Arranged Marriage Ends Love

Arranged Marriage Ends Love
Damai


__ADS_3

"Pak sedikit cepat ya." Ucap Rina kepada supir taxi yang ada dihadapannya.


"Iya Mbak."


Rina terus memikirkan wajah David, ah perasaan bersalah ini terus menghantui Rina.


Mobil taxi melesat cepat ke rumah sakit.


Sampai.


"36.000 Mbak"


Rina merogoh tasnya, mencari selembar uang berwarna biru itu.


"Ini pak." ucapnya sambil memberikan uangnya dan diterima supir taxi.


"Makasih ya pak." Rina langsung menutup pintu mobil.


"Eeehhh, kembaliannya Mbakkk!!" Teriak supir taxi dari kaca mobil.


"Ambil ajaa Pakk!!"


Rina berlari menuju ke ruangan Om Gerry, sekarang ia benar-benar ingin bertemu dengan David.


Duh, Rina lupa nomor ruangannya, tadi kan saat Rina datang, ia hanya melamun jadi tidak mendengarkan perbincangan keluarganya.


"Ah tanya sama Mbak perawat ini aja." Batin Rina saat melihat seorang perawat ingin berpapasan dengannya.


"Mm Mbak, ruang anggrek dimana ya?" Tanya Rina sopan.


Perawatnya tersenyum.


"Di lantai 2 Mbak, nanti jalan terus sampai mentok belok kanan."


"Pasien yang bernama Gerry ada di ruangan nomor berapa ya Mbak?"


"Yang masuk hari kamis ya Mbak? Di kamar nomor 39 Mbak."


Rina bersyukur bertemu perawat yang baik hati.


"Terimakasih Mbak"


"Iya sama-sama."


Dengan cepat, Rina berlari menuju kamar anggrek no 39, Rina memilih untuk naik tangga dari pada naik lift, toh hanya di lantai 2 juga pikirnya.


Rina membaca petunjuk nomor kamar.


"36 sampai 40, ah ini." Ucap Rina.


Rina mendapati David yang sedang duduk di sofa tunggu yang terletak di depan ruangan Gerry, ia menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu.


"DAVID." Teriak Rina antusias.


David mengarahkan pandangannya ke sumber suara, Rina? seketika David berdiri dari duduknya.


Rina berlari ke arah David, ia langsung memeluk David dengan erat, Rina menangis di pundak David.


David masih terkejut, dengan susah payah ia membalas pelukan Rina.


"David maaf." Lirih Rina.


Rina mempererat pelukannya.


"Aku sayang kamu." Satu kalimat yang membuat jantung David berdetak dengan kencang.


Seperti mimpi, setelah kejadian pemutusan hubungan antara dua keluarga tadi, tiba-tiba Rina datang dan memeluk David seperti ini.


Rina melepas pelukannya dari David.


"David maafin aku."


Melihat mata Rina yang sembab dan menghitam membuat David merasa sangat bersalah, ntah berapa banyak air mata yang dikeluarkan Rina untuk David, David segera menghapus air mata Rina.

__ADS_1


"Rin? Ada apa ini?"


"Aku udah tau semuanya, ini hanya jebakan, aku minta maaf karena gak percaya sama kamu." Rina menundukkan kepalanya.


David mengembangkan senyumnya, ia menangkup wajah Rina dengan kedua tangannya.


"Gapapa, kejadian ini bisa jadi pelajaran untuk kita supaya percaya satu sama lain yah."


Rina menampakkan wajah sedih imutnya,


"You are mine!" Ucapnya dengan nada anak kecil.


David terkekeh geli, "yes, i'm yours," ia menggedong Rina dan membuat Rina sedikit terkejut, namun Rina langsung menyesuaikan dirinya, ia mengalungkan tangannya di leher David.


"I want you to be my husband." Bisik Rina di telinga David.


"I will be your husband."


Beberapa menit kemudian, kedua keluarga sudah terkumpul kembali, semuanya sudah dijelaskan oleh David dan Rina, dari awal rencana Kirana sampai saat Rina memergoki Rio dan Kirana.


Suasana di dalam ruangan terasa hangat, semuanya terasa tentram dan damai.


Di akhir perbincangan Wintara dan Gerry memutuskan tanggal pernikahan.


"20 Juli"


👏👏👏👏


Hari ini, Rino terburu-buru berangkat kuliah.


"Duh temen-temen sialan, katanya kuliah jam 9 padahal jam 8." Celoteh Rino sambil mengendarai mobil miliknya.


Rino turun dari mobil, ia menyusuri koridor untuk sampai ke kelasnya hari ini, di kelasnya hanya ada anak-anak yang sedang berbincang ria.


"Ah untung belum ada dosen."


Cengiran tanpa dosa yang dilontarkan Vero dan Keenan membuat Rino geram, ia menghampiri kedua teman sialannya itu.


Keenan menepuk pundak Rino.


"Gue dapet nomor Lea dong bro." Dengan secepat kilat Rino mengarahkan pandangan nya ke arah Keenan.


Ia menoyor kepala Keenan.


"kampret lo ya, oke ini udah di luar peraturan, berarti gue bebas mau ngapain aja nanti ya."


"Deal?" Ucap Rino memberikan tangan.


"Deal!"


Vero hanya bisa mengelus dada melihat ambisi kedua orang disampingnya ini.


Jam kuliah berakhir, tidak seperti biasanya setiap habis kuliah tiga kupret itu bermain, hari ini Rino, Keenan, dan Vero berpencar.


Keenan harus mengantar neneknya ke rumah sakit, Vero membucin dengan pacar barunya, dan Rino bergegas pulang untuk tertidur seharian.


Rino membuka pintu mobilnya, namun, ada yang menepuk pundaknya dari belakang, Rino membalikkan badannya.


"Le lea?" Ucap Rino tak menyangka.


"Hai Rino."


"E.. eh? Mau apa?" Ya, Rino salah tingkah.


Lea mengembangkan senyumnya.


"Kamu mau pulang ya no?"


Dengan cepat Rino menganggukkan kepalanya.


"Oh yaudah aku juga mau pulang hehe..." Ucap Lea dan beranjak meninggalkan Rino.


"Eh tunggu Le."

__ADS_1


"Mau bareng gak?"


Tawaran Rino membuat Lea berfikir sejenak.


"Mmm, gak usah ah gak enak."


"Gapapa kali, sans aja sama aku."


"Beneran gapapa?" Ucap Lea berusaha meyakini.


"Iyaaa." Jawab Rino senang.


"Iyalah gapapa, siapa yang nolak bidadari cantik kayak Lea." Batin Rino.


Di dalam mobil, Rino mati kutu, ia tidak bisa berbicara apa-apa, begitupun dengan Lea, ia hanya diam saja.


Kruyukk kruyukk.


Seketika mereka berdua saling bertatapan,


"Suara apa itu?" Tanya Rino.


Lea menggaruk kepalanya yang tidak gatal,


"Ah itu hehe, suara perut aku yang belum terasupi nutrisi hehe"


Rino mencerna baik-baik perkataan Lea, sampai 2 menit Rino baru mengerti, "oh kamu laper Le?"


"Hehe."


"Ya udah kita makan ya."


Lea mengangguk menandakan iya.


DEMI APA GUE MAKAN BARENG SAMA LEA? ***** MIMPI APA GUE.


Sampailah Rino di warung bakso dekat kampus, warung bakso yang terkenal dengan rasa khas dagingnya yang enak.


"Ini warung jagoan kampus kita, enak banget baksonya, ya walaupun di pinggir jalan, tapi rasanya mantul." Jelas Rino panjang lebar.


"Ah iya, dari baunya enak." Balas Lea.


Rino memperhatikan pakaian Lea, sepertinya Lea anak orang kaya.


"Kamu gapapa makan di pinggir jalan gini Le?" Tanya Rino.


"Lah memang kenapa?"


"Siapa tau kamu gak pernah makan di pinggiran gini."


"Udah biasa aku mah, santai aja No." Ucap Lea sambil duduk di kursi yang disediakan.


Mereka terlalu banyak berbincang, melihat Lea tertawa karena kekonyolan yang Rino buat, membuat Rino merasa senang, hatinya nyaman berbincang dengan Lea.


"Rino, kamu udah punya pacar?"


DEG.


"Belum sih, baru ada gebetan, tapi akan jadi pacar."


Wajah Lea berubah menjadi sedih.


"Siapa?"


"Kamu."


Definisi Rino : kadang gesrek, kadang sweet, kadang waras, kadang kayak setan.


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2