
"Hujan lagi," keluh Vim. Tangannya menujulur ke luar jendela. Menampung butiran air yang jatuh.
Daripada memperhatikan hujan, aku lebih fokus pada seseorang yang duduk di anak tangga itu. Suasana di lorong ini memang sepi, para anak bangsawan pasti sibuk di kamar masing-masing, atau perpustakaan dan kelas, untuk ujian di awal musim panas. Jika mereka gagal, liburan musim panas mereka tidak akan berlangsung dengan lama. Bagaimana mungkin mereka yang biasanya pergi ke pesta dansa harus menghabiskan waktu di kastil tua ini.
"Hai tuan Zion," suara nyaring itu memanggilku. Aku melinguk, dan kulihat tuan putri Xylia tersenyum dan menghampiriku.
"Salam tuan putri," sahutku.
Dia terkekeh kecil. Vim dan Selen mendekatiku. "Kurasa tidak perlu formal. Kita berteman di Academy ini."
Padahal dia sendiri yang terus bersikap normal. Lalu aku tidak pernah menganggapnya teman. "Baiklah kalau begitu. Ada perlu apa Xylia?"
"Kalian tampak tidak sibuk, padahal sebentar lagi ujian. Bagaimana jika kita minum teh?" Ajaknya.
"Kami juga?" Vim menunjuk dirinya dan Seren.
Xylia mengangguk. "Lebih banyak teman seru. Aku tidak punya banyak teman di sini," jawabnya dengan senyuman. Matanya mengarah ke tangga. Hanya ada satu orang di sana. "Apa kau mau ikut?" Ajaknya pada orang itu.
Bola mata birunya menatap ke arah Xylia. Ketika sudah tahu siapa yang mengajaknya, Atarah tersenyum. "Tidak usah saya ada urusan." Dia menatap ke depan. Hujan sudah berhenti dengan cepat. "Sepertinya hujan berhenti, saya permisi dulu," lanjutnya.
"Baiklah, mungkin lain waktu."
Atarah hanya tersenyum. Dia berdiri, dan membungkukkan badannya, lalu berjalan keluar kastil, dan berbelok menuju arah taman. Sekilas aku melihat bagaimana dia ekpresinya berubah. Kurasa dia pergi bukan karena ada urusan, tapi dia berusaha menghindar. Tingkahnya tanpa sadar membuatku menyengir sendiri.
"Kalau begitu, ayo minum teh."
#
__ADS_1
Di Whisley ada hutan yang cukup lebat. Entah apa yang ada di sana, tapi jarang sekali ada yang cukup berani masuk ke sana. Sudah lebih dari 500 tahun hutan itu tidak tersentuh. Bahkan satu dahan pun tidak pernah di potong, kecuali patah terkena angin. Para Dwarfs tidak pernah pula masuk ke sana. Mereka seperti membatasi pekerjaannya dengan danau. Terlihat jelas hanya kastil dan taman yang dirawat dengan baik, selain itu tidak terlalu bagus.
"Hutan bisa saja menjadi tempat persembunyian yang bagus," seru Vim.
"Kalau begitu cek sana," tunjukku ke arah hutan. "Inikan hari Minggu, tidak ada kerjaan bukan."
Dia nampak kikuk dan menggaruk-garuk kepalanya. "Hmm sepertinya kita harus belajar untuk ujian. Kaisar pasti marah jika nilai kita jelek."
"Dia akan kesal jika dalam satu musim kita belum menemukan tanda-tanda Blackmoon." Aku terkekeh.
"Besok malam bulan purnama, apa kita harus pergi?" Tanya Seren. Itu yang di maksud mungkin kastil selatan.
Aku mengehela nafas panjang. Sejauh ini tidak ada cara lain selain itu. Kami sudah mengamati semua. Tapi tidak ada pergerakan yang mencurigakan. Kurasa tidak ada salahnya jika dibilang aku kurang bergaul. Tapi aku bisa satu udara dengan orang-orang itu saja sudah cukup berat.
"Ayo kita ke sana."
#
"Para Dwarfs sudah tidur. Waktu kita sekitar 1 jam," ujar Seren.
"Kalau begitu ayo bergegas."
Melewati lorong akan sangat memakan waktu. Dan kami bisa saja berpapasan dengan Dwarfs yang tidak tekena kutukan. Kami harus keluar jendela, dan merayap, melompat, dari tembok dan atap kastil. Menggunakan jalur atas lebih cepat dari pada lorong yang berkelok-kelok. Melompat dari tempat tinggi sudah biasa bagi kami. Bahkan aku selalu duduk di atas atap rumah-rumah kota. Benar saja, tak perlu waktu lama kami sampai di area kastil selatan. Kami masuk lewat salah satu jendela di sana. Dan tepat lurus di depan kami adalah pintu pembatas tempat terlarang itu, kastil selatan.
Dari kejauhan seseorang mendekat, aku langsung bersembunyi di balik tembok. Begitupun Seren dan Vim. Orang itu bukan Dwarfs, dia memakai seragam Whisley, tapi kepalanya tertutup tudung. Dia berjalan menuju pintu kastil selatan.
Aku sempat mendengar sebuah kalimat dari mulutnya, itu seperti mantra menggunakan bahasa asing. Dan dengan jelas kulihat pintu kastil selama terbuka. Padahal pintu itu tersegel, hanya orang-orang tertentu yang bisa membukanya. Kepala Academy sekarang pun belum tentu bisa. Ketika dia membuka gagang pintu, dia sempat menghadap ke belakang. Dia pasti merasakan ada seseorang yang sedang mengawasinya. Untungnya aku bergerak cepat, dan sepenuhnya menyembunyikan diriku dengan tembok ini.
__ADS_1
Suara pintu tertutup, aku segera berlari mendekati pintu itu. Langsung ku pegang gagangnya. Pintu ini tidak terkunci. Entah dia lupa atau sengaja agar bisa keluar dengan mudah, tapi intinya sekarang kesempatan kami.
Kami langsung masuk ke dalam. Yang pertama kami temui hanya lorong panjang yang gelap gulita. Juga cahaya yang mulai hilang di ujung lorong. Suara langkah juga terdengar menggema. Pelan-pelan kuikuti cahaya dan suara langkah itu. Seren sudah memberi mantra, agar suara langkah kami tidak terdengar. Dengan itu kami bisa mudah mengendap tanpa ketahuan.
Cahaya itu menuntunku hingga sampai di sebuah altar yang sangat besar. Ada banyak lorong memutari altar bundar di bawah. Dengan dua tangga utama sebagai jalam menuju ke bawah. Orang itu memadamkan cahanya, dan berjalan pelan menuruni anak tangga. Aku bersembunyi di balik kegelapan. Vim ingin meringkusnya sekarang juga, tapi aku berusaha menahannya. Aku ingin melihat dia sedang apa.
Dari seragamnya, dia adalah seorang wanita. Dia berjalan menuju tengah altar. Tangannya terangkat hingga lurus sama dengan bahunya. Ada kata-kata yang dia teriakan hingga sebuah lingkaran sihir muncul memutaranya. Tidak hanya satu lingkaran, banyak hingga memenuhi area itu. Bahkan cahaya bulan Yang masuk ke sini berubah menjadi merah. Ketika sinar merah memapar wajahnya, sekilas aku melihat senyum yang tidak asing bagiku.
Dia mengeluarkan sebuah belati dari sakunya, lalu menggores tangannya, hingga darah mengalir. Dari yanh mengalir itu ia arahkan mengelilinginya. Membentuk lingkaran dengan tetesan darah. Darahnya yang jatuh itu langsung menguap, dan mengumpul ke satu titik.
Criiiing…
Cahaya yang sangat menyilaukan muncul. Dari bawah altar muncul sebuah pedang berwarna perak. Cahaya muncul dari sana. Orang itu menggenggam pedang itu, dan bersamaan dengan itu lingkaran sihir menghilang. Ini saatnya kami menyerang.
Kami turun ke bawah, kuhunuskan pedangku ke arah orang itu. Begitupun Vim dan Seren. Namun ada hal yang membuatku terkejut. Mataku terbula lebar, menatap dua orang yang juga keluar dari persembunyiannya. Mereka juga menghunuskan pedang ke arah orang itu, entah mereka teman atau musuh, tapi target kami sepertinya sama.
"Sepertinya target Kita sama,"ujar Xylia.
Aku menyengir. "Kami mengincar Blackmoon."
"Begitupun kami."
"Sepertinya ada kesalahpahaman," seru orang itu. Suara orang itu terdengar tidak asing bagiku. Senyumannya tampak familiar.
Surut matanya merah, aku belum pernah melihat mata merah sebelumnya. Tidak banyak orang yang memilikinya sekarang. Perlahan dia menarik tudung yang ia pakai. Membuatku sekali lagi terkejut. Rambut putih dan telinga elf itu, bagaimana bisa aku melupakannya. Bahkan saat ini dia memaparkan ekpresi itu, senyumam dan tatapan dinginnya. Hanya saja bola matanya kini berwarna merah.
"Aku bukan anggota Blackmoon," lanjutnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.
__ADS_1