
Wuuzh… Craash…
Bersama dengan suara itu, aliran darah keluar dari kulit melalu sebuah garis sobekan karena sayatan pedang. Satu tubuh lagi tumbang, membuat rumput hijau tercemat oleh darah kental berwarna merah. Suara jeritan sempat terdengar di antara sunyinya hutan malam hari. Membuat makhluk-makhluk terbang dari tidur dan berhamburan menjauh.
Sebuah langkah pelan seseorang yang membawa perang perak dengan ujung nya ternoda darah, mendekati pria ketakutan yang terpojok di bawah pohon. Tubuhnya gemetaran, menatap sorot mata dingin berwarna zambrud yang sempat menyengir ketika mengayunkan pedangnya ke arah teman-teman sampai terkapar bersimbah darah sekarang. Semua sihir yang ia gunakan kalah melawan tiga orang ksatria yang hanya bermodal pedang dan penangkal sihir pada pedang mereka.
Ujung lancip pedang itu mengarah tepat di leher pria itu. Ketakutan seperti bertemu dewa kematian akhirnya terbayang dalam hidupnya. Dia tidak menyangka akan berkahir begini, walau sudah dari awal dia melakukan tindakan beresiko. Semua bermula dari tato bulan yang sudah ada padanya sejak ia masih sangat kecil.
"Akan kuampuni kau jika dirimu bicara," ujarnya sambil tersengir padanya.
Matanya menuju dua teman orang itu yang sedang menusukan pedang pada jantung salah satu orang yang masih bergerak. "A… Apa, yang kalian inginkan?"
"Sederhana, kami berburu kalian," jawab orang itu dengan senyumam polos.
"Kaa… Kami tidak pernah mengganggu kalian."
"Belum. Bukankah kalian berniat mengambil Nox?"
"Iya! Ta… Tapi bukan kami yang mendapatkannya. Devil yang mengambilnya," ujar pria itu dengan ketakutan.
"Devil? Kalau begitu aku ada pertanyaan. Anggap saja ini penyelamat nyawamu," seru Zion. Zion menarik pedangnya dari leher pria itu.
"A… Apa, katakan saja!"
__ADS_1
"Pesan di menara barat Whisley, itu benar? Lalu 20 murid yang menghilang, apa itu kalian karena berburu Devil?"
Dia menelan ludah dengan berat. Tangannya gemetaran tak kunjung henti. Keringat bercucuran dari tubuhnya. "I… Itu tidak benar. Kami tidak pernah mengirim pesan lewat gambar." Ia menunjukkan tato miliknya. "Tato ini… Tidak hanya sebagai lambang, tapi pembawa pesan agar kami terhubung satu sama lain. Saat dari kami meninggal. Tato ini akan hilang."
Zion melirik Vim. Vim langsung paham yang di maksud Zion. Dia langsung memeriksa sebuah tubuh kaku yang ada di dekatnya. Benar saja saaj Vim menyerang tubuh orang ini, dia memiliki tato. Tapi sekarang tato itu hilang. Ia mengangguk pada Zion.
"Laa… Lalu, 20 murid yang hilang. Tidak semua bagian dari kami. Le… Lebih tepatnya, ha.. hanya 3 orang yang merupakan anggota organisasi. Yang lain mereka murid biasa. I… itu semua ulah Devil," lanjutnya dengan raut ketakutan.
Zion terbelangak mendengarnya. Pikirannya langsung merujuk pada Atarah. Atarah yang mengatakan dia harus ke menara barat malam itu. Dan sejak itu Atarah berusaha menjauh dari Zion. Wajar saja itu kesepakatan mereka.
"Lalu ke mana mereka semua. Apa terbakar dan menghilang seperti anggota kalian yang tertangkap waktu itu?" tanya Vim yang berjalan mendekati pria itu
"Terbakar dan menghilang?" Dia berbalik bertanya. Dia semakin panik dan ketakutan. Glagapnya bahkan melebihi tadi. "I…itu pasti Devil. Maa… Na… Perbuatan bengis itu. Devil!"
Pria itu merangkak, bersujud dan memegang celana Zion. Dia berlinang air mata, dan telapak tangannya sangat basah. "Tolong, tolong selamatkan aku dari Devil! A… akan kuberikan informasi apapun. Jaaaa…di selamatkan aku. Tolong tuan!" Ia memohon keselamatan dari orang yang beberapa saat lalu ingin membunuhnya.
Memang saat seseorang di ujung kehidupan mereka tidak peduli dengan yang benar atau yang salah. Asalkan mereka bisa bernafas lebih lama, apapun caranya akan mereka lakukan. Walau harus menyembah sesuatu yang tidak semestinya. Atau bahkan melakukan pengkhianatan besar. Ekpresi wajahnya menunjukkan mati dengan pedang yang telah merenggut nyawa teman-temannya di depannya lebih baik daripada terbakar dan menghilang seperti yang dilakukan Devil pada yang lain.
"Kalau boleh tahu apa kau pernah melihat sosok Devil?" Tanya Zion.
Dia melotot pada Zion dengan agak ragu. "Aku belum pernah melihatnya. Taapi kata orang dia memakai jubah merah. Dan memakai topeng srigala. Ada yang bilang dia berwujud manusia, tapi entah itu wujud aslinya atau curian."
"Topeng seperti apa?" Pria itu menggeleng. "Apa dia berambut putih dan pertelinga Elf, lalu mata merah terkadang biru?" Tanya Zion. Jelas dia menjurus pada Atarah.
__ADS_1
"Haaa… Bukannya itu Nona Atarah?"
"Kau mengenalnya."
"Hanya dia elf berambut putih." Cengkareng pria itu semakin erat. Tatapannya kini menajam ke arah Zion. "Jangan dekati orang itu. Kau hanya akan membuat Wishland hancur. Dia bahkan lebih berbahaya dari Devil. Itu yang dikatakan ketua kami."
"Ketua kalian?"
Semua tahu siapa ketua mereka. Dia adalah salah satu dari 3 orang yang memiliki jiwa abadi, Fox salah satu jenisnya. Namun yang membuat Fox seperti itu adalah Alan, sedangkan dia adalah Nyx. Thea Crystal, pengkhianatan Ethopia. Dia yang membuat ibu Gaia marah, dan anaknya sendiri mati karenanya.
#
Suara ombak yang bertabrakan dengan perahu. Langit cerah, dan arus pelan yang memenangkan. Gaia pasti sedang senang menyambut seseorang. Di atas kapal angkut, Atarah besandar pada papan kayu. Matanya menuju arah sebuah pulau yang dari kejauhan terlihat kota yang cukup besar di atasnya. Tidak semua orang bisa masuk ke sana. Gaia sangat selektif memilih orang yang keluar masuk sejak kebangkitannya.
Rambut Atarah berkibar di terpa angin, mengibar searah dengan arus angin. Tatapan dari mata biru seperti merindukan seseorang yang berada di pulau itu. Atarah menghela nafas berat berulangkali. Dia tidak menyangka akan kembali ke sini setelah sekian lama. Hanya bangun yang semakin padat, itulah yang berubah. Dari kejauhan dia bisa melihat hamparan ladang. Dia ingin segera turun dan berlarian ke sana. Namun sepertinya dia tidak bisa. Karena dia kesana bukan untuk piknik.
Angin bertiup dan mengelilinginya Atarah. Atarah mengulurkan tangan, dan sebuah surat berwarna merah muncul di tangannya. Atarah mengelum senyum, dia sudah menebak siapa yang mengirimnya. Dia langsung membuka surat itu, hanya ada kalimat singkat dengan bahasa asli Wishland.
'Kutunggu kau di kediamanku_ Frassia Varelia'
Atarah terkekeh. Dia tidak menyangka orang itu yang masih hidup di antara yang lain. Kata hidup seperti tidak tepat sebenarnya. Entah mengapa dia berharap satu orang lagi juga masih ada. Tapi… Itu tidak mungkin.
"Hmm haruskah aku mampir membeli sesuatu?" Gumamnya.
__ADS_1