
David membuka matanya perlahan-lahan, pancaran sinar matahari pagi yang muncul dari cela-cela jendela kamar David membuatnya terbangun.
Seperti biasa, ia melakukan kegiatan rutin setiap harinya, mandi, sarapan, dan berangkat kerja.
David menghabiskan sarapannya tanpa sisa, hari ini ia sangat bersemangat ke kantor, tidak ada hari libur bagi David, semua hari dilakukannya untuk bekerja.
Tak lupa, sebelum berangkat kerja, ia menuju ke kamar Gerry.
Tok tok tok
"Ayah, David masuk ya." Tanpa menunggu jawaban Gerry, David membuka pintu kamar Ayahnya.
Cklek
Dipandangnya Gerry yang masih tertidur lelap, David tidak enak untuk membangunkan nya, ia sangat sedih melihat kondisi Ayahnya seperti sekarang ini, bagaimanapun Gerry adalah keluarga satu-satunya yang David punya.
David berjalan menuju Ayahnya.
"David berangkat kerja ya Yah." Ucap David sambil menyelimuti Gerry.
Setelah itu, ia beranjak meninggalkan Gerry.
"David."
David menengok ke sumber suara.
"Ayah? Bangun?"
Gerry tersenyum.
"Iya."
"Kenapa yah?" David mendekat ke tempat tidur Ayahnya.
"Gimana dengan urusan kantor?"
David mengambil duduk di sebelah Gerry.
"Baik-baik aja yah, eh tapi."
"Hari ini David izin pulang malam yah, mau nemenin Rina ke acara prom night sekolahnya." Ucap David.
Gerry mengangguk sebagai tanda jawaban.
🍀🍀🍀🍀
Hari ini adalah hari yang sangat-sangat dinantikan oleh semua siswa kelas 12 SMA Venus, yups!, hari ini akan diadakan prom night.
Rina membedah semua sudut dari lemarinya, ia masih bingung mencari gaun yang cocok untuk ia kenakan.
"Apa aku pake gaun pertunangan aja kali ya?" Ucapnya sambil mengambil satu gaun yang terpisah dari gaun-gaun lain.
Ia menatap gaun itu sangat lama, sampai akhirnya menemukan jawabannya.
"Hmm, ngga deh."
Drrrttt drrrttt
Ponsel Rina bergetar, ia segera mengambil ponselnya.
"Ada telpon dari Lily." Batin Rina.
-***Terhubung-
"Rinaaaa!!!"
"Iya, kenapa Ly?"
"Gua bingung mau pake gaun apa huhu."
"Woyy sama! Gua juga bingung."
"Ntar kalo Berian gak suka sama gaun gua gimana coba?!"
"Idih bucin lo."
"Yeee ngacaa!!"
"David mah suka gua apa adanya hahahaha."
"Ashiappp bosque."
"Btw, lo berangkat bareng Berian ya.?"
"Iyaa dong, katanya Berian mau jemput hihi."
"Yahh gak bisa barengan."
"Lah lo ga di jemput David?"
"Ngga, David berangkat langsung dari kantornya."
"Yahh, ya udah deh kita bareng aja, gua gak jadi sama Berian."
"Eitss, jangan lah, lo sama Berian aja, gua mah bisa dianter Bang Rino."
"Oh oke deh, btw ntar kirim pict gaun lo ya, gua butuh inspirasi!"
"Oke oke"
-Sambungan terputus***-
__ADS_1
Ah! Rina teringat akan sesuatu hal, ia harus memberi tahu Rino untuk mengantarnya nanti malam.
Dengan langkah gontai, Rina menuju kamar Rino.
Cklek
Rina mendapati abangnya yang sedang asik bermain game dan mengoceh-ngoceh ria dengan teman gamenya yang tersambung melalui telepon.
"WOY KAMPRET, BURUAN, SINI WOY." Ya begitulah Rino jika bermain game, seperti orang gila!
"Bang." Panggil Rina.
"***** B*GO!, NOOB LU MAH."
Rina berusaha sabar dengan Abangnya ini, ia mengelus dadanya sambil beristighfar.
"WOY BANG." Teriak Rina agar tidak di hiraukan Rino lagi.
Rino menoleh sebentar, lalu melanjutkan kegiatan bermain gamenya lagi.
"Ngapain lo disini?"
"Mau minta tolong."
"Hah? Mau lontong? laper lo?" Harap bersabar ini ujian.
Rina geram dengan abangnya ini, dengan wajah kesal, ia melepas headphone yang dipakai Rino.
"MAU MINTA TOLONG BUKAN LONTONG."
"Bah, ngapain lepas-lepas headphone gue, ntar gue kalah." Ucap Rino sambil memasang headphonenya lagi, namun dengan sigap Rina segera mengambil ponsel Rino.
Tidak peduli jika Rino marah, ia sudah geram dengan Abangnya.
"WOY APAAN DAH LO RIN."
"Ish makanya dengerin dulu lohh."
Rino mengehembuskan nafasnya dengan kasar, ia tidak boleh marah dengan Rina, orang tuanya sedang keluar kota selama 1 minggu, Rino harus menjaga Adik-adiknya dengan baik, ia tidak boleh berlaku kasar.
"Paan?"
Rina duduk di samping abangnya.
"Nanti malam anterin Rina ke acara Prom Night ya." Ucap Rina memohon.
"Udah itu doang?"
Rina menganggukkan kepalanya.
"Yaelah, sini hp gua."
Rina memberikan ponsel abangnya,
"Hmm."
😅😅😅😅
Cklek
Pintu ruangan David terbuka, menampilkan sosok Kirana dengan rambut terurainya.
"Kamu ngerti sopan santun? Ketuk dulu sebelum masuk." Sudah lebih dari 7x David mengatakan hal ini pada Kirana.
"Maaf pak."
"Ada apa?" Ucap David bernada dingin.
Kirana memberikan tablet yang berisi jadwal-jadwal meeting David.
"Saya ingin mengingatkan jadwal meeting terakhir hari ini pak, jam 6 sore di hotel mandala."
"Saya ingat." David fokus mengotak-ngatik leptopnya dan menghiraukan tablet Kirana.
"Baik pak saya permisi dulu."
"Eh tunggu." Langkah Kirana terhenti seketika.
"Ingat, jam setengah delapan saya harus pergi, jangan sampai meeting lewat dari jam yang saya tentukan, kamu harus kondisikan."
Kirana mengangguk paham, ia berbalik dan meninggalkan ruangan David.
"Awas saja kamu David."
Berjam-jam berlalu, matahari mulai bersembunyi di balik awan-awan yang sudah menggelap.
David mengintip di balik jendela ruangannya.
"Mendung, sudah mau hujan." Batin David.
Ia segera mengambil kunci mobilnya dan menyuruh Kirana untuk ikut bersamanya.
"Pakai sabuk pengaman." Ucap David kepada Kirana.
Kirana segera memasang sabuk pengaman nya, ia tersenyum merekah hari ini.
Butuh waktu 35 menit untuk David sampai ke hotel mandala, selama perjalanan David dan Kirana ditemani dengan rintik hujan.
Sampailah mobil David di basemant hotel, David segera memarkirkan dan turun dari mobil.
"Dimana?" Tanya David.
__ADS_1
"Pak Ruslan memesan 1 kamar untuk acara meeting nya Pak, katanya ada hal privasi yang harus dibahas, ia tidak mau memesan ruang umum." Jelas Kirana panjang lebar.
David segera menuju ke dalam hotel, meninggalkan Kirana yang masih sibuk dengan berkas-berkas ditangannya.
Dengan cepat ia menaiki satu persatu anak tangga, ntah karena ini malam minggu atau bagaimana, lift sedang ramai, antrian penuh, David memilih jalan alternatif lain.
Sampailah ia di tempat registrasi hotel.
🍀🍀🍀🍀
"Atas nama siapa pak?"
"Ruslan Hardiyanto." Jawab David.
"Ini pak, kamar nomor 508, di lantai 4." Ucap pegawai hotel sambil memberikan David sebuah kunci.
"Terimakasih."
Tiba-tiba Kirana muncul di belakang David.
"Sudah ambil kunci pak?"
"Hmm."
Cklek
David membuka kamar hotel yang nanti menjadi tempatnya meeting dengan pemilik saham terbesar di perusahaan nya.
"Bagus juga." Ucap David saat melihat nuansa Eropa yang sangat klasik di dalam kamar tersebut.
"Iya pak, hotel mandala ini adalah hotel bintang lima yang sudah terkenal di seluruh kota yang ada di Indonesia Pak." Jelas Kirana antusias.
"Saya tau."
David melirik ke arah jam tangannya.
"Sudah jam 06.17, tapi pak Ruslan belum juga hadir." Batin David.
Ia takut telat mendatangi acara prom night Rina.
Agar tidak membuang-buang waktu, David membaca berkas-berkas yang akan diberikan kepada pak Ruslan dengan teliti.
"Pak, mau minum apa? Saya pesankan."
"Terserah saja."
10 menit berlalu, Kirana membawa nampan yang berisi 3 minuman di atasnya.
"Ini Pak." Ucap Kirana memberikan minuman David dan menaruh 2 gelas lainnya di tempatnya masing-masing.
"Terimakasih."
Masih terfokus pada berkas yang ia baca, David mengambil segelas minuman yang Kirana pesan dan meneguknya perlahan.
"Rasanya aneh." Batin David.
Kirana tersenyum smirk melihat David yang tampan itu meminum minumannya.
5 menit berlalu, David merasa kepalanya sangat berat, pandangannya perlahan kabur, ia tidak dapat melihat Kirana dengan jelas, David berusaha berdiri dan meminta bantuan Kirana, ia memegang palanya yang terasa sangat pusing.
"Ki..rana, telepon dok..ter Bov, kepa..la sa..ya sakitt."
Kirana berdiri dari kursinya, ia mendekati David.
"Hai David sayang."
Walaupun pandangannya kabur, David dapat mengetahui bahwa di depannnya ada Kirana dan itu suara Kirana.
"Uluh uluh, sakit yaa palanya?" Kirana mengelus kepala David.
"Aa..paa.. ya..ng ka ka..mu la..ku..kan?" Dengan sisa tenaganya, David menepis kasar tangan Kirana.
Kirana tertawa keras, ia menutup mulut David.
"Shtttt, jangan banyak bicara, nanti pingsan nya semakin cepat." Tawa Kirana pecah ketika melihat David yang terpingsan di tempatnya.
Kirana mulai membuka kancing baju David perlahan-lahan, ia mengusap wajah David yang tak pernah bisa ia pegang sebelumnya, tak terasa ia meneteskan air matanya.
Kirana tertawa kecil, Ia menampar wajah David kasar.
"Kenapa kamu diam? Ayo marahin aku! Kirana kamu ini, kirana kamu itu, kirana kamu salah."
"Kamu anak dari keluarga pengecut!"
Tiba-tiba seseorang membuka pintu hotel, Kirana menoleh ke arah pintu.
Seorang pria masuk dengan senyum smirknya,
"Gimana? Udah pingsan?"
Kirana menyambut pria itu antusias.
"Udah"
"Yok mulai." Ucap pria bertubuh kekar tersebut.
"Kunci pintunya." Lanjutnya lagi.
Hayo ada yang penasaran gak pria itu siapa? Apa yang mau dilakukan Kirana? Hehe..
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
__ADS_1
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊