
Aku menghela nafas berat, mendapati kami belum juga mendapat bukti atau jejak apapun selama satu musim. Bahkan walau anggota ini bertambah, ini terasa sia-sia. Jika sampai libur musim panas tidak ada kemajuan, aku bisa bayangkan bagaimana wajah kakek tua itu yang mengejekku. Aku masih tidak percaya dia adalah ayah biologisku.
"Itu dari kami, bahkan sampai saat ini tidak kemajuan," ujar Enver satu pemikiran denganku.
"Semua tampak biasa. Hanya ada para bangsawan yang berlagak sombong. Dan wanita bertubuh langsing dan jutek. Aku rindu gadis-gadis di kota," oceh Vim. Aku menepuk pundak belakangnya. Dia menatapku kesal sambil merintih sakit.
"Ada ribuan murid di sini, bagaimana kita bisa tahu." Xylia menyeruput tehnya.
Rasanya ini seperti jalan buntu, misi pertamaku sebagai Grand Duke tidak berjalan seperti yang ku perkiraan. Padahal aku berniat langsung pergi dari Academy setelah misi ini selesai. Kenapa harus serumit ini. Rasanya ingin kubuka semua baju orang-orang di sini agar menemukan tato bulan sialan itu.
"Hmm kenapa aku di sini?" Ujar Elf yang duduk di salah satu sofa di sini.
"Bukan kami, Fox melarang kami mendekatimu," bantah Enver. Kami yang ia maksud bukan semua di sini. Hanya dia dan Xylia. Tatapannya mengarah ke aku.
"Dia terlanjur tau, bisa saja dia membocorkannya ke orang lain," jawabku sambil menyengir padanya.
Dia menghela nafas berat, dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku tidak berniat ikut campur dalam misi kalian. Karena urusanku bertolak belakang dengan itu. Aku bahkan tidak peduli jika mereka mencuri Nox, dan membangkitkan Nyx."
Semua tatapan menuju Atarah, bukan tatapan suka tentunya. Namun daripada menghakami, mereka berusaha diam dan menahan diri. Bagaimana pun kami tidak bisa bertindak di luar misi.
Atarah menyengir, memakai ekpersi itu lagi. "Bukan berarti aku mendukung mereka atau kalian. Anggap saja aku tim netral saat ini. Namun suatu hari nanti entahlah," lanjutnya.
"Haah… Kau sepertinya salah membawa orang. Aku mulai paham kenapa tuan Fox melarang kami mendekati dia," ujar Xylia, dengan sorot mata ke sisi lain Atarah.
Atarah hanya diam dan tersenyum. Wajahnya seolah mengatakan tidak peduli dengan semua pemikiran orang di sini tentangnya. Yang ia inginkan adalah, "Bisa aku pergi sekarang?"
#
Langkahnya selalu menuju ke arah yang sama. Danau itu, hanya orang ini yang selalu mengarah ke sana. Wajar saja, para gadis bangsawan di sini hanya suka mengosip, dan minum teh di tempat yang teduh. Untuk apa mereka berpapasan di danau yang bahkan para Dwarfs tidak mau mengurusnya.
__ADS_1
Dia menghentikan langkahnya saat berada di anak tangga turun menuju danau. Tanpa menatapku di belakang dia berkata, "Kenapa kau mengikutiku?"
"Hmm … Kalau boleh aku jujur, aku penasaran saja denganmu," jawabku.
"Penasaranmu bisa membunuhmu." Akhirnya dia menoleh ke belakang. "Harusnya kau menjauh dariku seperti yang lain."
Aku terkekeh. Sejujurnya aku juga baru sadar rasa penasaran ini sejak beberapa jam yang lalu. Saat dia mengatakan suatu saat mungkin kami akan menjadi musuh.
"Menguntungkan jika aku mengenal musuhku di masa depan."
Dia membalikkan badan. Dan menatapku dengan ekpresi itu. "Aku tidak ingin membuatmu menyesal mengenalku."
"Biar aku yang menentukannya nanti," sahutku.
Senyuman di bibirnya hilang. Ia berpaling ke arah lain. Raut wajahnya terlihat murung, entah apa yang sedang ia fikirkan. Bersama dengan itu awan mendung datang, angin kencang juga datang bersamaan dengannya. Menerbangkan rambut putih Atarah, hingga menutupi wajahnya. Kutatapan kosong dari mata birunya. Apa dia bisa mengubah warna matanya, malam itu warna matanya merah.
"Jika ku beri tahu targetmu yang sebenarnya apa kau akan berhenti mengangguku?" Tanyanya. Dia kembali menatapku, dengan tatapan kosong yang tadi.
"Kalau kau bisa, kubiarkan kau mendapat musim panas yang damai," jawabku.
"Singkatnya kau tak akan menemukan mereka di sini. Tidak sekarang."
Aku terbelangak mendengar jawabannya, namun aku berusaha untuk tenang. "Kenapa?"
"Aku tidak bisa bilang mereka tidak ada di sini. Tapi akan ku katakan ini diluar kekuasaan seorang Grand Duke di misi pertamanya dari kaisar. Harusnya bukan anak-anak seperti kalian yang mengurus hal itu."
Dia benar-benar membuatku terkejut berulang kali. Bohong Bagiku jika kukatakan tidak penasaran denganya. Dia jelas bukan anak murid biasa. Karena tidak ada seorang pun yang tahu aku seorang Grad Duke, dan ini misi pertamaku, selain Vim dan Seren.
"Kau berkata seolah kau tahu segalanya." Aku terkekeh kecil.
__ADS_1
Dia memasang ekpresi itu. "Anggap saja aku kebetulan tahu."
Rintih hujan mulai turun. Yang awalnya hanya tetesan kecil, berubah menjadi hujan yang lebat. Kami masih diam di posisi yang sama. Atarah menatap ke langit. Tangannya terangkat, dan menampung air yang jatuh.
"Apa hanya itu?" Tanyaku padanya. Karena itu bukan tuntunan mencari targetku. Tapi peringatan agar aku menyerah dan pergi.
Ia kembali menatapku, dengan ekpresi itu lagi. "Jika Kau tak ingin tangan kosong nanti, Pergilah ke menara barat sebelum jam tidur. Datanglah sendirian. Saat kau naik ke atas, perhatian tembok di sana. Mungkin ada yang bisa membantumu."
"Apa kau bisa di percaya?"
"Datanglah, dan putuskan saja sendiri. Aku permisi dulu tuan Duke," sahutnya sebelum pergi kembali masuk ke kastil.
Aku menatapnya punggungnya, dan rambutnya yang lusuh karena hujan. Apa mungkin berada di Academy ini membuat aku gila. Aku mengikuti seseorang yang tidak ada hubungannya dengan tujuanku di sini. Namun jika yang ia katakan menguntungkanku, aku tak masalah jika harus mengikutinya terus. Lagipula dia membuatku terus merasa penasaran, tentang siapa dia sebenarnya.
#
Sebuah surat berwarna merah datang bersama dengan hembusan angin yang membentuk burung. Masuk ke jendela dan menjatuhkan surat itu ke atas meja, sebelum dia berubah menjadi udara. Sorot mata emas itu menatap surat yang baru datang. Sudah lama sekali dia tidak mendapat surat berwarna merah ini. Bahkan seorang kaisar pun bisa gemetar saat melihat tulisan yang ada di sana. Itu tulisan dari luar Wishland. Dan hanya ada satu orang yang cukup berani menggunakan bahasa itu di Wishland.
Dia memegang kertas itu,membaca setiap kalimatnya. Tangannya sekarang bahkan langsung lemas saat membaca itu. Bahkan dia hampir tak sanggup berdiri karena tubuhnya yang gemetaran dan mendadak lemas itu.
"Kenapa orang itu tidak pernah di pihak kami," keluhnya.
Di tangannya, ia mengeluarkan api dan langsung membakar surat merah itu. Butiran abu dari keras itu langsung berubah menjadi angin, dan pergi terbang membentuk gumpalan asap hitam.
"Apa kau akan diam saja Fox membiarkan anak itu menghancurkan sistem baru ini?" Tanyanya.
Gumpalan asap hitam tadi berubah menjadi pria berpakaian serba hitam. "Bisa apa kita, dia adalah pilihan Alan. Bahkan menyentuhnya kita tidak pantas."
Kaisar tampak sangat kesal. Yang mengacak mejanya, hingga semua barang di saja jatuh ke lantai. Dia bahkan melempar kursinya ke tembok hingga hancur.
__ADS_1
"Kau masih emosi seperti itu. Yang bisa kita lakukan adalah mengunggu hasil dari anak-anak itu. Ini bukan misi sebenarnya untuk mereka, tapi ini perkenalan agar mereka tahu apa yang akan dihadapi di masa depan," tutur Fox.
Kaisar mengehela nafasnya. Ia menatap Fox dengan sorot tajam mata emasnya. "Benar, mereka harus lulus dalam ujian pertama ini."