Arsip

Arsip
13


__ADS_3

Seorang wanita berambut putih panjang, dengan mata merah berjalan di lorong kastil berwarna putih. Gaun putihnya bergerak mengikuti setiap langkahnya. Kulit putih bersihnya seperti bersihar di terpa lampu-lampu. Seorang pelayan mendorong pintu besar, di mana dalam ruangan itu terdapat seorang pemuda yang sudah menunggu. Pemuda itu langsung bertekuk lutut ketika mengetahui wanita tadi datang.


"Salam yang mulia!" seru Zion.


Wanita itu menatap Zion dengan tajam. Melihatnya dari ujung kaki sampai wajah. Dia melipat kedua tangannya di depan dadanya. Terdengar suara helaan nafas berat darinya.


"Kau sama sekali tidak mirip dengan Kyler," ujarnya. "Tapi kau sangat mirip dengan wanita itu." Yang di maksudnya adalah Ibu Zion.


Zion hanya diam. Lagipula apa yang perlu dia jawab. Lebih baik diam karena menjawab hanya akan membuat emosinya muncul. Zion sangat sensitif jika ibunya disebut. Walau itu oleh orang yang berstatus tinggi darinya. 


"Jangan khawatir, aku tidak akan memerintahkanmu memburu. Karena Ibu Gaia akan langsung menenggelamkanku karena itu. Tapi ini juga bukan tugas Grand Duke. Ikuti aku!" Pintanya.


Zion berdiri, dia berjalan mengikuti wanita itu tepat di belakangnya. Ia keluar dari ruangan tadi. Lalu melangkah pada lorong panjang berwarna putih. Warna putih dominan di sini. Bahkan bunga-bunga yang ada di taman juga berwarna putih. Mulai dari batang, daun, dan bunganya sendiri. Wajar saja tempat ini dinamakan kastil putih. Tempat yang dianggap suci.


Wanita itu berbelok. Dari kejauhan terdengar suara senandung kecil yang bergema di lorong itu. Suara nyanyian merdu, tapi dengan nada sedih yang menyayat hati. 


"Kapan kita bisa bersama, hanya dengan bersamamu aku bisa tertawa. Tapi waktu telah merebut segalanya. Dirimu menghilang, dan tersisa hanyalah bayanganku."


Nada itu terdengar sangat indah. Samar-samar dari sela pilar, terlihat seorang gadis duduk di sebuah pilar patah pada reruntuhan kastil. Kastil ini pernah hancur sekali. Dan dari pada memperbaikinya, bangunan yang hancur dibiarkan, dan bangunan baru didirikan. Kibaran rambut putih terlihat.


"Pada hari itu aku sangat bahagia, sampai saat ini aku masih mengingat baiknya dirimu. Namun jika ku ingat lagi, kau sudah tidak ada di sini."


Lagu itu semakin terdengar menyesakkan ketika didekati. Zion menghentikan langkah, dia terbelangak ketika tahu siapa yang menyanyikannya. Telinga Elf itu sangat ia kenali. Dia berhenti bernyanyi, saat Zion melihatnya begitu. Dari atas runtuhan pilar itu,ia berdiri dengan kaki telanjang. Ia mengenakan gaun purih pendek, dengan wajah sedikit riasan berbeda dari biasanya. Dia menatap Zion dengan bingung.


"Perkenalankan dia putriku, Atarah Iskra," ujar wanita itu.

__ADS_1


Tentu saja Zion terkejut. Apalagi mengetahui siapa yang berkata seperti itu. Frassia Valeria adalah salah satu dari 3 orang yang dibuat abadi, dia sama seperti Fox. Mengatakan dia memiliki seorang anak, itu tidak mungkin. Karena Frassia sama halnya seperti jiwa yang berjalan. Dia tidak mungkin bisa memiliki anak, itu setidaknya yang orang lain tahu.


Atarah turun, dia tersenyum sambil menatap Zion dengan tajam. Ekpresi yang selalu membuat Zion kesal. Ia lalu membungkuk, memberi hotmat ke arah Zion, gerakannya sangat anggun, seperti putri yang telah dididik dari kecil.


"Kalian satu kelas bukan, kuperhatikan kau untuk melindungi putriku," pintah Valeria.


"Apa!" Ucap Zion dan Atarah serentak. Mereka lalu saling menatap, dari rautnya mereka tidak percaya harus menuruti hal itu.


"Maaf yang mulia atas ketidak sopanan saya,…."


"Aku bisa melindungi diriku sendiri. Kau lupa siapa aku?" Ujar Atarah dengan nada angkuh. Atarah memotong ucapan Zion. 


"Karena aku tahu, itu sebabnya aku perintah itu."


"Aku bisa melindungi diriku dengan baik. Lagipula apa yang perlu kukhawatirkan." Atarah tahu walau dia mati, dia akan hidup kembali walau dengan tubuh lain.


Zion mendekati Atarah. Ia menampakkan senyum mengejek pada Atarah, entah apa maksud senyum itu. Atarah mengabaikannya, dia menghela nafas dan langsung melompat kembali ke atas pilar tadi. 


"Dia sepertinya sangat menyayangi mu," ujar Zion. Zion melompati dan duduk di samping Atarah.


"Tidak, dia menyayangi putrinya."


"Bukannya itu sama saja." 


Bagaimana Atarah menjelaskannya bahwa itu tidak sama. Dia bisa tetap hidup walau tubuh ini, tubuh Atarah mati. Dia yang sekarang hanyalah sebuah jiwa yang menempati wadah tidak berpenghuni, dia menggunakan nama wadah itu dan menjalani kehidupannya walau tak semuanya. Atarah memang anak dari Frassia Valeria dengan hubungan dengan seorang Elf. Valeria bukan lagi manusia, dan Elf itu memiliki sihir alam yang besar. Itulah sebabnya anak mereka lahir bukan dengan proses alami, anak itu bahkan hanya bertahan pada usia 1 tahun. Saat itulah, dia yang berwujud jiwa memasuki tubuh anak itu, menghidupkannya walau dengan orang lain. 

__ADS_1


Valeria tahu siapa orang yang memasuki jiwa anaknya. Namun sebagai seorang ibu dia tidak bisa melepaskan tubuh anakanya pergi begitu saja. Setidaknya dia ingin melihat anakanya tumbuh dewasa, walau jiwa di dalamnya adalah orang lain. Kaka tahu hal itu, itulah dia memakai nama Atarah sekarang, dan terkadang berperan menjadi anak, walaupun sebenarnya Kaka dan Valeria adalah teman di masa lalu. Walaupun orang lain mengatakan jangan ikut campur dengan urusan Kaka, hanya Valeria yang terus-menerus ikut campur dan memastikan tubuh Atarah masih utuh. 


"Sekarang aku paham kenapa kau menatap putri Xylia seperti itu. Hubungan keluarga yang rumit. Sepertinya Xylia tidak tahu kau anak dari Frassia Valeria," ujar Zion.


"Tentu saja, akan rumit nanti."


"Kenapa harus aku yang menjadi pengawalmu?" Keluh Zion. Dia menghea nafas berat.


"Itu karena kau menyembuhkan lukaku waktu itu. Wanita itu mengirim banyak mata-mata disekitarku tahu," jawab Atarah dengan ekpresi itu.


Zion membalasnya dengan senyuman dan mata yang menyipit. "Pertama kalinya aku menyesal menyembuhkan orang."


"Makannya kau abaikan saja aku, seperti yang kakek itu katakan." Ia menjerumus pada Fox.


"Apa karena kau anak dari Valeria, makanan tuan Fox mengatakan itu."


"Andai cuma itu, apa Fox peduli pada anak seorang ratu atau kaisar?" Zion mengangkat kedua bahunya. "Tentu dia tidak akan peduli."


"Jadi kau lebih dari seorang putri?" 


Atarah mengangguk. "Jika kau berada di dekatku kau akan paham, bahwa seluruh Wishland akan berusaha tidak ikut campur dengan segala yang kulakukan. Wanita itu hanya peduli dengan tubuh ini. Dia tidak peduli dengan yang di dalamnya," jelas Atarah.


Zion terkekeh. "Aku juga tidak mau selalu berada di samping orang sepertimu."


Mereka saling menatap, dan memaparkan senyuman satu sama lain. Bukan senyuman dalam arti baik tentunya. Setiap orang di sekitarnya pasti akan merasakan aura lain, seolah bendera perang dikibarkan. Senyuman yang berkata 'Jangan ganggu aku' dan 'menjaulah dariku'.

__ADS_1


#


__ADS_2