Arsip

Arsip
14


__ADS_3

Hari itu aku masih berusia 6 tahun, saat Valeria mengunjungiku ke tempat nenek. Dia menatapku dengan mata sedih. Aku mendekatinya dengan senyuman, tapi bukan senyum pada ibuku, melainkan pada teman yang sudah lama tak kutemui.


"Kau ingin melihat anakmu sampai berapa lama Sia?" Tanyaku.


"Jadi benar, kau Kaka," ujarnya, aku hanya tersenyum membenarkan ucapannya. "Sampai dia berusia 17 tahun, jangan kau rusak tubuhnya. Jadilah anak baik," lanjutnya.


Itu berarti aku harus menemukan cara untuk keluar dari tempat ini sebelum umur 17 tahun. Dan mulai bergerak saat mendekati umur itu. Aku bisa melakukan apapun dengan tubuh Atarah saat dia sudah berumur segitu, sampai itu aku harus bertingkah sebagai anak yang baik. Sama saja, aku tetap sendirian di sini.


#


Zion melompat ke atap salah satu gedung. Aku mengikutinya dengan teleport. Ini adalah salah satu gedung tertinggi di kota Ethopia. Kota ini dari atas seperti Paris pada tahun 90 an. Aku pernah melihatnya di majalah dulu. Jika ada menara Eiffel, pasti sama persis. Hanya saja tidak ada mesin tenaga uap di sini. Untuk apa mesin jika sihir lebih praktis daripada itu.


"Bukankah anak berusia 16 tahun dilarang menggunakan sihir teleportasi?" Ujar Zion yang duduk di atas atap.


Aku berjalan dan duduk di sampingnya. "Jika aku yang menggunakannya, tidak ada yang melarang," jawabku bangga.


Zion mendengus. "Lalu kenapa kau malam-malam seperti ini keluar Nona?"


"Kenapa tuan memanggilku Nona, saya bukan bangsawan." Aku terkekeh di akhir kalimat.


Dia menatapku dengan tajam, seperti ingin mbunuhku. "Karena saya diperintahkan untuk melindungimu."


Aku menghela nafas panjang. "Huft rakyat biasa dilindungi oleh seorang duke yang juga anak kaisar. Agak aneh terdengarnya."


"Kau tahu banyak tentangku apa dari Nona Valeria?"


"Tidak, aku tahu sendiri." Mana mungkin kukatakan, aku tahu semuanya saat melihat matanya. Ini bukan kekuatanku, tapi milik Atarah sendiri.


Mataku menuju ke hutan kecil yang berada di ujung pulau. Suku merah sudah pergi dari sana sejak Nyx bangkit. Anak yang bersama putri Xylia, Enver, dia pasti keturunan suku merah. Apa lampu itu masih ada di sana? Apa aku bisa bertemu Alan lagi disitu? Aku tidak lagi bertemu Alan sejak kembali ke Wishland.


"Bukankah kau membenci para bangsawan? Padahal kau sendiri bahkan memiliki darah kaisar," ujarku memecah keheningan.


Dia mendengus keras, apa dia selalu seperti itu. "Mereka hanya orang yang mementingkan kekuasaan dan uang. Jangan samakan aku seperti mereka. Lagipula menjaga seorang anak haram keluarga Frassio bukan pekerjaan Duke," cibirnya, tekanan dari cara ia bicara menandakan dia tidak suka denganku.

__ADS_1


"Jangan khawatir, ini hanya sampai liburan musim panas. Kurasa tidak juga. Sebentar lagi aku akan ulang tahun."


"Itu bukan isyarat untukku bukan?"


Aku menatapnya dengan tajam, dan tersengir. "Kau menjauh dariku adalah hadiah luar biasa bagiku."


Dia tersenyum, lalu memegang tanganku, aku tidak sempat memberontak, tanpa kuizinkan dia langsung mencium punggung tanganku. "Dengan senang hati Nona."


Entah mengapa aku merasa geli melihatnya, kutarik tanganku, dan menyembunyikannya di balik kain gaunku. Kupalingkan wajah darinya.


"Jangan lakukan itu lagi, aku membencinya."


Aku mendengar suara glagak tawa, ku lirik ke arah Zion, dia tertawa terbahak-bahak. Sepertinya aku baru saja dijahili. Kupasang wakah ketus padanya, dan tidak mau menatapnya lagi. Suara tawanya entah mengapa terasa tidak asing bagiku. Seketika hatiku merasa gaduh, seperti merindukan seseorang. Aku seperti ingin menangis saja. Hatiku sejak berada di sini semakin lemah saja.


"Ngomong-ngomong lagu yang kau nyanyikan itu indah. Kau membuatnya sendiri?" Tanya Zion.


Aku mengangguk. "Terima kasih pujiannya. Tapi aku tidak akan memanfaatkanmu karena tadi."


"Apa itu untuk seseorang, kau seperti menyanyikannya dari hati."


"Untuk mereka yang meninggalkan aku sendirian sekarang. Itu alasan aku membuat lagu itu."


#


Perpustakaan Sololo, masih sama seperti ratusan tahun lalu. Tidak ada buku yang berkurang, justru malah bertambah. Kali ini aku bersama orang lain masuk ke perpustakaan ini. Kutatap Zion yang ada di belakangku, ia terus menatapku dengan sinis. Aku mengabaikannya dan terus berjalan. Sesekali ku melangkah lebih dulu, agar ada rak yang berpindah dan kami berpisah. Harus di ingat rak buku di sini berpindah setiap detiknya, dan buku yang kita butuhkan terbang menghampiri kita. Namun sia-sia, aku lupa kalau Zion adalah ksatria pedang yang dilatih oleh kaisar Albany.


Dua buah buku terbang, satu ke tanganku, dan satu lagi ke Zion. Aku terkekeh melihat wajahnya kebingungan saat buku itu sampai di tangannya. Namun kekehanku terhenti saat kulihat buku yang sedang ia pedang.


"Apa kau bisa membaca buku itu?" Tanyaku yang berjalan mendekatinya.


Dia menggeleng. Lalu menyengir padaku. "Sepertinya salah. Lagipula aku sedang tidak ingin membaca buku."


Itu bukan buku dari Wishland, tapi luar Wishland. Buku dongeng anak, Red Riding Hood and The Wolf. Aku paham kenapa buku itu terbang ke arah Zion.

__ADS_1


"Kau memikirkan tentang Devil kan?"


Matanya melototiku, berarti perkataanku benar. Aku tersenyum, dan kuambil buku yang ia pegang. Ku buka salah satu halaman, yang terdapat gambar seorang gadis berkerudung merah berhadapan dengan srigala.


"Devil memakai kerudung merah dan bertopeng srigala. Jika kau bisa membacanya, srigala dalam cerita memakan nenek si kerudung merah, lalu menyamar sebagai nenek agar bisa memakan si kerudung merah, diakhiri cepat kerudung merah berhasil membunuh sang srigala. Ironi ini dongeng anak di luar Wishland."


"Itu tragedi berdarah, bukan dongeng," dia tertawa kecil.


"Tragedi komedi di anggap sebagai contoh cinta sejati. Sedangkan tragedi berdarah dianggap sebagai contoh keberanian. Seperti itulah dunia di luar Wishland yang kau anggap tempat para pengecut."


"Devil berasal dari tempat itu kan?" Tanya Zion dengan senyum percaya diri.


Aku menghela nafas, dan tersenyum. Kukembalikan 2 buku tadi ke raknya. Keinginanku untuk membaca sesuatu langsung hilang. "Anggap saja itu Pr untukmu. Ayo kita pergi."


Ketika aku melangkah pergi, Zion langsung memegang lenganku, mengehentikaku. Aku berbalik ke belakang, dan menatapnya. Dari matanya kutahu ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan padaku.


"Hanya satu, hanya satu dari banyak pertanyaanku. Bisakah kau menjawabnya dengan jujur kali ini?" Tanyanya dengan wajah serius.


"Apa maksudmu?" Aku pura-pura tidak tahu.


"Apa alasanmu menyuruh ku ke menara barat?"


"Bukannya agar kau tidak pulang dengan tangan kosong?"


"Aku yakin tidak hanya itu."


Aku menarik tanganku, genggamannya sangat erat, hingga membekas di kulitku yang putih. Apa yang harus kukatakan padanya. Aku menyentuh pipiku dengan tangan, dan memiringkan kepala. Kuhela nafas panjang.


"Apa yang harus kukatakan padamu, sejujurnya aku hanya ingin bercanda agar kau menjauh." Kali ini aku mengucapkan yang sebenarnya. Aku menutupi bibirku dengan tangan, sorot mataku ke arah lain. "Yaa… Walaupun aku tahu Devil di sana."


Dia kembali menarik tanganku, kali ini lebih keras dari tadi, sampai tubuhku ikut terbawa. Ia lalu memojokkanku ke salah satu rak yang tidak bergerak di sana. Aku diam karena terkejut dia melakukannya secara tiba-tiba. Dia berdiri di depanku, tanganku masih ia pegang, membuatku tidak bisa pergi. Ia tersenyum dan menyipitkan mata, senyum bukan maksud yang bagus.


"Kau tidak bermaksud membunuhku kan? Seperti 20 murid itu."

__ADS_1


Aku menatapnya dengan tajam sambil tersenyum. "Jangan khawatir selama hidupku aku tidak pernah ingin membunuh seseorang. Aku dan Devil berbeda jauh."


__ADS_2