
Kusisir rambut ikal cokelatku, sambil duduk dan menghadap kaca di meja riasku. Musim semi sepertinya akan berakhir, hujan turun dengan derasnya dari kemarin. Sebentar lagi musim panas akan tiba. Dan sebentar lagi libut musim panas, entah mengapa aku merindukan Svarga.
"Tuan putri Xylia, sudah waktunya ke kelas," seru Enver, orang mengira dia adalah pengawal pribadiku karena kaku. Padahal dia sebenarnya adalah rekanku dalam misi ini.
Aku membalikkan badan, dan tersenyum lebar padanya. "Saat tidak di kelas, jangan panggil aku tuan putri. Itu sangat menyebalkan."
Dia mendesas, lalu berdecak dengan lidahnya. "Maaf kebiasaan Xylia. Ngomong-ngomong Tuan memanggil kita malam ini."
"Fuuuh, apa kita harus mengabarinya seminggu sekali?"
"Kau tahu dia orang yang tidak sabaran."
Kuletakan sisir ke atas meja dengan keras. Aku lalu berdiri dan membalikkan badan. Kutarik ke bawah kerah bajuku yang belum terkancing. Menampakan tato bergambar pedang dengan dua sayap. "Sebagai anggota Black Shadow kita hanya bisa menurut bukan?" Aku tersenyum lebar padanya, membuat Enver Redhodt terkekeh.
#
Buukh…
Tanpa sengaka aku menabrak seseorang. Bukunya dan buku yang kupegang berjatuhan. Aku buru-buru jongkok dan mengambil buku itu, juga beberapa peralatan tulis yang jatuh.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja," tuturku.
"Tidak masalah," sahutnya. Suaranya terdengar tidak asing. Aku menghadap ke depan, melihat siapa yang kutabrak.
"Anda yang kemarin kan?" Dia menatapku dengan bingung. "Buku yang tertukar, ingat?" Tanyaku lagi sambil menyengir.
"Ahh, iya aku ingat. Maaf tuan putri," jawabnya. Dia tersenyum lebar padaku. Bukan senyum yang bagus.
"Maaf sekali lagi," aku mendekap buku-bukuku dan berdiri.
__ADS_1
"Tidak usah minta maaf, aku juga salah menabrakmu."
Padahal dia tahu aku tuan putri, dia memanggil ku juga begitu. Tapi dia tidak bicara terlalu formal padaku. "Anda mau ke kelas, kita bisa pergi bersama?" Ajakku.
Matanya tertuju pada Enver yang berlari mendekatiku. Entah mengapa aku merasa dia tidak suka pada Enver, atau mungkin padaku. Tapi dia tetap tersenyum.
"Tidak usah, aku ada urusan sebelum ke kelas," tolaknya.
"Zion!" Dari kejauhan seseorang memanggilnya. Dia melinguk dan melabai padanya.
"Aku di panggil, permisi dulu tuan putri," dia langsung pergi tanpa mendengar jawabanku. Aku hanya dia dan tersenyum.
Enver mendekatiku, dia mungkin ingin bertanya sesuatu. Tapi aku mengisyaratkannya untuk tidak berbicara. Karena pengawal tidak berbicara lebih dulu tanpa disuruh. Itu adab disini. Aku menatap pria tadi, yang pergi dengan 2 temannya. Mereka tampak akrab, sekilas memang terlihat seperti pertemanan biasa. Namun kadang aku melihat kedua temannya itu seperti anak buah daripada seorang teman.
#
Malam yang sunyi. Tepat jarum jam di angka 12 malam. Kutukan para Dwarfs memang ada. Setiap jam 12 sebagai Dwarfs tertidur begitu saja tanpa peduli mereka sedang apa. Beberapa murid nakal mengendap dan keluar kamar. Untuk pertemuan rahasia, atau bermain sebentar.
Kumpulan asap hitam terlihat dari kejauhan. Aku sekilas melihatnya menembus awan, dan turun ke tempat kami berada. Kami buru-buru mengambil posisi. Berlutut, dan menundukkan kepala. Sembari menunggu asap itu sampai. Sebuah kaki menatap, diikuti bagian tubuh lainnya ketika asap itu hilang. Rambut hitam panjang ikal, dengan bekas luka di salah satu matanya, menggores daro bawah kelopak mata hingga lebih sedikit di ataa alis.
"Salam Tuan Fox!" Seru kami bersamaan.
Black Fox, itu lah kami menyebutnya. Dia ketua resmi BS (Black Shadow). Dia juga salah satu pendiri. Black Shadow sudah ada sejak sebelum perang besar. Itu berarti dia sudah berumur lebih 500 tahun. Dari sini sudah jelas dia bukanlah manusia. Dibilang makhluk lain, atau sudah mati pun tidak bisa. Karena nyatanya dia tetap manusia, hanya saja ada suatu hal yang membuatnya abadi sampai sekarang. Karena di Wishland ada 3 orang yang sejenis dengan dia, tentunya dia salah satunya.
"Kalian masih sehat," ujarnya. Itu bukan bentuk kekhawatiran. "Itu Berarti kalian belum menemukannya." Sudah kubilang, dia mungkin berfikir kami akan sekarat jika telah menemukan target.
"Kami masih baru dalam misi. Butuh waktu untuk menemukan Anggota Blackmoon yang menyusup," ujar Enver.
Blackmoon, para pengikut Nyx yang berusaha membangkitkannya. Mereka terus saja berulah, walau sudah kami tangani berulang kali. Baru-baru ini tertangkap salah satu dari mereka, dan sebelum dia tewas mengatakan bahwa anggota lainnya di Whisley. Aku dan Enver sudah di sini, sejak usia kami 13 tahun. Dan ini misi pertama kami.
__ADS_1
"Lalu apa yang akan kalian lakukan. Kalian fikir mereka hanya di sini?" Jelas dia ingin mengirim kami ke tempat lain jika sudah selesai.
"Kami berencana mencarinya sebelum bulan purnama." Aku mengangkat kepala. "Jika tidak, kami akan menyusup ke kastil selatan. Mereka pasti mengincar Nox di sana."
"Jangan berurusan dengan daerah itu. Tapi jika kalian berhasil tidak apa," Sahutnya.
Sorot matanya teralihkan ke arah lain. Aku tidak bisa melihat yang ia tatap. Karena posisiku yang berlutut, sehingga aku hanya bisa melihat kanan kiri tembok, dan atas langit. Tapi tatapannya bukan tatapan biasa. Dia bahkan tidak menatap kami seperti itu. Matanya seperti melihat ladang emas, sedikit terbelangak.
"Baiklah kutunggu hasil kaliam saat bulan purnama."
"Baik tuan!"
"Satu lagi, bukan cuma kalian yang mencari para tikus itu. Walau misi mereka sama, tapi bukan berarti sekutu. Bijaklah," tuturnya sebelum berubah menjadi asap dan terhembus angin.
Aku berdiri, kurenggangkan tubuhku. Aku sudah lama tidak berlutut pada seseorang. Rasanya cukup pegal. Biasanya yang lakukan berdiri, menerima tunduk hormat, dan tersenyum palsu. Itu juga melelahkan.
Ku lirik arah Fox tadi melihat. Dia melihat ke arah danau. Ku perhatikan sekeliling. Tanpak hanya danau biasa. Aku menghela nafas saat kulihat salah satu murid ada di sana. Aku tahu banyak murid yang mengendap keluar kamar. Namun mereka buru-buru keluar, dan buru-buru kembali. Tapi murid ini, dia tampak tenang dan santai duduk di tepi danau sendirian. Dia meringkuk di sana. Entah sedang tidur atau memikirkan sesuatu. Dari sini tidak terlihat jelas. Hanya nampak rambut berwarna putih yang sesekali di hempas angin.
"Kenapa Fox menatapnya?" Gumamku.
Enver menatap ke arah aku melihat. "Bukannya dia Atarah."
"Atarah?" Aku melinguk padanya.
"Atarah Iskra, kau beberapa kali satu kelas dengannya. Dia seorang Elf."
"Elf berambut seputih salju. Biasanya rambut Elf lebih berbinar."
"Ada banyak jenis Elf. Tapi mereka jarang sendiri seperti itu."
__ADS_1
Aku tersenyum lebar pada Enver. "Haruskah kita awasi dia?"