
Aku tersenyum melihat pedang-pedang yang mengarah padaku. Rasanya sudah lama aku tidak bertindak seperti penjahat. Tatapan mereka tampak tajam padaku. Aku melirik satu per satu, mereka semua orang-orang yang mengawasiku belakangan ini. Sepertinya akan terjadi kesalahpahaman besar.
"Lalu apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Zion dengan seringan di bibirnya.
"Mengambil barang milikku?" Kutunjuk pedang yang kupegang.
"Tidak ada benda milikmu di sini. Kau pasti puncuri," sahut tuan putri berambut cokelat itu. Tidak kusangka aku bertemunya seperti ini.
"Kau anggota BS bukan?" Tanyaku padanya. Dia terkejut aku mengetahuinya. Pedangnya semakin mendekatiku. "Tujuan kalian sama, kenapa tidak bekerja sama saja menemukan target."
"Kau bercanda? Kaulah target kami," seru pemuda berambut pirang, Vim Freyja.
Kenapa aku bisa tahu nama mereka. Benar-benar kekuatan yang merepotkan. Hanya melihat mata seseorang aku bisa tahu nama, dan latar belakang orang itu.
"Aku bukan Terget kalian. Aku tidak bisa bilang aku teman kalian juga," aku berdecak kesal. Sulit menjelaskan sesuatu di posisi seperti ini. "Hei bayangan sialan, keluar kau!" Teriakku.
Gumpalan asap hitam keluar dari cahaya bulan yang kini kembali seperti semua. Padahal cahaya bulan merah sangat indah. Kenapa harus kembali seperti semula. Xylia dan Enver langsung menjatuhkan pedang mereka, keduanya lalu berlutut, sambil menunggu asap itu berubah menjadi manusia.
"Anda bukannya tuan Fox?" Tanya Zion dengan nada ragu.
"Senang anda mengingat saya, anda lebih tinggi dari yang kuingat tuan Duke," ujar Fox sambil menunduk hormat.
Sistem dunia ini sudah hancur, kenapa Fox harus menunduk hormat pada anak berusia 16 tahun. Ini yang membutku inginku ingin kembali.
"Kau sepertinya kesulitan Atarah?" Tanya Fox.
"Dasar bayangan sialan, kau tidak menjelaskan pada anak ini," tunjukku pada dua orang yang sedang berlutut. Mereka langsung mengangkat kepala dan menatap ku dengan dengki.
"Jika kau berkata tidak sopan pada tuan Fox, aku akan membunuhmu," seru Enver dengan nada mengancam.
Aku tersenyum padanya, lakukan saja, bunuh aku sekarang. Karena setelah itu aku akan bangun dengan tubuh baru. Sepertinya yang sudah kulakukan berulang kali sebelumnya.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu, kau yang akan mati di tangannya." Fox menatap Zion. "Dia bukan targetmu, jadi masukan pedangmu."
Aku sampai lupa pedang mereka masih mengarah ke leherku. Harusnya mereka langsung memenggalkun tadi. Oh iya aku yang memanggil Fox itu sebelum kepalaku di penggal. Mereka menurut, dan memasukan pedangnya ke tempat semula. Aku mendengus kencang. Ku tatap mata zambrud Zion, ada kata-kata yang ingin diungkapkan padaku, tapi sepertinya dia tahan.
"Pesan dari kaisar, misi ini sangat berat untuk kalian bertiga. Jadi Xylia dan Enver akan bekerjasama untuk menuntaskan misi ini."
Zion menyengir, pasti dia punya percaya diri yang kuat untuk menyelesaikan misinya sendiri. Tapi mana mungkin dia menolak. "Baiklah jika itu perintah kaisar." Sorot matanya, itu bukan tanda senang.
"Lalu untuk orang ini," Fox menunjukku. "Kalian sepertinya jangan mengganggu urusannya. Biarkan saja dia."
"Anda baik sekali tuan," ujarku sambil tersenyum lebar.
Fox hanya terkekeh. Dia langsung berubah menjadi asap dan menghilang begitu saja. Cepat sekali, dan seperti tak merasa bersalah meninggalkanku dengan situasi seperti ini. Dia pasti sangat muak denganku, sampai seperti itu.
Sebuah tangan menggenggam lengannku, aku menoleh, dan itu Zion yang menyengir dan menatapku dengan tajam. Sepertinya dia meniru ekpresiku.
"Sepertinya kita akan bekerjasama. Kalau begitu bagaimana minum teh lagi besok?" Ajak Xylia.
"Terserah kalian, kami tidak boleh mengganggunya," jawab Enver.
Xylia menarik keraj bajunya. Memperlihatkan tato lambang BS dirinya. "Perintah adalah mutlak. Jadi selamat malam." Sahutnya sambil tersenyum lebar.
#
Menara jam menuju jam 2 pagi. Di saat seperti ini aku merindukan tidur yang nyenyak. Alih-alih membawaku ke kamarku, aku malah di bawa ke kamar lain. Memang kamar ini sangat mewah, ini pasti kamar VIP di Whisley. Tapi aku tidak bisa tidur jika tiga orang itu tidak mengizinkanku.
"Lalu kenapa kau curi pedang itu?" Tanya Zion dengan serngiran itu. Membuatku ingin menamparnya.
"Ini milikku," jawabku. Kuhela nafas. "Bukannya sudah kukatakan tadi."
"Kastil selatan adalah tempat terlarang. Barang-barang di sana sudah ada bahkan sebelum perang besar terjadi. Itu berarti semua pemiliknya sudah mati ratusan tahun yang lalu," tegas Seren.
__ADS_1
"Aku siap menggores luka di kulitnya," lanjut Vim yang sedang memainkan belati.
"Tidak perlu, dia sudah punya." Zion menatap luka di tanganku. "Kalian kembalilah ke kamar. Akan masalh jika kalian ketahuan di sini. Para Dwarfs sudah bangun sekarang."
"Tapi taun, orang ini," Seren menunjukku.
"Tuan Fox bilang dia bukan target kita. Dia tidak akan bohong. Kalian kembalilah. Aku bisa mengawasinya sendiri," ujar Zion. Akhirnya dia mengatakan hal yang jujur.
Aku melihat ekpersi kesal di wajah Seren dan Vim yang meninggalkan kamar ini. Jelas kehidupanku do Academy tidak akan setengah yang kubayangkan. Aku hanya tersenyum, mungkin aku tidak akan baik-baik saja besok. Aku benar-benar ingin kembali. Suara pintu terutup terdengar keras, dan Zion kembali menatapku dengan mata zambrudnya itu.
"Jadi kita lanjutkan pembicaraan kita," ujarnya.
Dia mendekatiku, ekpresinya membuatku ketakutan. Aku menutup mata saat dia duduk di sampingku, di sofa panjang ini. Tangannya memegang tanganku, namun berbeda dari tadi, dia tidak menggemanya seerat dan kasar tadi. Aku membuka mata, dan kudapati dia sedang mengobati lukaku. Cahaya keluar dari telapa tangannya, cahaya itu perlahan menghilangkan lukaku, hingga tak tersisa bekas.
"Kenapa aku menyembuhkanku?" Tanyaku. Aku menarik tanganku, ku sembunyikan di balik badanku.
"Kau bukan targetku. Walau kau pencuri."
"Aku bukan pencuri," aku menghela nafas kencang.
"Memangnya ada yang pencuri mengaku?"
Aku menatapnya dengan tajam. "Temanmu yang mengatakan, barang yang ada di sana sudah berusia ratusan tahun, dan semua pemiliknya semuanya tewas. Tapi satu hal yang harus kau tahu, tidak mudah mengambil barang di sana. Masuk ke sana saja sangat sulit. Lalu kau pikir ada pencuri yang dengan mudah masuk, dan membawa barang dari sana dengan selamat?"
Dia terkekeh. "Kudengar elf berumur panjang. Kau sudah berusia 500 tahun lebih?"
"Aku Half elf, dan umurku bahkan baru 17 tahun.Dan pedang ini milikku." Ku julurkan pedang itu padanya. Lalu perlahan pedang itu menghilang, seperti kertas yang terbakar. "Jadi lepaskan aku, besok ada pelajaran bu Phoite," ujarku sambil menyengir.
Dia meluruskan bibirnya, aku sepertinya tidak akan lepas dengan mudah. Dia akan masuk daftar orang yang tidak mau kutemui setelah ini. Dia benar-benar pemuda aneh. Tapi entah mengapa, situasi ini terasa familiar bagiku.
#
__ADS_1
Bagaimana aku lupa dengan semua itu. Aku seorang anak menyedihkan yang membenci semua orang. Lalu dibawa ke tempat di mana aku belajar sebuah keajaiban. Di sana aku tahu bahagianya pertemanan, dan hangatnya semua keluarga. Walau begitu aku meninggalkannya dan kabur sebagai pengecut. Dan saat aku kembali, aku sendiri di dunia ini. Yang tersisa adalah kenangan tentang cerita mereka yang menjadi pahlawan dunia ini.