
Jarum jam terus berputar dan menimbulkan bunyi yang mengisi keheningan di dalam ruang keluarga ini.
Semua terkecuali Wintara terdiam membatu, terlihat gelisah dan tidak tau harus berbuat apa, menunggu sampai 24 jam agar bisa melaporkan itu terlalu lama.
Sudah lebih dari 2 jam keadaan seperti ini, Wintara terus menghubungi kenalan-kenalan nya yang berkutik di wilayah kepolisian.
Tringg tringg
Ponsel David berdering membuatnya menjadi pusat perhatian.
David menampakkan wajah tak enak.
"Izin angkat." Ucapnya yang dijawab anggukan lemas oleh semua anggota keluarga.
"Dari Ayah." Batinnya.
***Panggilan terhubung
"David kamu dimana?"
"Di rumah Rina yah."
"Ini udah jam berapa? Katanya kamu mau antar Ayah check up."
"Ah yah aku gak Bi--"
"Putus-putus teleponnya, Ayah tunggu ya."
Sambungan terputus***
Duh di tengah-tengah keadaan seperti ini, masa iya David meninggalkan Rina?
Perubahan wajah David setelah menerima telepon membuat Rina heran.
"Kenapa?"
"Rin, Ayah minta anterin check up, tapi aku mau nemenin kamu a..." Perkataan David terpotong.
Rina menggenggam tanga David.
"Kamu anterin Om Gerry aja dulu, nanti kesini lagi, aku gapapa." Ucap Rina menyakinkan.
David mengangguk kecil, ia segera berpamitan dengan keluarga Rina.
"Om, Tante, semuanya, maaf David harus pergi mau antar Ayah ke rumah sakit sebentar nanti David kesini lagi."
Setelah berpamitan, David berjalan ke parkiran rumah Rina, ia melajukan mobil pergi dari sana untuk menjemput Gerry.
Selama perjalanan, David terus berpikir tentang suara itu
"Apa iya itu suara dia?" Batin David.
"Tapi untuk apa dia melakukan ini?" Sekarang David bergumam pelan.
Ntahlah ia tidak mengerti.
Sampailah mobil di depan rumahnya, kebetulan Gerry sudah menunggu di depan rumah, David membuka kaca mobil.
"Ayok Yah"
Tanpa basa-basi Gerry masuk ke dalam mobil, ia memakai seat belt sebelum David melajukan mobilnya.
Saat Gerry masuk, David merasakan perasaan yang tak pernah dirasakannya selama ini, bau parfume Gerry menenangkan hatinya.
David melajukan mobilnya.
"Yah." Panggilnya.
"Iya."
"Rini diculik."
Gerry menolehkan kepalanya 90° ke arah David.
"Apa?!"
"Iya."
__ADS_1
"Kok bisa?" sebenarnya Gerry sangat terkejut, penculikan? Bagaimana bisa?
"Iya makanya di rumah Rina lagi panik semua ini."
Gerry memegang lengan David yang sedang menyetir.
“Terus kamu mau kemana sekarang?"
"Ya nganterin Ayah ke rumah sakit lah."
"HEH, putar balik!, kita ke rumah Wintara." Panik Gerry.
Mendengar hal itu, David menatap Gerry sendu.
"Yah gak usah, Ayah di rumah aja, Ayah kan lagi sakit."
"Gak David!, Wintara itu sahabat Ayah, putar balik!"
Tidak bisa membantah perkataan Ayahnya ini akhirnya David menuruti keinginan Gerry.
"Kamu tenang saja, Ayah gak akan merepotkan disana." Ucap Gerry lemah.
"Bukan gitu yah maksud David, tapi Ayah kan baru keluar dari rumah sakit."
Gerry menunduk.
"Maafkan Ayah David jika selama ini Ayah merepotkanmu, kamu satu-satunya keluarga yang Ayah punya."
Ntah kenapa suasana di dalam mobil berubah menjadi haru.
"Ayah ngomong apa sih! Ngerepotin apa? David beruntung banget dikasih Tuhan sosok Ayah seperti Ayah gini."
Selama ini, Gerry tidak pernah berkata seperti itu, kenapa tiba-tiba ia berkata mengharukan seperti itu.
"David, ingat ini, yang pertama Tuhan, yang kedua?"
"Keluarga." Jawab David.
Kalimat yang selalu diucapkan Gerry sedari David kecil hingga sampai dewasa pun David mengingatnya.
"Kamu harus ingat itu."
"Ayah yakin kamu bisa hidup mandiri dan kelak bisa menjadi Ayah yang baik untuk anak-anakmu." Gerry menepuk pundak putra semata wayangnya itu.
David terkekeh geli.
"Anakku harus tau bahwa ia mempunyai Kakek yang sangat hebat sehingga bisa mendidik Ayahnya sampai pada titik ini."
Gerry mengangguk pelan.
Mobil David terparkir di halaman rumah Rina, kali ini ia tidak memasukkannya ke basement.
David dan Gerry turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah mewah itu.
"Assalamualaikum." Salam Gerry bersamaan dengan David.
Semua pasang mata menatap David dan Gerry.
"Gerry." ucap Wintara menghampiri sahabatnya itu.
"Kau ini kenapa? Ada masalah sebesar ini tidak kasih tau aku?" Sinis Gerry.
Wintara menggelengkan kepalanya.
"Ketika mendengar kabar Rini hilang, aku jadi tidak bisa berpikir apa-apa, bahkan bingung ingin melalukan apa."
"Iya aku mengerti." Jawab Gerry.
Gerry dan Wintara berdiskusi mengenai masalah ini, sedangkan David duduk kembali di samping Rina.
"Kok cepet?" Rina sedikit heran.
"Karena aku kasih tau Rini diculik, Ayah gak mau check up, pokoknya mau kesini katanya."
"Om Gerry memang baik banget dari dulu juga." Faktanya, Gerry memang sudah menjadi bagian keluarga menurut keluarga Rina, melebihi hubungan persahabatan antara Wintara dan Gerry.
1 jam berlalu...
__ADS_1
Tring tring..
Ponsel Rino berdering.
Semua memperhatikan Rino, sejak penculik itu menelepon, tidak henti-hentinya ponsel Rino menjadi perhatian
Rino segera mengambil ponselnya yang diletakkan di atas meja, ia segera melihat siapa yang menelepon.
"Nomor gak dikenal." Ucapnya sambil mengarahkan layar ponsel kepada semua orang.
Rina memerhatikan nomor itu.
"Nomor yang tadi?"
"Bukan." Jawab Rino.
"Cepat angkat!" Mrs.Wintara menatap Rino dengan kesal.
Rino mengangkat telepon itu.
***Panggilan terhubung
"Halo?"
"Gimana? Masih cemas?"
"Lo? Anj*ng!! cepet kasih tau Rini dimana gak, atau gua lapor polisi!"
"Eits tenang dulu, santuy..., Rini masih aman kok sampai saat ini, dia lagi tertidur lelap, eh tidur apa pingsan ya, gua gak tau deh."
"CEPET KASIH TAU DIMANA LO BANGS*T!"
"Gua bakal kasih tau asal lo janji lo dateng gak sama polisi."
"Ya cepet kasih tau!"
"Kalo sampe gue liat lo bawa polisi, nyawa Rini taruhannya."
"BANYAK B*COT, CEPET"
"Temuin gue di rumah kosong yang ada di dekat pohon beringin tua, jalan** ******"
"***Jangan macem-macem lo sama adek gue! awas aja sampe ada luka sedikit pun, gue bunuh lo!"
"Ah banyak omong."
"Oh iya, kalo lo mau ketemu Rini, harus ada syaratnya."
"Lo kesini harus sama semua keluarga lo! termasuk keluarga tunangan Rina HAHAHA."
"GAK JELAS LO JING---"
Panggilan terputus***
Wintara langsung mengambil kunci mobilnya.
"Oke sekarang kita udah tau tempatnya, ayok kesana!"
"Tapi Om, kayak mana kalo itu cuma jebakan? Kalo dia mau nyulik kenapa dia gak minta tebusan untuk nebus Rini?" Cegah David.
"Pasti ada yang dia incar." Ucap Rina.
Mrs.Wintara mengelap air matanya.
"Dia juga bilang kita gak boleh bawa polisi, gimana Pah."
"Kita datang duluan, polisi akan menyusul biar mereka percaya bahwa kita datang dengan tangan kosong." Jawab Gerry.
Sebelum berangkat, mereka membaca doa terlebih dahulu agar lindungan Tuhan selalu menyertai.
Untuk menuju ke rumah kosong itu, Wintara menggunakan 2 mobil.
David, Rina, Rino memakai mobil David, sisanya memakai mobil Wintara.
Siapa yang masih bangun jam segini? Angkat tangan☝️☝️
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
__ADS_1
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊