Arsip

Arsip
12


__ADS_3

"Ke Ethopia?"


Vim mengangguk. Mendengar hal itu Zion langsung berdecak kesal. Bukannya tugas Grand Duke mengurus wilayah atau yang lainnya. Kenapa dia harus berburu seperti para ksatria.


"Aku merasa ini agak aneh. Padahal anda anak dari kaisar. Bukankah daripada berburu, anda bisa jadi putra mahkota," lanjut Vim. Vim harus kembali berbicara formal, karena ini berada di area istana. Untuk sementara Zion tinggal di sana.


"Itu tidak mungkin," jawab Zion sambil tersenyum. Senyuman seperti sedang mengatakan hal kasar dan kotor. Itulah makna dari setiap senyum Zion.


"Kenapa?"


"Kau fikir kapan kaisar mati. Bahkan jika nanti aku punya cucu, kaisar hanya akan berkerut sedikit," lanjut Zion.


Dengan kata lain tidak ada anak kaisar yang akan menjadi putra mahkota, apalagi pengganti kaisar. Karena kemungkinan anak kaisar akan mati lebih dulu daripada kasiar itu sendiri. Perlu diingat, kaisar keturunan Elf yang bisa hidup ratusan tahun. Diusianya yang kurang lebih 50 tahun, dia terlibat seperti masih 25 tahun.


"Saya akan menyiapkan barang untuk ke Ethopia. Kita akan pergi dengan Griffin, lebih cepat dari pada jalur darat. Satu lagi, kita akan tinggal di kediaman Frassio di Ethopia," jelas Vim. Vim langsung bergegas pergi meninggalkan Zion.


Zion tersenyum pada Vim sampai dia pergi meninggalkanku kamar. Dia baru berhenti tersenyum ketika saat pintu tertutup kembali. Pikirannya hanyut ke arah lain. Perkataan salah satu anggota Blackmoon yang ia tangkap waktu itu. Dari yang ia katakan, Atarah jelas bukan Devil. Tapi dia tetap seseorang yang mereka katakan lebih berbahaya dari sosok Devil. Mereka tahu itu semua dari ketua, faktanya mereka belum pernah bertemu dengan Atarah.


Tidak hanya Blackmoon, bahkan Tuan Fox melarang seluruh anggota BS untuk berurusan langsung dengan Atarah. Jika Zion bertanya tentang Atarah pada Kaisar, pasti reaksinya akan sama. Daripada sosok Devil, Zion malah lebih penasaran pada Atarah.


Ethopia ya? Kenapa dia harus berburu ke sana. Blackmoon tidak mungkin bisa masuk ke sana. Karena ibu Gaia tidak membiarkan pengikut Nyx masuk ke sana. Dan lagi, kediaman Frassio. Hanya satu orang Frassio yang tunggal di sana, dia yang memimpin keluarga Frassio sejak 500 tahun lalu. Frassia Varelia, untuk apa dia menyuruh Zion yang sebenarnya anak haram datang kediamannya, padahal tempat tinggalnya di anggap suci bagi beberapa orang. Ini pasti bukan berburu seperti yang biasanya.


#

__ADS_1


Sebuah toko kelontong kecil yang berada di ujung persimpangan. Berbeda dari toko-toko lain di Ethopia, toko ini berdiri di bawah tenda. Dengan barang-baranh hanya sekedar di letakan pada kain, atau yang cukup bernilai di taruh pada rak yang bisa bongkar pasang. Penjualan menunggu di semua meja dengan banyak kertas untuk transaksi. Di dalam toko itu terdengar sebuah lagu yang sangat tidak asing bagi orang di luar Wishland. 'You are My Sunshine' itu lagu yang terdengar.


"Dari penjual makanan, sekarang kau menjual barang," ujar seseorang yang baru datang.


Zeaya menetap pelanggannya, begitu melihat sorot matanya, dia langsung mengenali siapa dia. Zeaya berdiri dan tersenyum ramah menyebutnya. "Selamat datang Atarah, itu namamu sekarang bukan?"


Atarah terkekeh mendengar kalimat itu. Ya, agak aneh saat ini juga dia di panggil dengam nama lamanya. "Apa ada barang pesanan sudah jadi?"


"Tentu akan kucarikan," sahut Zeaya.


Wanita berambut pirang itu berlari ke belakang rak. Dia mengambil sebuah kotak kayu, lalu kotak itu diletakkan ke atas meja. Atarah mendekatinya, matanya terbuka lebar saat Zeaya membuka kotaknya. Semua puas bersemi di bibir Atarah, dia tidak percaya benda ini benar-benar ada di Wishland.


"Bagaimana? Aku membuatnya sendiri." Zeaya mengedipkan satu matanya.


Pistol perak, dengan ukiran indah. Atarah meraba pistol itu dengan tangannya, dingin benda keras dan bau perak yang tercium pekat. Dia mengangkat pistolnya, lebih ringan dari yang ia duga. Dia menekan pelatuk, tidak ada apa-apa yang keluar, wajar saja ini pistol kosong.


"Tidak perlu," jawab Zeaya dengan nada senang. Atarah mengerutkam alisnya dan menatap Zeaya. "Peluru hanya membuang-buang bahan. Ingat ini dunia Wishland. Sihir lebih awet dan praktis kan?"


"Hmm, aku harus menggunakan sihir ya. Mantra atau sihir alam?"


"Kau bisa menggunakan keduanya. Fokuskan saya sihir pada pistolnya. Lalu door."


Atarah mengangguk, mengartikan dia paham dengan perkataan Zeaya. Dia lalu tersenyum, dan mengarahkan pistol pada Zeaya. "Bagaimana kalau kita uji coba di sini?"

__ADS_1


Pistol ditodongkan padanya, tapi Zeaya tenang dan tersenyum. "Silahkan, tapi jangan membuat kerusuhan di sekitar tokoku. Lagipula jiwaku abadi sepertimu," ujarnya sambil menatap Atarah dengan tajam.


Atarah tertawa terbahak-bahak. Dia meletakkan pistol itu ke dalam saku yang sudah ia siapkan di pinggangnya. Ia lalu meletakkannya satu kantung berisis koin ke atas meja. Zeaya menerimanya dengan senang, walaupun jasa yang ia berikan ini tidak harus di bayar dengan uang.


"Apa itu untuk berburu Devil?" Tanya Zeaya.


"Hmm, tidak. Hanya untuk bersenang-senang, hehehe."


"Baiklah, jika kau ingin berburu Devil datanglah ke sini. Aku punya barang yang tepat," tutur Zeaya dengan senyuman lebar.


Atarah menyengir melihat cara Zeaya tersenyum. "Untuk sekarang tidak. Kabari aku jika kau pindah tempat lagi."


"Baiklah, aku akan selalu ada di pihakmu."


#


Karangan bunga Atarah letakan ke atas sebuah batu. Terdapat sebuah nama yang sudah hampir pudar pada pahatan batu itu. Di antara yang lain, batu di sekitar sini tampal sudah usang dan terkikis. Wajar saja, mereka sudah ratusan tahun lalu meninggal.


Dengan mata berbinar, Atarah menatap lurus ke arah ukiran nama. Nama orang ini berubah sejak terakhir kali mereka bertemu. Saat pertama ke sini, dia hampir tersesat. Ada ribuan makam di sini, wajar saja. Kebanyakan dari mereka adalah para pahlawan yang berjuang melawan Nyx saat perang besar. Begitupun yang dikunjungi Atarah sekarang.


"Di antara yang lain, kau mati paling tenang. Menghabiskan sisa waktumu dengan orang-orang yang kau cintai, bagaimanapun rasanya? Kau tahu, aku sekarang sendirian di sini. Semua yang mendatangiku adalah mereka yang takut padaku. Kau bisa bayangkan bagaimana rasanya hidup di tempat asing seperti ini?" Gumam Atarah meluapkan semua perasaannya. Air mata mengalir dari salah satu mata Atarah. Dia langsung jatuh dan terduduk lemas. Tangannya meremas tanah berumput di tempat ia jatuh. Dengan tertunda, air matanya terus menetes. "Apakah aku kuat hidup seperti ini, tolong katakan Keke?" Lanjutnya Dengan suara kecil.


"Menangis di pemakaman orang lain bukankah itu aneh?" Tanya seseorang.

__ADS_1


Atarah terkejut, dan dengan respon cepat ia mengangkat kepalanya. Ia melihat ke arah sumber suara itu. Sorot mata Zambrud menatapnya dengan heran.


"Tidak menyangka kita bertemu di sini. Maaf sepertinya musim panasmu tidak setengah yang ku janjikan," ujar Zion sambil tersenyum pada Atarah.


__ADS_2