"Tapi maksudnya tadi apa pak." Tambah Lily.
"Kata-kata masnya tadi bohong Mba."
__ADS_1
Lily dan Berian mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan ucapan sang sopir.
Sopir taksi itu menghela nafas panjang.
"Dulu saya punya pacar di kampung."
"Dia bilang gak bisa hidup tanpa saya Mas, Mba, tapi 2 minggu setelah itu dia menikah dengan pria lain yang lebih mapan dari saya Mas, Mba, makanya saya merantau ke luar kota, saya sakit hati sama dia, eh pas ke kota saya dapat wanita yang lebih cantik dari dia hahaha."
Lagi-lagi Berian dan Lily mengerutkan dahi mereka.
"Entah apa yang merasuki sopir ini." Batin Lily.
Berian menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Terimakasih infonya ya Pak, semoga istri Bapak lebih baik dari wanita yang ada di kampung."
👏👏👏👏
"Rina kenapa berlari?" Batin David.
David bangun dari kasur, ia membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya.
"Mana bajuku?" Gumam David.
Ia mengitari pandangannya ke sekeliling kamar dan melihat Kirana yang hanya memakai handuk juga bajunya yang berserakan di lantai kamar.
David mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum ia pingsan.
"Kirana?" Ucap David yang terdengar lemah.
Sekarang David mulai memahami semua yang terjadi.
Ia menatap tajam ke arah Kirana.
David berusaha turun dari kasur, namun kepalanya tiba-tiba menjadi berat
"ARGHH." Erangnya.
David memegang kepalanya yang terasa sakit, pandangannya kembali buram, namun ia tetap berusaha berjalan menuju Kirana dengan jalan yang tertatih.
Kirana tersenyum penuh kemenangan pada David.
"Helo David." Ucapnya sambil melambaikan tangan.
David menggertakan giginya, ia menarik tangan Kirana dan menggenggamnya dengan keras.
"ADA APA INI?!"
Kirana berusaha melepaskan genggaman tangan David.
"SAKIT, LEPASIN!"
David menunjuk ke arah pintu kamar dengan amarahnya.
"KENAPA RINA LARI KELUAR?!"
"LEPAS DAVID SAKIT."
Bukannya melepaskannya David malah menggenggam tangan Kirana semakin kuat.
"Aarghh sakit."
"JAWAB."
"Gak usah banyak tanya! kejar aja dia dulu."
Ucapan Kirana memengaruhi otak David, tanpa basa-basi David melepaskan genggamannya dan berusaha berlari ke luar kamar untuk mengejar Rina.
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
__ADS_1
Happy Reading....😊😊😊😊