
Kastil yang sunyi, walau banyak yang berubah, tapi bebatuan tua yang membangun kastil ini tetap usam dan berwarna hitam. Setiap langkah di lorong pasti bergema. Entah apa alasannya, danau di tepi hutan tidak lagi pernah diurus. Tentu saja, dulu yang selalu membersihkannya adalah para murid. Sekarang tidak ada anak bangsawan yang mau membersihkan danau apalagi masuk ke dalam hutan.
Atarah masuk ke hutan kecil di pinggir Whisley. Ini masih ada di wilayah Whisley, sebuah tembok besar diujung ini adalah pembatas dengan hutan luas yang sesungguhnya. Atarah masuk dan berhenti di sebuah pohon besar yang ada di tengah hutan. Ia meraba dahan pohon itu, walau sudah ratusan tahun, pohon ini masih tetap sama. Kata pohon agak kurang pantas untuk yang satu ini.
Ketika Atarah mengelilinginya satu kali, sebuah lubang kelinci muncul di akar pohon. Atarah tersenyum menatap lubang itu, ia mengintip ke dalam, hanya ada kegelapan. Tanpa berfikir lama, Atarah merosot ke dalam lubang, seperti turun dengan seluncur. Saat ia berhenti, sebuah obor menyala otomatis. Menampakan sebuah ruangan kecil dengan rak kayu rapuh dan buku-buku tua, juga sebuah perapian yang di depannya terdapat tumpukan bantal di atas karpet tua. Debu di sini tak sebanyak yang Atarah bayangkan. Apa mungkin karena berada di dalam pohon. Seseorang pernah mengajaknya ke sini dulu, ini adalah tempat persembunyian mereka berdua.
"Apa benda itu ada di sini?" Gumamnya.
#
Sebuah bayangan hitam melompat dari atas kastil, menyelinap keluar dari kamar asrama, dan mengendap-endap. Zion sudah menunggu di atas salah satu menara tertinggi Whisley, Vim dan Seren juga berdiri di belakangnya.
"Apa kita benar-benar bekerja sama dengan mereka? Berburu ini kan keahlian kita," kelakar Vim.
Zion tersenyum dan menyipitkan mata. "Katakan itu pada kakek."
Vim langsung tercengir, ia lalu melirik Seren yang acuh melihat tingkahnya. Dari kejauhan dua bayangan hitam mendekat dengan cepat. Xylia dan Enver berlari mendekati mereka. Zion tidak menunggu mereka sampai ke tempatnya berdiri. Dia langsung melimpah ke bawah, dan menembus hutan. Vim dan Seren tentu mengikuti mereka.
Melompat dari satu dahan pohon ke pohon lain adalah permainan yang sering Vim, Seren, dan Zion lakukan. Mereka menggunakan sedikit sihir untuk bisa bergerak cepat, dari kecil juga mereka dilatih untuk tidak terlalu bergantung pada sihir. Sehingga tidak terlalu banyak mantra yang diingat ketiganya.
Mata Zion melirik ke salah satu pohon besar di tengah hutan. Berbeda dari yang lain, pohon itu tampak bercahaya. Namun ketika Zion memperhatikan lebih detil, cahaya itu berasal dari kunang-kunang yang menempel pada dahan pohon. Di musim gugur seperti ini jarang sekali terlihat kunang-kunang sebanyak itu. Zion mengabaikannya, dan langsung mendaki tembok besar yang sebagai pembatas antara Whisley dan luar Academy.
"Ah, aku mencium bau busuk," seru Xylia yang baru sampai. Bau busuk yang ia maksud adalah sihir gelap, sebagai dari anggota BS di latih agar bisa membedakan mana bau sihir biasa dan sihir gelap, juga Nox.
__ADS_1
"Lalu ke mana kita harus pergi?" Tanya Zion.
Sorot mata Xylia menyipit. Ia menunjuk sebuah hutan yang tertutup kabut cukup gelap. "Ke sana," tuntunnya.
Zion mengangguk, dan langsung turun ke bawah. Ia megenggam satu dahan dengan tangannya, agar bisa menapakkan kaki ke tanah dengan selamat. Matanya menuju pada Vim dan Seren. Membuat mereka kebingungan.
"Apapun yang terjadi, ingat utamakan keselamatan diri kalian sendiri. Jangan terlalu mengkhawatirkanku," ujar Zion.
Vim mengangguk dan tertawa kecil. "Tuan, tanpa kamipun kau bisa membunuh mangsa sendiri."
"Jangan khawatir, kami akan selalu bersama anda," lanjut Seren sambil tersenyum.
#
Kedua tangannya terpasuk jadi satu ke atas, yang membuat tubuhnya menggantung. Terdapat luka sayatan di seluruh tubuhnya, luka itu sudah membusuk lebih dulu sebelum anak ini mati. Sebab tubuhnya yang lain masih terlihat segar di banding dengan luka-luka itu. Bisa di bayangkan betapa menderitanya anak ini. Darah menetes dari tubuhnya, mengalir di atas tiang kayu itu. Namun bukan darah berwarna merah, tapi hitam.
Xylia menuntut hidung, dia seakan ingin muntah. Bukan karena keadaan mengenaskan anak ini, melainkan bau busuk. Darah hitam menandakan anak ini baru saja di korbankan oleh para bandit hitam.
"Dia termakan 20 anak yang menghilang," ujar Enver.
Vim mendekati anak itu. Ia melepas pasak di tangan anak itu. Tubuhnya langsung jatuh tergeletak ke tahan. Vim membaringkan tubuh anak itu dengan benar, lalu menutupinya dengan jubah yang ia kenakan. Dia memang tidak tahan melihat seseorang tidak bersalah mati mengenaskan. Keluarganya di bantai oleh sekelompok bandit, dan adiknya di culik. Saat ditemukan, adik Vim dijadikan tumbal pemuas oleh para bandit itu. Itulah pertama kali Vim membantai orang, dan berkeinginan menjadi ksatria.
"Tidak ada apa-apa di sini. Apa kita telat?" Tanya Seren.
__ADS_1
"Mungkin, tapi bau busuk sangat menyengat di sini," sahut Xylia.
"Itu tubuh anak ini bukan?"
"Tidak, ada sesuatu di sekitar sini yang lebih busuk," lanjut Xylia.
Suara semak bergerak terdengar. Mereka langsung mengeluarkan pedang. Berbeda dari sebelumnya, Xylia kini mengeluarkan tongkat sihir panjang. Enver berdiri di depan Xylia, berusaha melindungi Xylia jika ada sesuatu yang menyerang.
Dari semak, satu per satu orang berjubah merah darah keluar. Tidak hanya manusia, terlihat para Furry, sebutan hewan yang seperti manusia, para penghuni asli Wishland. Mereka membawa tongkat kayu yang bentuknya sama. Lalu Kabut tebal menyelimuti sekeliling, hanya menyisakan lingkaran, tempat Zion dan yang lainnya terkepung.
Mereka mulai merepal.mantra dengan cepat, salah satu dari mereka mengeluarkan panah sihir yang langsung dihadapkan ke Seren. Vim langsung menangkis serangan itu. Zion juga tidak tinggal diam, ia mengayunkan pedang, dan langsung menghunusnya ke badan penyihir itu. Satu penyihir tumbang, dan yang lain melai bersikap agresif. Batu Api berjatuhan dari atas. Xylia merepal mantra, dan melindungi teman-temannya. Zion, Vim, dan Seren langsung menyerang dan menjatuhkan para penyihir yang lain. Enver terus berusaha didekat Xylia yang dengan sihir berusaha melindungi yang lain agar tidak terluka.
Satu per satu penyihir jatuh, darah hitam keluar dari mereka. Darah yang sama busuknya seperti milik anak tadi. Namun lebih kental. Xylia merasa mereka tidak hanya menggunakan sihir gelap, namun sihir lain yang hampir mendekati Nox. Serangan mereka juga secara acak, dan terkesan membabi-buta. Mereka tidak memperlihatikan musuhnya, bahkan beberapa serangan mengenai penyihir lain. Gerekam mereka sekilas seperti dikendalikan akan sesuatu.
Satu penyihir lain tumbamh, Xylia lalu menatap sebuah pohon yang ada di dekat sana. Ia mengeluarkan belati dan melemparkannya ke sana. Belati itu langsung mengenai dahan pohon, dan sebuah api keluar membakar pohon itu. Semua mata mengarah ke sana, ketika seseorang turun dari pohon yang terbakar tadi.
Zion terkejut menatap orang itu, matanya terbuka lebar-lebar. Orang itu menepuk ujung jubahnya yang terbakar. Topeng srigala menutupi setanah dari wajahnya. Hanya menampakan bibirnya yang sangat pucat. Sekilas ia berwujud seperta manusia, tapi Zion tahu itu hanya wujudnya saja.
"Devil," gumamnya.
Suara Zion didengar orang itu. Sengiran bersemi di bibirnya. "Kebetulan sekali, aku kehabisan tumbal," ujarnya dengan nada berat dan suara bergema. Seoalah dia memiliki dua pita suara.
Devil mengangkat salah satu tangannya. Lalu menjentikkan jari-jarinya. Secara bersamaan para penyihir yang sudah di bantai Zion dan lainnya bangkit. Bahkan darah mereka menguap dan masuk kembali ke dalam tubuhnya. Zion berdecak kesal, ia menatap marah Devil yang tersengir pada mereka. Inilah kekuatan Devil yang ditakuti saat ini.
__ADS_1