
Bau buku lama masuk ke hidungku. Bercampur dengan bau kayu lapuk. Serpihan debu melayang ke sana kemari, dan terlihat jelas saat terkena cahaya. Hanya perpustakaan ini yang tak terkena sentuhan bangsawan. Masih nampak kuno dan berantakan. Kudengar perpustakaan tak pernah di renovasi karena takut jika ada buku yang hilang, dan akan sulit di temukan. Jadi selama 1000 tahun, semua buku tetap sama di tempatnya. Dan buku baru di letakan di tempat lain. Di pojok perpustakaan, tempat buku-buku lama, di mana buku-buku terlihat berserak, di sanalah tempat tersepi dan tertenang yang kutahu.
"Bagaimana jika kita periksa kastil selatan?" Cetus Vim.
"Bukannya itu dilarang?" Balas Seren.
"Benar, tapi kudengar di sana tempat tersimpan Nox. Saat bulan purnama gerbang akan dibuka. Saat itu kita akan menyusup."
"Gerbang?"
"Entahlah aku membaca buku ini." Vim terkekeh sambil menunjukkan buku yang ia baca.
"Zion bagaimana?" Seren menatapku.
Aku mendengus kencang, dari tadi bersandar di tumpukan buku bukan hal yang bagus. Barusan saja ada satu buku yang jatuh ke kepalaku. Aku memikirkannya rencana Vim yang memang cukup gegabah, tapi jika berhasil pekerjaan kami akan selesai.
"Gerbang pembatas antara kastil selatan, dan tempat rahasia di sana," desasku.
"Wah kau tahu juga, jadi bagaimana?" Vim mengedipkan satu matanya.
"Kau gila, sekarang adalah bulan baru. Jadi masih perlu sekitar dua minggu sampai bulan purnama."
Seren menatapku dengan lesu. "Tapi bagaimana melewati para Dwarfs?"
"Kutukan Nox."
"Dwarfs akan tertidur dari jam 12 malam sampai 1 malam. Tapi untuk sekarang, hanya beberapa Dwarfs yang masih terkena," Vim melanjutkan perkataanku. "Walau begitu kita bisa tangani," lagi-lagi dia berkata terlalu percaya diri.
"Hachiim!" Suara bersin kecil terdengar dari balik rak.
Kami langsung panik, itu berarti ada yang mendengar pembicaraan tadi. Seren dan Vim menatapku dengan tajam, meminta perintahku agat langsung menyerang. Tapi tidak kuturuti langsung. Aku mengendap dan berjalan pelan, mengintip dari balik rak, melihat siapa yang ada di sana.
Mataku terbelalak saat melihat Elf berambut putih duduk di bawah, dengan tampukan buku sebagai alas duduk, dan kanan kirinya juga terdapat tumpukan buku. Dia tampak tenang dan fokus pada buku yang ia baca. Tapi dari tempatnya itu, dia pasti bisa mendengar biasanya.
__ADS_1
Aku mengeluarkan belati dari balik bajuku, dan kuhunuskan ke dia. Dia melirikku, wajahnya tampak datar, tak terlihat takut atau panik. "Sedang apa kau?" Tanyaku.
"Hmm… Membaca?" Dia menunjuk bukunya.
"Kau dengar semua? Katakan sejujurnya sedang apa kau di tempat seperti ini?"
Atarah menghela nafas. Dia menunjukkan sampul bukunya, mambuatku terbelangak. "Hanya di sini aku bisa membaca buku ini. Lagipula aku tidak tertarik dengan yang kalian bicarakan."
"Itu, buku dari luar Wishland…," Sahutku.
Ku masukan lagi belati itu ke dalam baju. Kutatap Atarah, dia nampak tenang, seperti yang dia katakan itu benar. Tapi buku yang ia bawa, itu jelas bukan dari Wishland. Bahasa latin, hanya manusia dari dunia luar yang memakainya. Aku pernah menemukannya saat di perpustakaan Ethopia. Sekarang semua menggunakan bahasa Alan atau di daerah tertentu bahasa Nyx. Bahkan bahasa asli Wishland hanya digunakan pada daerah pelosok. Bahasa luat Wishland seperti bahasa kuno yang sudah lama punah.
"Kau bisa membacanya?"
Dia menyengir. "Tentu, mau kubacakan. Ceritanya menarik, tentang tragedi komedi yang di jadikan perumpamaan cinta sejati. Aku bingung harus sedih atau ketawa," dia terkekeh.
"Jadi kau benar-benar bisa membacanya. Bagaimana bisa, itu bahasa kuno yang lama hilang."
Aku mendengus keras. "Aku tidak ingin belajar bahasa para pengecut itu." Karena Manusia yang takut, mereka pergi keluar dari Wishland. Para pengecut itu pasti menggunakan bahasa itu.
Atarah langsung berwajah muram. Ia menutup bukunya, dan menaruhnya di tumpukan lain. "Kalau begitu jangan ke area ini, semua buku di sini dari luar Wishland." Atarah membalik badan, dan pergi meninggalkan tempat ini.
Tak lama Vim dan Seren mendekatiku. Mereka menatap Atarah yang berbelok dari tempat ini. Vim menyenggol bahuku, lalu manaik-naikan aslinya. Membuatku jijik melihatnya. Aku pun langsung memukul belakang bahunya. Dia menjerik keras.
"Apa tidak apa kita biarkan dia?" Tanya Seren.
"Saat ini awasi saja dia."
#
Aku menatap buku di mejaku. Itu bukan bukuku, sepertinya Dwarfs salah menempatkan buku. Aku menghela nafas, dan melinguk ke sana sini. Semua tampak tenang. Tidak ada yang seperti tertukar buku. Apa mungkin dari kelas sebelumnya.
"Maaf sepertinya itu buku saya," suara halus itu berasal dari belakangku.
__ADS_1
Aku langsung membalikkan badan, dan kulihat gadis berambut coklat ikal dengan warna mata sama. Dia tersenyum ramah padaku dengan bibir mugil merah jambu. Sambil menyodorkan buku milikku. Kuberikan buku tadi padanya, dan kuambil bukuku.
"Terima kasih, perkenalkan saya Xylia Frassia," ujarnya dengan tersenyum ramah.
Sekilas aku melihat Atarah menatap kearah Xylia saat menyebutkan namanya. Tapi ketika Xylia menatap ke arahnya, dia langsung memalingkan wajah.
"Saya Zion Kenneth."
Matanya melebar, "Namamu seperti tak asing. Apa kita pernah bertemu?"
Frassia, kalau diingat itu nama keluarga kerjaan di Svarga. Apa jangan-jangan orang ini….
Aku menghela senyum. "Entahlah, mungkin anda tidak sengaja mendengar nama saya di sini."
Xylia terkekeh. "Mungkin."
"Tuan putri!" Seseorang memanggilnya. Dia melingkuk menatap sepasang pria berbadan tegap dengan rambut merah.
"Sepertinya saya dipanggil, senang bertemu dengan anda," pamitnya.
Aku mengangguk. Benar saja yang kuduga, dia tuan Putri. Svarga dulunya menganut sistem demokrasi mengikuti dunia luar Wishland. Tapi sejak gerbang keduanya di tutup, seorang bernama Varrelio Frassio mengambil alih, dan menjadi raja pertama di Svarga. Kekuasaan diperkuat dengan statusnya sebagai tunangan Violet Garnde, ratu Ethopia, walau sampai akhir hayat mereka tidak pernah menikah. Kekuasaan Svarga di lanjut oleh anak dari adik Varrelio. Tidak kusangka dia satu kelas denganku. Sepertinya aku harus lebih memperhatikan sekitar. Dimulai dari Atarah.
Aku menatapnya beberapa saat, lalu berjalan mendekatinya. "Sepertinya kau menatapku tadi," ujarku sambil menyengir.
"Sepertinya kau punya teman seorang putri, kenapa kau berbicara padaku. Padahal sebelumnya kau ingin membunuhku dengan belati," jawabnya dengan sorot mata ke arah lain.
"Kita melakukan kesalahan bukan di masa lalu."
Akhirnya dia menatapku, tapi dengan ekspresi itu. "Kau bukan sedang mengawasiku bukan?" Tanyanya. Aku menyengir, entah kenapa gadis ini cukup menarik. Aku terkekeh didepannya, membuat sengirannya memudar.
"Aku ingin memastikan kau itu musuh, atau yang lain," jawabku. Aku gantian menyengir lebar, dengan tatapan tajam padanya, persis seperti ekpresi yang ia buat.
Dia mendengus keras. "Lihat saja nanti."
__ADS_1