
Semua penyihir itu bangkit, pantas saja Xylia merasa ada yang janggal. Sekali lagi, mereka harus melawan para Bandit penyihir yang ternyata hanya mayat hidup. Zion dan yang lainnya terus menusukkan pedang ke tubuh para mayat itu, namun walau kepala sudah terpisah dari tubuh, tak lama kemudian keduanya menyatu seperti semula. Membuat yang melihatnya merinding. Berapa kali pun mereka mengalahkan para mayat bandit penyihir, mayat itu akan bangkit, dan sepertinya tak akan berakhir sampai tenaga mereka habis.
Api yang membakar pohon tadi perlahan reda. Belati yang menancapnya jatuh ke tanah. Devil mengutip nelati itu. Ia memainkannya ke sana dan kemari. Itu bukan belati biasa, diukir khusus dan di buat dengan tembaga langkah. Yang memilikinya pasti orang kaya. Tatapan Devil mengarah ke gadis dengan rambut coklat yang terus menyembuhkan luka teman-teman dengan sihir. Belati ini juga miliknya. Dia sepertinya bisa mengetahui keberadaannya.
"Jadi dia kuncinya," gumamnya.
Wuuzh…
Devil melempar belati itu ke arah Xylia. Belati yang kini sudah di beri mantra racun, sehingga siapapun yang tergores akan langsung tewas. Xylia terlalu fokus menyembuhkan yang lain, ia baru sadar belati mengarah ke dirinya. Matanya melotot ke arah belati yang tinggal sejengkal di depannya. Waktu terasa berjalan lambat, dan dia tidak bisa bergerak menghindar dari serangan itu. Di saat itu Xylia memejamkan mata.
Zraak… Ukh…
Darah merah keluar dari tubuh. Mengotori seragam yang di gunakan Xylia. Mata Xylia kembali terbuka lebar saat melihat sebuah tubuh yang terbaring dengan belati di dadanya, tepat di depan Xylia. Xylia hampir tidak bisa bernapas melihatnya, tubuhnya bergetar, dan air matanya berlinang. Fikirannya mendadak kacau, dia tidak lagi bisa berfikir jernih.
"Enver! Enver!" Xylia memanggil nama orang itu.
Di detik-detik terakhir, Enver menggunakan telepoortasi dan berdiri di depan Xylia. Dengan begitu, belati itu langsung menusuk Enver. Mantra racun pada belati itu tidak memberi kesempatan untuk kata-kata terakhir. Enver hanya bisa melihat Xylia terakhir kali sebelumnya kesadaran hilang.
Xylia berusaha mendekati tibuh Enver, namun Zion langsung mendekapnya. Karena kini tubuh Enver terdapat racun yang sekali sentuhan saja bisa membunuh seseorang.
"Ahaha, ahaha!" Gelagak tawa Devil menggema. "Kalian kalah," sinisnya.
"Kyaaa!" Teriakam Seren terdengar keras.
Zion menatap ke sumber suara, dan melihat Seren yang di seret oleh salah satu penyihir Furry. Vim berusaha menolong Seren, namun penyihir lain mengepungnya. Membuat Vim bergerak mundur dan terpojok bersama Zion dan Xylia. Dia tidak bisa apa-apa melihat Seren yang menghilang di telan kegelapan.
__ADS_1
"Waktunya makan malam!" Teriak Devil dengan keras.
Dooor…
Suara itu menggema keras. Bersama denganya, para mayat penyihir tadi langsung tumbang. Sengiran Devil juga mendadak hilang, dia sempat diam sejenak, sebelum jatuh dan terduduk. Sesuatu mengenai punggungnya, membuat dia kehilangan kendali akan kekuatannya.
Dari dalam kegelapan, elf berambut putih muncul. Menodongkan pistol perak yang ujungnya terdapat asap. Pistol itu juga yang menembak Devil hingga membuatnya tersungkur seperti sekarang. Atarah muncul dengan rambutnya yang bersinar oleh sinar bulan, dam berkibar di terpa angin. Yang lain hanya bisa diam menatap Atarah yang sepertinya baru saja menyelamatkan sisa dari mereka.
"Tidak biasanya kau datang," gumam Devil.
Devil kembali berdiri. Zion megenggam erat perangnya, berjaga-jaga jika dia menyerang mereka. Namun kini sasaran Devil berganti. Dengan gerakan cepat ia mengeluarkan pedang dan menyerang Atarah. Namun Atarah bergerak cepat. Ia menekan pelatuk pistolnya dua kali. Satu berhasil di halau Devil. Namun satu lagi mengenai topengnya.
Devil kembali terdiam. Sorot mata berwarna hitam mutiara menatap Atarah. Satu per satu pecahan topengnya jatuh ke tanah, memperlihatkan sekilas wajahnya yang selalu tertutup. Zion yang penasaran dengan sosok Devil, tak bisa melihatnya. Yang ia bisa lihat adalah jubah merah terang yang dikenakan Devil, dan mata Atarah yang berubah menjadi merah.
Atarah tersenyum dengan sorot mata tajam pada Devil. "Seluruh Wishland memihakku," serunya.
"Maaf, tapi aku belum pernah membunuh seseorang," jawab Atarah. "Aku hanya ingin mengambil barang milikku."
"Ahahaha! Begitu ya, kau sudah tahu ternyata!" Lagi-lagi gelagak tawa Devil bergema ke seluruh hutan. "Kalau begitu aku adalah orang yang akan kau bunuh."
Itu kata-kata terakhir Devil. Sebelum ia menghilang, tersapu oleh angin malam.
Atarah menghela nafas. Ia memasukan kembali pistol miliknya. Suara tangis berdengung di telinganya. Xylia menangis di samping jasad Enver, ia terduduk lemas dengan air mata yang berlinang. Sekilas seperti dirinya dulu saat kehilangan sahabatnya. Lalu matanya melirik Vim yang bersiap mengejar Seren.
"Jangan kau kejar, dia sudah menghilang," ujar Atarah.
__ADS_1
Sorot mata marah tertuju pada Atarah. Itu bukan sorot mata yang pas untuk seseorang yang baru saja menyelamatkan dirinya. "Kau tau apa!"
"Lebih baik dari kalian. Temanmu akan kembali, walau perlu waktu, dan aku tidak menjamin dia kembali dalam keadaan sama," lanjut Atarah.
Vim tampak emosi dengan perkataan Atarah. Zion langsung merangkul Vim. "Tenanglah! Jangan sampai kita kehilangan orang lagi," bisik Zion sambil menatap Xylia yang menangis sambil bersujud di samping Enver.
Vim langsung tenang, ia tertunduk lemas. Raut wajahnya berubah menjadi sangag sedih. Ia mulai menangis ketidak mampunya menyelamatkan Seren tadi. Dia fikir dirinya sekarang sudah kuat. Namun lagi-lagi dia tidak bisa menyelamatkan orang yang dekat dengannya.
Atarah mengeluarkan tanyannya. Cahaya putih bersinar di seluruh tubuh Enver. Xylia terbelangak melihat tubuh Enver melayang dan kini terbaring di samping tubuh anak yang tadi tergantung di kayu. Sebuah linkar sihit berwarna putih mengelilingi mereka. Lalu di saat bersamaan menguraikan tubuh para mayat penyihir tadi. Atarah berjalan masuk ke lingkaran sihir itu. Ia berlutut dengan kudua kakinya, dan Menyatukan kedua tangannya.
"Untuk jiwa tidak bersalah yang pergi begitu saja karena perbuatan para pendosa, pergilah dengan tentang. Akan kuhilangkan sakit kalian dan penyesalan agar kalian bisa pergi tanpa kekhawatiran. Atas nama Alan, penguasa mutlak seluruh Wishland, dengarkan lah ucapanku."
Semua luka yang ada di tubuh anak itu mengulang, begitupun milik Enver. Darah hitam yang tadi keluar juga bersih. Baju-baju yang terobek kembali utuh. Sihir gelap dan racun yang ada di keduanya terangkat, dan menghilang. Saat cahaya dan lingkar sihir itu hilang, mereka seperti mayat bersih yang mati dengan ketenangan.
"Enver!" Rintih Xylia. Xylia langsung berlari, dan merangkul tubuh Enver yang sudah kaku. Berkali-kali ia memanggil namanya, orang yang sudah meninggal tidak akan bisa menjawab.
Di sini hanya Zion yang terlihat tenang, atau berusaha tegar setelah kehilangan dua temannya. Kerutan di matanya menandakan ia juga tertekan dengan keadaan yang mendadak seperti itu. Ia berjalan mendekati Atarah.
"Terima kasih kau sudah datang," ujar Zion.
"Jangan berterima kasih, kau baru kehilangan 2 rekanmu," jawab Atarah.
"Lebih baik daripada semuanya."
Atarah langsung memalingkan wajah mendengar jawaban Zion. Baginya, melihat satu teman meninggal di depan mata sangatlah menyiksa. Bahkan saat ini Atarah harus hidup sendirian karena semua temannya sudah tidak ada.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus berburu Devil," gumamnya.
Barang terakhir dan terpenting Atarah ternyata di tangan Devil. Padahal dia fikir tidak akan berurusan dengan pengacau dunia ini. Tapi ternyata dia harus turun tangan. Dia mulai berfikir, apakah ini alasan dia berada di Wishland yang sekarang. Yaitu menyelesaikannya pengacau Wishland.