
Sepanjang hari, Rino selalu mengembangkan senyumannya, di dalam benaknya terukir nama Lea dengan sangat indah.
Sejak saat itu, hari dimana Rino mengajak Lea pulang bersama, sepertinya Lea mulai menyukai Rino.
Dan sejak saat itu pula, mereka saling bertukar nomor whatsapp dan berchating-chating ria.
Reno😎
Udah makan?
Lea❤️
Udh kok😊
Reno😎
Lagi dimana sekarang?
Lea❤️
Di rumah
Kenapa?mau nyamperin lea😉
Reno😎
Kan aa Reno gak tau rumah lea.
Pas itu diantar gak mau sampe rumah🙄
Lea❤️
Apa apaan sih🙈
Reno😎
Panggil aja aa, Lea mau dipanggil apa?
Lea❤️
Sayang.
Ups😅
Reno😎
Yaudah iya sayang😉***
Bagaimana Rino tidak bahagia jika Lea selalu saja mengkode dirinya(?)
"*****, gua seganteng itukah? Sampe Lea aja ngode-ngode minta di panggil sayang gini?" Gumam Rino, ia membayangkan betapa tampan dirinya bersandingan dengan Lea.
"Hey Bang."
Seketika Rino menolehkan arahnya ke sumber suara, ah ternyata Rini.
"Apa?"
Rini mendekati abangnya tersebut, ia bertanya penuh selidik.
"Ngapain Abang senyum-senyum sendiri sambil ngetik gitu?"
"Kepo lo." Jawab Rino ketus.
"Rini gak percaya aja kalo Abang lagi chattan sama cewe, secara ciwi ciwi Indonesia kan gak mau sama Abang HAHAHA." Tawa selalu pecah ketika menghina abang kesayangannya itu.
Dengan wajah murka, eh ngga, dengan wajah datar, Rino menepuk mulut Rini yang membuat Rini terdiam.
"Heh krucil, awas kena azab lo ye sering ngehina gue, lo tau gak azab adik yang sering menghina Kakaknya?"
Rini berpikir sejenak.
"Gak tau, memang apa?"
"Hidup sengsara, mati tak bisa!"
"YAAMPUN, DOA BANG RINO JELEK AMAT."
Rino tersenyum senang tanda kemenangan,
"Itu kan judul sinetron yang pernah gua tonton di Indosiar." Batinnya.
Dengan hati yang kesal, Rini beranjak pergi, huh, Rino selalu bisa membalikkan keadaan hati Rini, dari yang tadinya senang menjadi kesal.
😅😅😅😅
Sudah lelah berkeliling kota, di sore hari ini, David dan Rina memilih untuk bersinggah di kedai kopi yang sedang menjadi tren di kalangan para remaja.
Banyak pasangan muda-mudi berseragam putih abu-abu yang mendatangi kedai kopi ini.
Rina dan David sengaja memilih tempat duduk di pojok ruangan agar tidak terlalu terusik oleh keramaian.
"Capek juga ya nemenin kamu belanja seharian." Ucap David.
Rina menggelengkan kepalanya.
"Ini belum seberapa, kadang aku sama Mama bisa sampe malem di mall."
Mendengar hal itu membuat David mengernyitkan dahinya, sejak terikat dengan Rina, David jadi tahu kebiasaan-kebiasaan wanita zaman sekarang yang menakjubkan menurutnya.
__ADS_1
"Hai."
Panggilan itu membuat Rina dan David menoleh bersamaan ke arah yang punya suara.
Terlihatlah dua perempuan berseragam putih abu-abu dengan menggunakan flat shoes dan atasan yang di kecilkan, terlihat sangat ketat.
"Iya?" Jawab Rina.
Namun jawaban Rina dihiraukan karena sebenarnya kedua perempuan ini sedang bertanya kepada David.
"Nama kamu siapa?" Ucap salah satu dari mereka.
David menunjuk dirinya sendiri.
"Saya?"
Kedua perempuan itu mengangguk.
"David." Setiap perkataan yang ia ucapkan, David selalu melirik ke arah Rina.
"Ooh David, salam kenal ya aku Vira, ini temen aku Lita, kita dari SMA Kenanga, kalau kamu dari SMA mana David?"
Sepanjang obrolan, Rina menghembuskan nafas kasar, ia sedang menahan emosi, dari pada terbakar amarah, akhirnya Rina menidurkan kepalanya di atas meja.
David tau bahwa Rina sedang marah.
Ia segera mengangkat kepala Rina dengan tangan kanannya.
"Ini Rina, dia dari SMA Venus, tunangan saya."
Rina diam, kedua perempuan ini langsung menatap Rina sinis.
"Cih." Desis mereka, lalu mereka beranjak pergi menjauhi David dan Rina.
Tentu saja, Rina kaget dengan tatapan itu, ah ntahlah padahal ini hari yang bahagia, tapi ada saja yang membuat Rina menjadi badmood.
Tangan kanan David mengelus pipi Rina, Rina menikmati hal itu.
"Makasih udah gak genit sama mereka."
David memberikan senyum pepsodentnya,
"Inti dari kejadian ini adalah ....., aku awet muda hahaha.."
Rina diam, ia sedang tidak ingin tertawa.
"Intinya aku gak suka cewek cewek lain deketin kamu titik."
"Iya iya, tapi kamu akuin kan kalo aku masih keliatan kayak anak SMA, cowok-cowok keren gitu."
Rina menaikkan sebelah alisnya.
"Kok kamu jadi narsis sih?"
Ting!
Suara notifikasi ponsel Rina berbunyi.
Rina menghiraukan ucapan David, ia segera membuka ponselnya,
"Ah pesan dari Mama" Batinnya.
Mama😘
Rina...
***Rina👑
Iya Ma... kenapa?
Mama😘
kemarin kan Mama abis beli kuota mehong...
kok baru satu Minggu udh abis sih.
Rina👑
Sabar Mah, aku suruh Rini cek hp Mamah***.
Rina segera mengetik nama Rini di dalam kolom 'search',
"Nah ini."
***Rina👑
Rini...
Adek menel🙄
Kenapa kak?
oh anu kak
Rina👑
Coba liatin hp Mamah.
__ADS_1
Katanya baru beli kuota kok udah abis.
Adek menel🙄
Ehem...
Aku tethering hhhe...
😅
Rina👑
Nah kan...
Jangan gitu lagi.
Kalo mau tethering sadar diri.
Adek menel🙄
Lagian WiFi dirumah di putus segala sama Papa.😩😩***
"Sudah kuduga pasti Rini." Batin Rina.
"Rin."
Rina mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang ia genggam, sekarang ia menatap David.
David menunjuk ke arah pintu masuk kedai.
"Itu Lily kan? Terus itu cowoknya?"
Rina mengembangkan senyumnya saat melihat Berian dan Lily, kebetulan sekali jika mereka dipertemukan disini.
"LILY!!" Tanpa sadar Rina memanggil nama sahabatnya itu terlalu kencang sehingga semua pengunjung kedai menatap ke arah Rina.
Sadar akan hal itu, Rina menunjukkan cengiran kuda, ia menyatukan kedua tangannya sebagai tanda permintaan maaf kepada semua pengunjung.
Berian dan Lily pun menghampiri meja yang ditempati Rina dan David.
“Aaaa kok kita bisa ketemu disini padahal gak janjian." Ucap Lily sambil memeluk Rina.
"Eh ini ceritanya kalian lagi ngedate?" Tanya Rina.
Berian dan Lily saling bertatapan, menampakkan wajah tersipunya masing-masing.
Rina menatap Lily tajam.
"Ly! Gak cerita cerita sama gue lagi kalo udah jadian ya."
Dengan cepat Lily menggelengkan kepalanya.
"Ngga ey, belum jadian."
"Eits belum, berarti bentar lagi jadian nih."
Berian menjawab ledekan Rina,
"Iya soon kita pacaran."
Lily kaget, ia menatap ke arah Berian penuh tanya.
"Alah lo yak, san sun san sun, kagak di tembak-tembak nih sahabat gue." Celoteh Rina.
David yang sedari tadi hanya diam akhirnya membuka suara.
"Kalo ditembak, mati dong."
1 kalimat yang membuat obrolan mereka menjadi krik krik, semua hening, menatap ke arah David dengan tatapan iba.
Dengan wajah polosnya, David mengerutkan dahinya.
"Apa? Bener kan kalo ditembak mati?"
"YA IN AJA AH, males nanggepin lelucon calon suaminya Rina." Ucap Lily memecahkan kekrik krikan yang terjadi.
Berian menepuk pundak David.
"Pasti lo gak tau nama gue." Ucap Berian.
"Eits, gue tau lo lebih tua, tapi karena lo tunangan Rina, kita enjoy aja lah ya." Tambahnya lagi.
"Nama gua Berian, gua calon pacar Lily, yang perlu lo tau dari gua, mobil gue berjasa atas pengegepan lo sama sekretaris lu di hotel HAHAHA."
😲😲😲😲
Krik
Krik
Krik
Krik
Krik
David, Rina, dan Lily menatap Berian dengan tatapan yang sinis, rasanya mereka ingin menerkam Berian saat ini juga.
"Eh lelucon gua gak lucu ya?"
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
__ADS_1
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊