Arranged Marriage Ends Love

Arranged Marriage Ends Love
HBD RINI ZHEYENG


__ADS_3

Rino meniup balon dengan berbagai gaya hingga membuat Lea tidak bisa berhenti tertawa, rasanya senang bisa melihat kekasihnya ini tertawa lepas seperti tidak ada beban di dalam raganya.


"Eh ini balon kita udah mau selesai beb, tapi pitanya masih banyak yang belum selesai, Rina sama David mana dah?" Tanya Rino.


"Bukannya tadi kejer-kejeran?" Ucap Lea berbalik tanya.


Ntah sudah berapa menit pasangan itu menghilang tak dapat tertangkap dari penglihatan mata Rino yang sedari tadi berusaha mencarinya.


"Aku udah cari dimana-mana gak ada." Jawab Rino santai.


Lea mengangkat kedua bahunya yang menandakan bahwa ia tak tahu menahu.


πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Suasana panas yang dibangun David membuatnya kegerahan, masih sambil ******* bibir nikmat itu ia membuka satu-persatu kancing bajunya dan menempelkan telapak tangan Rina di dada bidang miliknya.


Namun tanpa diduga, Rina mendorong tubuh atletis itu yang tentu saja membuat lawan bercumbunya kaget sekaligus bingung.


"Gak lebih dari cium!" Bentak Rina sambil berjalan untuk membuka kunci pintu kamarnya, ia melengos pergi meninggalkan David yang sedang ternganga.


Ah untung saja Rina mendorongnya, jika tidak pasti sekarang mereka sudah berada di atas ranjang, David tau Rina tidak akan pernah dan tidak mau melepas hal berharganya sebelum menikah dan prinsip itu juga dipegang oleh David, namun...


Apa yang barusan ia lakukan? Bisikan setan terlalu kuat dan menggoda hingga sempat menggoyahkan prinsipΒ  David.


David segera memasang kembali kancing-kancing yang terbuka karena tangan nakalnya.


"Pasti Rina marah." Gumam David kecil.


Rina berjalan menuju toilet di dekat kamar tamu, ia berusaha mencuci mukanya dan mengelap bibirnya, semoga tidak ada perubahan dari penampilan bibirnya, harap Rina.


"Apa bakal kelihatan kalo aku abis dicium?" Gumamnya polos, ya tidak bisa diabaikan bahwa ini adalah kali pertama Rina bercumbu panas seperti tadi, biasanya hanya sekedar menempel tak lebih dari 5 detik.


Rina mengambil handuk baru di lemari kecil yang berada di kamar mandi, sebenarnya handuk itu dipersiapkan untuk tamu-tamu yang datang, tapi sepertinya tidak masalah jika Rina hanya mengambil sebuah handuk kecil.


Ia menepuk-nepukkan handuk kecil itu pada wajahnya dan mengelap sedikit keringat yang keluar karena kejadian beberapa menit yang lalu.


"Rin." Panggil pria dari balik pintu toilet.


Rina membuka pintunya.


Ia acuh tak acuh ketika mendapati calon suaminya itu berada di hadapannya.


"Hmm?"


"Maaf aku hampir kehilangan kendali." Lirih David, terlihat jelas penyesalan dari matanya yang sendu.


Sepertinya ia harus berbicara masalah ini dengan David, Rina duduk di sofa yang letaknya tak jauh dari toilet.


"Duduk sini." Ucap Rina sambil menepuk sofa di sampingnya yang masih kosong.


David hanya bisa menuruti permintaan Rina.


"Aku cuma mau mempertahankan 'itu' sampe kita menikah aja kok, kalo kamu mau 'anu', ya cepet nikahin aku." Jelas Rina dengan bahasa itu dan anu :), sebenarnya ia juga tak tega mendorong tubuh David tadi.


"Iya aku ngerti, aku juga hanya mau melakukannya setelah menikah, tapi tadi godaan set--"


"Iya aku tau itu bukan kehendak kamu sendiri tapi ada campur tangan setan." Ucap Rina memotong pembicaraan David.


David mengangguk kecil.


"Maaf ya"


"Gak apa-apa." Rina menggelengkan kepalanya, memeluk David yang berada si sampingnya.


Rina diam, merasa nyaman menyenderkan kepalanya di dada bidang David, suara detak jantung David membuatnya merasa bahwa David hanya milik dirinya, tidak yang lain!

__ADS_1


"David aku sayang kamu." Terdengar pelan namun masih dapat ditangkap oleh telinga David.


"Me too." Balas David sambil mengelus puncak kepala Rina.


Rina terlonjak kaget dan melepaskan pelukannya spontan, seperti mengingat sesuatu.


"DAVID PITANYA." Paniknya sambil melihat jam dinding yang berada di ruang tamu.


"Papah kan minta kita selesain pita itu jam 6, bentar lagi jam 6." Ucapnya benar-benar panik.


Tanpa memakai aba-aba, mereka berdua lari menuju ke ruang tv, tempat dimana, mereka, Rino, dan Lea melakukan tugasnya.


"EYY DATENG JUGA, DARI DIMENSI LAIN LO PADA?" Sambut Rino ketika melihat pasangan yang sedari tadi ditunggu-tunggu datang.


"Lah pita-pitanya mana?" Tanya Rina mengamati sekeliling ruang tamu, ia tidak melihat sedikitpun pita yang belum selesai dibentuk menjadi pita sempurna.


"TELAT MAEMUNAH, UDAH GUE SELESAIN BARENG BEBEB."


David mengerutkan keningnya, tersenyum tidak enak.


"Makasih Bang."


"Lo pada abis dari mana? Eh ralat, lo pada abis ngapain? Gua cari-cari nggak ada." Sinis Rino berusaha menyelidiki.


Seketika Rina dan David saling bertatapan, apa yang harus mereka katakan?


"Dari mana elah?" Tanya Rino seperti mendesak sebuah jawaban.


"DARI SANA." Ucap mereka berbarengan namun telunjuk itu mengarahkan arah yang berlawanan, David menunjuk ke timur sedangkan Rina ke barat.


"Ih bohongnya ketara." Kesal Rino, Lea hanya bisa tertawa kecil melihat Adik-adik iparnya yang salah tingkah.


"Lagian kepo amat sih!" Rina mendengus kesal, lalu mengambil duduk di samping Lea.


"Udah kok Rin" Lea tersenyum senang,Β  rumah dan keluarga Rino membuatnya merasakan apa itu arti sebenarnya keluarga lengkap dan bahagia.


Tiba-tiba Mrs.Wintara datang dengan senyum sumringah, ia berucap girang.


"Heh ayo pada ke taman!, kok masih disini sihh, kasian lilin kue Rini minta ditiup."


Mendengar seruan itu, semuanya bangkit dan berjalan gontai menuju taman sambil membawa kadonya masing-masing.


Waw, taman sudah di dekorasi sedemikian rupa, semuanya nampak kagum dengan dekorasi Wintara, ternyata lelaki yang sudah menginjakkan umur 50 tahunan itu berbakat juga membuat sebuah acara pesta.


Terlihat lampu-lampu yang menghiasi setiap sudut taman, juga balon-balon dan lilin kecil yang sengaja di letakkan di genangan air kolam, pita-pita yang terpasang di dinding juga membuatnya terkesan manis.


Rini membagikan topi kerucut berwarna emas dengan rumbai-rumbai di puncaknya kepada semua orang.


Terhitung ada 9 orang yang memenuhi taman, Wintara, Mrs.Wintara, pastinya Rini, Rina, Rino, David, Lea, bibi, dan supir.


Kue tar tingkat juga sudah tersedia di meja yang sekarang ada di hadapan Rini, tidak lupa lilin yang menampakkan angka 15 tahun bertengger di atasnya.


Juga ada alat pembakaran di pojok taman, sepertinya rencana bakar-bakaran malam ini akan menarik.


"Ayo nyanyi selamat ulang tahun bareng bareng," Teriak Wintara.


Semua langsung bernyanyi sambil menepukkan tangannya sebagai pengiring nyanyian.


"Happy birthday Rini, happy birthday Rini, happy birthday, happy birthday, happy birthday Rini."


"Make a wish Rin." Suruh Rina.


Rini berdoa di dalam hati, ntah apa yang didoakannya hanya dirinya dan Tuhan yang tahu, setelah mengaminkan ia meniup lilin dan semua orang pun bertepuk tangan senang, kegiatan memberi kado dan ucapan pun sudah berlangsung.


Tak henti-hentinya Rini mengembangkan senyumnya ketika tahu Wintara dan istri memberi hadiah laptop berlogo apel terbaru untuk Rini.

__ADS_1


Sedikit membuat hati Rino iri dan dengki mengingat laptopnya yang sudah buluk itu dan ia berencana meminta laptop baru untuk ulang tahunnya yang akan tiba beberapa bulan lagi.


Acara dilanjutkan dengan bakar-bakaran daging, keahlian masak David meronta-ronta untuk meracik bumbunya.


"Biar aku yang racik bumbu Pah." ucap David.


Oh iya, karena paksaan dari calon mertuanya, sekarang David memanggil Wintara dan istri dengan sebutan Papah dan Mamah begitu juga dengan Lea.


"NAH! keturunan Gerry pasti menurunkan bakat masak yang Gerry miliki." Ucap Wintara excited.


Dari jauh, mata Rina tak henti-hentinya menatap David yang cekatan dalam mengiris bawang dan bahan makanan lainnya, seperti sudah sangat lihai, berketerbalikan dengan dirinya yang hanya sekedar memotong bawang saja bisa menghabiskan waktu yang sangat lama karena sibuk mengelap air mata yang mengalir.


Hati Rina semakin mendambakan menjadi istri dari lelaki sempurna itu.


Acara bakar-membakar ini cukup menghabiskan banyak tenaga, Rino yang memotong daging, Wintara yang memasak, dan David yang meracik bumbu, sedangkan para wanita? Menyiapkan piring dan lauk pauk lainnya untuk acara makan bersama.


Setelah selesai, mereka semua duduk di karpet lebar yang menutupi rumput, duduk melingkar, ntah kenapa byibi dan Supir tak mau ikut gabung, tak enak hati katanya.


"Udah lama banget ya kita gak kumpul kayak gini, sekarang ditambah ada David dan Lea." Ucap Mrs.Wintara membuka awal perbincangan.


Rino mengangguk menanggapi.


"Kayaknya terakhir ada acara gini pas Rino lulus SMA." Ucapnya mengingat masa lalu.


Rina terkekeh geli.


"Iya pas itu mensyukuri Bang Rino yang bisa lulus dari SMA HAHAHAH." Kali ini Rina tak bisa menahwan tawanya untuk membully Abangnya itu.


Seketika semua orang ikut tertawa.


"Dulu, sekecil itukah kemungkinan Rino bisa lulus?" Tanya Lea penasaran akan kekasihnya itu.


"Bang Rino lulus aja karena Papah kenal sama kepala sekolahnya." Tambah Rini yang membuat semua orang tertawa kecil tak percaya ternyata selama ini Rino begitu bodoh.


Rino yang merasa terpojoki pun tak terima, ia berpikir untuk membuat pembelaan.


"HEH bukan karena bodohnya doang, dulu gue hampir gak lulus karena sering berantem." Ucapnya bangga.


Wintara menyipitkan pandangannya.


"Terus kamu bangga gitu karena sering berantem?"


Membuat Rino terdiam, iya juga, apa yang harus dibanggakan dari berantem atau bahkan tawuran antar sekolah? Tidak berguna.


"Bangga itu ketika lo jadi ketua ekskul karate pas SMA Bang kayak David." Rina melirik ke arah David.


"Serius David bisa karate?" Mrs.Wintara tak percaya akan keahlian-keahlian yang mulai terkuak dari calon menantunya itu.


"Iyaaa Mah." Jawab David sopan.


"Suami idaman." Tanpa sadar kalimat itu keluar dari mulut nakal Rina.


Semuanya menatap Rina datar, menunggu kalimat selanjutnya dari perempuan manis itu, Rina sadar dan langsung memukul mulutnya.


"Ma-maksudnya."


Melihat Rina yang salah tingkah, semua orang jadi tertawa, ternyata itu kalimat yang terucap karena ketidaksadaran hahaha, begitu banyak tawa yang terdengar malam ini, semoga tidak ada hal buruk yang menggantikan tawa ini menjadi tangis.


Gimana nih, keluarga Wintara harmonis banget kan?


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2