
Aku punya kenangan masa kecil, tidak terlalu menyenangkan walau hidup di mansion besar dengan banyak pelayan. Ibuku adalah istri pemilik rumah, namun kami diperlakukan lebih buruk dari pelayan. Pria yang menikahi ibuku lebih bahagia dengan wanita lain, dan kami dilupakan sampai ibuku meninggal dalam kesepian. Dan setelah itu, di hari pemakaman ibuku- seseorang membawaku ke sini. Yang ia katakan saat itu adalah 'Mereka sudah membuangmu'.
Bar yang sepanjang malam sanagt berisik. Berisi orang-orang pemabuk baik pria maupun wanita. Mereka bersenang-senang dengan segelas wine anggur, di layani banyak pelayan yang semuanya adalah anak yatim piatu atay terbuang. Musik tak pernah berhenti, dan setiap jam ada penyanyi yang bersenandung di atas panggung.
Mereka semua kebanyakan adalah Bangsawan rendah yang mencari kebahagiaan di gang sempit kota. Entah itu dengan minuman, kasino, ataupun wanita, dan tempat ini menyediakan semua. Para pelayan di sini, baik laki-laki maupun perempuan yang ingin menambah uang lebih pasti tidak segan menemani orang-orang ini untuk berbaring di ranjang. Sejak aku pertama kali ke sini sampai sekarang, semua nampak memuakan.
"Apa yang kau fikirkan Luz?" tanya wanita yang berusaha menutupi usia dengan makeup tebal dan gaun seksi glamor itu padaku.
"Maaf madam, saya hanya kesal karena banyak orang yang menggoda saya daritadi," jawabku dengan nada kesal.
Madam Joy, nama pemilik tempat ini, dia menatapku secara seksama. "Wajar saja kau makin cantik, hargamu pasti mahal. Itupun kalau kau berniat melayani mereka. Yaa tapi orang pertama harus yang kau cintai ya," ujarnya sambil mengedipkan mata padaku.
Mereka bilang wajahku persis dengan ibuku, itu sebabnya orang di mansion itu membenciku. Menurutku ibu wanita yang sangat cantik, rambut cokelat gandum ikal dengan mata sayu berwarna emas. Aku memilki semua yang ia milikinya.
"Sudah saya katakan, saya tidak tertarik dengan hal seperti itu."
"Kau belum dewasa, tunggu saja beberapa tahun lagi." Dia menghembuskan asap pipa rokok ke araku. Bau manis vanila tercium pekat di sekelilingku.
"Saya sudah berusia 18 tahun madam," dengusku.
"Itu belum dewasa, masih anak kecil berusia 10 tahun yang sangat cerobong." Dia menggodaku berulang kali dengan itu. Aku benar-benar sangat lugu saat pertama kali ke sini, dan terus termakan kebohongan Madam, tapi sekarang tidak.
"Baiklah Madam, saya izin istirahat," ujarku, aku ingin duduk dan terbebas dari bau alkohol ini sebentar.
"Ah sebelum itu, bisakah kau memasang poster baru? Poster nya di gudang."
"Sedikit susah memasangnya madam." Dan akan lama, aku pasti tidak akan bisa beristirahat.
__ADS_1
"Cepat kok," dia tersenyum sambil mengedipkan bulu mata lentiknya. Tangannya melambai pada salah satu pelayan. "Hai anak baru, bisakah kau ke sini."
Anak baru? Aku langsung tahu siapa itu. Kebanyakan pelayan di sini sudah ada sejak mereka masih anak kecil atau setidaknya remaja. Dan bulan lalu ada pemuda yang melamar sebagai pelayan di sini. Dia berwajah tampan, dengan kulit putih pucat dan rambut hitam kelam juga mata biru yang Madam bilang sangat seksi. Tubuhnya kekar, harusnya dia melamat menjadi kstaria daripada pelayan. Tapi dengan penampilan seperti itu Madam tidak bisa menolaknya.
"Ada apa Madam?" tanyanya, namun matanya meliriku dengan dingin.
Wanita lain biasanya akan histeris atau salah tingkah saat di sampingnya. Namun aku tidak, karena sejak aku tinggal di Mansion itu, kepercayaanku pada orang lain terutama pria sangat kecil. Membayangkan aku akan menikah lalu bernasib sama seperti ibuku, rasaya sangat menyeramkan. Di sini aku juga belajar, bahwa cinta hanya perlu di ucapkan tanpa di resapi dalam hati.
"Kau dan Luz pergi ke gudang dan pasang semua poster baru. Kalian bisa pulang setelahnya, kau bisa Zain?" sekali lagi dia meliriku, entah kenapa aku tidak suka tatapannya.
"Baiklah Madam."
###
Zain menempelkan poster yang sudah ku bero lem ke dinding-dinding luar bar. Udara di sini terasa panas walau di malam hari, namun suhunya akan turun dratis saat mendekati jam 1 pagi. Dan hanya beberapa menit lagi jarim pendek akan melewati angka 12.
"Kenapa berfikir bergitu, kau fikir aku terpaksa?"
"Kau seperti sedang menggerutu dan diam daritadi. Wajar ku fikir kau terpaksa."
"Diam bukan berarti tidak suka bukan? Lagipula aku juga ingin pulang lebih awal," jawabannya. Bar tutup jam 3 pagi, dan kami baru selesai jam 4 pagi setelah bersih-bersih. Pualng lebih sangatlah menyenangkan. "Kau juga ingin pulang lebih awal kan?"
Aku mendengus. "Entahlah," aku tidak yakin bisa tidur nyenyak dengan semua suara ******* di kamar sebelah. "Di mana rumahmu?"
"Tidak jauh dari pinggir kota."
"Bersama keluarga?"
__ADS_1
"Aku tinggal sendiri." Dia berbicara dengan nada datar. Orang seperti tinggal sendiri? Wajar juga sih.
Aku berjalan mendekatinya, memberi jarak satu jengkal dari tubuhnya. Dia menatapku heran, dan mengehentikan pekerjaannya. "Bisakah aku menginap di rumahmu malam ini?" tanyaku sambil tersenyum lebar.
Dia memberi tatapan aneh padaku, melihatku seperti seorang pembuat onar yang tidak ia harapkan datang ke rumah. "Memangnya ada apa dengan rumahmu."
"Aku tinggal di bar, dan kau tahu- tidak ada malam tenang di sini. Setiap malam ada *******, dan itu sangat menganggu," jawabku terang-terangan.
"Kau tidak berniat menggodaku kan?"
Mendengar itu aku langsung mendengus kesal. "Lupakan saja, lebih baik aku menutup telingaku dengan bantal."
Aku memalingkan badan, namun sebelum sempat melangkah, Zain memegang tangaku. Aku menatapnya dengan bingung. Dia mengeja nafas berat, sebelum kembali memberi tatapan dingin padaku.
"Baikalh, tapi hanya selama. Dan jangan berbuat aneh-aneh," ujarnya.
"Waah terima kasih Zain. Ku tarik pemikiranku bahwa kau berhati dingin," seruku. Aku langsung memeluknya.
"Hei, sudah kukatakan jangan melakukan hal aneh!" bentaknya, ini pertama kali aku mendengar suaranya naik.
"Ups maaf, kebiasaan," aku melepas pelukan. Biasa orang yang kupeluk akan membalas mengelus kepalaku. Ya walaupun beberapa membero respon seperti Zain.
Zain kembali membenarkan poster yang belum tertempel sempurna. "Bawa baju ganti nanti."
"Tentu saja, aku tidak ingin di kira sebagai pelayan rumahmu," jawabku.
"Yaa ... sepertinya akan menarik jika punya pelayan sepertimu."
__ADS_1
Sekilas aku melihat sengiran kecil di bibirnya. Apa dia tersenyum? Atau hanya sekedar menaikan bibirnya yang biasa melengkung ke bawah. Aku mengabaikannya, karena ada kerajaan yang harus kulakukan. Sudah lama aku ingin tidur di luar Bar, semua orang yang ku kenal mengahabiskan sepanjang hari di Bar. Jika tempat Zain nyamam, kurasa tidak masalah berapa kali mengingat di sana. Lagipula sekalipun kau tidak menjual diri, orang-orang akan selalu menyebut pelayan Bar sebagai ******.